PENYELENGGARAAN SISTEM DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK
Pasal 1
Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan:
- Sistem Elektronik adalah serangkaian perangkat dan
prosedur elektronik yang berfungsi mempersiapkan,
mengumpulkan, mengolah, menganalisis,
menyimpan, menampilkan, mengumumkan, mengirimkan, dan/atau menyebarkan Informasi
Elektronik.
- Transaksi Elektronik adalah perbuatan hukum yang
dilakukan dengan menggunakan komputer, jaringan
komputer, dan/atau media elektronik lainnya.
- Agen Elektronik adalah perangkat dari suatu Sistem Elektronik yang dibuat untuk melakukan suatu
tindakan terhadap suatu Informasi Elektronik
tertentu secara otomatis yang diselenggarakan oleh
Orang.
2019, No.185 -3-
- Penyelenggara Sistem Elektronik adalah setiap
Orang, penyelenggara negara, Badan Usaha, dan
masyarakat yang menyediakan, mengelola, dan/atau
mengoperasikan Sistem Elektronik secara sendiri- sendiri maupun bersama-sama kepada Pengguna
Sistem Elektronik untuk keperluan dirinya dan/atau
keperluan pihak lain.
- Penyelenggara Sistem Elektronik Lingkup Publik
adalah penyelenggaraan Sistem Elektronik oleh Instansi Penyelenggara Negara atau institusi yang
ditunjuk oleh Instansi Penyelenggara Negara.
- Penyelenggara Sistem Elektronik Lingkup Privat
adalah penyelenggaraan Sistem Elektronik oleh
Orang, Badan Usaha, dan masyarakat.
- Kementerian atau Lembaga adalah Instansi Penyelenggara Negara yang bertugas mengawasi dan
mengeluarkan pengaturan terhadap sektornya.
- Informasi Elektronik adalah satu atau sekumpulan
Data Elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada
tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto,
electronic data interchange (EDI), surat elektronik (electronic mail), telegram, teleks, telecopy atau
sejenisnya, huruf, tanda, angka, kode Akses, simbol,
atau perforasi yang telah diolah yang memiliki arti
atau dapat dipahami oleh orang yang mampu
memahaminya.
- Dokumen Elektronik adalah setiap Informasi Elektronik yang dibuat, diteruskan, dikirimkan,
diterima, atau disimpan dalam bentuk analog, digital,
elektromagnetik, optikal, atau sejenisnya, yang dapat
dilihat, ditampilkan, dan/atau didengar melalui
komputer atau Sistem Elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada tulisan, suara, gambar, peta,
rancangan, foto atau sejenisnya, huruf, tanda, angka,
kode Akses, simbol atau perforasi yang memiliki
makna atau arti atau dapat dipahami oleh orang
yang mampu memahaminya.
2019, No. 185 -4-
- Teknologi Informasi adalah suatu teknik untuk
mengumpulkan, menyiapkan, menyimpan,
memproses, mengumumkan, menganalisis, dan/atau
menyebarkan informasi.
- Pengguna Sistem Elektronik adalah setiap Orang,
penyelenggara negara, Badan Usaha, dan masyarakat
yang memanfaatkan barang, jasa, fasilitas, atau
informasi yang disediakan oleh Penyelenggara Sistem
Elektronik.
- Perangkat Keras adalah satu atau serangkaian alat
yang terhubung dalam Sistem Elektronik.
- Perangkat Lunak adalah satu atau sekumpulan
program komputer, prosedur, dan/atau dokumentasi
yang terkait dalam pengoperasian Sistem Elektronik.
- Uji Kelaikan Sistem Elektronik adalah suatu rangkaian proses penilaian secara objektif terhadap
setiap komponen Sistem Elektronik, baik dilakukan
secara mandiri dan/atau dilakukan oleh institusi
yang berwenang dan berkompeten.
- Akses adalah kegiatan melakukan interaksi dengan
Sistem Elektronik yang berdiri sendiri atau dalam jaringan.
- Penyelenggaraan Transaksi Elektronik adalah
rangkaian kegiatan Transaksi Elektronik yang
dilakukan oleh Pengirim dan Penerima dengan
menggunakan Sistem Elektronik.
- Kontrak Elektronik adalah perjanjian para pihak
yang dibuat melalui Sistem Elektronik.
- Pengirim adalah subjek hukum yang mengirimkan
Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik.
- Penerima adalah subjek hukum yang menerima
Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dari Pengirim.
- Sertifikat Elektronik adalah sertifikat yang bersifat
elektronik yang memuat Tanda Tangan Elektronik
dan identitas yang menunjukkan status subjek
hukum para pihak dalam Transaksi Elektronik yang
2019, No.185 -5-
dikeluarkan oleh Penyelenggara Sertifikasi
Elektronik.
- Penyelenggara Sertifikasi Elektronik adalah badan
hukum yang berfungsi sebagai pihak yang layak dipercaya, yang memberikan dan mengaudit
Sertifikat Elektronik.
- Tanda Tangan Elektronik adalah tanda tangan yang
terdiri atas Informasi Elektronik yang dilekatkan,
terasosiasi atau terkait dengan Informasi Elektronik lainnya yang digunakan sebagai alat verifikasi dan
autentikasi.
- Penanda Tangan adalah subjek hukum yang
terasosiasikan atau terkait dengan Tanda Tangan
Elektronik.
- Perangkat Pembuat Tanda Tangan Elektronik adalah Perangkat Lunak atau Perangkat Keras yang
dikonfigurasi dan digunakan untuk membuat Tanda
Tangan Elektronik.
- Data Pembuatan Tanda Tangan Elektronik adalah
kode pribadi, kode biometrik, kode kriptografi,
dan/atau kode yang dihasilkan dari pengubahan tanda tangan manual menjadi Tanda Tangan
Elektronik, termasuk kode lain yang dihasilkan dari
perkembangan Teknologi Informasi.
- Lembaga Sertifikasi Keandalan adalah lembaga
independen yang dibentuk oleh profesional yang diakui, disahkan, dan diawasi oleh Pemerintah
dengan kewenangan mengaudit dan mengeluarkan
Sertifikat Keandalan dalam Transaksi Elektronik.
- Sertifikat Keandalan adalah dokumen yang
menyatakan Pelaku Usaha yang menyelenggarakan
Transaksi Elektronik telah lulus audit atau uji kesesuaian dari Lembaga Sertifikasi Keandalan.
- Pelaku Usaha adalah setiap orang perseorangan atau
Badan Usaha, baik berbentuk badan hukum maupun
bukan badan hukum, yang didirikan dan
berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam
2019, No. 185 -6-
wilayah hukum Negara Republik Indonesia, secara
sendiri-sendiri maupun bersama-sama, melalui
perjanjian penyelenggaraan kegiatan usaha dalam
berbagai bidang ekonomi.
- Data Pribadi adalah setiap data tentang seseorang
baik yang teridentifikasi dan/atau dapat diidentifikasi
secara tersendiri atau dikombinasi dengan informasi
lainnya baik secara langsung maupun tidak langsung
melalui Sistem Elektronik dan/atau nonelektronik.
- Data Elektronik adalah data berbentuk elektronik
yang tidak terbatas pada tulisan, suara, gambar,
peta, rancangan, foto, electronic data interchange
(EDI), surat elektronik (electronic mail), telegram,
teleks, telecopy atau sejenisnya, huruf, tanda, angka,
kode Akses, simbol, atau perforasi.
- Nama Domain adalah alamat internet penyelenggara negara, Orang, Badan Usaha, dan/atau masyarakat,
yang dapat digunakan dalam berkomunikasi melalui
internet, yang berupa kode atau susunan karakter
yang bersifat unik untuk menunjukkan lokasi
tertentu dalam internet.
- Registri Nama Domain adalah penyelenggara yang
bertanggung jawab dalam melakukan pengelolaan,
pengoperasian, dan pemeliharaan penyelenggaraan
Sistem Elektronik Nama Domain.
- Registrar Nama Domain adalah Orang, Badan Usaha,
atau masyarakat yang menyediakan jasa pendaftaran Nama Domain.
- Pengguna Nama Domain adalah Orang, Instansi
Penyelenggara Negara, Badan Usaha, atau
masyarakat yang mengajukan pendaftaran untuk
penggunaan Nama Domain kepada Registrar Nama Domain.
- Instansi Penyelenggara Negara yang selanjutnya
disebut Instansi adalah institusi legislatif, eksekutif,
dan yudikatif di tingkat pusat dan daerah dan
2019, No.185 -7-
instansi lain yang dibentuk dengan peraturan
perundang-undangan.
- Orang adalah orang perseorangan, baik warga negara
Indonesia, warga negara asing, maupun badan hukum.
- Badan Usaha adalah perusahaan perseorangan atau
perusahaan persekutuan, baik yang berbadan
hukum maupun yang tidak berbadan hukum.
Pemerintah adalah Menteri atau pejabat lainnya yang ditunjuk oleh Presiden.
Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan
urusan pemerintahan di bidang komunikasi dan
informatika.
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 2
(1) Penyelenggaraan Sistem Elektronik dilaksanakan
oleh Penyelenggara Sistem Elektronik.
(2) Penyelenggara Sistem Elektronik sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) meliputi:
Penyelenggara Sistem Elektronik Lingkup Publik; dan
Penyelenggara Sistem Elektronik Lingkup Privat.
(3) Penyelenggara Sistem Elektronik Lingkup Publik
meliputi:
Instansi; dan
institusi yang ditunjuk oleh Instansi.
(4) Penyelenggara Sistem Elektronik Lingkup Publik
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a tidak
termasuk Penyelenggara Sistem Elektronik Lingkup
Publik yang merupakan otoritas pengatur dan
pengawas sektor keuangan.
2019, No. 185 -8-
(5) Penyelenggara Sistem Elektronik Lingkup Privat
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b
meliputi:
- Penyelenggara Sistem Elektronik yang diatur atau diawasi oleh Kementerian atau Lembaga
berdasarkan ketentuan peraturan perundang-
undangan; dan
- Penyelenggara Sistem Elektronik yang memiliki
portal, situs, atau aplikasi dalam jaringan melalui internet yang dipergunakan untuk:
- menyediakan, mengelola, dan/atau
mengoperasikan penawaran dan/atau
perdagangan barang dan/atau jasa;
- menyediakan, mengelola, dan/atau
mengoperasikan layanan transaksi keuangan;
- pengiriman materi atau muatan digital
berbayar melalui jaringan data baik dengan
cara unduh melalui portal atau situs,
pengiriman lewat surat elektronik, atau
melalui aplikasi lain ke perangkat pengguna;
- menyediakan, mengelola, dan/atau mengoperasikan layanan komunikasi meliputi
namun tidak terbatas pada pesan singkat,
panggilan suara, panggilan video, surat
elektronik, dan percakapan dalam jaringan
dalam bentuk platform digital, layanan jejaring dan media sosial;
- layanan mesin pencari, layanan penyediaan
Informasi Elektronik yang berbentuk tulisan,
suara, gambar, animasi, musik, video, film,
dan permainan atau kombinasi dari sebagian
dan/atau seluruhnya; dan/atau
- pemrosesan Data Pribadi untuk kegiatan
operasional melayani masyarakat yang terkait
dengan aktivitas Transaksi Elektronik.
2019, No.185 -9-
Pasal 3
(1) Setiap Penyelenggara Sistem Elektronik harus
menyelenggarakan Sistem Elektronik secara andal
dan aman serta bertanggung jawab terhadap beroperasinya Sistem Elektronik sebagaimana
mestinya.
(2) Penyelenggara Sistem Elektronik bertanggung jawab
terhadap penyelenggaraan Sistem Elektroniknya.
(3) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak
berlaku dalam hal dapat dibuktikan terjadinya
keadaan memaksa, kesalahan, dan/atau kelalaian
pihak Pengguna Sistem Elektronik.
Pasal 4
Sepanjang tidak ditentukan lain oleh undang-undang tersendiri, setiap Penyelenggara Sistem Elektronik wajib
mengoperasikan Sistem Elektronik yang memenuhi
persyaratan minimum sebagai berikut:
- dapat menampilkan kembali Informasi Elektronik
dan/atau Dokumen Elektronik secara utuh sesuai
dengan masa retensi yang ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan;
- dapat melindungi ketersediaan, keutuhan,
keotentikan, kerahasiaan, dan keteraksesan
Informasi Elektronik dalam penyelenggaraan Sistem
Elektronik tersebut;
- dapat beroperasi sesuai dengan prosedur atau
petunjuk dalam penyelenggaraan Sistem Elektronik
tersebut;
- dilengkapi dengan prosedur atau petunjuk yang
diumumkan dengan bahasa, informasi, atau simbol
yang dapat dipahami oleh pihak yang bersangkutan dengan penyelenggaraan Sistem Elektronik tersebut;
dan
- memiliki mekanisme yang berkelanjutan untuk
menjaga kebaruan, kejelasan, dan
kebertanggungjawaban prosedur atau petunjuk.
2019, No. 185 -10-
Pasal 5
(1) Penyelenggara Sistem Elektronik wajib memastikan
Sistem Elektroniknya tidak memuat Informasi
Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang dilarang sesuai dengan ketentuan perundang-
undangan.
(2) Penyelenggara Sistem Elekronik wajib memastikan
Sistem Elektroniknya tidak memfasilitasi
penyebarluasan Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang dilarang sesuai dengan
ketentuan perundang-undangan.
(3) Ketentuan mengenai kewajiban Penyelenggara Sistem
Elektronik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan
ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri.
Bagian Kedua
Pendaftaran Sistem Elektronik
Pasal 6
(1) Setiap Penyelenggara Sistem Elektronik sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) wajib melakukan pendaftaran.
(2) Kewajiban melakukan pendaftaran bagi
Penyelenggara Sistem Elektronik dilakukan sebelum
Sistem Elektronik mulai digunakan oleh Pengguna
Sistem Elektronik.
(3) Pendaftaran Penyelenggara Sistem Elektronik
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan
kepada Menteri melalui pelayanan perizinan
berusaha terintegrasi secara elektronik sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pendaftaran
Penyelenggara Sistem Elektronik sebagaimana
dimaksud pada ayat (3) mengacu pada norma,
standar, prosedur, dan kriteria yang diatur dengan
Peraturan Menteri.
2019, No.185 -11-
Bagian Ketiga
Perangkat Keras
Pasal 7
(1) Perangkat Keras yang digunakan oleh Penyelenggara
Sistem Elektronik harus:
- memenuhi aspek keamanan, interkonektivitas
dan kompatibilitas dengan sistem yang
digunakan;
- mempunyai layanan dukungan teknis,
pemeliharaan, dan/atau purnajual dari penjual
atau penyedia; dan
- memiliki jaminan keberlanjutan layanan.
(2) Pemenuhan terhadap persyaratan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) harus dilakukan melalui sertifikasi atau bukti-bukti sejenis lainnya.
Bagian Keempat
Perangkat Lunak
Pasal 8
Perangkat Lunak yang digunakan oleh Penyelenggara Sistem Elektronik harus:
- terjamin keamanan dan keandalan operasi
sebagaimana mestinya; dan
- memastikan keberlanjutan layanan.
Pasal 9
(1) Pengembang yang menyediakan Perangkat Lunak
yang khusus dikembangkan untuk Penyelenggara
Sistem Elektronik Lingkup Publik wajib
menyerahkan kode sumber dan dokumentasi atas
Perangkat Lunak kepada Instansi atau institusi yang bersangkutan.
(2) Instansi atau institusi yang bersangkutan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib
menyimpan kode sumber dan dokumentasi atas
2019, No. 185 -12-
Perangkat Lunak dimaksud pada sarana sesuai
dengan ketentuan perundang-undangan.
(3) Dalam hal sarana sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) belum tersedia, Instansi atau institusi dapat
menyimpan kode sumber dan dokumentasi atas
Perangkat Lunak kepada pihak ketiga terpercaya
penyimpan kode sumber.
(4) Pengembang wajib menjamin perolehan dan/atau
Akses terhadap kode sumber dan dokumentasi atas Perangkat Lunak kepada pihak ketiga terpercaya
sebagaimana dimaksud pada ayat (3).
(5) Penyelenggara Sistem Elektronik Lingkup Publik
wajib menjamin kerahasiaan kode sumber Perangkat
Lunak yang digunakan dan hanya digunakan untuk
kepentingan Penyelenggara Sistem Elektronik Lingkup Publik.
(6) Ketentuan lebih lanjut mengenai kewajiban
penyerahan kode sumber dan dokumentasi atas
Perangkat Lunak kepada Instansi atau institusi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan
penyimpanan kode sumber dan dokumentasi atas Perangkat Lunak kepada pihak ketiga terpercaya
sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan
Peraturan Menteri.
Bagian Kelima Tenaga Ahli
Pasal 10
(1) Tenaga ahli yang digunakan oleh Penyelenggara
Sistem Elektronik harus memiliki kompetensi di
bidang Sistem Elektronik atau Teknologi Informasi.
(2) Tenaga ahli sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
wajib memenuhi ketentuan peraturan perundang-
undangan.
2019, No.185 -13-
Bagian Keenam
Tata Kelola Sistem Elektronik
Pasal 11
(1) Penyelenggara Sistem Elektronik harus menjamin:
tersedianya perjanjian tingkat layanan;
tersedianya perjanjian keamanan informasi
terhadap jasa layanan Teknologi Informasi yang
digunakan; dan
- keamanan informasi dan sarana komunikasi
internal yang diselenggarakan.
(2) Penyelenggara Sistem Elektronik sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) harus menjamin setiap
komponen dan keterpaduan seluruh Sistem
Elektronik beroperasi sebagaimana mestinya.
Pasal 12
Penyelenggara Sistem Elektronik harus menerapkan
manajemen risiko terhadap kerusakan atau kerugian
yang ditimbulkan.
Pasal 13
Penyelenggara Sistem Elektronik harus memiliki
kebijakan tata kelola, prosedur kerja pengoperasian, dan
mekanisme audit yang dilakukan berkala terhadap Sistem
Elektronik.
Pasal 14
(1) Penyelenggara Sistem Elektronik wajib
melaksanakan prinsip pelindungan Data Pribadi
dalam melakukan pemrosesan Data Pribadi
meliputi:
- pengumpulan Data Pribadi dilakukan secara
terbatas dan spesifik, sah secara hukum, adil,
dengan sepengetahuan dan persetujuan dari
pemilik Data Pribadi;
2019, No. 185 -14-
- pemrosesan Data Pribadi dilakukan sesuai
dengan tujuannya;
- pemrosesan Data Pribadi dilakukan dengan
menjamin hak pemilik Data Pribadi;
- pemrosesan Data Pribadi dilakukan secara
akurat, lengkap, tidak menyesatkan, mutakhir,
dapat dipertanggungjawabkan, dan
memperhatikan tujuan pemrosesan Data
Pribadi;
- pemrosesan Data Pribadi dilakukan dengan
melindungi keamanan Data Pribadi dari
kehilangan, penyalahgunaan, Akses dan
pengungkapan yang tidak sah, serta
pengubahan atau perusakan Data Pribadi;
- pemrosesan Data Pribadi dilakukan dengan memberitahukan tujuan pengumpulan, aktivitas
pemrosesan, dan kegagalan pelindungan Data
Pribadi; dan
- pemrosesan Data Pribadi dimusnahkan
dan/atau dihapus kecuali masih dalam masa
retensi sesuai dengan kebutuhan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2) Pemrosesan Data Pribadi sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) meliputi:
perolehan dan pengumpulan;
pengolahan dan penganalisisan;
penyimpanan;
perbaikan dan pembaruan;
penampilan, pengumuman, transfer,
penyebarluasan, atau pengungkapan; dan/atau
- penghapusan atau pemusnahan.
(3) Pemrosesan Data Pribadi harus memenuhi
ketentuan adanya persetujuan yang sah dari pemilik
Data Pribadi untuk 1 (satu) atau beberapa tujuan
tertentu yang telah disampaikan kepada pemilik
Data Pribadi.
2019, No.185 -15-
(4) Selain adanya persetujuan sebagaimana dimaksud
pada ayat (3), pemrosesan Data Pribadi harus
memenuhi ketentuan yang diperlukan untuk:
- pemenuhan kewajiban perjanjian dalam hal pemilik Data Pribadi merupakan salah satu
pihak atau untuk memenuhi permintaan pemilik
Data Pribadi pada saat akan melakukan
perjanjian;
- pemenuhan kewajiban hukum dari pengendali Data Pribadi sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan;
- pemenuhan pelindungan kepentingan yang sah
(vital interest) pemilik Data Pribadi;
- pelaksanaan kewenangan pengendali Data
Pribadi berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan;
- pemenuhan kewajiban pengendali Data Pribadi
dalam pelayanan publik untuk kepentingan
umum; dan/atau
- pemenuhan kepentingan yang sah lainnya dari
pengendali Data Pribadi dan/atau pemilik Data Pribadi.
(5) Jika terjadi kegagalan dalam pelindungan terhadap
Data Pribadi yang dikelolanya, Penyelenggara Sistem
Elektronik wajib memberitahukan secara tertulis
kepada pemilik Data Pribadi tersebut.
(6) Ketentuan mengenai teknis pemrosesan Data Pribadi
diatur sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Pasal 15
(1) Setiap Penyelenggara Sistem Elektronik wajib
menghapus Informasi Elektronik dan/atau Dokumen
Elektronik yang tidak relevan yang berada di bawah
kendalinya atas permintaan orang yang
bersangkutan.
2019, No. 185 -16-
(2) Kewajiban penghapusan Informasi Elektronik
dan/atau Dokumen Elektronik yang tidak relevan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari:
- penghapusan (right to erasure); dan
- pengeluaran dari daftar mesin pencari (right to
delisting).
(3) Penyelenggara Sistem Elektronik yang wajib
menghapus Informasi Elektronik dan/atau Dokumen
Elektronik sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
merupakan Penyelenggara Sistem Elektronik yang memperoleh dan/atau memproses Data Pribadi di
bawah kendalinya.
Pasal 16
(1) Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik
yang tidak relevan yang dilakukan penghapusan (right to erasure) sebagaimana dimaksud dalam Pasal
15 ayat (2) huruf a terdiri atas Data Pribadi yang:
- diperoleh dan diproses tanpa persetujuan
pemilik Data Pribadi;
telah ditarik persetujuannya oleh pemilik Data Pribadi;
diperoleh dan diproses dengan cara melawan
hukum;
- sudah tidak sesuai lagi dengan tujuan perolehan
berdasarkan perjanjian dan/atau ketentuan
peraturan perundang-undangan;
- penggunaannya telah melampaui waktu sesuai
dengan perjanjian dan/atau ketentuan
peraturan perundang-undangan; dan/atau
- ditampilkan oleh Penyelenggara Sistem
Elektronik yang mengakibatkan kerugian bagi
pemilik Data Pribadi.
(2) Kewajiban penghapusan Informasi Elektronik
dan/atau Dokumen Elektronik sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku dalam hal
Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik
2019, No.185 -17-
tersebut wajib disimpan atau dilarang untuk dihapus
oleh Penyelenggara Sistem Elektronik sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 17
(1) Penghapusan Informasi Elektronik dan/atau
Dokumen Elektronik yang tidak relevan yang
dilakukan pengeluaran dari daftar mesin pencari
(right to delisting) sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 15 ayat (2) huruf b dilakukan berdasarkan
penetapan pengadilan.
(2) Permohonan penetapan penghapusan Informasi
Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik kepada
pengadilan negeri setempat dilakukan oleh orang
yang bersangkutan sebagai pemilik Data Pribadi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
(3) Permohonan penetapan penghapusan sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) harus memuat:
identitas pemohon;
identitas Penyelenggara Sistem Elektronik dan/atau alamat Sistem Elektronik;
Data Pribadi yang tidak relevan di bawah kendali
Penyelenggara Sistem Elektronik; dan
- alasan permintaan penghapusan.
(4) Dalam hal pengadilan mengabulkan permohonan
penetapan penghapusan sebagaimana dimaksud
pada ayat (2), Penyelenggara Sistem Elektronik wajib
melakukan penghapusan Informasi Elektronik
dan/atau Dokumen Elektronik yang tidak relevan.
(5) Penetapan pengadilan sebagaimana dimaksud pada
ayat (4) menjadi dasar permintaan penghapusan Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik
yang tidak relevan oleh orang yang bersangkutan
kepada Penyelenggara Sistem Elektronik.
2019, No. 185 -18-
Pasal 18
(1) Setiap Penyelenggara Sistem Elektronik wajib
menyediakan mekanisme penghapusan Informasi
Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang sudah tidak relevan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
(2) Mekanisme penghapusan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) paling sedikit memuat ketentuan
mengenai:
- penyediaan saluran komunikasi antara
Penyelenggara Sistem Elektronik dengan pemilik
Data Pribadi;
- fitur penghapusan Informasi Elektronik dan/atau
Dokumen Elektronik yang tidak relevan yang
memungkinkan pemilik Data Pribadi melakukan penghapusan Data Pribadinya; dan
- pendataan atas permintaan penghapusan
Informasi Elektronik dan/atau Dokumen
Elektronik yang tidak relevan.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai mekanisme
penghapusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri.
(4) Ketentuan mengenai mekanisme penghapusan dalam
sektor tertentu dapat dibuat oleh Kementerian atau
Lembaga terkait setelah berkoordinasi dengan
Menteri.
Pasal 19
(1) Penyelenggara Sistem Elektronik harus menerapkan
tata kelola Sistem Elektronik yang baik dan
akuntabel.
(2) Tata kelola sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
paling sedikit memenuhi persyaratan:
- tersedianya prosedur atau petunjuk dalam
penyelenggaraan Sistem Elektronik yang
didokumentasikan dan/atau diumumkan dengan
bahasa, informasi, atau simbol yang dimengerti
2019, No.185 -19-
oleh pihak yang terkait dengan penyelenggaraan
Sistem Elektronik tersebut;
- adanya mekanisme yang berkelanjutan untuk
menjaga kebaruan dan kejelasan prosedur pedoman pelaksanaan;
- adanya kelembagaan dan kelengkapan personel
pendukung bagi pengoperasian Sistem Elektronik
sebagaimana mestinya;
- adanya penerapan manajemen kinerja pada Sistem Elektronik yang diselenggarakannya
untuk memastikan Sistem Elektronik beroperasi
sebagaimana mestinya; dan
- adanya rencana menjaga keberlangsungan
penyelenggaraan Sistem Elektronik yang
dikelolanya.
(3) Selain persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat
(2), Kementerian atau Lembaga terkait dapat
menentukan persyaratan lain yang ditetapkan dalam
peraturan perundang-undangan.
Pasal 20
(1) Penyelenggara Sistem Elektronik Lingkup Publik
wajib memiliki rencana keberlangsungan kegiatan
untuk menanggulangi gangguan atau bencana sesuai
dengan risiko dari dampak yang ditimbulkannya.
(2) Penyelenggara Sistem Elektronik Lingkup Publik
wajib melakukan pengelolaan, pemrosesan, dan/atau
penyimpanan Sistem Elektronik dan Data Elektronik
di wilayah Indonesia.
(3) Penyelenggara Sistem Elektronik Lingkup Publik
dapat melakukan pengelolaan, pemrosesan,
dan/atau penyimpanan Sistem Elektronik dan Data Elektronik di luar wilayah Indonesia dalam hal
teknologi penyimpanan tidak tersedia di dalam
negeri.
(4) Kriteria teknologi penyimpanan tidak tersedia di
dalam negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
2019, No. 185 -20-
ditentukan oleh komite yang terdiri atas kementerian
yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di
bidang komunikasi dan informatika, lembaga yang
membidangi urusan pengkajian dan penerapan teknologi, lembaga yang membidangi urusan
keamanan siber, dan Kementerian atau Lembaga
terkait.
(5) Pembentukan komite sebagaimana dimaksud pada
ayat (4) ditetapkan oleh Menteri.
(6) Dalam hal Penyelenggara Sistem Elektronik Lingkup
Publik menggunakan layanan pihak ketiga,
Penyelenggara Sistem Elektronik Lingkup Publik
wajib melakukan klasifikasi data sesuai risiko yang
ditimbulkan.
(7) Ketentuan lebih lanjut mengenai klasifikasi data
sesuai risiko sebagaimana dimaksud pada ayat (6)
diatur dengan Peraturan Menteri.
Pasal 21
(1) Penyelenggara Sistem Elektronik Lingkup Privat dapat
melakukan pengelolaan, pemrosesan, dan/atau penyimpanan Sistem Elektronik dan Data Elektronik
di wilayah Indonesia dan/atau di luar wilayah
Indonesia.
(2) Dalam hal Sistem Elektronik dan Data Elektronik
dilakukan pengelolaan, pemrosesan, dan/atau penyimpanan di luar wilayah Indonesia,
Penyelenggara Sistem Elektronik Lingkup Privat wajib
memastikan efektivitas pengawasan oleh Kementerian
atau Lembaga dan penegakan hukum.
(3) Penyelenggara Sistem Elektronik Lingkup Privat wajib
memberikan Akses terhadap Sistem Elektronik dan Data Elektronik dalam rangka pengawasan dan
penegakan hukum sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
(4) Ketentuan mengenai pengelolaan, pemrosesan, dan
penyimpanan Sistem Elektronik dan Data Elektronik
2019, No.185 -21-
bagi Penyelenggara Sistem Elektronik Lingkup Privat
di sektor keuangan diatur lebih lanjut oleh otoritas
pengatur dan pengawas sektor keuangan.
Bagian Ketujuh
Pengamanan Penyelenggaraan Sistem Elektronik
Pasal 22
(1) Penyelenggara Sistem Elektronik wajib menyediakan
rekam jejak audit terhadap seluruh kegiatan
penyelenggaraan Sistem Elektronik.
(2) Rekam jejak audit sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) digunakan untuk keperluan pengawasan,
penegakan hukum, penyelesaian sengketa, verifikasi,
pengujian, dan pemeriksaan lainnya.
Pasal 23
Penyelenggara Sistem Elektronik wajib melakukan
pengamanan terhadap komponen Sistem Elektronik.
Pasal 24
(1) Penyelenggara Sistem Elektronik wajib memiliki dan
menjalankan prosedur dan sarana untuk
pengamanan Sistem Elektronik dalam menghindari
gangguan, kegagalan, dan kerugian.
(2) Penyelenggara Sistem Elektronik wajib menyediakan
sistem pengamanan yang mencakup prosedur dan
sistem pencegahan dan penanggulangan terhadap
ancaman dan serangan yang menimbulkan
gangguan, kegagalan, dan kerugian.
(3) Dalam hal terjadi kegagalan atau gangguan sistem
yang berdampak serius sebagai akibat perbuatan dari pihak lain terhadap Sistem Elektronik,
Penyelenggara Sistem Elektronik wajib
mengamankan Informasi Elektronik dan/atau
Dokumen Elektronik dan segera melaporkan dalam
2019, No. 185 -22-
kesempatan pertama kepada aparat penegak hukum
dan Kementerian atau Lembaga terkait.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai sistem pengamanan
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dalam peraturan kepala lembaga yang melaksanakan
urusan pemerintahan di bidang keamanan siber.
Pasal 25
Penyelenggara Sistem Elektronik wajib menampilkan kembali Informasi Elektronik dan/atau Dokumen
Elektronik secara utuh sesuai dengan format dan masa
retensi yang ditetapkan berdasarkan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Pasal 26
(1) Penyelenggara Sistem Elektronik wajib menjaga
kerahasiaan, keutuhan, keautentikan, keteraksesan,
ketersediaan, dan dapat ditelusurinya suatu
Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
(2) Dalam penyelenggaraan Sistem Elektronik yang
ditujukan untuk Informasi Elektronik dan/atau
Dokumen Elektronik yang dapat dipindahtangankan,
Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik
harus unik serta menjelaskan penguasaan dan kepemilikannya.
Pasal 27
Penyelenggara Sistem Elektronik harus menjamin
berfungsinya Sistem Elektronik sesuai dengan
peruntukannya, dengan tetap memperhatikan interoperabilitas dan kompatibilitas dengan Sistem
Elektronik sebelumnya dan/atau Sistem Elektronik yang
terkait.
2019, No.185 -23-
Pasal 28
(1) Penyelenggara Sistem Elektronik wajib melakukan
edukasi kepada Pengguna Sistem Elektronik.
(2) Edukasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling
sedikit mengenai hak, kewajiban, dan tanggung
jawab seluruh pihak terkait, serta prosedur
pengajuan komplain.
Pasal 29
Penyelenggara Sistem Elektronik wajib menyampaikan
informasi kepada Pengguna Sistem Elektronik paling
sedikit mengenai:
identitas Penyelenggara Sistem Elektronik;
objek yang ditransaksikan;
kelaikan atau keamanan Sistem Elektronik;
tata cara penggunaan perangkat;
syarat kontrak;
prosedur mencapai kesepakatan;
jaminan privasi dan/atau pelindungan Data Pribadi;
dan
- nomor telepon pusat pengaduan.
Pasal 30
(1) Penyelenggara Sistem Elektronik wajib menyediakan
fitur sesuai dengan karakteristik Sistem Elektronik
yang digunakannya.
(2) Fitur sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling
sedikit berupa fasilitas untuk:
melakukan koreksi;
membatalkan perintah;
memberikan konfirmasi atau rekonfirmasi;
memilih meneruskan atau berhenti melaksanakan aktivitas berikutnya;
melihat informasi yang disampaikan berupa
tawaran Kontrak Elektronik atau iklan;
- mengecek status berhasil atau gagalnya
Transaksi Elektronik; dan
2019, No. 185 -24-
- membaca perjanjian sebelum melakukan
Transaksi Elektronik.
Pasal 31
Penyelenggara Sistem Elektronik wajib melindungi
penggunanya dan masyarakat luas dari kerugian yang
ditimbulkan oleh Sistem Elektronik yang
diselenggarakannya.
Pasal 32
(1) Setiap orang yang bekerja di lingkungan
penyelenggaraan Sistem Elektronik wajib
mengamankan dan melindungi sarana dan prasarana
Sistem Elektronik atau informasi yang disalurkan
melalui Sistem Elektronik.
(2) Penyelenggara Sistem Elektronik wajib menyediakan,
mendidik, dan melatih personel yang bertugas dan
bertanggung jawab terhadap pengamanan dan
pelindungan sarana dan prasarana Sistem
Elektronik.
Pasal 33
Untuk keperluan proses peradilan pidana, Penyelenggara
Sistem Elektronik wajib memberikan Informasi Elektronik
dan/atau Data Elektronik yang terdapat di dalam Sistem
Elektronik atau Informasi Elektronik dan/atau Data Elektronik yang dihasilkan oleh Sistem Elektronik atas
permintaan yang sah dari penyidik untuk tindak pidana
tertentu sesuai dengan kewenangan yang diatur dalam
undang-undang.
2019, No.185 -25-
Bagian Kedelapan
Uji Kelaikan Sistem Elektronik
Pasal 34
(1) Penyelenggara Sistem Elektronik wajib melakukan Uji
Kelaikan Sistem Elektronik.
(2) Kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dapat dilaksanakan terhadap seluruh komponen
atau sebagian komponen dalam Sistem Elektronik sesuai dengan karakteristik kebutuhan pelindungan
dan sifat strategis penyelenggaraan Sistem
Elektronik.
Bagian Kesembilan
Pengawasan
Pasal 35
(1) Menteri berwenang melakukan pengawasan terhadap
penyelenggaraan Sistem Elektronik.
(2) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
mencakup pemantauan, pengendalian, pemeriksaan, penelusuran, dan pengamanan.
(3) Ketentuan mengenai pengawasan atas
penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam sektor
tertentu wajib dibuat oleh Kementerian atau
Lembaga terkait setelah berkoordinasi dengan Menteri.
2019, No. 185 -26-
Bagian Kesatu Agen Elektronik
Pasal 36
(1) Penyelenggara Sistem Elektronik dapat
menyelenggarakan sendiri Sistem Elektroniknya atau melalui Agen Elektronik.
(2) Agen Elektronik sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
merupakan bagian dari Sistem Elektronik.
(3) Kewajiban Penyelenggara Sistem Elektronik berlaku
mutatis mutandis terhadap penyelenggara Agen
Elektronik.
(4) Agen Elektronik dapat berbentuk:
visual;
audio;
Data Elektronik; dan
bentuk lainnya.
Pasal 37
(1) Penyelenggara Agen Elektronik wajib memuat atau
menyampaikan informasi untuk melindungi hak
pengguna pada Agen Elektronik yang
diselenggarakannya, meliputi paling sedikit informasi mengenai:
identitas penyelenggara Agen Elektronik;
objek yang ditransaksikan;
kelayakan atau keamanan Agen Elektronik;
tata cara penggunaan perangkat;
syarat kontrak;
prosedur mencapai kesepakatan;
jaminan privasi dan/atau pelindungan Data
Pribadi; dan
- nomor telepon pusat pengaduan.
2019, No.185 -27-
(2) Penyelenggara Agen Elektronik wajib memuat atau
menyediakan fitur dalam rangka melindungi hak
pengguna pada Agen Elektronik yang
diselenggarakannya sesuai dengan karakteristik Agen Elektronik yang digunakannya.
(3) Fitur sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berupa
fasilitas untuk:
melakukan koreksi;
membatalkan perintah;
memberikan konfirmasi atau rekonfirmasi;
memilih meneruskan atau berhenti
melaksanakan aktivitas berikutnya;
- melihat informasi yang disampaikan berupa
tawaran Kontrak Elektronik atau iklan;
mengecek status berhasil atau gagalnya transaksi; dan/atau
membaca perjanjian sebelum melakukan
transaksi.
(4) Penyelenggara Agen Elektronik harus menyediakan
fitur pada Agen Elektronik yang dioperasikannya
yang memungkinkan penggunanya melakukan perubahan informasi yang masih dalam proses
transaksi.
Pasal 38
(1) Agen Elektronik dapat diselenggarakan untuk lebih
dari 1 (satu) kepentingan Penyelenggara Sistem
Elektronik yang didasarkan pada perjanjian antara
para pihak.
(2) Perjanjian sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
harus memuat paling sedikit:
hak dan kewajiban;
tanggung jawab;
mekanisme pengaduan dan penyelesaian
sengketa;
jangka waktu;
biaya;
2019, No. 185 -28-
cakupan layanan; dan
pilihan hukum.
(3) Dalam hal Agen Elektronik diselenggarakan untuk
lebih dari 1 (satu) kepentingan Penyelenggara Sistem Elektronik, penyelenggara Agen Elektronik wajib
memberikan perlakuan yang sama terhadap
Penyelenggara Sistem Elektronik yang menggunakan
Agen Elektronik tersebut.
(4) Dalam hal Agen Elektronik diselenggarakan untuk
kepentingan lebih dari 1 (satu) Penyelenggara Sistem
Elektronik, penyelenggara Agen Elektronik tersebut
dianggap sebagai Penyelenggara Sistem Elektronik
tersendiri.
Bagian Kedua Kewajiban
Pasal 39
(1) Dalam penyelenggaraan Agen Elektronik,
penyelenggara Agen Elektronik harus memperhatikan
prinsip:
kehati-hatian;
pengamanan dan terintegrasinya sistem
Teknologi Informasi;
- pengendalian pengamanan atas aktivitas
Transaksi Elektronik;
efektivitas dan efisiensi biaya; dan
pelindungan konsumen sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2) Penyelenggara Agen Elektronik wajib memiliki dan
menjalankan prosedur standar pengoperasian yang
memenuhi prinsip pengendalian pengamanan data pengguna dan Transaksi Elektronik.
(3) Prinsip pengendalian pengamanan data pengguna
dan Transaksi Elektronik sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) meliputi:
- kerahasiaan;
2019, No.185 -29-
integritas;
ketersediaan;
keautentikan;
otorisasi; dan
kenirsangkalan.
Pasal 40
(1) Penyelenggara Agen Elektronik wajib:
- melakukan pengujian keautentikan identitas dan memeriksa otorisasi Pengguna Sistem
Elektronik yang melakukan Transaksi
Elektronik;
- memiliki dan melaksanakan kebijakan dan
prosedur untuk mengambil tindakan jika
terdapat indikasi terjadi pencurian data;
- memastikan pengendalian terhadap otorisasi
dan hak Akses terhadap sistem, database, dan
aplikasi Transaksi Elektronik;
- menyusun dan melaksanakan metode dan
prosedur untuk melindungi dan/atau
merahasiakan integritas data, catatan, dan informasi terkait Transaksi Elektronik;
- memiliki dan melaksanakan standar dan
pengendalian atas penggunaan dan pelindungan
data jika pihak penyedia jasa memiliki Akses
terhadap data tersebut;
- memiliki rencana keberlangsungan bisnis
termasuk rencana kontingensi yang efektif
untuk memastikan tersedianya sistem dan jasa
Transaksi Elektronik secara berkesinambungan;
dan
- memiliki prosedur penanganan kejadian tak terduga yang cepat dan tepat untuk mengurangi
dampak suatu insiden, penipuan, dan kegagalan
Sistem Elektronik.
(2) Penyelenggara Agen Elektronik wajib menyusun dan
menetapkan prosedur untuk menjamin Transaksi
2019, No. 185 -30-
Elektronik sehingga tidak dapat diingkari oleh
konsumen.
Bagian Kesatu
Lingkup Penyelenggaraan Transaksi Elektronik
Pasal 41
(1) Penyelenggaraan Transaksi Elektronik dapat
dilakukan dalam lingkup publik ataupun privat.
(2) Penyelenggaraan Transaksi Elektronik dalam lingkup
publik meliputi Penyelenggaraan Transaksi
Elektronik oleh:
Instansi;
institusi yang ditunjuk oleh Instansi;
antar-Instansi;
antar-institusi yang ditunjuk;
antara Instansi dengan institusi yang ditunjuk;
dan
- antara Instansi atau institusi dengan Pelaku
Usaha sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
(3) Penyelenggaraan Transaksi Elektronik dalam lingkup
privat meliputi Transaksi Elektronik:
antar-Pelaku Usaha;
antara Pelaku Usaha dengan konsumen; dan
antarpribadi.
2019, No.185 -31-
Bagian Kedua
Persyaratan Penyelenggaraan Transaksi Elektronik
Pasal 42
(1) Penyelenggaraan Transaksi Elektronik wajib
menggunakan Sertifikat Elektronik yang diterbitkan
oleh Penyelenggara Sertifikasi Elektronik Indonesia.
(2) Penyelenggaraan Transaksi Elektronik dapat
menggunakan Sertifikat Keandalan.
(3) Dalam hal menggunakan Sertifikat Keandalan
sebagaimana dimaksud pada ayat (2),
Penyelenggaraan Transaksi Elektronik wajib
menggunakan Sertifikat Keandalan yang diterbitkan
oleh Lembaga Sertifikasi Keandalan yang terdaftar.
Pasal 43
Penyelenggaraan Transaksi Elektronik yang
dilaksanakan oleh Penyelenggara Sistem Elektronik
Lingkup Publik harus memperhatikan aspek keamanan,
keandalan, dan efisiensi.
Pasal 44
(1) Pengirim wajib memastikan Informasi Elektronik
yang dikirim benar dan tidak bersifat mengganggu.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai pengiriman
Informasi Elektronik diatur dalam Peraturan Menteri.
Bagian Ketiga
Persyaratan Transaksi Elektronik
Pasal 45
(1) Transaksi Elektronik yang dilakukan para pihak
memberikan akibat hukum kepada para pihak.
(2) Penyelenggaraan Transaksi Elektronik yang
dilakukan para pihak harus memperhatikan:
iktikad baik;
prinsip kehati-hatian;
2019, No. 185 -32-
transparansi;
akuntabilitas; dan
kewajaran.
Pasal 46
(1) Transaksi Elektronik dapat dilakukan berdasarkan
Kontrak Elektronik atau bentuk kontraktual lainnya
sebagai bentuk kesepakatan yang dilakukan oleh
para pihak.
(2) Kontrak Elektronik dianggap sah apabila:
terdapat kesepakatan para pihak;
dilakukan oleh subjek hukum yang cakap atau
yang berwenang mewakili sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan;
- terdapat hal tertentu; dan
- objek transaksi tidak boleh bertentangan dengan
peraturan perundang-undangan, kesusilaan,
dan ketertiban umum.
Pasal 47
(1) Kontrak Elektronik dan bentuk kontraktual lainnya
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 ayat (1) yang
ditujukan kepada penduduk Indonesia harus dibuat
dalam Bahasa Indonesia.
(2) Kontrak Elektronik yang dibuat dengan klausula
baku harus sesuai dengan ketentuan mengenai klausula baku sebagaimana diatur dalam peraturan
perundang-undangan.
(3) Kontrak Elektronik paling sedikit memuat:
data identitas para pihak;
objek dan spesifikasi;
persyaratan Transaksi Elektronik;
harga dan biaya;
prosedur dalam hal terdapat pembatalan oleh
para pihak;
- ketentuan yang memberikan hak kepada pihak
yang dirugikan untuk dapat mengembalikan
2019, No.185 -33-
barang dan/atau meminta penggantian produk
jika terdapat cacat tersembunyi; dan
- pilihan hukum penyelesaian Transaksi
Elektronik.
Pasal 48
(1) Pelaku Usaha yang menawarkan produk melalui
Sistem Elektronik harus menyediakan informasi yang
lengkap dan benar berkaitan dengan syarat kontrak, produsen, dan produk yang ditawarkan.
(2) Pelaku Usaha wajib memberikan kejelasan informasi
tentang penawaran kontrak atau iklan.
(3) Pelaku Usaha wajib memberikan batas waktu kepada
konsumen dan/atau penerima kontrak untuk
mengembalikan barang yang dikirim dan/atau jasa yang disediakan apabila tidak sesuai dengan kontrak
atau terdapat cacat tersembunyi.
(4) Pelaku Usaha wajib menyampaikan informasi
mengenai barang yang telah dikirim dan/atau jasa
yang disediakan.
(5) Pelaku Usaha tidak dapat membebani konsumen
mengenai kewajiban membayar barang yang dikirim
dan/atau jasa yang disediakan tanpa dasar kontrak.
Pasal 49
(1) Transaksi Elektronik terjadi pada saat tercapainya
kesepakatan para pihak.
(2) Kecuali ditentukan lain oleh para pihak, kesepakatan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terjadi pada
saat penawaran transaksi yang dikirim oleh Pengirim
telah diterima dan disetujui oleh Penerima.
(3) Kesepakatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
dapat dilakukan dengan cara:
- tindakan penerimaan yang menyatakan
persetujuan; atau
- tindakan penerimaan dan/atau pemakaian objek
oleh Pengguna Sistem Elektronik.
2019, No. 185 -34-
Pasal 50
(1) Dalam Penyelenggaraan Transaksi Elektronik para
pihak harus menjamin:
- pemberian data dan informasi yang benar; dan
- ketersediaan sarana dan layanan serta
penyelesaian pengaduan.
(2) Dalam Penyelenggaraan Transaksi Elektronik para
pihak harus menentukan pilihan hukum secara
setimbang terhadap pelaksanaan Transaksi Elektronik.
Bagian Kesatu Sertifikat Elektronik
Pasal 51
(1) Penyelenggara Sistem Elektronik sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) wajib memiliki
Sertifikat Elektronik.
(2) Pengguna Sistem Elektronik dapat menggunakan
Sertifikat Elektronik dalam Transaksi Elektronik.
(3) Untuk memiliki Sertifikat Elektronik, Penyelenggara
Sistem Elektronik dan Pengguna Sistem Elektronik
harus mengajukan permohonan kepada Penyelenggara Sertifikasi Elektronik Indonesia.
(4) Dalam hal diperlukan, Kementerian atau Lembaga
dapat mewajibkan Pengguna Sistem Elektronik
menggunakan Sertifikat Elektronik dalam Transaksi
Elektronik.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai penggunaan
Sertifikat Elektronik sebagaimana dimaksud pada
ayat (4) diatur oleh Kementerian atau Lembaga.
(6) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara memiliki
Sertifikat Elektronik diatur dalam Peraturan Menteri.
2019, No.185 -35-
Bagian Kedua
Penyelenggara Sertifikasi Elektronik
Pasal 52
Penyelenggara Sertifikasi Elektronik berwenang
melakukan:
- pemeriksaan calon pemilik dan/atau pemegang
Sertifikat Elektronik, penerbitan Sertifikat Elektronik,
perpanjangan masa berlaku Sertifikat Elektronik, pemblokiran dan pencabutan Sertifikat Elektronik,
validasi Sertifikat Elektronik; dan pembuatan daftar
Sertifikat Elektronik yang aktif dan yang dicabut; dan
- pembuatan, verifikasi, dan validasi terhadap Tanda
Tangan Elektronik dan/atau layanan lain yang
menggunakan Sertifikat Elektronik.
Pasal 53
(1) Penyelenggara Sertifikasi Elektronik terdiri atas:
- Penyelenggara Sertifikasi Elektronik Indonesia;
dan
- Penyelenggara Sertifikasi Elektronik asing.
(2) Penyelenggaraan sertifikasi elektronik Indonesia
menganut prinsip satu induk.
(3) Penyelenggara Sertifikasi Elektronik Indonesia wajib
mendapatkan pengakuan dari Menteri dengan
berinduk kepada Penyelenggara Sertifikasi Elektronik induk yang diselenggarakan oleh Menteri.
(4) Penyelenggara Sertifikasi Elektronik Indonesia harus
mendapatkan penilaian dari lembaga sertifikasi
Penyelenggara Sertifikasi Elektronik terakreditasi.
(5) Penyelenggara Sertifikasi Elektronik asing yang
beroperasi di Indonesia harus terdaftar di Indonesia.
(6) Ketentuan lebih lanjut mengenai pendaftaran
Penyelenggara Sertifikasi Elektronik asing
sebagaimana dimaksud pada ayat (5) diatur dalam
Peraturan Menteri.
2019, No. 185 -36-
Pasal 54
(1) Pengakuan Penyelenggara Sertifikasi Elektronik
Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53
ayat (3) diberikan oleh Menteri setelah Penyelenggara Sertifikasi Elektronik Indonesia memenuhi
persyaratan proses pengakuan yang diatur dalam
Peraturan Menteri.
(2) Daftar pengakuan Penyelenggara Sertifikasi
Elektronik Indonesia termasuk layanan yang diselenggarakannya dibuat, dipelihara, dan
dipublikasikan oleh Menteri.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara
pengakuan Penyelenggara Sertifikasi Elektronik
Indonesia diatur dalam Peraturan Menteri.
Pasal 55
(1) Penyelenggara Sertifikasi Elektronik Indonesia
berhak memperoleh biaya pendapatan dengan
memungut biaya layanan dari pengguna Sertifikat
Elektronik.
(2) Penyelenggara Sertifikasi Elektronik Indonesia wajib
menyetorkan setiap pendapatan dari biaya layanan
penggunaan Sertifikat Elektronik yang dihitung dari
persentase pendapatan kepada negara.
(3) Pendapatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dan ayat (2) merupakan penerimaan negara bukan pajak.
Bagian Ketiga
Pengawasan
Pasal 56
(1) Menteri melakukan pengawasan terhadap:
- penyelenggaraan sertifikasi elektronik Indonesia;
dan
- Penyelenggara Sertifikasi Elektronik asing.
2019, No.185 -37-
(2) Pengawasan untuk penyelenggaraan sertifikasi
elektronik Indonesia sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) huruf a meliputi:
- pengakuan; dan
- pengoperasian fasilitas Penyelenggara Sertifikasi
Elektronik induk bagi Penyelenggara Sertifikasi
Elektronik Indonesia.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pengawasan
penyelenggaraan sertifikasi elektronik Indonesia dan Penyelenggara Sertifikasi Elektronik asing diatur
dalam Peraturan Menteri.
Bagian Keempat
Layanan Penyelenggara Sertifikasi Elektronik
Paragraf 1
Umum
Pasal 57
(1) Penyelenggara Sertifikasi Elektronik Indonesia
menyediakan layanan yang tersertifikasi.
(2) Layanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
meliputi:
Tanda Tangan Elektronik; dan/atau
layanan lain yang menggunakan Sertifikat
Elektronik.
(3) Layanan lain sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
huruf b meliputi:
segel elektronik;
penanda waktu elektronik;
layanan pengiriman elektronik tercatat;
autentikasi situs web; dan/atau
preservasi Tanda Tangan Elektronik dan/atau
segel elektronik.
2019, No. 185 -38-
Pasal 58
(1) Penyelenggara Sertifikasi Elektronik Indonesia
menanggung kerugian yang diakibatkan oleh
kesengajaan atau kelalaian kepada Orang, Badan Usaha atau Instansi karena kegagalannya dalam
mematuhi kewajibannya sebagaimana diatur dalam
Peraturan Pemerintah ini.
(2) Penyelenggara Sertifikasi Elektronik Indonesia
dianggap sengaja atau lalai kecuali Penyelenggara Sertifikasi Elektronik Indonesia tersebut dapat
membuktikan bahwa kerugian terjadi bukan karena
kesengajaan atau kelalaiannya.
(3) Tanggung jawab pembuktian terhadap kesengajaan
atau kelalaian yang dilakukan oleh pihak yang bukan
Penyelenggara Sertifikasi Elektronik Indonesia menjadi tanggung jawab dari Orang, Badan Usaha
atau Instansi yang mengalami kerugian.
Paragraf 2
Tanda Tangan Elektronik
Pasal 59
(1) Tanda Tangan Elektronik yang digunakan dalam
Transaksi Elektronik dapat dihasilkan melalui
berbagai prosedur penandatanganan.
(2) Dalam hal penggunaan Tanda Tangan Elektronik
mewakili Badan Usaha, Tanda Tangan Elektroniknya
disebut dengan segel elektronik.
(3) Tanda Tangan Elektronik sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dan ayat (2) memiliki kekuatan hukum
dan akibat hukum yang sah selama memenuhi
persyaratan sebagai berikut:
- Data Pembuatan Tanda Tangan Elektronik
terkait hanya kepada Penanda Tangan;
- Data Pembuatan Tanda Tangan Elektronik pada
saat proses penandatanganan elektronik hanya
berada dalam kuasa Penanda Tangan;
2019, No.185 -39-
- segala perubahan terhadap Tanda Tangan
Elektronik yang terjadi setelah waktu
penandatanganan dapat diketahui;
- segala perubahan terhadap Informasi Elektronik yang terkait dengan Tanda Tangan Elektronik
tersebut setelah waktu penandatanganan dapat
diketahui;
- terdapat cara tertentu yang dipakai untuk
mengidentifikasi siapa Penanda Tangannya; dan
- terdapat cara tertentu untuk menunjukkan
bahwa Penanda Tangan telah memberikan
persetujuan terhadap Informasi Elektronik yang
terkait.
Pasal 60
(1) Tanda Tangan Elektronik berfungsi sebagai alat
autentikasi dan verifikasi atas:
identitas Penanda Tangan; dan
keutuhan dan keautentikan Informasi
Elektronik.
(2) Tanda Tangan Elektronik meliputi:
Tanda Tangan Elektronik tersertifikasi; dan
Tanda Tangan Elektronik tidak tersertifikasi.
(3) Tanda Tangan Elektronik tersertifikasi sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) huruf a harus:
- memenuhi keabsahan kekuatan hukum dan akibat hukum Tanda Tangan Elektronik
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 ayat (3);
- menggunakan Sertifikat Elektronik yang dibuat
oleh jasa Penyelenggara Sertifikasi Elektronik
Indonesia; dan
- dibuat dengan menggunakan Perangkat Pembuat Tanda Tangan Elektronik tersertifikasi.
(4) Tanda Tangan Elektronik tidak tersertifikasi
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b dibuat
tanpa menggunakan jasa Penyelenggara Sertifikasi
Elektronik Indonesia.
2019, No. 185 -40-
Paragraf 3
Data Pembuatan Tanda Tangan Elektronik
Pasal 61
(1) Data Pembuatan Tanda Tangan Elektronik harus
secara unik merujuk hanya kepada Penanda Tangan
dan dapat digunakan untuk mengidentifikasi
Penanda Tangan.
(2) Data Pembuatan Tanda Tangan Elektronik
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dibuat
oleh Penyelenggara Sertifikasi Elektronik.
(3) Data Pembuatan Tanda Tangan Elektronik
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2)
harus memenuhi ketentuan:
- jika menggunakan kode kriptografi, Data Pembuatan Tanda Tangan Elektronik harus
tidak dapat dengan mudah diketahui dari data
verifikasi Tanda Tangan Elektronik melalui
penghitungan tertentu, dalam kurun waktu
tertentu, dan dengan alat yang wajar;
- Data Pembuatan Tanda Tangan Elektronik tersimpan dalam suatu media elektronik yang
berada dalam penguasaan Penanda Tangan; dan
- data yang terkait dengan Penanda Tangan wajib
tersimpan di tempat atau sarana penyimpanan
data, yang menggunakan sistem terpercaya milik Penyelenggara Sertifikasi Elektronik yang dapat
mendeteksi adanya perubahan dan memenuhi
persyaratan:
- hanya orang yang diberi wewenang yang
dapat memasukkan data baru, mengubah,
menukar, atau mengganti data;
- informasi identitas Penanda Tangan dapat
diperiksa keautentikannya; dan
- perubahan teknis lainnya yang melanggar
persyaratan keamanan dapat dideteksi atau
diketahui oleh penyelenggara.
2019, No.185 -41-
- jika Data Pembuatan Tanda Tangan Elektronik
dibuat oleh Penyelenggara Sertifikasi Elektronik
maka seluruh proses pembuatan Data
Pembuatan Tanda Tangan Elektronik dijamin keamanan dan kerahasiaannya oleh
Penyelenggara Sertifikasi Elektronik.
(4) Penanda Tangan harus menjaga kerahasiaan dan
bertanggung jawab atas Data Pembuatan Tanda
Tangan Elektronik.
Pasal 62
(1) Pada proses penandatanganan harus dilakukan
mekanisme untuk memastikan data verifikasi Tanda
Tangan Elektronik terkait dengan Data Pembuatan
Tanda Tangan Elektronik masih berlaku atau tidak dicabut.
(2) Pada proses penandatanganan harus dilakukan
mekanisme untuk memastikan Data Pembuatan
Tanda Tangan Elektronik:
tidak dilaporkan hilang;
tidak dilaporkan berpindah tangan kepada orang yang tidak berhak; dan
berada dalam kuasa Penanda Tangan.
(3) Sebelum dilakukan penandatanganan, Informasi
Elektronik yang akan ditandatangani harus diketahui
dan dipahami oleh Penanda Tangan.
(4) Persetujuan Penanda Tangan terhadap Informasi
Elektronik yang akan ditandatangani dengan Tanda
Tangan Elektronik harus menggunakan mekanisme
afirmasi dan/atau mekanisme lain yang
memperlihatkan maksud dan tujuan Penanda
Tangan untuk terikat dalam suatu Transaksi Elektronik.
(5) Tanda Tangan Elektronik pada Informasi Elektronik
paling sedikit:
- dibuat menggunakan Data Pembuatan Tanda
Tangan Elektronik; dan
2019, No. 185 -42-
- mencantumkan waktu penandatanganan.
(6) Perubahan Tanda Tangan Elektronik dan/atau
Informasi Elektronik yang ditandatangani setelah
waktu penandatanganan harus diketahui, dideteksi, atau ditemukenali dengan metode tertentu atau
dengan cara tertentu.
Pasal 63
(1) Penanda Tangan dapat menitipkan Data Pembuatan
Tanda Tangan Elektroniknya kepada Penyelenggara
Sertifikasi Elektronik.
(2) Data Pembuatan Tanda Tangan Elektronik
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dititipkan
hanya kepada Penyelenggara Sertifikasi Elektronik
Indonesia.
(3) Dalam hal Penyelenggara Sertifikasi Elektronik
menyimpan Data Pembuatan Tanda Tangan
Elektronik, Penyelenggara Sertifikasi Elektronik
wajib:
- memastikan penggunaan Data Pembuatan
Tanda Tangan Elektronik hanya berada dalam kuasa Penanda Tangan;
- menggunakan Perangkat Pembuat Tanda Tangan
Elektronik tersertifikasi dalam proses
penyimpanan Data Pembuatan Tanda Tangan
Elektronik; dan
- memastikan mekanisme yang digunakan untuk
penggunaan Data Pembuatan Tanda Tangan
Elektronik untuk Tanda Tangan Elektronik
menerapkan kombinasi paling sedikit 2 (dua)
faktor autentikasi.
(4) Ketentuan mengenai Perangkat Pembuat Tanda
Tangan Elektronik tersertifikasi sebagaimana
dimaksud pada ayat (3) huruf b ditetapkan dalam
Peraturan Menteri.
2019, No.185 -43-
Pasal 64
(1) Sebelum Tanda Tangan Elektronik digunakan,
Penyelenggara Sertifikasi Elektronik wajib
memastikan identifikasi awal Penanda Tangan dengan cara:
- Penanda Tangan menyampaikan identitas
kepada Penyelenggara Sertifikasi Elektronik;
- Penanda Tangan melakukan registrasi kepada
Penyelenggara Sertifikasi Elektronik; dan
- dalam hal diperlukan, Penyelenggara Sertifikasi
Elektronik dapat melimpahkan secara rahasia
data identitas Penanda Tangan kepada
Penyelenggara Sertifikasi Elektronik lainnya
dengan persetujuan Penanda Tangan.
(2) Mekanisme yang digunakan untuk penggunaan Data
Pembuatan Tanda Tangan Elektronik untuk Tanda
Tangan Elektronik menerapkan kombinasi paling
sedikit 2 (dua) faktor autentikasi.
(3) Proses verifikasi Informasi Elektronik yang
ditandatangani dapat dilakukan dengan memeriksa
data verifikasi Tanda Tangan Elektronik untuk menelusuri setiap perubahan data yang
ditandatangani.
Paragraf 4
Segel Elektronik
Pasal 65
Pengaturan mengenai Tanda Tangan Elektronik berlaku
mutatis mutandis terhadap pengaturan segel elektronik.
Paragraf 5 Penanda Waktu Elektronik
Pasal 66
Layanan penanda waktu elektronik terdiri dari:
- layanan penanda waktu elektronik tersertifikasi; dan
2019, No. 185 -44-
- layanan penanda waktu elektronik tidak
tersertifikasi.
Pasal 67
(1) Persyaratan penanda waktu elektronik tersertifikasi
harus memenuhi persyaratan:
- mengikat tanggal dan waktu pada Informasi
Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik untuk
mencegah kemungkinan Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik diubah tanpa
terdeteksi;
- mengacu pada sumber waktu akurat yang
berkaitan dengan waktu universal yang
terkoordinasi;
- menggunakan Sertifikat Elektronik yang dibuat oleh jasa Penyelenggara Sertifikasi Elektronik
Indonesia; dan
- ditandatangani menggunakan Tanda Tangan
Elektronik atau segel elektronik yang
diselenggarakan oleh Penyelenggara Sertifikasi
Elektronik Indonesia atau menggunakan metode yang setara.
(2) Penanda waktu elektronik tersertifikasi harus
memberikan:
tanggal dan waktu secara akurat; dan
integritas Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang berkaitan dengan
tanggal dan waktu tersebut.
(3) Layanan penanda waktu elektronik tidak
tersertifikasi dibuat tanpa menggunakan jasa
Penyelenggara Sertifikasi Elektronik Indonesia.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai penanda waktu
elektronik tersertifikasi diatur dengan Peraturan
Menteri.
2019, No.185 -45-
Paragraf 6
Layanan Pengiriman Elektronik Tercatat
Pasal 68
Layanan pengiriman elektronik tercatat terdiri dari:
- layanan pengiriman elektronik tercatat tersertifikasi;
dan
- layanan pengiriman elektronik tercatat tidak
tersertifikasi.
Pasal 69
(1) Penyelenggara Sertifikasi Elektronik tersertifikasi
yang menyelenggarakan layanan pengiriman
elektronik tercatat tersertifikasi wajib menjamin:
integritas data yang ditransmisikan;
Pengirim data dapat diidentifikasi;
Penerima data dapat diidentifikasi; dan
akurasi tanggal dan waktu pengiriman dan
penerimaan data.
(2) Layanan pengiriman elektronik tercatat tersertifikasi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan paling sedikit:
- diselenggarakan oleh 1 (satu) atau lebih
Penyelenggara Sertifikasi Elektronik Indonesia;
dapat mengidentifikasi Pengirim dengan akurat;
dapat mengidentifikasi alamat Penerima sebelum pengiriman data;
pengiriman dan penerimaan data diamankan
oleh Tanda Tangan Elektronik dan segel
elektronik dari Penyelenggara Sertifikasi
Elektronik Indonesia;
- perubahan data dalam proses pengiriman atau penerimaan data bisa diketahui oleh Pengirim
dan Penerima; dan
- waktu dan tanggal pengiriman, penerimaan, dan
perubahan data dapat ditampilkan dengan
penanda waktu elektronik tersertifikasi.
2019, No. 185 -46-
(3) Jika pengiriman data melibatkan 2 (dua) atau lebih
Penyelenggara Sertifikasi Elektronik Indonesia,
semua persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) berlaku untuk semua Penyelenggara Sertifikasi
Elektronik Indonesia yang terlibat.
(4) Layanan pengiriman elektronik tercatat tidak
tersertifikasi dibuat tanpa menggunakan jasa
Penyelenggara Sertifikasi Elektronik Indonesia.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai layanan pengiriman
elektronik tercatat diatur dengan Peraturan Menteri.
Paragraf 7
Autentikasi Situs Web
Pasal 70
Autentikasi situs web terdiri dari:
autentikasi situs web tersertifikasi; dan
autentikasi situs web tidak tersertifikasi.
Pasal 71
(1) Penyelenggara Sertifikasi Elektronik yang
menyediakan layanan autentikasi situs web harus
memiliki metode yang andal yang mampu
mengidentifikasi Orang atau Badan Usaha yang
bertanggung jawab dalam penyelenggaraan situs web
yang menggunakan layanan autentikasi situs web.
(2) Autentikasi situs web bertujuan untuk menjamin
kepercayaan dalam bertransaksi secara elektronik
melalui situs web.
(3) Autentikasi situs web tersertifikasi harus
menggunakan Sertifikat Elektronik yang dibuat oleh
jasa Penyelenggara Sertifikasi Elektronik Indonesia.
(4) Informasi yang harus dimuat pada Sertifikat
Elektronik yang digunakan untuk autentikasi situs
web meliputi namun tidak terbatas pada:
- nama Orang, Badan Usaha, atau Instansi
penyelenggara situs web;
2019, No.185 -47-
- alamat Orang, Badan Usaha, atau Instansi
paling sedikit menjelaskan kota domisili Orang,
Badan Usaha, atau Instansi beroperasi;
Nama Domain yang dioperasikan oleh penyelenggara situs web;
masa berlaku Sertifikat Elektronik;
identitas Penyelenggara Sertifikasi Elektronik
yang menerbitkan Sertifikat Elektronik; dan
- nomor Sertifikat Elektronik.
(5) Autentikasi situs web tidak tersertifikasi dibuat tanpa
menggunakan jasa Penyelenggara Sertifikasi
Elektronik Indonesia.
(6) Ketentuan lebih lanjut mengenai autentikasi situs
web tersertifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat
(3) diatur dengan Peraturan Menteri.
Paragraf 8
Preservasi Tanda Tangan Elektronik dan/atau Segel Elektronik
Pasal 72
(1) Preservasi Tanda Tangan Elektronik dan/atau segel
elektronik terdiri atas:
- preservasi Tanda Tangan Elektronik dan/atau
segel elektronik tersertifikasi; dan
- preservasi Tanda Tangan Elektronik dan/atau
segel elektronik tidak tersertifikasi.
(2) Preservasi Tanda Tangan Elektronik dan/atau segel
elektronik tersertifikasi harus memenuhi
persyaratan:
- menggunakan Sertifikat Elektronik yang dibuat
oleh jasa Penyelenggara Sertifikasi Elektronik
Indonesia; dan
- Tanda Tangan Elektronik dan/atau segel
elektronik tersertifikasi yang terkandung dalam
Informasi Elektronik dan/atau Dokumen
Elektronik masih dapat divalidasi meskipun masa
berlaku Sertifikat Elektroniknya habis.
2019, No. 185 -48-
(3) Preservasi Tanda Tangan Elektronik dan/atau segel
elektronik tidak tersertifikasi dibuat tanpa
menggunakan jasa Penyelenggara Sertifikasi
Elektronik Indonesia.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai preservasi Tanda
Tangan Elektronik dan/atau segel elektronik
tersertifikasi diatur dengan Peraturan Menteri.
Pasal 73
(1) Pelaku Usaha yang menyelenggarakan Transaksi
Elektronik dapat disertifikasi oleh Lembaga
Sertifikasi Keandalan.
(2) Lembaga Sertifikasi Keandalan harus berdomisili di
Indonesia.
(3) Lembaga Sertifikasi Keandalan dibentuk oleh
profesional.
(4) Profesional yang membentuk Lembaga Sertifikasi
Keandalan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) paling sedikit meliputi profesi:
konsultan Teknologi Informasi;
auditor Teknologi Informasi; dan
konsultan hukum bidang Teknologi Informasi.
(5) Lembaga Sertifikasi Keandalan harus terdaftar dalam
daftar Lembaga Sertifikasi Keandalan yang
diterbitkan oleh Menteri.
(6) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan
pembentukan Lembaga Sertifikasi Keandalan diatur
dengan Peraturan Menteri.
Pasal 74
(1) Sertifikat Keandalan bertujuan melindungi
konsumen dalam Transaksi Elektronik.
(2) Sertifikat Keandalan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) merupakan jaminan bahwa Pelaku Usaha
2019, No.185 -49-
telah memenuhi kriteria yang ditentukan oleh
Lembaga Sertifikasi Keandalan.
(3) Pelaku Usaha yang telah memenuhi kriteria
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berhak menggunakan Sertifikat Keandalan pada laman
dan/atau Sistem Elektronik lainnya.
Pasal 75
(1) Lembaga Sertifikasi Keandalan dapat menerbitkan
Sertifikat Keandalan melalui proses Sertifikasi
Keandalan.
(2) Proses Sertifikasi Keandalan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) mencakup pemeriksaan terhadap
informasi yang lengkap dan benar dari Pelaku Usaha
beserta Sistem Elektroniknya.
(3) Informasi yang lengkap dan benar sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) termasuk namun tidak
terbatas pada informasi yang:
memuat identitas Pelaku Usaha;
memuat kebijakan dan prosedur pelindungan
privasi;
- memuat kebijakan dan prosedur pengamanan
sistem; dan
- memuat pernyataan jaminan atas barang
dan/atau jasa yang ditawarkan.
Pasal 76
(1) Sertifikat Keandalan yang diterbitkan oleh Lembaga
Sertifikasi Keandalan meliputi kategori:
registrasi identitas;
keamanan Sistem Elektronik; dan
kebijakan privasi.
(2) Pemenuhan terhadap kategorisasi sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) menentukan level Sertifikat
Keandalan.
2019, No. 185 -50-
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pengaturan level
Sertifikat Keandalan sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri.
Pasal 77
Pengawasan terhadap Lembaga Sertifikasi Keandalan
dilaksanakan oleh Menteri.
Pasal 78
(1) Untuk memperoleh pengakuan atas Lembaga
Sertifikasi Keandalan dikenakan biaya administrasi.
(2) Setiap pendapatan atas biaya administrasi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan
penerimaan negara bukan pajak.
Pasal 79
(1) Pengelolaan Nama Domain diselenggarakan oleh
pengelola Nama Domain.
(2) Nama Domain terdiri atas:
Nama Domain tingkat tinggi generik;
Nama Domain tingkat tinggi Indonesia;
Nama Domain Indonesia tingkat kedua; dan
Nama Domain Indonesia tingkat turunan.
(3) Pengelola Nama Domain sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) terdiri atas:
Registri Nama Domain; dan
Registrar Nama Domain.
Pasal 80
(1) Pengelola Nama Domain sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 79 ayat (3) dapat diselenggarakan oleh
Pemerintah dan/atau masyarakat.
(2) Masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
harus berbadan hukum Indonesia.
2019, No.185 -51-
(3) Pengelola Nama Domain ditetapkan oleh Menteri.
Pasal 81
(1) Registri Nama Domain sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 79 ayat (3) huruf a melaksanakan pengelolaan
Nama Domain tingkat tinggi generik dan Nama
Domain tingkat tinggi Indonesia.
(2) Registri Nama Domain dapat memberikan
kewenangan pendaftaran Nama Domain tingkat tinggi generik dan Nama Domain tingkat tinggi
Indonesia kepada Registrar Nama Domain.
(3) Registri Nama Domain berfungsi:
- memberikan masukan terhadap rencana
pengaturan Nama Domain kepada Menteri;
melakukan pengawasan terhadap Registrar Nama Domain; dan
menyelesaikan perselisihan Nama Domain.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai penyelesaian
perselisihan Nama Domain sebagaimana dimaksud
pada ayat (3) huruf c diatur dengan Peraturan
Menteri.
Pasal 82
(1) Registrar Nama Domain sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 79 ayat (3) huruf b melaksanakan
pengelolaan Nama Domain Indonesia tingkat kedua dan Nama Domain Indonesia tingkat turunan.
(2) Registrar Nama Domain terdiri atas:
Registrar Nama Domain Instansi; dan
Registrar Nama Domain selain Instansi.
(3) Registrar Nama Domain Instansi melaksanakan
pendaftaran Nama Domain Indonesia tingkat kedua dan Nama Domain Indonesia tingkat turunan untuk
kebutuhan Instansi.
(4) Registrar Nama Domain Instansi sebagaimana
dimaksud pada ayat (3) dilaksanakan oleh Menteri.
2019, No. 185 -52-
(5) Untuk kepentingan militer, Registrar Nama Domain
Instansi sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
dilaksanakan oleh menteri yang menyelenggarakan
urusan pemerintahan di bidang pertahanan dan keamanan.
(6) Registrar Nama Domain selain Instansi melakukan
pendaftaran Nama Domain Indonesia tingkat kedua
untuk pengguna komersial dan nonkomersial.
(7) Registrar Nama Domain selain Instansi wajib
terdaftar pada Menteri.
Pasal 83
(1) Pendaftaran Nama Domain dilaksanakan
berdasarkan prinsip pendaftar pertama.
(2) Nama Domain yang didaftarkan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi
persyaratan:
- sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan;
kepatutan yang berlaku dalam masyarakat; dan
iktikad baik.
(3) Registri Nama Domain dan Registrar Nama Domain
berwenang:
- menolak pendaftaran Nama Domain apabila
Nama Domain tidak memenuhi persyaratan
sebagaimana dimaksud pada ayat (2);
- menonaktifkan sementara penggunaan Nama
Domain; atau
- menghapus Nama Domain apabila pengguna
Nama Domain melanggar ketentuan dalam
Peraturan Pemerintah ini.
Pasal 84
(1) Registri Nama Domain dan Registrar Nama Domain
wajib menyelenggarakan pengelolaan Nama Domain
secara akuntabel.
2019, No.185 -53-
(2) Dalam hal Registri Nama Domain atau Registrar
Nama Domain bermaksud mengakhiri
pengelolaannya, Registri Nama Domain atau
Registrar Nama Domain wajib menyerahkan seluruh pengelolaan Nama Domain kepada Menteri paling
lambat 3 (tiga) bulan sebelumnya.
Pasal 85
(1) Nama Domain yang mengindikasikan Instansi hanya
dapat didaftarkan dan/atau digunakan oleh Instansi
yang bersangkutan.
(2) Instansi harus menggunakan Nama Domain sesuai
dengan nama Instansi yang bersangkutan.
Pasal 86
(1) Registri Nama Domain dan Registrar Nama Domain
menerima pendaftaran Nama Domain atas
permohonan Pengguna Nama Domain.
(2) Pengguna Nama Domain sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) bertanggung jawab atas Nama Domain
yang didaftarkannya.
Pasal 87
(1) Registri Nama Domain dan/atau Registrar Nama
Domain berhak memperoleh pendapatan dengan
memungut biaya pendaftaran dan/atau penggunaan Nama Domain dari Pengguna Nama Domain.
(2) Dalam hal Registri Nama Domain dan Registrar
Nama Domain sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
merupakan pengelola Nama Domain selain Instansi,
Registri Nama Domain dan Registrar Nama Domain
wajib menyetorkan sebagian pendapatan dari pendaftaran dan penggunaan Nama Domain yang
dihitung dari persentase pendapatan kepada negara.
(3) Pendapatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dan pendapatan negara sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) merupakan penerimaan negara bukan pajak.
2019, No. 185 -54-
Pasal 88
Pengawasan terhadap pengelolaan Nama Domain
dilaksanakan oleh Menteri.
Pasal 89
Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan dan tata cara
penetapan pengelola Nama Domain diatur dalam
Peraturan Menteri.
Pasal 90
Peran Pemerintah dalam penyelenggaraan sistem dan
Transaksi Elektronik meliputi:
- memfasilitasi pemanfaatan Teknologi Informasi dan
Transaksi Elektronik sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan;
- melindungi kepentingan umum dari segala jenis
gangguan sebagai akibat penyalahgunaan Informasi
Elektronik dan Transaksi Elektronik yang mengganggu ketertiban umum, sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan;
- melakukan pencegahan penyebarluasan dan
penggunaan Informasi Elektronik dan/atau
Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang dilarang sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan; dan
- menetapkan Instansi atau institusi yang memiliki
Data Elektronik strategis yang wajib dilindungi.
Pasal 91
Peran Pemerintah untuk memfasilitasi pemanfaatan
Teknologi Informasi dan Transaksi Elektronik
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 90 huruf a meliputi:
penetapan kebijakan;
pelaksanaan kebijakan;
2019, No.185 -55-
fasilitasi infrastruktur;
promosi dan edukasi; dan
pengawasan.
Pasal 92
Fasilitasi infrastruktur sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 91 huruf c meliputi:
- pengembangan dan penyelenggaraan gerbang Sistem
Elektronik nasional;
- pengembangan dan penyelenggaraan fasilitas
forensik Teknologi Informasi;
penyelenggaraan sertifikasi elektronik induk;
penyelenggaraan pusat data dan pusat pemulihan
bencana nasional secara terpadu dalam rangka
penyelenggaraan urusan pemerintahan yang berbasis elektronik;
- sarana pengamanan Sistem Elektronik untuk
pencegahan serangan terhadap infrastruktur
informasi vital pada sektor strategis;
- sarana penitipan atau penyimpanan kode sumber
dan dokumentasi atas perangkat lunak untuk Instansi; dan
- sarana lain yang diperlukan untuk memfasilitasi
pemanfaatan Teknologi Informasi dan Transaksi
Elektronik berdasarkan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Pasal 93
(1) Promosi dan edukasi sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 91 huruf d dilaksanakan oleh Instansi sesuai
dengan kewenangannya berdasarkan ketentuan
peraturan perundang-undangan untuk mewujudkan pemanfaatan Teknologi Informasi dan Transaksi
Elektronik yang aman, beretika, cerdas, kreatif,
produktif, dan inovatif.
(2) Pelaksanaan promosi dan edukasi dapat melibatkan
pemangku kepentingan termasuk masyarakat
2019, No. 185 -56-
dan/atau pegiat Teknologi Informasi dan Transaksi
Elektronik.
Pasal 94
(1) Peran Pemerintah untuk melindungi kepentingan
umum dari segala jenis gangguan sebagai akibat
penyalahgunaan Informasi Elektronik dan Transaksi
Elektronik yang mengganggu ketertiban umum
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 90 huruf b meliputi:
- penetapan strategi keamanan siber nasional yang
merupakan bagian dari strategi keamanan
nasional, termasuk pembangunan budaya
keamanan siber;
- pengaturan standar keamanan informasi;
- pengaturan penyelenggaraan pelindungan
infrastruktur informasi vital;
- pengaturan manajemen risiko penyelenggaraan
Sistem Elektronik;
- pengaturan sumber daya manusia dalam
penyelenggaraan pelindungan Sistem Elektronik;
- pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan
pelindungan infrastruktur informasi vital;
- pembinaan dan pengawasan manajemen risiko
penyelenggaraan Sistem Elektronik;
- pembinaan dan pengawasan sumber daya manusia dalam penyelenggaraan pelindungan
Sistem Elektronik;
- penyelenggaraan pengamanan Informasi
Elektronik;
- penyelenggaraan penanganan insiden keamanan
informasi;
- penyelenggaraan penanganan tanggap darurat;
dan
- fungsi lain yang diperlukan untuk melindungi
kepentingan umum dari segala jenis gangguan.
2019, No.185 -57-
(2) Kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dapat dilaksanakan melalui kerja sama dengan pihak
lain.
Pasal 95
Peran Pemerintah untuk melakukan pencegahan
penyebarluasan dan penggunaan Informasi Elektronik
dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan
yang dilarang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 90 huruf c berupa:
pemutusan Akses; dan/atau
memerintahkan kepada Penyelenggara Sistem
Elektronik untuk melakukan pemutusan Akses
terhadap Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik tersebut.
Pasal 96
Pemutusan Akses dilakukan terhadap Informasi
Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 95 dengan klasifikasi:
- melanggar ketentuan peraturan perundang-
undangan;
- meresahkan masyarakat dan mengganggu ketertiban
umum; dan
- memberitahukan cara atau menyediakan Akses terhadap Informasi Elektronik dan/atau Dokumen
Elektronik yang memiliki muatan yang dilarang
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
Pasal 97
(1) Masyarakat dapat mengajukan permohonan
pemutusan Akses Informasi Elektronik dan/atau
Dokumen Elektronik sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 96 kepada Menteri.
2019, No. 185 -58-
(2) Kementerian atau Lembaga terkait berkoordinasi
dengan Menteri untuk pemutusan Akses Informasi
Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 96.
(3) Aparat penegak hukum dapat meminta pemutusan
Akses Informasi Elektronik dan/atau Dokumen
Elektronik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 96
kepada Menteri.
(4) Lembaga peradilan dapat memerintahkan pemutusan
Akses Informasi Elektronik dan/atau Dokumen
Elektronik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 96
kepada Menteri.
(5) Ketentuan mengenai tata cara permohonan
pemutusan Akses sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) sampai dengan ayat (4) diatur dengan Peraturan
Menteri.
Pasal 98
(1) Penyelenggara Sistem Elektronik wajib melakukan
pemutusan Akses terhadap Informasi Elektronik
dan/atau Dokumen Elektronik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 96.
(2) Penyelenggara Sistem Elektronik sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) mencakup penyelenggara
jasa Akses internet, penyelenggara jaringan dan jasa
telekomunikasi, penyelenggara konten, dan penyelenggara tautan yang menyediakan jaringan
lalu lintas Informasi Elektronik dan/atau Dokumen
Elektronik.
(3) Penyelenggara Sistem Elektronik yang tidak
melakukan pemutusan Akses dapat dikenakan
pertanggungjawaban hukum berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan
kewajiban pemutusan Akses sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri.
2019, No.185 -59-
Pasal 99
(1) Pemerintah menetapkan Instansi atau institusi yang
memiliki Data Elektronik strategis yang wajib
dilindungi.
(2) Instansi atau institusi yang memiliki Data Elektronik
strategis yang wajib dilindungi sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), meliputi:
sektor administrasi pemerintahan;
sektor energi dan sumber daya mineral;
sektor transportasi;
sektor keuangan;
sektor kesehatan;
sektor teknologi informasi dan komunikasi;
sektor pangan;
sektor pertahanan; dan
sektor lain yang ditetapkan oleh Presiden.
(3) Instansi atau institusi yang memiliki Data Elektronik
strategis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus
membuat Dokumen Elektronik dan rekam cadang
elektroniknya serta menghubungkannya ke pusat
data tertentu untuk kepentingan pengamanan data.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai kewajiban membuat
Dokumen Elektronik dan rekam cadang
elektroniknya serta menghubungkannya ke pusat
data tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
diatur dalam peraturan kepala lembaga yang membidangi urusan keamanan siber.
Pasal 100
(1) Pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 4, Pasal 5 ayat
(1) dan ayat (2), Pasal 6 ayat (1), Pasal 9 ayat (1) dan
ayat (4), Pasal 14 ayat (1) dan ayat (5), Pasal 15 ayat
(1), Pasal 17 ayat (4), Pasal 18 ayat (1), Pasal 21 ayat
(2) dan ayat (3), Pasal 22 ayat (1), Pasal 23, Pasal 24
2019, No. 185 -60-
ayat (1), ayat (2), dan ayat (3), Pasal 25, Pasal 26 ayat
(1), Pasal 28 ayat (1), Pasal 29, Pasal 30 ayat (1),
Pasal 31, Pasal 32 ayat (1) dan ayat (2), Pasal 33,
Pasal 34 ayat (1), Pasal 37 ayat (1) dan ayat (2), Pasal
38 ayat (3), Pasal 39 ayat (2), Pasal 40 ayat (1) dan
ayat (2), Pasal 42 ayat (1) dan ayat (3), Pasal 51 ayat
(1), Pasal 53 ayat (3), Pasal 55 ayat (2), Pasal 63 ayat
(3), Pasal 64 ayat (1), Pasal 69 ayat (1), Pasal 82 ayat
(7), Pasal 84 ayat (1) dan ayat (2), Pasal 87 ayat (2),
dan Pasal 98 ayat (1), dikenai sanksi administratif.
(2) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dapat berupa:
teguran tertulis;
denda administratif;
penghentian sementara;
pemutusan Akses; dan/atau
dikeluarkan dari daftar.
(3) Sanksi administratif diberikan oleh Menteri sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(4) Pengenaan sanksi administratif sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) huruf c dan huruf d dilakukan melalui koordinasi dengan pimpinan
Kementerian atau Lembaga terkait.
(5) Pengenaan sanksi administratif sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) tidak
menghapuskan tanggung jawab pidana dan perdata.
Pasal 101
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengenaan
sanksi administratif dan pengajuan keberatan atas
pengenaan sanksi administratif diatur dalam Peraturan
Menteri.
2019, No.185 -61-
Pasal 102
(1) Pada saat Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku,
Penyelenggara Sistem Elektronik yang telah
beroperasi sebelum diundangkannya Peraturan
Pemerintah ini, wajib menyesuaikan diri dengan
ketentuan Pasal 6 ayat (1) dalam jangka waktu 1 (satu) tahun.
(2) Pada saat Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku,
Penyelenggara Sistem Elektronik Lingkup Publik yang
telah beroperasi sebelum diundangkannya Peraturan
Pemerintah ini, wajib menyesuaikan diri dengan
ketentuan Pasal 20 ayat (2) dalam jangka waktu 2 (dua) tahun.
Pasal 103
(1) Pada saat Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku,
peraturan pelaksanaan dari Peraturan Pemerintah
Nomor 82 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan
Sistem dan Transaksi Elektronik dinyatakan tetap
berlaku sepanjang tidak bertentangan atau belum diganti dengan yang baru berdasarkan Peraturan
Pemerintah ini.
(2) Pada saat Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku,
Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2012 tentang
Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 189, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5348) dicabut dan dinyatakan tidak
berlaku.
2019, No. 185 -62-
Pasal 104
Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal
diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan
pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan
penempatannya dalam Lembaran Negara Republik
Indonesia.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 4 Oktober 2019
INDONESIA,
ttd
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 10 Oktober 2019
,
ttd
Konsideran (Menimbang & Mengingat)
a. bahwa dengan adanya perkembangan teknologi
informasi yang sangat pesat dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi digital dan penegakan
kedaulatan negara atas informasi elektronik di
wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, perlu
pengaturan secara menyeluruh pemanfaatan teknologi
informasi dan transaksi elektronik;
- bahwa Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi
Elektronik sudah tidak sesuai lagi dengan
perkembangan kebutuhan hukum masyarakat
sehingga perlu diganti;
- bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu
- Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
2019, No. 185 -2-
- Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang
Informasi dan Transaksi Elektronik (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 58, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4843) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang
Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang
Informasi dan Transaksi Elektronik (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 251, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 5952);
