KEMENTERIAN NEGARA
Pasal 1
Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:
Kementerian Negara yang selanjutnya disebut Kementerian adalah perangkat pemerintah yang membidangi urusan tertentu dalam pemerintahan.
[!info] Catatan Istilah "Kementerian" menggantikan istilah "Departemen" yang digunakan sebelumnya
Menteri Negara yang selanjutnya disebut Menteri adalah pembantu Presiden yang memimpin Kementerian.
[!important] Kedudukan Menteri berfungsi sebagai pembantu Presiden sesuai [[UUD_1945_PASAL_17|Pasal 17 UUD 1945]]
Urusan Pemerintahan adalah setiap urusan sebagaimana dimaksud dalam ketentuan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
[!tip] Klasifikasi Urusan pemerintahan diklasifikasikan dalam [[UU_39_2008_BAB_2|BAB II]] menjadi tiga kategori
Pembentukan Kementerian adalah pembentukan Kementerian dengan nomenklatur tertentu setelah Presiden mengucapkan sumpah/janji.
[!note] Timeline Pembentukan harus dilakukan paling lama 14 hari kerja setelah Presiden dilantik ([[UU_39_2008_PASAL_16|Pasal 16]])
Pengubahan Kementerian adalah pengubahan nomenklatur Kementerian dengan cara menggabungkan, memisahkan, dan/atau mengganti nomenklatur Kementerian yang sudah terbentuk.
[!warning] Batasan Kementerian yang disebutkan tegas dalam UUD 1945 tidak dapat diubah ([[UU_39_2008_PASAL_17|Pasal 17]])
Pembubaran Kementerian adalah menghapus Kementerian yang sudah terbentuk.
[!warning] Batasan Kementerian yang disebutkan tegas dalam UUD 1945 tidak dapat dibubarkan ([[UU_39_2008_PASAL_20|Pasal 20]])
| No | Istilah | Singkatan | Definisi Singkat | Pasal Terkait | |----|---------|-----------|------------------|---------------| | 1 | Kementerian Negara | Kementerian | Perangkat pemerintah bidang urusan tertentu | [[UU_39_2008_PASAL_2|Pasal 2-11]] | | 2 | Menteri Negara | Menteri | Pembantu Presiden pemimpin Kementerian | [[UU_39_2008_PASAL_22|Pasal 22-24]] | | 3 | Urusan Pemerintahan | - | Urusan dalam UUD 1945 | [[UU_39_2008_PASAL_4|Pasal 4-6]] | | 4 | Pembentukan Kementerian | - | Proses membentuk kementerian baru | [[UU_39_2008_PASAL_12|Pasal 12-16]] | | 5 | Pengubahan Kementerian | - | Proses mengubah nomenklatur | [[UU_39_2008_PASAL_17|Pasal 17-19]] | | 6 | Pembubaran Kementerian | - | Proses menghapus kementerian | [[UU_39_2008_PASAL_20|Pasal 20-21]] |
[[UU_39_2008_BAB_2|BAB II - Kedudukan dan Urusan Pemerintahan]]
[[UU_39_2008_BAB_3|BAB III - Tugas, Fungsi, dan Susunan Organisasi]]
[[UU_39_2008_BAB_4|BAB IV - Pembentukan, Pengubahan, dan Pembubaran]]
[[UUD_1945_PASAL_17|UUD 1945 Pasal 17 - Menteri Negara]]
[[UUD_1945_PASAL_4|UUD 1945 Pasal 4 - Kekuasaan Pemerintahan]]
[[UU_23_2014|UU No. 23/2014 - Pemerintahan Daerah]]
Presidential Regulations on specific ministry organization
graph TD
A[Presiden RI] -->|mengangkat| B[Menteri]
B -->|memimpin| C[Kementerian]
C -->|menyelenggarakan| D[Urusan Pemerintahan]
D -->|berdasarkan| E[UUD 1945]
F[Pembentukan] -.->|14 hari| C
G[Pengubahan] -.->|nama/struktur| C
H[Pembubaran] -.->|hapus| C
#definitions #terminology #state_ministries #government_organization #foundational_concepts #administrative_law #institutional_framework
Dokumen ini diproses pada: 2025-11-02 11:10:00 WIB Bagian dari: [[UU_39_2008|UU No. 39/2008 tentang Kementerian Negara]]
Pasal 2
Kementerian berkedudukan di Ibu Kota Negara Republik Indonesia.
[!info] Lokasi Secara default, semua kementerian berkantor pusat di Jakarta sebagai ibu kota negara (saat ini sedang dalam transisi ke IKN Nusantara)
Pasal 3
Kementerian berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden.
[!important] Struktur Hierarki Menteri bukan pejabat independen - sepenuhnya bertanggung jawab kepada Presiden sebagai kepala pemerintahan
Pasal 4 - Klasifikasi Urusan
(1) Setiap Menteri membidangi urusan tertentu dalam pemerintahan.
(2) Urusan tertentu dalam pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:
a. urusan pemerintahan yang nomenklatur Kementeriannya secara tegas disebutkan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
[!important] Kategori A: Kementerian Konstitusional
- Kementerian Luar Negeri
- Kementerian Dalam Negeri
- Kementerian Pertahanan
Ketiga kementerian ini WAJIB dibentuk dan TIDAK DAPAT diubah atau dibubarkan
b. urusan pemerintahan yang ruang lingkupnya disebutkan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; dan
[!info] Kategori B: Kementerian Sektoral 24 urusan pemerintahan yang disebutkan ruang lingkupnya dalam UUD 1945
c. urusan pemerintahan dalam rangka penajaman, koordinasi, dan sinkronisasi program pemerintah.
[!tip] Kategori C: Kementerian Koordinator 18 urusan yang bersifat koordinatif dan sinkronisasi lintas sektor
Pasal 5 - Rincian Urusan Pemerintahan
| No | Kementerian | Dasar | Status | |----|-------------|-------|---------| | 1 | Luar Negeri | UUD 1945 | ✅ Wajib, Tidak dapat diubah | | 2 | Dalam Negeri | UUD 1945 | ✅ Wajib, Tidak dapat diubah | | 3 | Pertahanan | UUD 1945 | ✅ Wajib, Tidak dapat diubah |
Meliputi urusan:
| No | Urusan | Contoh Kementerian | Status | |----|--------|-------------------|---------| | 1 | agama | Kementerian Agama | Khusus (wajib persetujuan DPR untuk bubar) | | 2 | hukum | Kementerian Hukum & HAM | Khusus (wajib persetujuan DPR untuk bubar) | | 3 | keuangan | Kementerian Keuangan | Khusus (wajib persetujuan DPR untuk bubar) | | 4 | keamanan | Kepolisian/Keamanan | Khusus (wajib persetujuan DPR untuk bubar) | | 5 | hak asasi manusia | Kementerian Hukum & HAM | Dapat digabung | | 6 | pendidikan | Kementerian Pendidikan | Dapat digabung | | 7 | kebudayaan | Kemendikbudristek | Dapat digabung | | 8 | kesehatan | Kementerian Kesehatan | Dapat berdiri sendiri | | 9 | sosial | Kementerian Sosial | Dapat digabung | | 10 | ketenagakerjaan | Kementerian Ketenagakerjaan | Dapat digabung | | 11 | industri | Kementerian Perindustrian | Dapat digabung | | 12 | perdagangan | Kementerian Perdagangan | Dapat digabung | | 13 | pertambangan | Kementerian ESDM | Dapat digabung | | 14 | energi | Kementerian ESDM | Dapat digabung | | 15 | pekerjaan umum | Kementerian PUPR | Dapat digabung | | 16 | transmigrasi | - | Dapat digabung | | 17 | transportasi | Kementerian Perhubungan | Dapat digabung | | 18 | informasi | Kementerian Kominfo | Dapat digabung | | 19 | komunikasi | Kementerian Kominfo | Dapat digabung | | 20 | pertanian | Kementerian Pertanian | Dapat berdiri sendiri | | 21 | perkebunan | Kementerian Pertanian | Dapat digabung | | 22 | kehutanan | Kementerian LHK | Dapat digabung | | 23 | peternakan | Kementerian Pertanian | Dapat digabung | | 24 | kelautan dan perikanan | Kementerian KKP | Dapat berdiri sendiri |
[!warning] Urusan Khusus Agama, Hukum, Keuangan, dan Keamanan memiliki perlakuan khusus:
- Dapat memiliki pelaksana di daerah
- Pembubaran harus dengan persetujuan DPR (bukan hanya pertimbangan)
Meliputi urusan:
| No | Urusan | Contoh Kementerian/Lembaga | |----|--------|---------------------------| | 1 | perencanaan pembangunan nasional | Bappenas | | 2 | aparatur negara | Kementerian PANRB | | 3 | kesekretariatan negara | Sekretariat Negara | | 4 | badan usaha milik negara | Kementerian BUMN | | 5 | pertanahan | Kementerian ATR/BPN | | 6 | kependudukan | Kemendagri/Dukcapil | | 7 | lingkungan hidup | Kementerian LHK | | 8 | ilmu pengetahuan | BRIN | | 9 | teknologi | BRIN | | 10 | investasi | Kementerian Investasi/BKPM | | 11 | koperasi | Kementerian Koperasi & UKM | | 12 | usaha kecil dan menengah | Kementerian Koperasi & UKM | | 13 | pariwisata | Kementerian Pariwisata | | 14 | pemberdayaan perempuan | Kementerian PPPA | | 15 | pemuda | Kemenpora | | 16 | olahraga | Kemenpora | | 17 | perumahan | Kementerian PUPR | | 18 | pembangunan kawasan/daerah tertinggal | Kementerian Desa PDTT |
Pasal 6 - Fleksibilitas Pembentukan
Setiap urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2) dan ayat (3) TIDAK HARUS dibentuk dalam satu Kementerian tersendiri.
[!tip] Implikasi Praktis
- Beberapa urusan dapat digabungkan dalam satu kementerian
- Contoh: Kementerian ESDM menggabungkan urusan pertambangan dan energi
- Contoh: Kementerian LHK menggabungkan lingkungan hidup dan kehutanan
- Fleksibilitas ini memberi ruang Presiden mengorganisasi kabinet secara efisien
graph TD
A[Urusan Pemerintahan] --> B[Kategori A: Nomenklatur Tegas]
A --> C[Kategori B: Ruang Lingkup]
A --> D[Kategori C: Koordinasi]
B --> B1[3 Kementerian]
B1 --> B2[Luar Negeri]
B1 --> B3[Dalam Negeri]
B1 --> B4[Pertahanan]
C --> C1[24 Urusan]
C1 --> C2[4 Khusus: Agama, Hukum, Keuangan, Keamanan]
C1 --> C3[20 Umum: Dapat digabung]
D --> D1[18 Urusan]
D1 --> D2[Koordinasi lintas sektor]
D1 --> D3[Sinkronisasi program]
style B2 fill:#ff6b6b
style B3 fill:#ff6b6b
style B4 fill:#ff6b6b
style C2 fill:#ffd93d
[[UU_39_2008_BAB_1|BAB I - Ketentuan Umum]]
[[UU_39_2008_BAB_3|BAB III - Tugas, Fungsi, dan Susunan Organisasi]]
[[UU_39_2008_BAB_4|BAB IV - Pembentukan, Pengubahan, dan Pembubaran]]
[[UUD_1945_PASAL_17|UUD 1945 Pasal 17]]
[[UUD_1945|Undang-Undang Dasar 1945]]
[[UU_23_2014|UU No. 23/2014 - Pemerintahan Daerah]]
Konsideran (Menimbang & Mengingat)
a. bahwa Presiden sebagai pemegang kekuasaan pemerintahan menurut [[UUD_1945|Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945]] dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh menteri-menteri negara yang membidangi urusan tertentu di bidang pemerintahan;
b. bahwa setiap menteri memimpin kementerian negara untuk menyelenggarakan urusan tertentu dalam pemerintahan guna mencapai tujuan negara sebagaimana diamanatkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
c. bahwa sesuai ketentuan [[UUD_1945_PASAL_17|Pasal 17 ayat (4)]] Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, pembentukan, pengubahan, dan pembubaran kementerian negara diatur dalam undang-undang;
d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c perlu membentuk Undang-Undang tentang Kementerian Negara;
Pasal 4, Pasal 17, Pasal 20, dan Pasal 21 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
| Pasal | Deskripsi | Relevansi | |-------|-----------|-----------| | [[UUD_1945_PASAL_4|Pasal 4]] | Presiden memegang kekuasaan pemerintahan | Dasar kewenangan eksekutif | | [[UUD_1945_PASAL_17|Pasal 17]] | Menteri sebagai pembantu Presiden | Dasar pembentukan kementerian | | [[UUD_1945_PASAL_20|Pasal 20]] | DPR memegang kekuasaan membentuk UU | Prosedur legislasi | | [[UUD_1945_PASAL_21|Pasal 21]] | Hak mengajukan RUU | Hak inisiatif legislatif |
