KOORDINASI INTELIJEN NEGARA
Pasal 1
Dalam Peraturan Presiden ini yang dimaksud dengan:
www.djpp.kemenkumham.go.id
2013, No.171 2
- Badan Intelijen Negara yang selanjutnya disebut BIN adalah koordinator penyelenggara Intelijen Negara.
- BIN di daerah yang selanjutnya disebut Binda adalah unit struktural BIN di wilayah provinsi, yang merupakan koordinator penyelenggara Intelijen Negara di daerah.
- Koordinasi Intelijen Negara adalah proses harmonisasi hubungan fungsional dan upaya sinkronisasi serta sinergi penyelenggaraan aktivitas Intelijen dalam rangka tercapainya tugas dan fungsi Intelijen Negara.
- Komite Intelijen Pusat yang selanjutnya disebut Kominpus adalah forum koordinasi para pimpinan penyelenggara Intelijen Negara di pusat.
- Komite Intelijen Daerah yang selanjutnya disebut Kominda adalah forum koordinasi para pimpinan penyelenggara Intelijen Negara di daerah.
Bagian Kesatu Kedudukan
Pasal 2
(1) BIN berkedudukan sebagai koordinator penyelenggara Intelijen
Negara.
(2) Penyelenggaraan Koordinasi Intelijen Negara di pusat dikoordinasikan
oleh Kepala BIN.
(3) Penyelenggaraan Koordinasi Intelijen Negara di daerah
dikoordinasikan oleh Kepala Binda.
(4) Dalam penyelenggaraan Koordinasi Intelijen Negara, Kepala BIN
membentuk Kominpus dan Kominda.
(5) Koordinasi Intelijen, baik oleh Kominpus maupun Kominda,
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan.
Bagian Kedua Tugas
Pasal 3
BIN sebagai koordinator penyelenggara Intelijen Negara bertugas:
- mengoordinasikan penyelenggaraan Intelijen Negara;
www.djpp.kemenkumham.go.id
3 2013, No.171
memadukan produk Intelijen;
melaporkan penyelenggaraan koordinasi Intelijen Negara kepada Presiden; dan
mengatur dan mengoordinasikan Intelijen pengamanan pimpinan nasional.
Bagian Ketiga Wewenang
Pasal 4
Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3, BIN berwenang:
mengoordinasikan kebijakan di bidang Intelijen;
mengoordinasikan pelaksanaan fungsi Intelijen kepada penyelenggara Intelijen Negara;
menata dan mengatur sistem Intelijen Negara;
menetapkan klasifikasi rahasia Intelijen; dan
membina penggunaan peralatan dan material Intelijen.
Pasal 5
(1) Untuk membantu pelaksanaan tugas BIN sebagai koordinator
penyelenggara Intelijen Negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2), Kepala BIN dibantu oleh Kepala Pelaksana Harian yang selanjutnya disebut Kalakhar.
(2) Kalakhar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) secara ex officio dijabat
oleh pejabat setingkat eselon Ia di lingkungan BIN yang ditetapkan oleh Kepala BIN.
(3) Kalakhar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertanggung jawab
kepada Kepala BIN.
Pasal 6
(1) Untuk kelancaran pelaksanaan tugas sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 5 ayat (1), Kalakhar dibantu oleh sekretariat.
(2) Sekretariat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh
unit kerja di lingkungan BIN yang ditetapkan oleh Kepala BIN.
www.djpp.kemenkumham.go.id
2013, No.171 4
Pasal 7
Keanggotaan Kominpus terdiri atas:
- Ketua : Kepala BIN.
- Anggota : 1. Kepala Intelijen Kepolisian Negara Republik Indonesia;
- Asisten Intelijen Panglima Tentara Nasional Indonesia;
- Kepala Intelijen Tentara Nasional Indonesia;
- Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen; dan
- Pimpinan Intelijen Kementerian/ Lembaga Pemerintah Non Kementerian.
Pasal 8
Keanggotaan Kominda terdiri atas:
- Ketua : Kepala Binda.
- Anggota : 1. Pimpinan Intelijen Tentara Nasional Indonesia di daerah;
- Pimpinan Intelijen Kepolisian Negara Republik Indonesia di daerah;
- Pimpinan Intelijen Kejaksaan di daerah;
- Kepala Kesatuan Bangsa dan Politik; dan
- Pimpinan Intelijen Kementerian/ Lembaga Pemerintah Non Kementerian di daerah.
Pasal 9
Koordinasi Intelijen Negara di pusat dan di daerah dilaksanakan melalui rapat koordinasi secara berkala paling sedikit 1 (satu) kali dalam 1 (satu) bulan atau sewaktu-waktu sesuai dengan kebutuhan.
Pasal 10
Rapat Kominpus dipimpin oleh Kepala BIN dan dihadiri oleh pimpinan penyelenggara Intelijen Negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7.
www.djpp.kemenkumham.go.id
5 2013, No.171
Pasal 11
Rapat Kominda dipimpin oleh Kepala Binda dan dihadiri oleh pimpinan penyelenggara Intelijen Negara di daerah sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 8.
Pasal 12
(1) Rapat koordinasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 membahas
dan menetapkan:
permasalahan strategis yang memengaruhi keamanan nasional dan/atau wilayah;
permasalahan strategis di tingkat regional dan global;
permasalahan aktual yang memengaruhi keamanan nasional dan/atau wilayah;
Intelijen untuk pimpinan nasional dan/atau pimpinan daerah;
pertukaran informasi dan/atau Intelijen;
harmonisasi, sinkronisasi, dan integrasi kegiatan dan produk Intelijen;
perumusan kegiatan dan/atau operasi Intelijen bersama; dan
rekomendasi tindakan yang dilakukan.
(2) Hasil rapat koordinasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menjadi
pedoman untuk dilaksanakan oleh masing-masing penyelenggara Intelijen Negara sesuai dengan tugas dan fungsinya dengan memperhatikan ketentuan perundang-undangan.
(3) Pelaksanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib dilaporkan
kepada Kepala BIN selaku koordinator pada kesempatan pertama.
Pasal 13
Kepala BIN melaporkan hasil pelaksanaan tugas dan fungsi Koordinasi Intelijen Negara kepada Presiden paling sedikit 1 (satu) kali dalam 6 (enam) bulan atau sewaktu-waktu apabila diperlukan.
Pasal 14
Ketentuan lebih lanjut mengenai mekanisme Koordinasi Intelijen Negara di pusat dan di daerah diatur dengan peraturan Kepala BIN.
www.djpp.kemenkumham.go.id
2013, No.171 6
PENDANAAN
Pasal 15
Pendanaan yang diperlukan dalam rangka penyelenggaraan Koordinasi Intelijen Negara dibebankan pada Anggaran BIN.
Pasal 16
Pada saat Peraturan Presiden ini mulai berlaku, semua peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan penyelenggaraan Koordinasi Intelijen Negara masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan Presiden ini.
Pasal 17
Peraturan Presiden ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Presiden ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.
Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 4 November 2013
INDONESIA,
Diundangkan di Jakarta pada tanggal 4 November 2013
,
www.djpp.kemenkumham.go.id
Konsideran (Menimbang & Mengingat)
bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 38 ayat (3) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2011 tentang Intelijen Negara, perlu
- Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
- Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2011 tentang Intelijen Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 105, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5249);
