PEMBERDAYAAN PETERNAK
Pasal 1
Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan:
Pemberdayaan Peternak adalah segala upaya yang dilakukan oleh Pemerintah, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, dan pemangku kepentingan di bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan untuk meningkatkan kemandirian, memberikan kemudahan dan kemajuan usaha, serta meningkatkan daya saing dan kesejahteraan Peternak.
Peternak . . .
Peternak adalah perorangan warga negara lndonesia atau korporasi yang melakukan Usaha Peternakan.
Usaha Peternakan adalah kegiatan usaha budidaya Ternak untuk menghasilkan bahan pangan, bahan baku industri, dan kepentingan masyarakat lainnya di suatu tempat tertentu secara terus menerus.
Perusahaan Peternakan adalah orang perorangan atau korporasi, baik yang berbentuk badan hukum maupun yang bukan badan hukum, yang didirikan dan berkedudukan dalam wilayah Republik Indonesia yang mengelola Usaha Peternakan dengan kriteria dan skala tertentu.
Kemitraan Usaha adalah kerjasama yang saling menguntungkan dan saling memperkuat antara usaha kecil dan usaha menengah/besar di bidang Peternakan atau di bidang Kesehatan Hewan.
Ternak adalah Hewan peliharaan yang produknya diperuntukkan sebagai penghasil pangan, bahan baku industri, jasa, dan/atau hasil ikutannya yang terkait dengan pertanian.
Peternakan adalah segala urusan yang berkaitan dengan sumber daya fisik, benih, bibit dan/atau bakalan, pakan, alat dan mesin Peternakan, budidaya Ternak, panen, pascapanen, pengolahan, pemasaran, dan pengusahaannya.
Kesehatan Hewan adalah segala urusan yang berkaitan dengan perawatan Hewan, pengobatan Hewan, pelayanan Kesehatan Hewan, pengendalian dan penanggulangan penyakit Hewan, penolakan penyakit Hewan, medik reproduksi, medik konservasi, obat Hewan dan peralatan Kesehatan Hewan, serta keamanan pakan.
Hewan adalah binatang atau satwa yang seluruh atau sebagian dari siklus hidupnya berada di darat, air, dan/atau udara baik yang dipelihara maupun yang di habitatnya.
Produk . . .
Produk Hewan adalah semua bahan yang berasal dari Hewan yang masih segar dan/atau telah diolah atau diproses untuk keperluan konsumsi, farmakoseutika, pertanian, dan/atau kegunaan lain bagi pemenuhan kebutuhan dan kemaslahatan manusia.
Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan.
Pasal 2
(1) Peraturan Pemerintah ini mengatur pemberian
kemudahan dalam rangka Pemberdayaan Peternak untuk Peternak yang jenis dan jumlah ternaknya di bawah skala usaha tertentu yang tidak memerlukan izin.
(2) Pemberian kemudahan kepada Peternak yang jenis dan
jumlah ternaknya di atas skala usaha tertentu yang wajib memiliki izin diatur dalam Peraturan Pemerintah tersendiri.
Pasal 3
Pemberian kemudahan kepada Peternak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) meliputi:
- pengaksesan sumber pembiayaan, permodalan, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta informasi;
- pelayanan Peternakan, pelayanan Kesehatan Hewan, dan bantuan teknik;
- penghindaran pengenaan biaya yang menimbulkan ekonomi biaya tinggi;
- pembinaan kemitraan dalam meningkatkan sinergi antarpelaku usaha;
- penciptaan iklim usaha yang kondusif dan/atau me peningkatan kewirausahaan;
- pengutamaan pemanfaatan sumber daya Peternakan dan Kesehatan Hewan dalam negeri;
- pemfasilitasan terbentuknya kawasan pengembangan Usaha Peternakan;
- pemfasilitasan pelaksanaan promosi dan pemasaran; dan/atau
- perlindungan harga dan Produk Hewan dari luar negeri.
BAB II . . .
Bagian Kesatu Akses Sumber Pembiayaan dan Permodalan
Pasal 4
(1) Sumber pembiayaan dan permodalan untuk
Pemberdayaan Peternak dapat berasal dari Pemerintah dan pemerintah daerah.
(2) Selain berasal dari Pemerintah dan pemerintah daerah,
sumber pembiayaan dan permodalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berasal dari masyarakat, lembaga perbankan, dan lembaga keuangan bukan bank, serta badan usaha lainnya.
Pasal 5
(1) Pembiayaan dan permodalan dari Pemerintah dan
pemerintah daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) dapat berupa bantuan pembiayaan atau permodalan untuk pengembangan usaha.
(2) Bantuan pembiayaan atau permodalan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) diberikan kepada Peternak melalui kelompok Peternak atau gabungan kelompok Peternak.
(3) Bantuan pembiayaan atau permodalan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja negara dan/atau anggaran pendapatan dan belanja daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai syarat dan tata cara
pemberian kemudahan pembiayaan atau permodalan diatur dengan Peraturan Menteri.
Bagian Kedua . . .
Bagian Kedua Akses Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Pasal 6
(1) Ilmu pengetahuan dan teknologi dalam rangka
Pemberdayaan Peternak paling sedikit meliputi:
- benih/bibit;
- pakan;
- alat dan mesin;
- budidaya;
- panen dan pascapanen;
- pengolahan dan pemasaran hasil;
- Kesehatan Hewan; dan/atau
- kesehatan masyarakat veteriner.
(2) Ilmu pengetahuan dan teknologi sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) diutamakan yang berasal dari hasil penelitian dan pengembangan dalam negeri.
(3) Hasil penelitian dan pengembangan sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) dapat berupa invensi atau inovasi.
(4) Menteri, gubernur, dan bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya mendorong dan mendukung kegiatan penelitian dan pengembangan bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan.
Pasal 7
(1) Menteri, gubernur, dan bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya harus memberikan kemudahan akses ilmu pengetahuan dan teknologi melalui:
- penyediaan teknologi tepat guna dalam berbagai metode, media, dan saluran informasi;
- pendampingan dalam proses alih teknologi;
- penyuluhan; dan/atau
- pendidikan dan pelatihan.
(2) Penyuluhan . . .
(2) Penyuluhan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c
dilakukan oleh penyuluh sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang sistem penyuluhan pertanian, kehutanan, dan perikanan.
Pasal 8
Pemberian kemudahan akses terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) huruf a dan huruf b berupa invensi atau inovasi yang dilindungi dengan hak kekayaan intelektual harus dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Bagian Ketiga Akses Informasi
Pasal 9
(1) Menteri, gubernur, dan bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya harus menyediakan informasi pengembangan Usaha Peternakan dalam rangka Pemberdayaan Peternak.
(2) Informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling
sedikit meliputi:
- harga komoditas hasil Peternakan;
- prasarana dan sarana Peternakan;
- data kebutuhan pangan nasional asal Hewan;
- peluang dan tantangan pasar;
- perkiraan populasi dan produksi;
- penyediaan pembiayaan dan peluang investasi;
- pendidikan, pelatihan, dan penyuluhan;
- pemberian subsidi;
- teknologi Peternakan;
- peta penyebaran penyakit Hewan;
- rencana tata ruang wilayah;
- kelembagaan Peternak dan kelembagaan ekonomi Peternak; dan
- program pembangunan Peternakan.
(3) Informasi . . .
(3) Informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat
diberikan dalam bentuk media elektronik, media cetak, dan media lain yang mudah dan cepat diakses oleh Peternak.
Bagian Kesatu Pelayanan Peternakan dan Pelayanan Kesehatan Hewan
Pasal 10
Pelayanan Peternakan terdiri atas:
- penyediaan dan pengelolaan lahan penggembalaan umum;
- penyediaan benih/bibit unggul;
- penyelamatan Ternak ruminansia betina produktif; dan
- penyediaan pos inseminasi buatan.
Pasal 11
Pelayanan Kesehatan Hewan terdiri atas:
- pemeriksaan kebuntingan;
- pengamatan dan pengidentifikasian penyakit;
- pengamanan penyakit Hewan;
- pengobatan Hewan sakit; dan
- pemberantasan penyakit Hewan.
Pasal 12
Kemudahan pelayanan Peternakan dan pelayanan Kesehatan Hewan diberikan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya.
Pasal 13
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberian pelayanan Peternakan dan pelayanan Kesehatan Hewan diatur dengan Peraturan Menteri.
Bagian Kedua . . .
Bagian Kedua Bantuan Teknik
Pasal 14
Dalam rangka bantuan teknik, Menteri, gubernur, dan bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya memberikan:
- supervisi dan pendampingan dalam menggunakan alat dan mesin Peternakan dan Kesehatan Hewan;
- supervisi dalam penerapan sistem budidaya yang lebih efisien dan ramah lingkungan; dan
- sarana produksi Peternakan dan Kesehatan Hewan dalam meningkatkan kemandirian dan daya saing usaha.
Pasal 15
Ketentuan lebih lanjut mengenai pemberian kemudahan bantuan teknik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 diatur dengan Peraturan Menteri.
Pasal 16
Penghindaran pengenaan ekonomi biaya tinggi dilakukan melalui efisiensi dalam kegiatan penyediaan sarana produksi, budidaya, pascapanen, dan pemasaran atau distribusi Hewan dan Produk Hewan.
Pasal 17
(1) Dalam melakukan penghindaran pengenaan ekonomi
biaya tinggi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16, Menteri, menteri/pimpinan lembaga pemerintah nonkementerian terkait, gubernur, dan bupati/walikota wajib memberikan kemudahan yang terkait dengan:
- kebijakan;
- perdagangan; dan
- prasarana dan sarana.
(2) Dalam . . .
(2) Dalam memberikan kemudahan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1), Menteri, menteri/pimpinan lembaga pemerintah nonkementerian terkait, gubernur, dan bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya menyediakan fasilitas untuk:
- budidaya Ternak yang baik;
- kegiatan panen dan pascapanen hasil Ternak melalui penyediaan rumah potong Hewan, industri pengolahan susu, daging, dan telur;
- kegiatan distribusi dan pemasaran hasil Ternak melalui penyediaan alat angkut, pasar Hewan, tempat pengumpul Ternak, dan instalasi pendingin; dan
- penyimpanan Produk Hewan dan pakan melalui penyediaan gudang dan/atau gudang pendingin.
Pasal 18
(1) Ketentuan lebih lanjut mengenai syarat dan tata cara
penyediaan fasilitas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2) yang berkaitan dengan budidaya dan pascapanen Peternakan diatur dengan Peraturan Menteri.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai syarat dan tata cara
penyediaan fasilitas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2) selain yang berkaitan dengan budidaya dan pascapanen Peternakan dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 19
(1) Untuk meningkatkan pendapatan Peternak, sinergi, dan
daya saing usaha, diperlukan Kemitraan Usaha yang dapat dilakukan:
- antarpeternak;
- antara Peternak dengan Perusahaan Peternakan; dan
- antara Peternak dengan perusahaan di bidang lain.
(2) Kemitraan . . .
(2) Kemitraan usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dapat dilakukan paling sedikit dalam bentuk:
- bagi hasil;
- sewa; atau
- inti plasma.
Pasal 20
(1) Kemitraan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 harus
dibuat dalam bentuk perjanjian tertulis.
(2) Perjanjian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling
sedikit memuat:
- harga dasar sarana produksi dan/atau harga jual Ternak serta Produk Hewan atau pembagian dalam bentuk natura;
- jaminan pemasaran;
- pembagian keuntungan dan risiko usaha;
- penetapan standar mutu sarana produksi, Ternak, dan Produk Hewan; dan
- mekanisme pembayaran.
(3) Mekanisme pembayaran sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) huruf e dilakukan untuk memberikan jaminan hak pembayaran.
Pasal 21
(1) Dalam melakukan kemitraan, Perusahaan Peternakan
harus melaksanakan:
- pendidikan;
- pelatihan;
- penyuluhan; dan/atau
- proses alih teknologi.
(2) Dalam melakukan kemitraan, Peternak harus mengikuti
pendidikan dan pelatihan, pemagangan, dan/atau penyuluhan yang dilaksanakan oleh Perusahaan Peternakan, serta menerapkan teknologi yang diberikan Perusahaan Peternakan.
Pasal 22 . . .
Pasal 22
(1) Gubernur dan bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya melakukan pembinaan dalam pelaksanaan kemitraan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 19, Pasal 20, dan Pasal 21.
(2) Pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan oleh gubernur dan bupati/walikota sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Bagian Kesatu Penciptaan Iklim Usaha Yang Kondusif
Pasal 23
Iklim usaha yang kondusif bagi Peternak meliputi:
- kepastian berusaha;
- kemudahan dalam pelayanan pendaftaran Usaha Peternakan;
- tidak adanya praktik persaingan usaha yang tidak sehat; dan
- terpeliharanya status Kesehatan Hewan yang baik.
Pasal 24
Untuk menciptakan iklim usaha yang kondusif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23:
Menteri menetapkan tempat pemasukan sarana produksi, Ternak, dan Produk Hewan dari luar negeri untuk melindungi sumber daya dan budidaya Ternak dari berbagai penyakit Hewan akibat lalu lintas Hewan dan Produk Hewan sesuai dengan kemampuan tindakan karantina, perlindungan sumber daya, dan budidaya; dan
Menteri . . .
- Menteri, gubernur, dan bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya menetapkan program Pemberdayaan Peternak, kompensasi bagi Hewan sehat yang berdasarkan pedoman pemberantasan wabah penyakit Hewan harus didepopulasi untuk memutus rantai penyebaran penyakit Hewan, dan memfasilitasi Peternak untuk melakukan diversifikasi usaha.
Bagian Kedua Peningkatan Kewirausahaan
Pasal 25
Menteri, gubernur, dan bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya meningkatkan kewirausahaan Peternak melalui:
- pendidikan dan pelatihan;
- penyuluhan; dan
- fasilitasi pengembangan kelembagaan Peternak.
Pasal 26
(1) Pendidikan dan pelatihan serta penyuluhan kepada
Peternak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 huruf a dan huruf b dilakukan melalui:
- pengembangan program pelatihan dan pemagangan; dan
- penetapan program, programa, dan rencana kerja penyuluhan.
(2) Pengembangan program pelatihan dan pemagangan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dapat dilakukan melalui pelatihan kewirausahaan di bidang agribisnis untuk Peternak dan calon Peternak.
Pasal 27
(1) Kelembagaan Peternak sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 25 huruf c terdiri atas:
- kelembagaan usaha; dan
- kelembagaan nirlaba.
(2) Kelembagaan . . .
(2) Kelembagaan usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf a terdiri atas:
- kelompok Peternak;
- gabungan kelompok Peternak; dan
- badan usaha milik Peternak.
(3) Kelembagaan nirlaba sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) huruf b terdiri atas asosiasi.
Pasal 28
Fasilitasi pengembangan kelembagaan Peternak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 huruf c dapat berbentuk bimbingan penyusunan:
- anggaran dasar dan anggaran rumah tangga kelompok Peternak, gabungan kelompok Peternak, dan badan usaha milik Peternak; dan
- rencana kegiatan atau rencana kegiatan kelompok.
Pasal 29
(1) Kelompok Peternak sebagaimana dimaksud dalam Pasal
27 ayat (2) huruf a dibentuk atas dasar jenis komoditas, kesamaan kepentingan, dan kondisi lingkungan.
(2) Kelompok Peternak sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dibentuk oleh, dari, dan untuk Peternak.
Pasal 30
Kelompok Peternak menyelenggarakan fungsi:
- peningkatan kemampuan anggota dalam mengembangkan Usaha Peternakan yang mandiri dan berkelanjutan;
- penampungan dan penyaluran aspirasi anggota; dan
- penyelesaian permasalahan yang timbul di antara anggota.
Pasal 31
Gabungan kelompok Peternak sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 27 ayat (2) huruf b merupakan gabungan dari dua atau
lebih kelompok Peternak dalam satu atau beberapa desa, dalam satu atau beberapa kecamatan, atau dalam satu kabupaten yang menjadi anggota gabungan kelompok Peternak.
Pasal 32 . . .
Pasal 32
Gabungan kelompok Peternak melakukan:
- kegiatan untuk kepentingan anggota dalam mengembangkan Kemitraan Usaha;
- penampungan dan penyaluran aspirasi anggota; dan
- penyelesaian permasalahan yang timbul di antara anggota.
Pasal 33
(1) Badan usaha milik Peternak sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 27 ayat (2) huruf c dibentuk oleh, dari, dan untuk Peternak.
(2) Badan usaha milik Peternak sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) harus melakukan:
- penyusunan rencana usaha yang layak secara ekonomi dan perbankan;
- diversifikasi usaha; dan
- Kemitraan Usaha.
Pasal 34
(1) Asosiasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (3)
dibentuk oleh, dari, dan untuk Peternak.
(2) Asosiasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berfungsi
untuk:
- memperjuangkan kepentingan anggota;
- memberikan masukan kepada Pemerintah dan pemerintah daerah dalam perumusan kebijakan pemberdayaan Usaha Peternakan;
- mempromosikan usaha anggota; dan
- mengadvokasi pelaksanaan kewirausahaan.
Pasal 35
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara peningkatan kewirausahaan diatur dengan Peraturan Menteri.
BAB VII . . .
Pasal 36
Sumber daya dalam Usaha Peternakan meliputi:
- sumber daya alam; dan
- sumber daya manusia.
Pasal 37
(1) Sumber daya alam sebagaimana dimaksud dalam Pasal
36 huruf a meliputi:
- lahan;
- sumber daya genetik Hewan;
- benih dan bibit Ternak;
- pakan hijauan; dan
- sumber daya air.
(2) Dalam memanfaatkan benih, bibit, dan pakan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dan huruf d diutamakan menggunakan benih, bibit, dan pakan yang dihasilkan dari:
- teknologi yang ditemukan oleh bangsa Indonesia; dan
- usaha yang dilakukan dengan modal dalam negeri.
Pasal 38
Sumber daya manusia dalam bidang Peternakan diutamakan bagi warga negara Indonesia yang memiliki kompetensi di bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan.
Pasal 39
(1) Dalam Pemberdayaan Peternak diperlukan adanya
kawasan Usaha Peternakan untuk menjamin kepastian usaha budidaya Ternak.
(2) Kawasan . . .
(2) Kawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus
memenuhi persyaratan paling sedikit:
- bebas dari patogen yang berbahaya bagi Ternak dan manusia yang mengkonsumsi Produk Hewan;
- tersedia sumber daya air dan pakan yang memadai;
- tersedia prasarana berupa jalan, jembatan, pasar Hewan, dan/atau embung; dan
- sesuai dengan peraturan perundang-undangan di bidang tata ruang dan di bidang perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan.
(3) Kawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
merupakan bagian dari kawasan agropolitan.
Pasal 40
Prasarana berupa jalan, jembatan, pasar Hewan, dan/atau embung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39 ayat (2) huruf c wajib disediakan oleh pemerintah kabupaten/kota.
Pasal 41
Kawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39 dapat digunakan untuk:
- lahan penggembalaan umum;
- kegiatan usaha budidaya Ternak;
- penghasil tumbuhan pakan;
- tempat perkawinan alami, seleksi, kastrasi, dan pelayanan inseminasi buatan;
- tempat pelayanan Kesehatan Hewan; dan/atau
- tempat atau objek penelitian dan pengembangan teknologi Peternakan dan Kesehatan Hewan.
Pasal 42
(1) Pemerintah kabupaten/kota menetapkan suatu lokasi
sebagai kawasan Usaha Peternakan.
(2) Dalam hal belum terdapat kawasan Usaha Peternakan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), untuk pengembangan usaha budidaya Ternak ruminansia skala kecil, pemerintah kabupaten/kota wajib menetapkan lahan penggembalaan umum.
(3) Pengelolaan . . .
(3) Pengelolaan lahan penggembalaan umum sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) dilakukan sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Menteri.
Pasal 43
Menteri, gubernur, dan bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya memfasilitasi promosi dan pemasaran Ternak dan Produk Hewan melalui:
- pembangunan dan pengelolaan pasar Hewan dan pasar Produk Hewan yang memenuhi higiene dan sanitasi serta ketertiban umum;
- pengembangan pasar bagi badan usaha milik Peternak;
- pengembangan sistem pemasaran dan promosi hasil Peternakan;
- penyediaan sistem informasi pasar hewan; dan
- pemberian kewajiban kepada pasar modern untuk mengutamakan penjualan Produk Hewan dalam negeri.
Bagian Kesatu Perlindungan Harga Ternak
Pasal 44
(1) Perlindungan harga Ternak dilakukan melalui:
- penetapan jumlah Ternak, jenis Ternak, dan klasifikasi Ternak yang dapat dimasukkan dari luar negeri;
- pengklasifikasian Ternak bibit dan Ternak bukan bibit;
- penetapan harga dasar Ternak bibit dan harga dasar Ternak bukan bibit; dan
- pemberian kemudahan kepada Peternak untuk menjual Ternak bibit ke seluruh wilayah negara Republik Indonesia.
(2) Harga . . .
(2) Harga dasar Ternak bibit ditetapkan sesuai dengan nilai
mutu genetik dan harga dasar Ternak bukan bibit ditetapkan berdasarkan berat badan Ternak.
(3) Perlindungan harga Ternak sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dilakukan oleh Menteri, gubernur, dan bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
(4) Penetapan jumlah jenis dan klasifikasi Ternak yang dapat
dimasukkan dari luar negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dilakukan oleh Menteri melalui koordinasi dengan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang perdagangan.
(5) Pengklasifikasian Ternak bibit dan Ternak bukan bibit
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dilakukan oleh Menteri.
(6) Pemberian kemudahan kepada Peternak untuk menjual
Ternak bibit ke seluruh wilayah negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d dilakukan oleh gubernur.
Bagian Kedua Perlindungan Harga Produk Hewan
Pasal 45
(1) Perlindungan harga Produk Hewan dilakukan melalui:
- penetapan jumlah dan jenis Produk Hewan yang dapat dimasukkan dari luar negeri serta unit usaha di negara asal;
- pengaturan mengenai penyerapan Produk Hewan dalam negeri bagi pemasok Produk Hewan dari luar negeri; dan
- pemberian jaminan halal bagi Produk Hewan yang dipersyaratkan, aman, sehat, dan utuh.
(2) Penetapan jumlah dan jenis Produk Hewan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf a harus memperhatikan ketersediaan Produk Hewan yang dihasilkan di dalam negeri dan kebutuhan Produk Hewan dalam negeri.
(3) Penetapan . . .
(3) Penetapan jumlah dan jenis Produk Hewan dan
pengaturan mengenai penyerapan Produk Hewan di dalam negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dilakukan oleh Menteri melalui koordinasi dengan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang perdagangan.
(4) Pengawasan pemberian jaminan halal bagi Produk Hewan
yang dipersyaratkan, aman, sehat, dan utuh sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dilakukan oleh Menteri.
Pasal 46
Menteri, gubernur, dan bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya melakukan perlindungan harga Produk Hewan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45.
Pasal 47
Pada saat Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku, ketentuan mengenai Usaha Peternakan yang tidak memerlukan izin dalam Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 1977 tentang Usaha Peternakan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1977 Nomor 21, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3102), dinyatakan tidak berlaku.
Pasal 48
Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar . . .
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.
Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 2 Januari 2013
INDONESIA,
ttd
Diundangkan di Jakarta pada tanggal 2 Januari 2013
,
ttd
Salinan sesuai dengan aslinya
Asisten Deputi Perundang-undangan Bidang Perekonomian,
Lydia Silvanna Djaman
Konsideran (Menimbang & Mengingat)
bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 76 ayat (5) Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan, perlu
Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 84, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5015);
