Pasal 6
(1) Mekanisme Penagihan PNBP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 adalah sebagai berikut:
a. Wajib Bayar wajib melakukan pembayaran setelah dilakukan Penagihan oleh Bendahara Penerimaan; b. Penagihan sebagaimana dimaksud pada huruf a dilakukan dengan mengirimkan Nomor Tagihan oleh BAPETEN kepada Wajib Bayar; c. Pembayaran oleh Wajib Bayar harus dilakukan sesuai dengan nilai tagihan melalui Rekening Virtual; d. Apabila tidak dimungkinkan melakukan pembayaran melalui Rekening Virtual, Wajib Bayar dapat menyetorkan kepada Bendahara Penerimaan secara tunai; e. Setelah melakukan pembayaran, Wajib Bayar menyampaikan bukti pembayaran dan/atau memberitahukan melalui faksimili, e- mail, dan/atau melalui pelayanan pesan singkat (short messages services). (2) PNBP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 yang sudah dibayarkan oleh Wajib Bayar kepada BAPETEN tidak dapat diminta kembali. (3) Dalam hal penyetoran pembayaran kurang dari nilai tagihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, BAPETEN tidak menerbitkan izin, Wajib Bayar tidak dapat mengikuti ujian atau Wajib Bayar tidak dapat mengikuti pelatihan penyegaran. (4) Wajib Bayar yang tidak dapat mengikuti ujian atau pelatihan penyegaran hanya dapat diikutsertakan pada kesempatan pertama berikutnya setelah memberikan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. (5) Apabila Wajib Bayar telah diberi kesempatan untuk mengikuti ujian atau pelatihan penyegaran pada kesempatan pertama berikutnya dan masih tidak dapat mengikuti ujian atau pelatihan penyegaran tersebut, PNBP yang telah dibayarkan menjadi milik Negara dan tidak dapat ditarik kembali oleh Wajib Bayar.
