PENELITIAN ULANG DI BIDANG KEPABEANAN
Pasal 1
Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:
- Penelitian Ulang adalah kegiatan penelitian dokumen dalam rangka penetapan kembali oleh Direktur Jenderal Bea dan Cukai terhadap pemberitahuan pabean impor dan/ atau pemberitahuan pabean ekspor.
- Orang adalah orang perseorangan atau badan hukum.
- Importir adalah orang perseorangan, lembaga, atau badan usaha, baik yang berbentuk badan hukum, maupun bukan badan hukum yang melakukan kegiatan memasukkan barang ke dalam daerah pabean.
- Eksportir adalah orang perseorangan, lembaga, atau badan usaha, baik yang berbentuk badan hukum, maupun bukan badan hukum yang melakukan kegiatan · mengeluarkan barang dari daerah pabean.
- Pemilik Barang adalah Importir, Eksportir, atau Orang yang meminta Importir mengimpor barang atau Eksportir mengekspor barang untuk dan atas kepentingannya dan diberitahukan dalam pemberitahuan pabean impor atau pemberitahuan pabean ekspor.
- Pemberitahuan Pabean Impor adalah pernyataan yang dibuat oleh Importir dalam rangka melaksanakan kewajiban pabean di bidang impor, dalam bentuk dan syarat yang ditetapkan dalam Undang-Undang Kepabeanan.
- Pemberitahuan Pabean Ekspor adalah pernyataan yang dibuat oleh Eksportir dalam rangka melaksanakan kewajiban pabean di bidang ekspor, dalam bentuk dan
jdih.kemenkeu.go.id
syarat yang ditetapkan dalarn Undang-Undang Kepabeanan.
- Kewajiban Pabean adalah semua kegiatan di bidang kepabeanan yang wajib dilakukan untuk memenuhi ketentuan dalarn Undang-Undang Kepabeanan.
- Pajak Dalarn Rangka Impor yang selanjutnya disingkat PDRI adalah Pajak Pertarnbahan Nilai, Pajak Penjualan atas Barang Mewah, dan/atau Pajak Penghasilan Pasal 22 Impor.
- Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang keuangan.
- Direktur Jenderal adalah Direktur Jenderal Bea dan Cukai.
- Pejabat Bea dan Cukai adalah pegawai DirektoratJenderal Bea dan Cukai yang ditunjuk dalam jabatan tertentu untuk melaksanakan tugas tertentu berdasarkan Undang- Undang Kepabeanan.
Bagian Kesatu Ruang Lingkup Penelitian Ulang
Pasal 2
(1) Direktur Jenderal berwenang untuk melaksanakan
Penelitian Ulang.
(2) Penelitian Ulang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ·
dilakukan oleh Pejabat Bea dan Cukai yang ditunjuk dan/atau sistem komputer pelayanan secara selektif berdasarkan manajemen risiko.
(3) Penelitian Ulang sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan terhadap Pemberitahuan Pabean Impor dan Pemberitahuan Pabean Ekspor yang telah lebih dari 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal pendaftaran.
Bagian Kedua Penelitian Ulang terhadap Pemberitahuan Pabean Impor
Pasal 3
(1) Penelitian Ulang sebagaimana dimaksud dalarn Pasal 2
ayat (3) dilakukan terhadap Pemberitahuan Pabean Impor atas:
- tarif; dan/ atau
- nilai pabean.
(2) Penelitian Ulang sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan dalarn jangka waktu 2 (dua) tahun terhitung· sejak tanggal pendaftaran Pemberitahuan Pabean Impor.
Bagian Ketiga Penelitian Ulang terhadap Pemberitahuan Pabean Ekspor
Pasal 4
(1) Penelitian Ulang sebagaimana dimaksud dalarn Pasal 2
ayat (3) dilakukan terhadap Pemberitahuan Pabean Ekspor atas:
jdih.kemenkeu.go.id
- tarif bea keluar;
- harga ekspor;
- jenis barang ekspor; dan/ atau
- jumlah barang ekspor.
(2) Penelitian Ulang sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan dalam jangka waktu 2 (dua) tahun terhitung sejak tanggal pendaftaran Pemberitahuan Pabean Ekspor.
Bagian Kesatu Kegiatan Penelitian Ulang
Pasal 5
Penelitian Ulang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3) meliputi kegiatan:
- perencanaan;
- pelaksanaan; dan
- monitoring, evaluasi, dan penjaminan kualitas.
Bagian Kedua Perencanaan Penelitian Ulang
Pasal 6
( 1) Kegiatan perencanaan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 5 huruf a merupakan proses penentuan objek
Penelitian Ulang yang dilakukan secara selektif berdasarkan manajemen risiko.
(2) Dalam melaksanakan kegiatan perencanaan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), Pejabat Bea dan Cukai yang ditunjuk dapat meminta data kepada:
- unit kerja di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai; dan/ atau
- instansi di luar Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.
(3) Hasil dari kegiatan perencanaan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dituangkan dalam laporan analisis objek Penelitian Ulang yang menjadi dasar penerbitan nomor penugasan Penelitian Ulang.
Bagian Ketiga Pelaksanaan Penelitian Ulang
Paragraf 1 Pelaksanaan Penelitian Ulang
Pasal 7
(1) Penelitian Ulang dilaksanakan sesuai dengan surat tugas
yang diterbitkan berdasarkan nomor penugasan Penelitian Ulang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (3).
(2) Dalam rangka pelaksanaan Penelitian Ulang sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 5 huruf b, Pejabat Bea dan Cukai yang ditunjuk berwenang untuk:
- meminta data dan/ atau dokumen;
- meminta keterangan lisan dan/atau keterangan tertulis;
jdih.kemenkeu.go.id
- meminta contoh barang; dan/atau
- melakukan pengujian laboratorium terhadap contoh barang untuk kepentingan identifikasi barang.
(3) Dalam rangka permintaan data clan/ atau dokumen
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a, Pejabat Bea clan Cukai yang ditunjuk dapat meminta data clan/ atau dokumen kepada:
- unit kerja di lingkungan Direktorat Jenderal Bea clan Cukai; clan/ atau
- instansi di luar Direktorat Jenderal Bea clan Cukai.
(4) Permintaan data, dokumen, keterangan lisan, keterangan
tertulis, clan/ atau contoh barang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a, huruf b, clan huruf c disampaikan kepada:
- Importir;
- Eksportir; dan/atau
- Pemilik Barang melalui Importir atau Eksportir.
(5) Permintaan data dan/atau dokumen sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) huruf a clan permintaan contoh barang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c, dituangkan dalam surat permintaan data, dokumen, clan/ atau contoh barang yang dibuat dengan menggunakan contoh format sebagaimana tercantum dalam Lampiran huruf A yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
(6) Permintaan keterangan lisan dan/atau keterangan tertulis
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b, dituangkan dalam surat permintaan keterangan lisan clan/ atau tertulis yang dibuat dengan menggunakan contoh format sebagaimana tercantum dalam Lampiran huruf B yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
(7) Penyampaian surat permintaan data, dokumen, dan/atau
contoh barang sebagaimana dimaksud pada ayat (5) clan surat permintaan keterangan lisan clan/ atau tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (6) kepada Importir, Eksportir, dan/atau Pemilik Barang melalui Importir atau· Eksportir dilakukan:
- secara langsung;
- melalui jasa pengiriman;
- melalui media elektronik; atau
- melalui sistem komputer pelayanan.
Pasal 8
(1) Atas permintaan data dan/atau dokumen sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) huruf a clan permintaan contoh barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat
(2) huruf c, Importir, Eksportir, dan/atau Pemilik Barang
wajib:
- menyerahkan data clan/ atau dokumen; clan/ atau
- menyerahkan contoh barang.
(2) Atas permintaan keterangan lisan clan/ atau keterangan
tertulis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) huruf b, Importir, Eksportir, dan/atau Pemilik Barang wajib menyampaikan keterangan lisan dan/atau keterangan tertulis. rt jdih.kemenkeu.go.id
(3) Penyerahan data dan/atau dokumen sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf a dan penyampaian keterangan lisan dan/ atau keterangan tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan:
- secara langsung;
- melalui jasa pengiriman;
- melalui media elektronik; atau
- melalui sistem komputer pelayanan.
(4) Penyerahan contoh barang sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) hurufb dilakukan:
- secara langsung; atau
- melalui jasa pengiriman.
(5) Penyerahan data dan/atau dokumen sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf a dan penyerahan contoh barang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, wajib dilampiri dengan surat pernyataan kebenaran data, dokumen, dan/ atau contoh barang yang dibuat dengan menggunakan contoh format sebagaimana tercantum dalam Lampiran huruf C yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
(6) Penyampaian keterangan lisan dan/ atau keterangan ·
tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib dilampiri dengan:
- berita acara konsultasi dan/atau permintaan keterangan/informasi yang dibuat dengan menggunakan contoh format sebagaimana tercantum dalam Lampiran huruf D yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini, dalam ha! keterangan diberikan secara lisan; atau
- surat pernyataan kebenaran keterangan tertulis yang dibuat dengan menggunakan contoh format sebagaimana tercantum dalam Lampiran huruf E yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri m1, dalam ha! keterangan diberikan secara tertulis.
(7) Dalam ha! contoh barang sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) huruf b tidak dapat diserahkan, Importir, Eksportir, dan/atau Pemilik Barang wajib menyampaikan surat pernyataan tidak dapat menyerahkan barang contoh yang dibuat dengan menggunakan contoh format· sebagaimana tercantum dalam Lampiran huruf F yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
(8) Dalam ha! Importir, Eksportir, dan/atau Pemilik Barang
tidak melengkapi dokumen berupa:
- surat pernyataan kebenaran data, dokumen, dan/atau contoh barang sebagaimana dimaksud pada ayat (5);
- berita acara konsultasi dan/ atau permintaan keterangan/informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (6) huruf a;
- surat pernyataan kebenaran keterangan tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (6) huruf b; dan/atau
- surat pernyataan tidak dapat menyerahkan barang contoh sebagaimana dimaksud pada ayat (7),
jdih.kemenkeu.go.id
Importir, Eksportir, dan/atau Pemilik Barang dianggap tidak menyerahkan data, dokumen, dan/ a tau contoh barang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan tidak menyampaikan keterangan lisan dan/atau keterangan tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (2).
Pasal 9
(1) Data, dokumen, dan/atau contoh barang sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) dan keterangan lisan dan/atau keterangan tertulis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) diserahkan paling lambat 7 (tujuh) hari kerja terhitung sejak tanggal dikirimnya surat permintaan data, dokumen, dan/ atau contoh barang dan/atau surat permintaan keterangan lisan dan/atau tertulis.
(2) Tanggal dikirimnya surat permintaan data, dokumen,
dan/atau contoh barang dan/atau surat permintaan keterangan lisan dan/atau tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menggunakan tanggal bukti pengiriman surat permintaan data, dokumen, dan/ a tau contoh barang dan/atau surat permintaan keterangan lisan dan/ atau tertulis yang diserahkan secara langsung, melalui jasa pengiriman, a tau media elektronik.
(3) Dalam hal Importir, Eksportir, dan/atau Pemilik Barang: ·
- tidak menyerahkan data, dokumen, keterangan lisan, keterangan tertulis, dan/atau contoh barang yang diminta dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1); atau
- dianggap tidak menyerahkan data, dokumen, keterangan lisan, keterangan tertulis, dan/ atau contoh barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (8), Importir, Eksportir, dan/atau Pemilik Barang diberikan surat peringatan pertama (SPl) yang dibuat dengan menggunakan contoh format sebagaimana tercantum dalam Lampiran huruf G yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
(4) Dalam hal Importir, Eksportir, dan/atau Pemilik Barang
tidak menyerahkan:
- data, dokumen, dan/atau contoh barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) dan/atau keterangan lisan dan/atau keterangan tertulis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat·
(2); dan/atau
- dokumen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat
(8),
yang diminta dalam jangka waktu paling lambat 3 (tiga) hari kerja setelah tanggal dikirimnya surat peringatan pertama (SPl) sebagaimana dimaksud pada ayat (3), Importir, Eksportir, dan/atau Pemilik Barang diberikan surat peringatan kedua . (SP2) yang dibuat dengan menggunakan contoh format sebagaimana tercantum dalam Lampiran huruf H yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
(5) Dalam hal Importir, Eksportir, dan/atau Pemilik Barang
tidak menyerahkan:
jdih.kemenkeu.go.id
- data, dokumen, dan/ a tau contoh barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) dan/ a tau keterangan lisan dan/ a tau keterangan tertulis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat
(2); dan/atau
- dokumen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat
(8),
yang diminta dalam jangka waktu paling lambat 3 (tiga) · hari kerja setelah tanggal dikirimnya surat peringatan kedua (SP2) sebagaimana dimaksud pada ayat (4), Pejabat Bea dan Cukai yang ditunjuk membuat berita acara tidak menyerahkan data, dokumen, keterangan lisan, keterangan tertulis, dan/ atau contoh barang yang dibuat dengan menggunakan contoh format sebagaimana tercantum dalam Lampiran huruf I yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
(6) Dalam hal batas waktu penyerahan data, dokumen,
keterangan lisan, keterangan tertulis, dan/ atau contoh barang sebagaimana dimaksud pada ayat (5) tidak dipenuhi, Direktur Jenderal melakukan pemblokiran akses kepabeanan.
(7) Pemblokiran akses kepabeanan sebagaimana dimaksud
pada ayat (6) dan pembukaan blokir akses kepabeanan dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan mengenai registrasi kepabeanan.
Paragraf 2 Tindak Lanjut Hasil Penelitian Ulang
Pasal 10
(1) Dalam ha! hasil Penelitian Ulang atas tarif sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf a mengakibatkan:
- kekurangan pembayaran bea masuk; atau
- kelebihan pembayaran bea masuk, Direktur Jenderal menetapkan kembali perhitungan bea masuk dan PDRI dengan menerbitkan surat penetapan kembali tarif dan/atau nilai pabean.
(2) Dalam ha! hasil Penelitian Ulang atas nilai pabean
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf b mengakibatkan:
- kekurangan pembayaran bea masuk; atau
- kelebihan pembayaran bea masuk, Direktur Jenderal menetapkan kembali perhitungan bea masuk, PDRI, dan sanksi administrasi berupa denda dengan menerbitkan surat penetapan kembali tarif dan/ a tau nilai pabean.
(3) Dalam ha! hasil Penelitian Ulang atas tarif bea keluar
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf a dan/ atau harga ekspor sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 4 ayat (1) huruf b mengakibatkan:
- kekurangan pembayaran bea keluar; atau
- kelebihan pembayaran bea keluar, Direktur Jenderal menetapkan kembali perhitungan bea keluar dengan menerbitkan surat penetapan kembali perhitungan bea keluar.
jdih.kemenkeu.go.id
(4) Dalam hal hasil Penelitian Ulang atas jenis barang ekspor
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf c dan/atau jumlah barang ekspor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat ( 1) huruf d mengakibatkan:
- kekurangan pembayaran bea keluar; atau
- kelebihan pembayaran bea keluar, Direktur Jenderal menetapkan kembali perhitungan bea keluar dan/atau sanksi administrasi berupa denda dengan menerbitkan surat penetapan kembali perhitungan bea keluar.
Pasal 11
(1) Penerbitan dan penyampaian surat penetapan kembali
tarif dan/atau nilai pabean sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 10 ayat (1) dan Pasal 10 ayat (2) dilaksanakan sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai tata cara penetapan tarif, nilai pabean, dan sanksi administrasi, serta penetapan Direktur Jenderal Bea dan Cukai atau Pejabat Bea dan Cukai.
(2) Penerbitan dan penyampaian surat penetapan kembali
perhitungan bea keluar sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 10 ayat (3) dan Pasal 10 ayat (4) dilaksanakan sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai pemungutan bea keluar.
Bagian Ketiga Monitoring, Evaluasi, dan Penjaminan Kualitas Penelitian Ulang
Pasal 12
(1) Direktur Jenderal atau Pejabat Bea dan Cukai yang
ditunjuk melakukan monitoring, evaluasi, dan penjaminan kualitas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf c terhadap kegiatan Penelitian Ulang.
(2) Monitoring sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
merupakan rangkaian kegiatan yang dilaksanakan secara sistematis dan berkesinambungan untuk mengetahui tingkat penyelesaian atas surat tindak lanjut hasil Penelitian Ulang.
(3) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan
kegiatan yang dilakukan untuk menilai hasil Penelitian Ulang dengan sasaran penilaian terkait pemenuhan prosedur pelaksanaan Penelitian Ulang.
(4) Penjaminan kualitas sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
merupakan rangkaian kegiatan pengendalian atas kualitas pada seluruh proses bisnis kegiatan Penelitian Ulang untuk memberikan keyakinan yang memadai sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 13
Ketentuan mengenai petunjuk pelaksanaan dalam kegiatan Penelitian Ulang ditetapkan oleh Direktur Jenderal.
jdih.kemenkeu.go.id
BABV
Pasal 14
Peraturan Menteri ini mulai berlaku setelah 60 (enam puluh) hari terhitung sejak tanggal diundangkan.
r f/ jdih.kemenkeu.go.id
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Menteri ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.
Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 14 Agustus 2023
ttd.
Diundangkan di Jakarta pada tanggal 22 Agustus 2023
,
ttd.
Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Umum u.b. Plt. Kepala Bagian Administrasi Kementerian
Ditandatangani secara elektronik
jdih.kemenkeu.go.id
Konsideran (Menimbang & Mengingat)
a. bahwa untuk mewujudkan kelancaran arus barang sebagai bentuk dukungan terhadap aktivitas perekonomian, dibutuhkan penguatan peran pengujian kepatuhan pengguna jasa setelah barang keluar dari kawasan pabean (post clearance contron melalui mekanisme penelitian ulang berdasarkan manajemen risiko;
- bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 17 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan dan ketentuan Pasal 12 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2008 tentang Pengenaan Bea Keluar terhadap Barang Ekspor, Direktur Jenderal Bea dan Cukai dapat
- Pasal 17 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
- Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3612) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 93, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4661);
- Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara (Lembaran Negara Republik
jdih.kemenkeu.go.id
Indonesia Tahun 2008 Nomor 166, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4916);
- Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2008 tentang Pengenaan Bea Keluar terhadap Barang Ekspor (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 116, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4886);
- Peraturan Presiden Nomor 57 Tahun 2020 tentang Kementerian Keuangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2020 Nomor 98);
- Peraturan Menteri Keuangan Nomor 118/PMK.01/2021 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Keuangan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2021 Nomor
- sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 141/PMK.01/2022 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 118/PMK.01/2021 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Keuangan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2022 Nomor 954);
