RENCANA PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR
RENCANA PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR WILAYAH SUNGAI TOBA-ASAHAN
TAHUN 2022
MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT NOMOR 712 /KPTS/M/2022 TENTANG RENCANA PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR WILAYAH SUNGAI TOBA-ASAHAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT, Menimbang a. bahwa berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 04/PRT/M/ 2015 tentang Kriteria dan Penetapan Wilayah Sungai, Wilayah Sungai Toba-Asahan merupakan wilayah sungai strategis nasional yang merupakan kewenangan Pemerintah Pusat; b. bahwa berdasarkan Pasal 3 ayat (1) Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 10/PRT/M/ 2015 tentang Rencana dan Rencana Teknis Tata Pengaturan Air dan Tata Pengairan, serta untuk menjamin terselenggaranya tata pengaturan air dan tata pengairan yang baik pada setiap wilayah sungai, perlu dibuat rencana tata pengaturan air dan tata pengairan berupa rencana pengelolaan sumber daya air; c. bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 9 ayat (2) dan ayat (3) Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 10/ PRT/ M/ 2015 tentang Rencana dan Rencana Teknis Tata Pengaturan Air dan Tata Pengairan, rencana pengelolaan sumber daya air yang telah dirumuskan dalam wadah koordinasi pengelolaan sumber daya eit pada wilayah sungai strategis nasional ditetapkan oleh Menteri; 2 d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu menetapkan Keputusan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat tentang Rencana Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Toba-Asahan; Mengingat
- Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2019 tentang Sumber Daya Air (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2019 Nomor 190, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6405);
- Peraturan Presiden Nomor 27 Tahun 2020 tentang Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2020 Nomor 40);
- Keputusan Presiden Nomor 113/P Tahun 2019 tentang Pembentukan Kementerian Negara dan Pengangkatan Menteri Kabinet Indonesia Maju Periode Tahun 2019- 2024;
- Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 10/PRT/M/2015 tentang Rencana dan Rencana Teknis Tata Pengaturan Air dan Tata Pengairan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 535);
- Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 13 Tahun 2020 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2020 Nomor 473);
- Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 16 Tahun 2020 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Berita Negara Republik Indonesia tahun 2020 Nomor 554) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 26 Tahun 2020 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 16 Tahun 2020 tentang 3 Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2020 Nomor 1144); MEMUTUSKAN: Menetapkan KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT TENTANG RENCANA PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR WILAYAH SUNGAI TOBA-ASAHAN. KESATU KEDUA Menetapkan rencana pengelolaan sumber daya air Wilayah Sungai Toba-Asahan sebagaimana tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak tei pisahkan dari Keputusan Menteri ini. Rencana pengelolaan sumber daya air sebagaimana dimaksud dalam Diktum KESATU, merupakan hasil perencanaan secara menyeluruh dan terpadu dalam pengelolaan sumber daya air di Wilayah Sungai Toba-Asahan. KETIGA Rencana pengelolaan sumber daya air sebagaimana dimaksud dalam Diktum KEDUA, memuat: a. hasil analisa lapangan untuk upaya fisik dan nonfisik; b. desain dasar untuk upaya fisik dan nonfisik; dan c. prakiraan kelayakan untuk upaya fisik dan nonfisik. KEEMPAT : Rencana pengelolaan sumber daya air sebagaimana dimaksud dalam Diktum KESATU disusun untuk jangka waktu 20 (dua puluh) tahun. KELIMA : Rencana pengelolaan sumber daya air sebagaimana dimaksud dalam Diktum KEEMPAT, dapat ditinjau dan dievaluasi kembali paling singkat 5 (lima) tahun sekali sejak ditetapkan. KEENAM : Peninjauan dan evaluasi kembali sebagaimana dimaksud dalam Diktum KELIMA dilakukan melalui konsultasi publik. -5 LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT NOMOR 712 /KPTS/M/2022 TENTANG RENCANA PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR WILAYAH SUNGAI TOBA-ASAHAN RENCANA PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR WILAYAH SUNGAI TOBA-ASAHAN A. DAFTAR ISI DAFTAR ISI 5 DAFTAR TABEL 6 DAFTAR GAMBAR 12 BAB I PENDAHULUAN 17 1.1. Latar Belakang 17 1.2. Maksud, Tujuan dan Sasaran 20 BAB II GAMBARAN UMUM WILAYAH SUNGAI 21 2.1. Karakteristik Wilayah Sungai 21 2.2. Isu Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air 40 2.3. Potensi Dan Permasalahan Sumber Daya Air Di WS Toba Asahan 51 BAB III PEMILIHAN STRATEGI 58 3.1. Dasar Pertimbangan dalam Pemilihan Strategi 58 3.2 Pemilihan Strategi 59 BAB IV INVENTARISASI SUMBER DAYA AIR 62 4.1. Kondisi Hidrologis, Hidrometeorologis dan Hidrogeologi 62 4.2. Kuantitas dan kualitas sumber daya air 76 4.3. Kondisi Lingkungan Hidup Dan Potensi yang Terkait Dengan Sumber Daya Air 148 4.4. Kelembagaan pengelolaan sumber daya air 206 4.5. Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat Yang Terkait Dengan Sumber Daya Air 214 4.6. Kebijakan Terkait Pengelolaan Sumber Daya Air 245 4.7. Rencana Strategis dan Rencana Pembangunan Daerah 252 BAB V ANALISIS DATA 316 6 5.1. Daerah Resapan Air, Daerah Tangkapan Air, Zona Pemanfaatan Sumber Air 316 5.2. Konservasi Sumber Daya Air 328 5.3. Pendayagunaan Sumber Daya Air 362 5.4. Pengendalian Daya Rusak 415 5.5. Sistem Informasi Sumber Daya Air 430 5.6. Peningkatan Peran Masyarakat dan Dunia Usaha 441 BAB VI UPAYA PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR 450 6.1. Rekapitulasi Prakiraan Biaya 450 6.2. Matrik Dasar Penyusunan Program dan Kegiatan Rencana Pengelolaan Sumber Daya Air 450 B. DAFTAR TABEL Tabel 2.1 Daerah Administrasi dalam WS Toba Asahan 23 Tabel 2.2 Luas Kecamatan dalam WS Toba Asahan 25 Tabel 2.3 Luasan Berdasarkan Klaster Ketinggian 27 Tabel 2.4 Penggunaan Lahan WS Toba Asahan 29 Tabel 2.5 Klasifikasi Formasi Geologi WS Toba Asahan 34 Tabel 2.6 Informasi Sungai WS Toba Asahan 36 Tabel 2.7 Capaian Pemenuhan Air Bersih tiap Kabupaten di WS Toba Asahan 41 Tabel 2.8 Produksi Padi Kabupaten di WS Toba Asahan Tahun 2017 42 Tabel 2.9 Persentase Rumah Tangga menurut Sumber Penerangan dan Kabupaten/Kota (%), 2017 43 Tabel 4.1 Data Stasiun Hujan di Kawasan WS Toba Asahan 63 Tabel 4.2 . Data Pos Duga Air di Kawasan WS Toba Asahan 67 Tabel 4.3 Data Klimatologi di Stasiun meteorologi PPKS Marihat - Siantar 73 Tabel 4.4. Data Cekungan Air Tanah di Kawasan WS Toba Asahan 74 Tabel 4.5. Debit Andalan Yang Dapat Disuplai Pada WS Toba Asahan 76 Tabel 4.6. Danau di WS Toba Asahan 79 Tabel 4.7. Bendungan yang sudah berfungsi di WS Toba Asahan 80 Tabel 4.8. Data Teknis Bendungan Dan Pembangkit 81 _7 Tabel 4.9 Daftar Embung yang dimanfaatkan untuk air baku dan irigasi di WS Toba Asahan 85 Tabel 4.10 Daerah Irigasi WS Toba Asahan 90 Tabel 4.11. Inventaris Irigasi 99 Tabel 4.12. Inventaris Bendung 100 Tabel 4.13. Data PDAM 109 Tabel 4.14. Daftar Perusahaan Yang Sudah Mendapatkan Ijin Pengusahaan dan Penggunaan Sumber Daya Air dari Kementerian PUPR 112 Tabel 4.15 Rekap Ketersediaan Air Terpasang 116 Tabel 4.16 Standar Kebutuhan air bersih rumah tangga per orang per hari menurut kategori kota 117 Tabel 4.17 Kebutuhan Air Rumah Tangga dan Perkotaan 117 Tabel 4.18 Kebutuhan Air RKI (Termasuk Pariwisata) di WS Toba Asahan 120 Tabel 4.19 Kebutuhan Air Irigasi di WS Toba Asahan 120 Tabel 4.20 Kebutuhan Air Perternakan Hewan Berkaki Empat di WS Toba Asahan 121 Tabel 4.21 Kebutuhan Air Perternakan Unggas di WS Toba Asahan 122 Tabel 4.22 Kebutuhan Air Perternakan di WS Toba Asahan 122 Tabel 4.23 Neraca Kebutuhan Air dan Ketersediaan Air 124 Tabel 4.24 Kriteria Status Trofik Danau 132 Tabel 4.25 Keramba Jaring Apung (KJA) Danau Toba 134 Tabel 4. 26 Kualitas Air Danau Toba 136 Tabel 4.27 Titik sampling pengambilan air Danau Toba 141 Tabel 4.28 Titik sampling pengambilan air Sungai Asahan 141 Tabel 4.29 Kualitas Air Sungai Asahan 144 Tabel 4.30.Luas Hutan Lindung 151 Tabel 4.31. Luas Suaka alam dan Cagar Budaya 154 Tabel 4.32.Luas Hutan Produksi 156 Tabel 4.33. Luas dan Tingkat Kekritisan Lahan Tahun 2017 158 Tabel 4.34 Rasio Qmax dan Qmin di WS Toba Asahan 160 Tabel 4.35 Erosi dan Sedimentasi 162 Tabel 4.36. Jumlah Hotel di daerah wisata Danau Toba 165 Tabel 4.37.Kejadian banjir yang terjadi di WS Toba Asahan 167 _8 Tabel 4.38.Daerah yang terkena dan Kerugian dampak banjir Kota Tanjung Balai 170 Tabel 4.39. Luas Potensi Kerawanan Banjir di WS Toba Asahan 172 Tabel 4.40 Data Potensi Embung Konservasi di WS 175 Tabel 4.41 Potensi Check dam di WS Toba Asahan 181 Tabel 4.42. Potensi Embung Sebagai Tampungan Air Di WS Toba Asahan 186 Tabel 4.43 Daerah Irigasi Di Kabupaten Asahan Hilir, JICA 1990 187 Tabel 4.44 Luas Pengembangan Daerah Irigasi di WS Toba Asahan 190 Tabel 4.45 Data Pembangkit Terpasang Di Sumatera Utara 195 Tabel 4.46 Data Rencana Penambahan Pembangkit Listrik 195 Tabel 4.47 Data PLTA Eksisting 196 Tabel 4.48 Data Potensi PLTA, PLTM dan PLTMH 201 Tabel 4.49 Data Jumlah P3A Kabupaten/Kota di WS Toba Asahan 214 Tabel 4.50 Laju Pertumbuhan Penduduk di WS Toba Asahan 214 Tabel 4.51 Jumlah penduduk per Kecamatan yang masuk dalam WS Toba Asahan 215 Tabel 4.52 Persentase penduduk yang bekerja menurut kelompok lapangan usaha 218 Tabel 4.53 Persentase Penduduk Miskin menurut Kabupaten 219 Tabel 4.54 Laju Pertumbuhan Ekonomi Menurut Kabupaten/ Kota 223 Tabel 4.55 Produksi Padi per Kabupaten/Kota (ton) 226 Tabel 4.56 Produksi Palawija per Kabupaten/Kota (ton) 226 Tabel 4.57 Produksi Komoditi Hortikultura, Sub Sektor Tanaman Perkebunan per Kabupaten/Kota (1) 230 Tabel 4.58 Produksi Komoditi Hortikultura, Sub Sektor Tanaman Perkebunan per Kabupaten/Kota (2) 230 Tabel 4.59 Produksi Komoditi Hortikultura, Sub Sektor Tanaman Perkebunan per Kabupaten/ Kota (3) 231 Tabel 4.60 Produksi perikanan per Kabupaten/Kota (1) 232 Tabel 4.61 Produksi peternakan per Kabupaten/Kota 234 Tabel 4.62 Data Hutan di WS Toba Asahan 235 Tabel 4.63 Data Sektor Energi di WS Toba Asahan 236 _9 Tabel 4.64 Data Sektor Air Bersih di WS Toba Asahan (satuan: Lt/det) 236 Tabel 4.65 Data Daya Tarik Wisata di WS Toba Asahan 239 Tabel 4.66 Data Sektor Industri di WS Toba Asahan 244 Tabel 4.67 Data Bahan Tambang di WS Toba Asahan 244 Tabel 4.68 Pembagian Tourism Destination Area (TDA) dan Key Tourism Area (KTA) 274 Tabel 4.69 Matriks Prioritas Nasional Perumahan dan Pemukiman 276 Tabel 4.70 Matriks Prioritas Nasional Ketahanan Pangan 282 Tabel 4.71 Matriks Prioritas Nasional Ketahanan Energi 286 Tabel 4.72 Matriks Prioritas Nasional Infrastruktur 289 Tabel 4.73 Matriks Prioritas Nasional Pembangunan Wilayah 296 Tabel 4.74 Luasan CPCL berdasarkan sistem pengaliran food estate 304 Tabel 4.75 Rencana Infrastruktur Kawasan Food Estate 305 Tabel 5.1 Variabel, Kriteria dan Klasifikasi Penentuan Daerah Resapan Air (DRA) 316 Tabel 5.2 Variabel dan Kriteria Batas Imbuhan/Luahan Serta Lepasan Air 317 Tabel 5.3 Variabel, Kriteria dan Klasifikasi Penentuan Daerah Tangkapan Air (DTA) 320 Tabel 5.4 Variabel dan Kriteria Penentuan Zona Pemanfaatan Sumber Air 324 Tabel 5.5 Kesesuaian Lahan Terhadap RTRW 329 Tabel 5.6 Total Biaya Rekomendasi Sipil Teknis Per Kabupaten 332 Tabel 5.7 Identifikasi Lokasi Bangunan Konservasi Kawasan Retensi/ Embung 336 Tabel 5.8 Daftar Sebaran Potensi Lokasi Pembangunan Check dam/ Dam Penahan / BPS 340 Tabel 5.9 Tempat Penampungan Sampah Sementara 344 Tabel 5.10 Prioritas Upaya Aspek Konservasi Sumber Daya Air 350 Tabel 5.11 Desain Dasar Embung Bonan Dolok 355 Tabel 5.12 Aspek dan Subaspek Pengelolaan SDA 356 Tabel 5.13 Desain Dasar Embung Sinapi 356 Tabel 5.14 Aspek dan Subaspek pengelolaan SDA 357
Tabel 5.15 Prakiraan Anggaran Biaya Pembangunan Embung Konservasi 358 Tabel 5.16 Benefit untuk setahun 358 Tabel 5.17 Analisis Kelayakan Aspek Konservasi 359 Tabel 5.18 Prakiraan Kelayakan Ekonomi Pekerjaan: Rencana Embung Konservasi 361 Tabel 5.19 Prakiraan Analisis Kelayakan Ekonomi Konservasi SDA 361 Tabel 5.20 Prakiraan Kelayakan Embung Konservasi SDA 361 Tabel 5.21 Pembangunan DI Baru dan Peningkatan DI 363 Tabel 5.22 Proyeksi jumlah penduduk di WS Toba Asahan masing-masing Kabupaten untuk Tahun 2017, 2022, 2027, 2032 dan2037 368 Tabel 5.23 Sasaran Pembangunan Industri Tahun 2015 s.d. 2035 (persen) 369 Tabel 5.24 Kebutuhan Air Industri di WS Toba Asahan 370 Tabel 5.25 Kebutuhan Air Domestik Dan Non Domestik di WS Toba Asahan untuk Tahun 2017, 2022, 2027, 2032 dan 2037 370 Tabel 5.26 Kebutuhan Air RKI tiap Kabupaten dalam WS Toba Asahan 370 Tabel 5.27 Kebutuhan Air Irigasi di WS Toba Asahan 371 Tabel 5.28 Kebutuhan Air RKI di WS Toba Asahan pada masing-masing kabupaten, m3/dt Analisis Neraca Air 373 Tabel 5.29 Skenario Pembangunan untuk Pemenuhan Kebutuhan Air 376 Tabel 5.30 Rencana Sumber Air untuk Pemenuhan Kebutuhan Air Baku 378 Tabel 5.31 Kebutuhan Air di WS Toba Asahan Tahun 2017 - 2037 379 Tabel 5.32 Supply Air di WS Toba Asahan Tahun 2017 - 2037 380 Tabel 5.33 Potensi Air di WS Toba Asahan Tahun 2017 - 2037 380 Tabel 5.34 Prioritas Upaya Aspek Pendayagunaan Sumber Daya Air 400 Tabel 5.35 Desain Dasar Bendung Suplesi Meat 403 Tabel 5.36 Desain Dasar Bendung Sijambur 404 Tabel 5.37 Prakiraan Anggaran Biaya Pembangunan Bendung Sijambur 406 Tabel 5.38 Benefit untuk setahun 407 Tabel 5.39 Analisis Kelayakan Pendayagunaan Sumber Daya Air (Bendung) 408 Tabel 5.40 Prakiraan Kelayakan Ekonomi Pekerjaan: Rencana Bendung Sijambur 413 Tabel 5.41 Prakiraan Analisis Kelayakan Ekonomi Bendung Pendayagunaan SDA 413 Tabel 5.42 Prakiraan Kelayakan Bendung Pendayagunaan SDA 413 Tabel 5.43 Prakiraan Analisis Kelayakan Ekonomi Embung Pendayagunaan SDA 414 Tabel 5.44 Prakiraan Kelayakan Embung Pendayagunaan SDA 414 Tabel 5.45 Prakiraan Analisis Kelayakan Ekonomi Konservasi SDA 415 Tabel 5.46 Prakiraan Kelayakan Embung Konservasi SDA 415 Tabel 5.47 Penanggulangan Banjir Sei Asahan- Silau 416 Tabel 5.48 Upaya Fisik Penanggulangan Banjir di WS Toba Asahan 417 Tabel 5.49 Prioritas Upaya Pengendalian Daya Rusak Air 423 Tabel 5.50 Desain Dasar Tanggul Banjir Sei Asahan 426 Tabel 5.51 Desain Dasar Bangunan Kontrol 428 Tabel 5.52 Prakiraan Analisis Kelayakan Ekonomi Tanggul Banjir Pengendalian Daya Rusak SDA 429 Tabel 5.53 Prakiraan Kelayakan Tanggul Banjir Konservasi SDA 429 Tabel 5.54 Usulan Rasionalisasi Pos Hujan di WS Toba Asahan 431 Tabel 5.55 Usulan Rasionalisasi Pos Hujan di WS Toba Asahan 432 Tabel 5.56 Rencana Rasionalisasi Pos Duga Air di WS Toba Asahan 434 Tabel 5.57 Prioritas Utama Sistem Informasi Sumber Daya Air 439 Tabel 5.58 Desain Dasar Peraturan Gubernur 440 Tabel 5.59 Desain Dasar Standarisasi Sistem dan Mutu Pengelolaan 441 Tabel 5.60 Prakiraan Analisis Kelayakan Ekonomi Sistem Informasi SDA 441 Tabel 6.1 Rekapitulasi Perkiraan Biaya (Rp Juta) 450
Tabel 6.2 Matriks Dasar Penyusunan Program dan Kegiatan Rencana Aspek Konservasi Sumber Daya Air 451 Tabel 6.3 Matriks Dasar Penyusunan Program dan Kegiatan Rencana Aspek Pendayagunaan Sumber Daya Air 476 Tabel 6.4 Matriks Dasar Penyusunan Program dan Kegiatan Rencana Aspek Pengendalian Daya Rusak Air 495 Tabel 6.5 Matriks Dasar Penyusunan Program dan Kegiatan Rencana Aspek Sistem Informasi Sumber Daya Air 506 Tabel 6.6 Matriks Dasar Penyusunan Program dan Kegiatan Rencana Aspek Peningkatan Peran Masyarakat dan Dunia Usaha 510 C. DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1 Peta DAS di WS Toba Asahan 22 Gambar 2.2 Peta Administrasi Wilayah Sungai Toba Asahan 24 Gambar 2.3 Peta Topografi WS Toba Asahan 28 Gambar 2.4 Peta Penggunaan Lahan WS Toba Asahan Tahun 2014 30 Gambar 2.5 Peta Penggunaan Lahan WS Toba Asahan Tahun 2017Geologi 31 Gambar 2.6 Peta Geologi WS Toba Asahan 33 Gambar 2.7 Peta Rawan Longsor WS Toba Asahan 35 Gambar 2.8 Terjadinya Danau Toba 40 Gambar 2.9 Peta Isu Strategis Nasional WS Toba Asahan 46 Gambar 2.10 Peta Isu Strategis Lokal WS Toba Asahan 50 Gambar 4.1 Peta Stasiun Hujan WS Toba Asahan 64 Gambar 4.2 Peta Isohyet Hujan Tahunan WS Toba Asahan 65 Gambar 4.3 Peta Pos Duga Air WS Toba Asahan 68 Gambar 4.4 Debit rata-rata bulanan Sungai Asahan dilokasi Bendungan Siruar, Bendungan Sigura-gura dan Bendungan Tangga Tahun (1982-2018) 69 Gambar 4.5 Debit Aliran Tengah Bulanan DAS Asahan 70 Gambar 4.6 Grafik Muka Air Danau Toba pada Akhir Bulan (1963- 2018) 72 Gambar 4.7 Peta Cekungan Air Tanah WS Toba Asahan 75 Gambar 4.8 Peta Jarigan Sungai WS Toba Asahan 78 Gambar 4.9 Peta Bendungan WS Toba Asahan 83 Gambar 4.10 Peta Embung Eksisting WS Toba Asahan 88
Gambar 4.11 Peta Lokasi Bendung di WS Toba Asahan 108 Gambar 4.12 Peta Lokasi PDAM WS Toba Asahan 110 Gambar 4.13 Peta Lokasi Pemakaian Industri 115 Gambar 4.14 Neraca Air WS Toba Asahan 125 Gambar 4.15 Skema Sungai WS Toba Asahan 127 Gambar 4.16 Skema Sungai Silau 128 Gambar 4.17 Skema Sungai Asahan 129 Gambar 4.18 Skema Air Sungai Aek Silang, Lau renu Pada Pulau Samosir Kualitas Sumber Daya Air 130 Gambar 4.19 Penentuan kelas sungai bagian Sungai Asahan 131 Gambar 4.20 Lokasi titik sampling kualitas air WS Toba Asahan 143 Gambar 4.21 Status mutu air Sungai Asahan 147 Gambar 4.22 Peta Hutan Lindung WS Toba Asahan 153 Gambar 4.23 Peta Suaka Alam dan Cagar Budaya WS Toba Asahan 155 Gambar 4.24 Peta Hutan Produksi WS Toba Asahan 157 Gambar 4.25 Peta Lahan Kritis WS Toba Asahan 159 Gambar 4.26 Peta Erosi Metode USLE 163 Gambar 4.27 Peta Lokasi Kejadian Banjir di WS Toba Asahan 171 Gambar 4.28 Peta Terdampak Banjir Kota Tanjung Balai 172 Gambar 4.29 Peta Potensi Rawan Banjir WS Toba AsahanPotensi Yang Terkait 173 Gambar 4.30 Peta Potensi Embung Tampungan dan Embung Konservasi di WS Toba Asahan 180 Gambar 4.31 Peta Potensi Check dam WS Toba AsahanPotensi Pendayagunaan Sumber Daya Air Yang Masih Bisa Dikembangkan 185 Gambar 4.32 Potensi pengembangan Irigasi pada Lower Asahan River 189 Gambar 4.33 Olahraga Arung Jeram di Sungai Asahan, Desa Tangga 192 Gambar 4.34 Wisata Danau Toba 193 Gambar 4.35 Sungai Asahan bagian hilir dipakai untuk Pelayaran 194 Gambar 4.36 Dermaga pelabuhan Muara Danau Toba, Kabupaten Tapanuli Utara 194 Gambar 4.37 Peta Lokasi PLTA, PLTM dan PLTMH Eksisting 198 Gambar 4.38 Skema Lokasi PLTA Asahan I,II,III 200 Gambar 4.39 Peta Lokasi Potensi PLTA, PLTM dan PLTMH 203 Gambar 4.40 Persentase Penduduk Kabupaten dalam WS Toba Asahan 218
Gambar 4.41 Persentase Kelompok Lapangan Usaha Menurut Kabupaten/ Kota Tahun 2017 219 Gambar 4.42 Laju Pertumbuhan Ekonomi 225 Gambar 4.43 Kunjungan Wisatawan ke Danau Toba 2015-2018 237 Gambar 4.44 Ilustrasi Peta Daya Tarik Wisata Danau Toba 238 Gambar 4.45 Peta lokasi tourism development area (TDA) Danau Toba 273 Gambar 4.46 Peta Rencana Pola Ruang KSN Danau Toba 274 Gambar 4.47 Peta Kawasan Strategis Nasional Perumahan dan Permukiman 281 Gambar 4.48 Peta Kawasan Strategis Nasional Ketahanan Pangan 285 Gambar 4.49 Peta Kawasan Strategis Nasional Ketahanan Energi 288 Gambar 4.50 Peta Kawasan Strategis Nasional Infrastruktur 295 Gambar 4.51 Peta Kawasan Strategis Nasional Pembangunan Wilayah 299 Gambar 4.52 Lokasi Food Estate di Provinsi Sumatera Utara 300 Gambar 4.53 Area Pengembangan Food Estate di Kabupaten Humbang Hasundutan 302 Gambar 4.54 Daerah Tangkapan Food Estate di WS Toba Asahan 303 Gambar 4.55 Potensi Ketersediaan Air untuk Food Estate 303 Gambar 4.56 Gambaran Rancangan Infrastruktur Irigasi Food Estate 304 Gambar 4.57 Rencana Pola Ruang di WS Toba Asahan 310 Gambar 4.58 Peta Rawan Bencana di WS Toba AsahanRencana Pembangunan 312 Gambar 5.1 Peta Daerah Resapan Air WS Toba Asahan 319 Gambar 5.2 Peta Daerah Tangkapan Air WS Toba Asahan 322 Gambar 5.3 Peta Zona Pemanfaatan Sumber Air WS Toba Asahan 327 Gambar 5.4 Kesesuaian Lahan Terhadap RTRW 331 Gambar 5.5 Peta Rekomendasi Vegetatif WS Toba Asahan 334 Gambar 5.6 Peta Rekomendasi Sipil Teknis WS Toba Asahan 335 Gambar 5.7 Target Pertumbuhan Sektor Industri Nasional 369 Gambar 5.8 Neraca Air WS Toba-Asahan Tahun 2017-2037 381 Gambar 5.9 Skema Rencana Pemenuhan Kebutuhan Air WS Toba Asahan (Tahun 2022) 382 Gambar 5.10 Skema Rencana Pemenuhan Kebutuhan Air Sungai Silau- (Tahun 2022) 383
Gambar 5.11 Skema Rencana Pemenuhan Kebutuhan Air Sungai Asahan (Tahun 2022) 384 Gambar 5.12 Skema Rencana Pemenuhan Kebutuhan Air Sungai Aek Silang, Lau renun Pada Pulau Samosir (Tahun 2022) 385 Gambar 5.13 Skema Rencana Pemenuhan Kebutuhan Air WS Toba Asahan (Tahun 2027) 386 Gambar 5.14 Skema Rencana Pemenuhan Kebutuhan Air Sungai Silau (Tahun 2027) 387 Gambar 5.15 Skema Rencana Pemenuhan Kebutuhan Air Sungai Asahan- (Tahun 2027) 388 Gambar 5.16 Skema Rencana Pemenuhan Kebutuhan Air Sungai Aek Silang, Lau renun Pada Pulau Samosir - (Tahun 2027) 389 Gambar 5.17 Skema Rencana Pemenuhan Kebutuhan Air WS Toba Asahan (Tahun 2032) 390 Gambar 5.18 Skema Rencana Pemenuhan Kebutuhan Air Sungai Silau (Tahun 2032) 391 Gambar 5.19 Skema Rencana Pemenuhan Kebutuhan Air Sungai Asahan- (Tahun 2032) 392 Gambar 5.20 Skema Rencana Pemenuhan Kebutuhan Air Sungai Aek Silang, Lau renun Pada Pulau Samosir - (Tahun 2032) 393 Gambar 5.21 Skema Rencana Pemenuhan Kebutuhan Air WS Toba Asahan (Tahun 2037) 394 Gambar 5.22 Skema Rencana Pemenuhan Kebutuhan Air Sungai Silau (Tahun 2037) 395 Gambar 5.23 Skema Rencana Pemenuhan Kebutuhan Air Sungai Asahan- (Tahun 2037) 396 Gambar 5.24 Skema Rencana Pemenuhan Kebutuhan Air Sungai Aek Silang, Lau renun Pada Pulau Samosir (Tahun 2037) 397 Gambar 5.25 Peta Upaya Pengendalian Daya Rusak Air di WS Toba Asahan 419 Gambar 5.26 Peta Rasionalisasi Lokasi Pos Hujan dan Pos Klimatologi WS Toba Asahan 433 Gambar 5.27 Peta Rasionalisasi Pos Duga Air WS Toba Asahan 436
Gambar 6.1 Peta Tematik Aspek Konservasi Sumberdaya
Air
515
Gambar 6.2 Peta Tematik Aspek Pendayagunaan Sumberdaya
Air
516
Gambar 6.3 Peta Tematik Aspek Pengendalian Daya Rusak
Air
517
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Sumber daya air adalah aspek vital yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Pada saat kondisi ketersediaan sumber daya air relatif melimpah baik secara kuantitatif maupun kualitatif, dibandingkan dengan kebutuhannya, sumber daya air dapat dikategorikan sebagai benda bebas (free goods). Namun ketika ketersediaan sumber daya air mulai langka akan terjadi kompetisi antar berbagai fungsi pengguna air. Untuk itu diperlukan pemikiran untuk melestarikan ketersediaan sumber daya air bukan hanya untuk generasi sekarang namun juga untuk generasi yang akan datang. Sebagaimana diketahui bahwa Pola Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Toba Asahan telah ditetapkan oleh Menteri Pekerjaan Umum yang tertuang dalam Surat Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 145/KPTS/M/2013 pada Tanggal 1 Maret 2013. Pola pengelolaan sumber daya air merupakan kerangka dasar dalam merencanakan, melaksanakan, memantau, dan mengevaluasi kegiatan pengelolaan sumber daya air, agar dapat dilaksanakan perlu diuraikan secara detail langkah-langkah yang harus dilakukan meliputi upaya non fisik dan fisik yang diatur menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 10/PRT/M/2015 tentang Rencana dan Rencana Teknis Tata Pengaturan Air. Wilayah Sungai (WS) Toba Asahan merupakan salah satu wilayah sungai strategis nasional di Provinsi Sumatera Utara berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 04/PRT/M/2015 tentang Kriteria Penetapan Wilayah Sungai, dengan 1 (satu) kesatuan Daerah Aliran Sungai (DAS), yaitu DAS Toba Asahan dengan luas 7.244,51 km2, terdiri daratan seluas 6.114,51 km2 dan perairan danau seluas 1.130 km2. WS Toba Asahan terletak pada 02°08' LU sampai 03°12' LU dan 98°53' BT sampai 99°98' BT. Batas-batas administratif WS Toba Asahan: a. Sebelah Timur : Selat Malaka; b. Sebelah Selatan : Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Labuhan Batu Utara; c. Sebelah Barat : Kabupaten Dairi, Kabupaten Humbang Hasundutan, Kabupaten Samosir; dan
d. Sebelah Utara : Kabupaten Asahan, Kabupaten Karo dan Kabupaten Simalungun. WS Toba Asahan termasuk dalam Kawasan Strategis Nasional dimana wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting secara nasional terhadap kedaulatan negara, pertahanan dan keamanan negara, ekonomi, sosial, budaya, dan/atau lingkungan, termasuk wilayah yang telah ditetapkan sebagai warisan dunia. Kawasan Strategis Nasional yang terdapat dalam WS Toba Asahan adalah Kawasan Danau Toba. Kawasan Danau Toba dan sekitarnya ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Nasional dari sudut kepentingan fungsi dan daya dukung lingkungan yang meliputi Badan Danau, Daerah Tangkapan Air, dan Cekungan Air Tanah yang terkait dengan perairan Danau Toba, serta pusat kegiatan dan jaringan prasarana yang tidak berada di Badan Danau, Daerah Tangkapan Air, dan Cekungan Air Tanah yang terkait dengan perairan Danau Toba dan mendukung pengembangan perairan Danau Toba. Gambaran mengenai WS Toba Asahan disajikan dalam Peta WS Toba Asahan pada Gambar 1.1.
Sumber: Lampiran Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 04/PRT/M/2015 tentang Kriteria Dan Penetapan Wilayah Sungai Gambar 1. 1 Peta WS Toba Asahan
1.2.
Maksud, Tujuan dan Sasaran
1.2.1. Maksud
Maksud penyusunan Rencana Pengelolaan Sumber Daya Air WS Toba Asahan
adalah menyusun rencana menyeluruh dan terpadu pengelolaan sumber daya
air yang ada di WS Toba Asahan dengan prinsip keterpaduan antara air
permukaan dan air tanah serta keseimbangan antara upaya konservasi sumber
daya air dan pendayagunaan sumber daya air, sehingga dapat menjadi pedoman
dan arahan penyelenggaraan pengelolaan sumber daya air secara terpadu,
terkoordinasi, dan berkesinambungan dalam kurun waktu tertentu (sampai dua
puluh tahun mendatang).
1.2.2. Tujuan
Tujuan penyusunan Rencana Pengelolaan Sumber Daya Air WS Toba Asahan
adalah
terwujudnya
kelestarian
sumber
daya
air,
pemanfaatan
dan
pendayagunaan sumber daya air yang serasi dan optimal sesuai dengan
kebutuhan dan kemampuan daya dukung lingkungan dan mengurangi daya
rusak air serta sesuai dengan kebijakan pembangunan nasional dan daerah
yang berkelanjutan.
1.2.3. Sasaran
Sasaran Rencana adalah sebagai dokumen pedoman yang mengikat bagi
Pemerintah, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota, dan masyarakat
dalam penyelenggaraan pengelolaan sumber daya air di WS Toba Asahan, serta
memberikan arahan penyelenggaraan:
a. konservasi sumber daya air terpadu di WS Toba Asahan;
b. pendayagunaan
sumber
daya
air
di
WS
Toba
Asahan
dengan
mempertimbangkan kebijakan daerah, termasuk arahan zonasi dalam
penataan ruang;
c. pengendalian daya rusak air di WS Toba Asahan;
d. sistem informasi sumber daya air di WS Toba Asahan; dan
e. pemberdayaan dan peningkatan peran masyarakat dan dunia usaha dalam
pengelolaan sumber daya air di WS Toba Asahan.
BAB II GAMBARAN UMUM WILAYAH SUNGAI
2.1.
Karakteristik Wilayah Sungai
2.1.1. Daerah Aliran Sungai
Pada WS Toba Asahan hanya ada 1 (satu) DAS dan terbagi dalam Sub DAS Toba,
Sub DAS Asahan, Sub DAS Silau, dan Sub DAS Piasa. Luas DAS sama dengan
luas WS Toba Asahan sebesar 7.244,51 km2, termasuk luas perairan Danau
Toba 1.130 km2. Sungai utama pada WS Toba Asahan adalah Sungai Asahan
yang mempunyai panjang 153,82 km dengan lebar rata-rata 50 m yang
terbentang dari outlet Danau Toba di Kecamatan Porsea sampai pantai di Selat
Malaka (Kota Tanjung Balai). Sungai Asahan di bagian hulu sangat curam dan
mempunyai debit cukup besar rata-rata 120 m3/detik, sangat ideal untuk
pembangkit listrik tenaga air. Begitu pula di beberapa daerah seperti di sub DAS
Silau, Sub DAS Toba ada air terjun seperti air terjun Sipiso-piso di Kabupaten
Karo, air terjun Sipoltak Hoda, air terjun Janji dan air terjun Aek Simangira di
Kabupaten Humbang Hasundutan dan air terjun Aek Tomuan di Kabupaten
Asahan.
Kondisi tutupan lahan pada DAS ini kurang baik, luas hutan hanya 19% kurang
dari 30% dan memiliki luas lahan sangat kritis dan lahan kritis total sebesar
412,96 km2 (5,58%) dari luas daratan WS Toba Asahan) dengan curah hujan
rata-rata tahunan berkisar 1.000 mm sampai 3.000 mm.
Peta Batas Sub DAS di WS Toba Asahan dapat dilihat pada Gambar 2.1.
Sumber: Hasil Analisa Data Lampiran Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 04/PRT/M/2015
Gambar 2. 1 Peta DAS di WS Toba Asahan
2.1.2. Administrasi WS Toba Asahan meliputi 8 (delapan) Kabupaten dan 1 (satu) Kota terdiri dari: Kabupaten Samosir, Kabupaten Toba, Kabupaten Asahan, dan Kota Tanjung Balai serta sebagian kecil dari Kabupaten Simalungun, Kabupaten Karo, Kabupaten Dairi, Kabupaten Humbang Hasundutan, dan Kabupaten Tapanuli Utara. Peta wilayah administrasi dalam WS Toba Asahan disajikan pada Gambar 2.2. Cakupan administrasi Kabupaten/Kota yang terdapat di WS Toba Asahan dapat dilihat pada Tabel 2.1. Tabel 2. 1 Daerah Administrasi dalam WS Toba Asahan No. Kabupaten/ Kota Luas (km2) Persen WS 1. Asahan 3.047,37 42,06% 2. Dairi 67,03 0,93% 3. Humbang Hasundutan 389,01 5,37% 4. Karo 58,11 0,80% 5. Kota Tanjung Balai 60,74 0,84% 6. Samosir 1.023,27 14,12% 7. Simalungun 304,49 4,20% 8. Tapanuli Utara 95,15 1,31% 9. Toba 1.069,34 14,76% Luas Administrasi 6.114,51 84,40% Luas Danau Toba 1.130,00 15,60% Luas WS Toba Asahan 7.244,51 100,00% Sumber: Hasil Analisis, Tahun 2018 Secara rinci, terdapat beberapa kecamatan pada masing-masing kabupaten/kota di WS Toba Asahan yang tidak seluruhnya termasuk dalam cakupan wilayah kecamatan yang dapat dilihat pada Tabel 2.2.
Sumber: Hasil Analisis,Tahun 2018 Gambar 2. 2 Peta Administrasi Wilayah Sungai Toba Asahan
Tabel 2.2 Luas Kecamatan dalam WS Toba Asahan N o. Kabupa ten/ Kota Kecamat an Luas Dalam WS Luas Utuh N o. Kabupa ten/ Kota Kecamatan Luas Dalam WS Luas Utuh km2 % km2
km2
%
km2
1.
Asahan
Aek
Ledong
12,81
14,25
89,92
6.
Samosir
Harian
185,64
49,01
378,81
Aek
Kuasan
94,82
55,28
171,53
Nainggolan
71,06
100,00
71,12
Aek
Songsong
an
209,71
75,99
275,97
Onan
Runggu
64,01
100,00
66,61
Air Batu
123,19
100,00
123,19
Palipi
152,90
100,00
153,00
Air Joman
72,83
87,90
82,86
Pangururan
121,30
100,00
121,98
Bandar
Pasir
Mandoge
657,07
91,27
719,95
Ronggur
Nihuta
82,79
100,00
82,79
Bandar
Pulau
269,90
100,00
269,96
Sianjur
Mulamula
125,27
91,20
137,35
Buntu
Pane
141,40
88,31
160,12
Simanindo
159,74
100,00
164,34
Kisaran
Barat
12,68
41,87
30,29
Sitio-Tio
60,57
100,00
61,82
Kisaran
Timur
27,25
100,00
27,25
7.
Simalu
ngun
Dolok
Pardamean
21,27
21,68
106,70
Pulau
Rakyat
211,34
100,00
211,34
Girsang
Sipangan
Bolon
77,35
61,02
126,77
Pulo
Bandring
17,59
18,54
94,89
Haranggaol
Horison
23,30
68,48
34,03
Rahuning
192,89
100,00
194,30
Hatonduhan
71,90
27,56
260,89
Rawang
Panca
Arga
10,69
18,51
57,76
Pematang
Sidamanik
0,59
0,77
76,62
Sei Dadap
75,25
100,00
75,25
Pematang
Silimahuta
28,48
35,58
80,05
Sei
Kepayang
318,40
78,27
406,79
Purba
55,89
32,85
170,11
Sei
Kepayang
Barat
31,86
100,00
31,86
Sidamanik
16,15
11,72
49,01
Sei
Kepayang
Timur
98,28
100,00
99,41
Silimakuta
9,57
13,42
71,27
Setia
Janji
0,79
1,28
61,79
8.
Tapanul
i Utara
Garoga
56,44
11,39
69,27
Silau Laut
31,42
28,81
109,06
Muara
20,03
28,91
239,11
Simpang
Empat
144,29
100,00
144,29
Pagaran
18,68
16,34
372,34
Tanjung
Balai
75,16
100,00
77,14
9.
Toba
Ajibata
53,25
100,00
53,48
Teluk
Dalam
117,28
100,00
117,28
Balige
110,80
100,00
113,32
N o. Kabupa ten/ Kota Kecamat an Luas Dalam WS Luas Utuh N o. Kabupa ten/ Kota Kecamatan Luas Dalam WS Luas Utuh km2 % km2
km2 % km2 Tinggi Raja 100,46 100,00 100,46 Bonatua Lunasi 89,80 100,00 89,80 2. Dairi Pegagan Hilir 2,05 1,24 165,09 Borbor 37,14 10,60 350,52 Silahisab ungan 64,90 61,24 105,98 Habinsaran 16,04 4,14 387,87 Sumbul 0,08 0,03 238,29 Laguboti 95,22 100,00 95,22 3. Humba ng Hasund utan Bakti Raja 20,24 100,00 21,36 Lumban Julu 106,96 100,00 107,22 Dolok Sanggul 46,45 20,45 227,17 Parmaksian 51,31 100,00 51,31 Lintong Nihuta 76,91 49,97 153,90 Pintu Pohan Meranti 138,86 68,99 201,27 Parangina n 31,12 62,06 50,14 Porsea 55,04 100,00 55,41 Parlilitan 0,17 0,02 709,14 Siantar Narumonda 44,28 100,00 44,30 Pollung 214,12 67,04 319,41 Sigumpar 26,20 100,00 26,21 4. Karo Merek 58,11 23,98 242,35 Silaen 147,19 90,88 161,96 5. Kota Tanjung Balai Datuk Bandar 22,09 100,00 22,09 Tampahan 30,96 100,00 31,07 Datuk Bandar Timur 14,96 100,00 14,96 Uluan 66,31 100,00 66,95 Sei Tualang Raso 9,35 100,00 9,35 Total Luas Kecamatan dalam WS Toba Asahan 6.114,51 Km2 Tanjungb alai Selatan 1,74 100,00 1,74 Luas Perairan Danau Toba 1.130,00 Km2 Tanjungb alai Utara 0,74 100,00 0,74 Luas Total WS Toba Asahan 7.244,51 Km2 Teluk Nibung 11,86 100,00 11,86
Sumber: Hasil Analisis, Tahun 2018
2.1.3. Topografi
Kondisi topografi WS Toba Asahan sebagian besar berbukit bukit terutama di
sekitar Danau Toba dengan ketinggian diatas 1.100 mdpl. Berdasarkan data
topografi diketahui daratan WS Toba Asahan yang memiliki ketinggian diatas
1.100 mdpl seluas 2.125,25 km2 (sebesar 35%), lahan berketinggian 700 sampai
1.100 mdpl seluas 1.066,65 km2 (17 %), lahan berketinggian 250 sampai 700
mdpl seluas 355,69 km2 (6 %) dan dataran rendah dengan ketinggian 0 m
sampai 250 mdpl seluas 2.566,91 km2 (42%).
Ciri khas WS Toba Asahan adalah adanya danau besar berpulau yang berada di
daerah ketinggian (elevasi muka air sekitar 900 sampai 905 mdpl) dengan luas
perairannya sekitar 1.130 km2 atau 14 % dari luas WS Toba Asahan (7.244,51 km2), dan di tengahnya terdapat Pulau Samosir, serta terdapat sungai yang mengalirkan air Danau Toba yaitu Sungai Asahan yang bermuara di Selat Malaka. Peta Topografi WS Toba Asahan dapat dilihat pada Gambar 2.3. Tabel 2.3 Luasan Berdasarkan Klaster Ketinggian Elevasi Area (Km2) Persentase (%) 0 - 250 2.566,911 41,98 250 - 700 355,6895 5,82 700 - 1100 1.066,654 17,44 1100 - 1700 1.829,731 29,92 1700 - 2200 295,5235 4,83 Jumlah 6.114,51 100 Sumber: Hasil Analisis, Tahun 2018
Sumber: Hasil Analisis peta DEM, Tahun 2018 Gambar 2. 3 Peta Topografi WS Toba Asahan
29
2.1.4. Penggunaan Lahan
Berdasarkan data penggunaan lahan dari Kementerian Kehutanan (Tahun 2014
dan Tahun 2017), diketahui luas penggunaan lahan terluas Tahun 2017 berupa
Pertanian Lahan Kering sebesar 36,25% (2.626,16 km2). Penggunaan Lahan WS
Toba Asahan dapat dilihat pada Tabel 2.4, Gambar 2.4 dan Gambar 2.5.
Tabel 2. 4 Penggunaan Lahan WS Toba Asahan
No Jenis Penggunaan Lahan
Tahun 2014
Tahun 2017
Perubahan
(%)
Luas
(km2)
%
Luas
(km2)
%
1
Bandara/ Pelabuhan
0,00 0,02 0,00 0,00 2 Hutan Lahan Kering 778,13 10,74 766,56 10,58 -0,16 3 Hutan Mangrove Primer 12,61 0,17 12,13 0,17 -0,01 4 Hutan Mangrove Sekunder 25,34 0,35 25,79 0,36 0,01 5 Hutan Rawa Sekunder 16,40 0,23 16,40 0,23 0,00 6 Hutan Tanaman 335,63 4,63 325,23 4,49 -0,14 7 Pemukiman 35,97 0,50 35,97 0,50 0,00 8 Perkebunan 1.115,94 15,40 1.294,21 17,86 2,46 9 Pertanian Lahan Kering 2.601,27 35,91 2.626,16 36,25 0,34 10 Pertanian Lahan Kering Campur 6,17 0,09 14,10 0,19 0,11 11 Rawa 15,23 0,21 12,25 0,17 -0,04 12 Sawah 238,87 3,30 239,62 3,31 0,01 13 Semak Belukar 337,99 4,67 411,16 5,68 1,01 14 Semak Belukar Rawa 11,26 0,16 6,86 0,09 -0,06 15 Tambak 1,98 0,03 1,98 0,03 0,00 16 Tanah Terbuka 549,80 7,59 293,95 4,06 -3,53 17 Tubuh Air 31,92 0,44 32,10 0,44 0,00 18 Danau Toba 1.130,00 15,60 1.130,00 15,60 0,00
Total 7.244,51 100.00 7.244,51 100.00
Sumber: Kementerian Kehutanan, 2017
Selama kurun waktu 3 (tiga) tahun, penggunaan lahan sebagai areal
perkebunan di WS Toba Asahan menunjukkan peningkatan seluas 2,46 % atau
178,28 km2, sedangkan luas Tanah Terbuka berkurang 3,53 % atau 255,85 km2
dan Hutan Tanaman berkurang 0,14 % atau 10,40 km2.
Sumber: Hasil Analisis Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Tahun 2014 Gambar 2. 4 Peta Penggunaan Lahan WS Toba Asahan Tahun 2014
Sumber: Hasil Analisis Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Tahun 2017 Gambar 2. 5 Peta Penggunaan Lahan WS Toba Asahan Tahun 2017
2.1.5. Geologi Secara geologis, Daerah Sumatera Utara memiliki struktur dan batuan yang kompleks dan telah beberapa kali mengalami proses tektonik karena merupakan pertemuan lempeng Eurasia dan lempeng Australia. Hal ini menyebabkan terbentuknya rangkaian jalur patahan, rekahan, dan pelipatan disertai kegiatan vulkanik. Jalur patahan tersebut melewati jalur Sumatera Utara mulai dari segmen Alas-Karo dan sepanjang kurang lebih 390 km merupakan pusat-pusat gempa di darat. Jalur patahan (subduction) di Pantai Barat sepanjang kurang lebih 250 km merupakan pusat-pusat gempa di dasar laut. Kondisi struktur geologi yang kompleks yang dicirikan oleh bentuk bentang alam perbukitan, terlipat dengan patahan selain merupakan jalur gempa juga potensial menimbulkan tanah longsor. Pada Tahun 2005 daerah Sumatera Utara yang terdiri dari 18 Kabupaten dan 1 Kota merupakan kawasan yang rentan gerakan tanah longsor dengan prosentase sebesar 40-50 % dari luas wilayah. Peta Geologi WS Toba Asahan dapat dilihat pada Gambar 2.6.
Sumber: Hasil analisis data Badan Geologi Kementerian ESDM, 2017 Gambar 2. 6 Peta Geologi WS Toba Asahan
Berdasarkan Peta Geologi WS Toba Asahan maka dapat diklasifikasikan Geologi berdasarkan formasinya seperti yang terlihat pada Tabel 2.5. Tabel 2. 5 Klasifikasi Formasi Geologi WS Toba Asahan No Formasi Luas (km2) 1 Batuan beku hasil pendinginan magma daya dukung batuan tinggi 627,43 2 Batuan hasil erupsi gunung api, daya dukung cukup tinggi 3.349,44 3 Batuan sedimen dari non clastik, daya dukung kecil atau sedang 592,44 4 Batuan sedimen mempunyai porositas dan permeabilitas 581,99 5 Batuan sedimen mempunyai porositas kecil atau tidak ada sama 963,21
Total 6.114,51 Sumber: Hasil analisis data Badan Geologi Kementerian ESDM, 2017 Gerakan tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu kemiringan lereng, kondisi geologi, curah hujan, gempa, dan perubahan vegetasi dan aktifitas manusia. Kondisi struktur geologi yang kompleks yang dicirikan oleh bentuk bentang alam perbukitan, terlipat dengan patahan selain merupakan jalur gempa juga potensial menimbulkan tanah longsor terhadap sekitar 40-50 persen dari luas wilayah Provinsi Sumatera Utara sekitar Bukit Barisan membujur arah Utara – Selatan. WS Toba Asahan memiliki lokasi rawan longsor yang tersebar seperti yang terlihat pada Gambar 2.7.
Sumber: Hasil Analisis , Tahun 2018 Gambar 2. 7 Peta Rawan Longsor WS Toba Asahan
2.1.6. Sungai Berikut merupakan beberapa informasi data sungai di WS Toba Asahan yang dapat dilihat pada tabel 2.6: Tabel 2. 6 Informasi Sungai WS Toba Asahan No Sungai Induk/ DAS
Ordo I Panjang (m)
Ordo II Panjang (m) 1 SEI SILAU 1 Pantai Burung 6.987,111
Dadap 6.860,6672 2 Aek Piasa 88.758,914
1 Kampa 1.936,6555
2 Sipulpul 4.847,426 3 Sei Pane 9.506,993
Sei Godang 6.122,5700 4 Ambalutu 20.260,063
Pandorean 8.426,1794 5 Nagori 6.433,405
Aek Kapas 4.456,1635 6 Aek Salabat 19.157,495
7 Aek Buluan 5.726,130
Aek Natio 6.628,4078 8 Silomati 5.251,243
9 Kamangin 9.324,487
10 Tumuan 12.734,348
Aek Liang 9.826,6967 11 Tumurun 5.609,509
12 Barumbung 7.059,268
2 ASAHAN 1 Silau (DAS tersendiri) 34.688,396
2 Sei Bandar Jaksa 814,039
Sei H.Daud 4.568,8824 3 Kepayang 2.458,718 1 Sei Kepayang kiri 9.790,1296
2 Sei Kepayang Tengah 5.339,7800
3 Sei Kepayang Kanan 7.160,7879 4 Lebah 9.152,936 1 Air Putih 10.238,2589
2 Pembangunan 11.000,9777 5 Sei Mentalu 11.552,082
Aek Lobu 4.089,6878 6 Aek Sigasan 10.449,716
Aek Hessa 10.022,6145 7 Sei Teluk 6.351,564
8 Sei Silamlam 5.840,974
9 Sei Batu Tunggal 6.850,589
10 Aek Natalu 3.295,839
Aek Nauli 4.941,5381
Aek Kuasan 34.629,2679 11 Aek Tangkahan 5.821,898
12 Aek Masihi 8.610,007
13 Aek Sakur 10.858,599 1 Aek Taruri 43.091,3147
2 Aek Sugapa 28.918,3692 14 Aek Tapusuhi 9.873,098 1 Aek Napusuri 1.422,9938
2 Aek Lautan 2.372,5737 15 Aek Tondonan 3.506,981
16 Aek Jambu Dolok 8.597,149
17
Aek Baturangin
7.266,383
18 Aek Gulangan 9.950,429
Aek Panamparan 6.347,5806 19 Aek Lumban Lintong 7.139,823
20 Aek Dianginjang 4.699,520
No Sungai Induk/ DAS
Ordo I Panjang (m)
Ordo II Panjang (m) 21 Aek Bolon 16.892,975 1 Aek Siakkola 2.644,6573
2 Aek Silang 9.055,7847
3 Aek Sirampaga 3.038,7366 22 Aek Mandosi 5.480,923 1 Aek Bang 4.173,3079
2 Aek Naorihon 1.623,713 3 DANAU TOBA 1 Aek Sibargot 3.516,963 1 Aek Narumonda 4.549,170
2 Aek Siatuan 10.515,400 2 Aek Silimbat 12.316,389
3 Aek Toranihuta 7.370,936
4 Aek Simare 17.876,108
5 Aek Sibitara 1 5.011,407
6 Aek Sibitara 9.646,523
7 Aek Halian 9.429,129
Bendar Juda 14.991,7246
Aek Sihailhail 6.647,662 8 Aek Lumbabi 5.895,455
9 Aek Sitobu 8.454,827
Aek Sitabotabo 1.484,5462 10 Aek Godang 4.636,016
11 B. Siteni Babi 3.133,281
12 B. Sigudeg 3.144,676
13 B. Sibuntuon 3.098,509
14 B. Sipea Dolok 6.727,437
15 Aek Silang 9.055,785 1 Aek Simangira 4.242,5704
2 Aek Losung 3.126,9374
3 Aek Sipultak langit 3.649,3324
4 Aek Situmohap 3.753,1848 16 Aek Janji 6.062,947
17 Aek Simangongkat 3.139,001
18 B. Ranga 3.488,042
19 B. Tamba 5.854,722
20 B. Napoltak 4.603,445
21 B.Sosor Galung 4.807,831
B. Bodang 1.874,3147 22 B. Harian 6.721,797
23 Aek Prembakan 2.291,602 1 Lae Manuruk 9.827,6964
2 Lae Nabalon 2.454,2382
3 Lae Bongkong 2.170,3994 24 Lae Parangunan 6.305,615
Lae Silolom 6.564,1261 25 Aek Ringgo 6.071,853
Aek Sulusulu 1.393,7877 26 Aek PLTA Lae Renun
1 Lae Sigilang 11.872,8466 27 Aek Situnggaling 5.433,484
28 Aek Suhusuhi 3.122,925
29 Aek Narbosahan 16.458,412 1 Aek Siserasera/ Bawah 3.348,5733
2 Aek Pangasean 2.389,786
3 Aek Siserasera/ Atas 4.782,6483 30 Aek Sigilang 5.214,708
31 Aek tongguran 13.956,928
Aek Sigiragira 7.772,8177 32 Aek Situmurung 9.227,597
No Sungai Induk/ DAS
Ordo I Panjang (m)
Ordo II Panjang (m) 33 Aek Siarsikarsik 4.600,046 1 Aek Sibaruang 7.897,1957
2 Aek Sibaratia 8.408,3904 34 Aek Gopgopan 12.852,980
Aek Sihiong 2.887,6853 35 Aek Simantorop 5.082,641
36 Aek Salak 8.064,869
Aek Sigalagala
10.952,517
37
B. Arun
12.922,650
B. Sibongbong 13.019,2397
Aek tao Taharan 17.477,2328 38 B. Siriaon 3.747,410
39 B. Lbn. Kokolang 5.778,544
40 Aek Marta 3.580,821
41 Aek Simaratuang 12.300,951
42 Aek Sitanggang 1.429,396
43 B. Situngkir 3.278,072
44 B. Simarbalatu 7.704,289
45 B. Simbolon 5.224,807
46 B. Sisiasia 5.064,448
47 B. Raup Bosi 4.201,519
48 B. Malau 5.691,454
49 B. Sitengaltengal 6.756,655
50 B. Sibongot 3.193,902
51 B. Galung Nabolon 2.874,613 1 B.Tigadalan 726,8303
2
B.Ambarita
1.601,3214
52
B. Sisodang
1.762,251
B. Simangande 1.355,1206 53 B. Sipullung Dura 3.821,675
54 B. Sisania 6.858,129
55 B. Sipalia 8.589,121
56 B. Simala 3.020,214
57 B. Situatua 4.406,531
58 B. Hairi 7.486,849
59 B.Sigumbang/ Nainggolan 9.956,483 1 B. Sijamajama 6.621,9805
2 B.Sihobun 8.748,5831 60 B.Silinta/Nainggolan 3.404,924
61 B. Silumata 5.493,707
B. Sihoda 1.378,7603 62 B. Siugan 8.645,322 1 B. Siugaugan 1.883,142
2 B. Siliuk 1.984,1243 63 B. Sipeltongan 3.018,691
64 B. Urat Timun 4.554,704
65 B. Sibatuara 3.727,310
66 B. Bolon/Samosir 14.759,772
B. Sinapi 3.377,4467 67 B. Simundak 3.148,053
68 B. Silam 3.029,383
69 B. Sitete 3.271,381
70 B. Silabung 2.268,032
B. Silubang 16.535,2434 71 B. Guluan
1 B. Batumamak 6.053,8635
2 B. Sipalangka 4.324,0382
3 B. Siantuang 7.160,0139
No Sungai Induk/ DAS
Ordo I Panjang (m)
Ordo II Panjang (m)
4 B. Sibundong 9.429,429
5 B. Sampuran tangga 7.806,5815 72 B. Sisonak 4.115,186
73 B. Umparoring 3.573,058
Aek nauli 1.172,36 74 B. Tumolang 7.602,540
Sumber: Hasil Analisis GIS, Tahun 2018
2.1.7. Danau Toba Danau Toba diperkirakan terbentuk sekitar 74.000 tahun yang lalu dari hasil letusan supervolcano (gunung api super). Ketika terjadi ledakan ini, sekitar wilayah tersebut luluh lantah disapu oleh muntahan meteorit dan debu vulkaniknya yang menyebar ke separuh belahan dunia dari Cina sampai ke Afrika Selatan. Kedahsyatan letusan Gunung Toba dikabarkan menyebabkan matahari tertutup selama 6 (enam) Tahun. Letusan Gunung Toba ini bahkan hampir memusnahkan umat manusia di sekitarnya saat itu. Berdasarkan catatan jurnal “Nature Geoscience” tanggal 25 Mei 2010 disebutkan bahwa letusan Gunung Toba merupakan salah satu letusan gunung api terbesar di dunia. Danau Toba berasal dari letusan Gunung Toba yang memiliki kantong magma besar sehingga jika meletus maka kalderanya besar sekali. Gunung Toba yang berada di dasar Danau Toba diperkirakan masih dapat meletus hingga saat ini. Gunung Toba memiliki anak gunung yaitu Gunung Sibayak. Dalam catatan sejarah, Gunung Toba pernah meletus tiga kali yaitu pertama sekitar 800 ribu tahun lalu yang menghasilkan kaldera di selatan Danau Toba, meliputi daerah Parapat dan Porsea. Kemudian letusan kedua yang lebih kecil, terjadi 500 ribu tahun lalu dan membentuk kaldera di utara Danau Toba yaitu di daerah antara Silalahi dengan Haranggaol. Dari dua letusan ini, letusan ketigalah yang paling dahsyat pada 74.000 tahun yang lalu menghasilkan kaldera besar dan menjadi Danau Toba sekarang dengan Pulau Samosir di tengahnya. Letusan gunung tersebut berlangsung selama satu minggu dan letusan debunya mencapai 10 km di atas permukaan laut. Bahan-bahan vulkanik yang dimuntahkan gunung tersebut sebanyak 2.800 km³ yang terdiri dari materi batuan dan abu vulkanik dan terbawa angin ke arah barat selama dua minggu. Letusan gunung ini memakan korban sampai 60% dari jumlah populasi manusia di bumi pada saat itu. Selain itu juga memusnahkan beberapa spesies
hewan dan mengubah pola kehidupan manusia saat itu. Bahkan letusan gunung ini dianggap beberapa ahli memicu terjadinya zaman es dan mempengaruhi cuaca bumi. Danau Toba adalah danau berkawah yang sangat besar, pusat pulaunya di tengah danau memiliki luas 1.130 kilometer persegi. Danau Toba sebenarnya lebih menyerupai lautan daripada danau. Adapun keberadaan Pulau Samosir, berasal dari hasil tekanan ke atas oleh magma yang belum keluar sehingga menyebabkan munculnya Pulau Samosir. Danau Toba adalah danau terluas di Asia Tenggara dan terdalam di dunia sekitar 450 meter. Danau bertipe vulkanik ini merupakan danau terbesar kedua di dunia sesudah Danau Victoria di Afrika. Saat ini letusan Gunung Toba telah menyebabkan timbulnya Danau Toba yang memiliki pemandangan sangat indah. Gambaran pembentukan Danau Toba dapat dilihat pada Gambar 2.8.
Sumber: Jurnal “Nature Geoscience” 25 Mei 2010 Gambar 2. 8 Terjadinya Danau Toba
2.2. Isu Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air 2.2.1. Isu Strategis Nasional A. Ketahanan Air Sesuai dengan target Sustainable Development Goals (SDG’s) dan target Ditjen Cipta Karya Tahun 2019 pada pembangunan infrastruktur/ prasarana dasar air minum adalah tercapainya 100% pelayanan air minum bagi seluruh penduduk Indonesia. Layanan air minum di WS Toba Asahan berdasarkan data BPS Tahun 2016 tiap kabupaten/Kota di WS Toba Asahan rata-rata baru mencapai 17,78%. Nilai Capaian tersebut masih jauh dari Target SDG’s, sehingga untuk memenuhi
target penyediaan air minum tersebut perlu didukung pengembangan
penyediaan air minum (SPAM). Capaian Pemenuhan Air Bersih tiap Kabupaten
di WS Toba Asahan Tahun 2016 dapat dilihat pada Tabel 2.7.
Tabel 2.7 Capaian Pemenuhan Air Bersih tiap Kabupaten di WS Toba Asahan
No.
Kabupaten/ Kota
Jumlah
Rumah
Tangga
Rumah
Tangga
Tersaluri air
bersih
%
Pencapaian
Air Bersih
1.
Asahan
553.395
226.892
41%
2.
Dairi
3.047
609
20%
3.
Humbang Hasundutan
54.283
5.971
11%
4.
Karo
5.016
752
15%
5.
Kota Tanjung Balai
171.187
41.085
24%
6.
Samosir
124.007
13.641
11%
7.
Simalungun
38.953
4.674
12%
8.
Tapanuli Utara
8.709
1.306
15%
9.
Toba
148.293
16.312
11%
Jumlah
1.106.890
311.243
Rata – Rata Capaian Air Bersih Kabupaten/Kota
17,78%
Sumber: Hasil Analisis BPS, 2017
Secara umum di WS Toba Asahan mempunyai ketersediaan air yang melimpah
dibandingkan dengan kebutuhannya, namun pada beberapa lokasi terjadi
kekurangan air, khususnya di wilayah Kabupaten Samosir (Pulau Samosir)
antara lain di Kecamatan Pangururan, Kecamatan Simanindo, dan Kecamatan
Tomok. Untuk mengantisipasi hal tersebut diperlukan pembangunan embung
tersebar untuk dimanfaatkan sebagai suplai air irigasi dan keperluan lainnya.
Antisipasi yang dilakukan dalam mengatasi kekurangan air di Pulau Samosir
yaitu dengan cara penyiapan pembangunan pompa air dan penampungan air
dengan sistem gravitasi.
WS Toba Asahan mempunyai sumber air dari air permukaan dan bawah tanah.
Sumber air permukaan terbesar adalah dari Danau Toba yang dapat
mengalirkan debit 120 m3/det sepanjang Tahun melalui Sungai Asahan. Ada
158 Sungai yang tersebar di sekitar Danau Toba serta 2 (dua) sungai besar
lainnya yaitu sungai Silau dan sungai Piasa. Disamping itu ada bangunan
penampung air seperti bendungan Siruar, bendungan Sigura-gura dan
bendungan Tangga. Ketersediaan air tanah di WS toba asahan diperkirakan
sebesar 2.193,3 juta m3/tahun yang berada di 5 (lima) Cekungan Air Tanah
(CAT).
B. Ketahanan Pangan Menurut data Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sumatera Utara (dalam Provinsi Sumatera Utara dalam angka Tahun 2018), Kabupaten Simalungun merupakan salah satu konsentrasi produksi padi di Provinsi Sumatera Utara. Pada Tahun 2017 produksi padi Kabupaten Simalungun mencapai 634.555 ton atau sebesar 14,46 persen dari total produksi padi Provinsi Sumatera Utara. Luas Panen Provinsi Sumatera Utara pada Tahun 2017 sebesar 885.575,9 ha dengan produksi 4.609.790,9 ton dan rata-rata produksi padi sebesar 5,205 ton/ha. Luas panen padi di kabupaten/kota dalam WS Toba Asahan 270.074,60 ha dan produksi padi di kabupaten/kota yang berada dalam WS Toba Asahan sebesar ±1.535.536,80 ton (pada Tahun 2017), maka rata-rata produksi padi untuk WS Toba Asahan berdasarkan rata-rata produksi padi tiap kabupaten/kota didapatkan nilai sebesar 5,44 ton/ha/tahun seperti yang terlihat pada Tabel 2.8. Tabel 2.8 Produksi Padi Kabupaten di WS Toba Asahan Tahun 2017 No. Kabupaten/ Kota Luas Panen (ha) Produksi (ton) Rata-rata produksi (ton/ha) 1. Asahan 18.811,70 109.991,80 5,85 2. Dairi 23.578,00 130.165,60 5,52 3. Humbang Hasundutan 19.892,90 103.926,20 5,22 4. Karo 26.753,90 156.849,90 5,86 5. Kota Tanjung Balai 173,30 794,40 4,58 6. Samosir 8.230,80 38.916,30 4,73 7. Simalungun 112.658,80 669.584,90 5,94 8. Tapanuli Utara 36.481,10 173.882,00 4,77 9. Toba 23.494,10 151.425,70 6,45 Rerata 270.074,60 1.535.536,80 5,44 Sumber: Hasil Analisis BPS, 2018 Luas fungsional area irigasi (Kewenangan Provinsi dan Kabupaten) yang berada WS Toba Asahan sebesar 19.104 ha, dengan asumsi satu kali masa tanam dan produksi padi di WS Toba Asahan 5,44 ton/ha maka diketahui produksi padi dalam 1 (satu) tahun sebesar 103.925,76 ton/tahun. Dengan jumlah penduduk WS Toba Asahan Tahun 2017 sebesar 1.106.890 jiwa, dengan asumsi kebutuhan pangan padi per orang menurut BPS Pusat (2017) adalah 130 Kg beras per tahun maka kebutuhannya sebesar 143.895,70 ton/tahun. Dengan kondisi tersebut manunjukkan WS Toba Asahan defisit padi
sebesar 39.969,94 ton/tahun. Kondisi tersebut sesuai kondisi di lapangan dimana Kabupaten Asahan masih memerlukan suplai padi dari luar wilayah. Untuk meningkatkan produksi padi di WS Toba Asahan terdapat potensi luas potensial Daerah Irigasi (DI) WS Toba Asahan yang dapat dikembangkan Total 116.206 ha terdiri dari Penambahan luas fungsional seluas Luasan Potensial DI Eksisting seluas 17.306 ha dan ditambah Rencana Pengembagan Lower Asahan River mencapai 98.900 ha yang meliputi aliran Sungai Asahan terdiri dari DI Tambun Tulang seluas 7.500 ha, Sungai Silau terdapat DI Silau-Bunut seluas 17.000 ha, DI Simpang Empat seluas 4.000 ha, DI Padang Mahondang seluas 8.300 ha, dan DI Leidong Asahan seluas 62.100 ha. Kondisi sistem irigasi di WS Toba Asahan sebagian besar masih Semi Teknis (ST) berdasarkan luas fungsional diketahui seluas 16.620 ha (87,00%) Kewenangan Kabupaten dan Kewenangan Provinsi seluas 2.484 ha (13,00%).
C. Ketahanan Energi Sebagian besar kebutuhan tenaga listrik di Sumatera Utara dipenuhi oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN), dan sebagian lainnya dipenuhi oleh listrik non PLN. Berdasarkan data BPS Tahun 2018 rasio elektrifikasi oleh PLN di WS Toba Asahan mencapai 96,90%. Persentase Rumah Tangga menurut Sumber Penerangan dan Kabupaten/Kota (%) Tahun 2017 dapat dilihat pada Tabel 2.9. Tabel 2.9 Persentase Rumah Tangga menurut Sumber Penerangan dan Kabupaten/Kota (%), 2017 No. Kabupaten/ Kota Listrik PLN Listrik Non PLN Lainnya 1. Asahan 96,61 1,96 1,43 2. Dairi 96,59 0,31 3,10 3. Humbang Hasundutan 96,75 0,20 3,05 4. Karo 98,66 0,99 0,35 5. Kota Tanjung Balai 98,27 0,98 0,75 6. Samosir 98,57 0,29 1,14 7. Simalungun 98,74 0,77 0,49 8. Tapanuli Utara 91,89 1,49 6,62 9. Toba 95,98 0,72 3,30 Rerata 96,90 0,86 2,25 Sumber: Hasil Analisis BPS, 2018
Sungai Asahan mempunyai potensi energi pembangkit listrik sebesar 1.408 MW, yang telah dikembangkan sebesar 804 MW ( PLTA Asahan I, Siruar : 2x90 MW , PLTA Asahan II a, Sigura-gura : 284 MW dan PLTA II b, Tangga : 320 MW ). Untuk mengatasi kekurangan tersebut sebagian dapat dipenuhi dari PLTA di Sungai Asahan dan beberapa PLTM dan PLTMH yang tersebar di WS Toba
Asahan telah direncanakan pembangunan PLTA Asahan III dengan kapasitas
total sebesar 174 MW. Potensi PLTA Asahan IV dengan sisa head 30-40 m
sebesar 2 x 18 = 36 MW. PLTA yang sudah beroperasi adalah Asahan II dengan
produksi listrik 3,1-4,3 milyar kWh per tahun. Kebutuhan listrik di Toba Asahan
dari PLTA berlebih namun sebagian produksi listrik dari PLTA Sigura-Gura dan
PLTA Tangga digunakan ke PT Inalum sebesar 603 MW.
Untuk Sungai Silau, Piasa, dan sungai lainnya bisa dikembangkan Pembangkit
Listrik Tenaga Mikro hidro (PLTM) dengan kapasitas antara 1- 10 MW, sementara
yang telah di inventori ada 18 (delapan belas) buah dan yang telah dievaluasi
dan layak ada 4 (empat) PLTM.
Total ketersediaan energi listrik di WS Toba-Asahan berdasarkan data diatas
sebesar 1.408 MW. Dengan dasar untuk menghitung kebutuhan listrik di WS
Toba - Asahan adalah asumsi dari Perseroan Terbatas Perusahaan Listrik Negara
(PT. PLN) bahwa kebutuhan listrik sebesar 900 Watt/rumah tangga dan jumlah
penduduk 1.091.553 jiwa (atau 272.888 KK), didapatkan kebutuhan listrik
rumah tangga untuk WS Toba-Asahan sebesar 245,600 MW dan digunakan
untuk PT. Inalum sebesar 603 MW. Total kebutuhan listrik WS Toba-Asahan
sebesar 848,600 MW. Dengan kondisi tersebut menunjukkan kondisi kelistrikan
di WS Toba-Asahan dalam kondisi surplus sebesar 559,400 MW. Kelebihan
energi listrik tersebut digunakan untuk koneksi Sumatera.
D. Perubahan Iklim Global (Global Climate Change)
Berdasarkan analisis dengan menggunakan metode Global Circulation Mode
(GCM) yang diakui oleh Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC),
perubahan iklim global dapat menyebabkan terjadinya perubahan yang
signifikan dalam sistem fisik dan biologis seperti perubahan frekuensi dan
intensitas curah hujan, pola angin dan ekosistem pantai. Dampak perubahan
iklim global tersebut dapat dirasakan di WS Toba Asahan antara lain;
Cuaca dan iklim ekstrim yaitu fenomena El Nino menimbukan kemarau panjang
ditambah dengan kondisi DAS yang kritis dan kurangnya tampungan air
sehingga terjadi kelangkaan air/kekeringan di wilayah Pulau Samosir
(Kabupaten Samosir), serta kejadian La Nina yang menyebabkan peningkatan
curah hujan yang tinggi (>300 mm) pada beberapa wilayah di WS Toba Asahan.
Fenomena kekeringan dan banjir merupakan bencana alam yang hampir setiap
tahun terjadi di sebagian wilayah Indonesia. Kejadian bencana ini biasanya
berdampak besar dan sangat merugikan sektor pertanian. Kebutuhan air
pertanian merupakan bagian terbesar dari total kebutuhan air yang ditentukan
oleh potensi sumber daya air wilayah. Waktu tanam dan intensitas penanaman dalam sistem produksi pertanian dapat ditentukan berdasarkan waktu terjadinya surplus air dan lengas tanah. Oleh karena itu, perhitungan neraca air lahan baik akan sangat diperlukan untuk mengetahui informasi mengenai waktu periode surplus dan defisit air. Informasi tersebut sangat penting dan strategis dalam upaya perencanaan pembangunan sektor pertanian. Perubahan awal musim kemarau dan mundurnya awal musim hujan, perlu memperhatikan penerapan pola tanam dan lama masa tanam yang ditentukan oleh faktor ketersediaan air dalam kondisi optimal untuk menghindari resiko kegagalan panen. Dengan adanya dampak perubahan iklim diatas, maka perlu dipertimbangkan untuk mengurangi dampak dalam pengelolaan sumber daya air di WS Toba Asahan. Isu strategis nasional secara singkat disajikan pada Gambar 2.9.
Sumber: Hasil analisis, 2018 Gambar 2. 9 Peta Isu Strategis Nasional WS Toba Asahan KETAHANAN AIR Tahun 2019 pada pembangunan infrastruktur/ prasarana dasar air minum adalah tercapainya 100% pelayanan air minum bagi seluruh penduduk Indonesia. Layanan air minum di WS Toba Asahan rerata mencapai 17% (Tahun 2016). KETAHANAN PANGAN WS Toba Asahan pada Tahun 2017 kebutuhan 143.895,70 ton dan produksi 103.925,76 ton; terjadi defisit 39.969,94 ton. potensi luas baku Daerah Irigasi (DI) WS Toba Asahan yang dapat dikembangkan mencapai 116.206 ha KETAHANAN ENERGI Tahun 2016 produksi 3.080 MW, Tahun 2015 beban puncak 1.769 MW untuk mengatasi kekurangan tersebut dengan pembangkit listrik tenaga uap, gas, panas bumi, dan pembangkit listrik tenaga air (PLTA, PLTM, PLTMH). Kebutuhan listrik di Tobasa dari PLTA berlebih namun sebagian digunakan PT Inalum sebesar 603 MW. PERUBAHAN IKLIM Fluktuasi dan meningkatnya kejadian cuaca dan iklim ekstrim serta kenaikan air pasang laut yang berpotensi menimbulkan banjir di hilir sungai asahan dan kekeringan di wilayah pulau samosir (kabupaten samosir) dan fluktuasi muka air Danau Toba.
2.2.2. Isu Strategis Lokal Isu-isu strategis lokal terkait dengan pengelolaan sumber daya air di WS Toba Asahan, diantaranya adalah sebagai berikut: A. Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) Danau Toba Berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 2017 Danau Toba merupakan proyek strategi nasional untuk 10 Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN). Adapun Kawasan Pariwisata Danau Toba terbentang ke dalam 8 (delapan) kabupaten, yaitu Tapanuli Utara, Samosir, Toba, Humbang Hasundutan, Simalungun, Dairi, Karo dan Pakpak Bharat. Danau Toba yang telah terkenal di dunia internasional sebagai danau terbesar kedua setelah danau Victoria di Afrika, dan karena sejarah pembentukannya yang spektakuler melalui ledakan super volcano serta keindahannya yang menawan, merupakan daya tarik wisata yang sangat luar biasa baik di Indonesia maupun Dunia, sehingga masih terbuka luas potensi wisata baik itu air, geologi, panorama dan olahraga. Di ruas Sungai Asahan antara Desa Tangga sampai dengan Desa Bandar Pulo bisa dikembangkan Olah Raga Arung jeram bertaraf international, di perairan Danau Toba bisa digunakan olah raga dayung dan jet sky, Di Sungai Silau di Desa Tanah Jawa Kecamatan Hatonduhan Kabupaten Simalungun terdapat air terjun yang sangat indah Aek Kapasuk , Aek Sipitutikka bisa dikembangkan untuk tujuan wisata dan masih banyak di tempat lainnya, perlu survei dan identifikasi. Seiring dengan perkembangan wisata Danau Toba ada beberapa tempat yang telah berdiri hotel-hotel di sekitar Danau Toba. Dengan pembangunan pariwisata di Danau toba menjadikan suatu tantangan dalam Pengelolaan Sumber Daya Air WS Toba Asahan dalam penyediaan air bersih serta menjaga kelestarian alam dengan kegiatan konservasi dan pencegahan daya rusak.
B. Erosi dan Sedimentasi Terjadi peningkatan erosi dan sedimentasi di Sungai Silau, Sungai Piasa, dan muara Sungai Silau. Erosi Sungai Asahan berasal dari hulu yang tergolong kecil, dengan tingkat sedimentasi sebesar 4,026 juta ton/tahun. Sedimentasi di muara Sungai Silau pertemuan dengan Sungai Asahan hilir, dengan fluktuasi harian muka air laut ± 3,00 m yang mengakibatkan beberapa dampak antara lain: terganggunya transportasi sungai dan perubahan morfologi sungai terlihat adanya pulau-pulau kecil di tengah-tengah sungai (delta/gosong).
Sedimen yang terjadi di hilir sungai asahan berasal dari Sub DAS Sungai Asahan dan DAS Asahan yang berada di hilir Danau Toba. Penanganan sedimentasi di Sungai Asahan dengan melakukan konservasi di SubDAS Asahan dan DAS Asahan yang berada di hilir Danau Toba. Untuk DAS Asahan di Danau Toba (DAS Danau Toba) dilakukan untuk mencegah Daya rusak air (Erosi) dan untuk meningkatkan recharge air (konservasi air) ke dalam tanah. Penanganan erosi dan sedimentasi lahan kritis di area danau toba dilakukan dalam rangka konservasi air untuk meresapkan ke daerah resapan air dengan membuat kolam/embung konservasi, bangunan penahan sedimen.
C. Banjir
“Banjir di defenisikan sebagai tergenangnya suatu tempat akibat meluapnya air
yang melebihi kapasitas pembuangan air disuatu wilayah dan menimbulkan
kerugian fisik, sosial dan ekonomi (Rahayu dkk, 2009). Menurut Pusat Kritis
Kesehatan Kemenkes RI (2018), banjir dibedakan menjadi lima tipe sebagai
berikut: 1) Banjir Bandang, 2) Banjir Air, 3) Banjir Lumpur, 4) Banjir Rob (Banjir
Laut Air Pasang) dan 5) Banjir Cileuncang (Genangan air di suatu tempat akibat
terhambatnya pembuangan atau aliran air tersebut). Menurut Kodoatie dan
Sugiyanto (2002), ‘‘faktor penyebab terjadinya banjir dapat diklasifikasikan
dalam dua kategori, yaitu banjir alami dan banjir oleh tindakan manusia. Banjir
akibat alami dipengaruhi oleh curah hujan, fisiografi, erosi dan sedimentasi,
kapasitas sungai, kapasitas drainase, dan pengaruh air pasang. Sedangkan
banjir akibat aktivitas manusia disebabkan karena ulah manusia yang
menyebabkan perubahan-perubahan lingkungan seperti: perubahan kondisi
Daerah Aliran Sungai (DAS), kawasan pemukiman di sekitar bantaran, rusaknya
drainase lahan, kerusakan bangunan pengendali banjir, rusaknya hutan
(vegetasi alami), dan perencanaan sistem pengendali banjir yang tidak tepat’’.
Banjir di Sungai Asahan bagian hilir mengakibatkan kerusakan di daerah
pertanian dan permukiman. Berdasarkan data dampak banjir sejak Tahun 1984
sampai Tahun 2018, Daerah yang terkena dampak banjir Kabupaten Asahan
(Permukiman 1.622 ha dan Pertanian seluas 9.763 ha) dan Kota Tanjung Balai
(Permukiman 2.781 ha) dengan kedalaman antara 0,5 – 2,0 m serta lama
genangan sekitar satu minggu sampai tiga bulan. Daerah yang sering tergenang
adalah di daerah rendah yang dulu merupakan rawa yang kebanyakan masih
digunakan untuk pertanian dan kebun sawit. Banjir disini disamping akibat
hujan deras yang menyebabkan limpasan air dan DAS hilirnya, juga terutama
disebabkan bersamaan dengan air pasang dari laut dan diperkirakan akibat
rusaknya daerah tangkapan air.
Tahun 2018 terjadi banjir bandang akibat tekuk lereng yang curam pada
beberapa sungai yang bermuara di Danau Toba tepatnya di Desa Bonan Dolok,
Kecamatan Sianjur Mulamula Kabupaten Samosir yang mengakibatkan
kerusakan rumah yang berada di tepi sungai. Banjir bandang sangat berbahaya
karena bisa mengangkut apa saja. Banjir ini cukup memberikan dampak
kerusakan cukup parah. Banjir bandang biasanya terjadi akibat gundulnya
hutan dan rentan terjadi di daerah pegunungan.
D. Kualitas air
Danau Toba dan Sungai Asahan mengalami penurunan kualitas air akibat
beban pencemaran yang semakin meningkat. Pencemaran di perairan Danau
Toba disebabkan oleh berbagai sumber pencemar yaitu budidaya ikan dengan
Karamba Jaring Apung (ada 8.426 unit milik masyarakat dan 484 unit milik PT
Aquafarm, Total= 8.910 unit), residu minyak atau oli dari kapal penyeberangan
di 5 (lima) lokasi, limbah dari permukiman dan perhotelan di sekeliling Danau
Toba, limbah peternakan babi dan tutupan eceng gondok serta berdasarkan
informasi Puskesmas Tigaurung pencemaran air terjadi karena limbah pestisida
confidor yang kemungkinan berasal dari pertanian karena ditemukannya sisa-
sisa wadah yang berserakan di permukaan air. Khusus di hulu Sungai Asahan
terjadi pembuangan sampah domestik yang langsung ke badan sungai dan
pembuangan limbah cair industri pulp kertas akan tetapi perusahaan industri
pulp sudah memiliki pengolahan limbah namun belum maksimal serta makin
meluasnya tutupan enceng gondok di perairan. Dengan adanya eceng gondok
dapat mengurangi kadar oksigen terlarut dalam air, sehingga ekosistem di
perairan tidak dapat berkembang dengan baik.
Berdasarkan Data kualitas air hasil pengukuran Tahun 2019-2020 oleh
Perusahaan Umum (Perum) Jasa Tirta I yang dilakukan pada beberapa titik di
Danau Toba. Dari hasil akhir dapat disimpulkan pada beberapa titik lokasi
tercemar ringan karena akumulasi buangan limbah pabrik, peternakan dan
limbah rumah tangga maka untuk sungai Asahan, Indek Pencemaran sungai
disebutkan cemar berat akibat dari akumulasi polutan yang masuk kedalam
sungai Asahan dan sungai mempunyai keterbatasan untuk melakukan
pembersihan sendiri (self-purification) polutan tersebut.
Isu strategis lokal secara singkat disajikan pada Gambar 2.10.
Sumber: Hasil analisis, 2018 Gambar 2. 10 Peta Isu Strategis Lokal WS Toba Asahan Kualitas Air
- sungai asahan mengalami penurunan akibat terjadi pembuangan sampah domestik yang langsung ke badan sungai dan pembuangan limbah cair industri pulp kertas
- Danau Toba mengalami pencemaran akibat limbah domestik, KJA, bahan bakar kapal, enceng gondok dan keramba apung serta limbah pestisida pertanian. Erosi dan Sedimentasi
- Erosi Sungai Asahan berasal dari hulu yang tergolong kecil, dengan tingkat sedimentasi sebesar 4,026 juta ton/tahun.
- Kerusakan hutan dapat mengakibatkan
penurunan
muka
air
Danau
Toba
akibatnya
mengganggu
sistem
pembangkitan listrik tenaga air.
Pengembangan Kawasan Wisata Danau Toba - Danau toba merupakan danau terbesar kedua di dunia dan berpotensi sebagai pariwisata dan olahraga khusus bertaraf internasional.
- Diprediksi akan terjadi pertumbuhan hotel dan sarana pendukung pariwisata, namun saat ini pengambilan air baku masih secara individual (masing-masing) dan belum secara terpadu pengolahan dengan WTP. Banjir
- Banjir pada daerah pertanian dan permukiman di Sungai Asahan bagian hilir (Kec. Simpang Empat, Sei Kepayang dan Kec. Tanjung Balai).
2.3. Potensi Dan Permasalahan Sumber Daya Air Di WS Toba Asahan 2.3.1. Permasalahan Sumber Daya Air Identifikasi kondisi lingkungan dan permasalahan ditinjau dalam 5 (lima) aspek pengelolaan sumber daya air yaitu konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air, pengendalian daya rusak air, sistem informasi sumber daya air, dan pemberdayaan dan peningkatan peran masyarakat dan dunia usaha. A. Aspek Konservasi Sumber Daya Air
- Fungsi konservasi kawasan hutan dan non hutan berkurang seperti pada Sub DAS Toba Kabupaten Samosir (Kecamatan Harian dan Kecamatan Pangururan), Kabupaten Toba;
- Pemanfaatan lahan di luar kawasan hutan yang tidak mengikuti kaidah konservasi seperti Sub DAS Toba (Kabupaten Karo, Kabupaten Dairi) DAS Asahan (Kabupaten Toba);
- Belum ada penetapan batas atau peruntukan sempadan sungai seperti Sungai Asahan Hulu (Kabupaten Toba), Sungai Asahan Hilir (Kabupaten Asahan);
- Masih terbatasnya ruang terbuka hijau diperkotaan (< 30%);
- Penambangan galian batuan banyak yang tidak mempunyai ijin dari Pemerintah Daerah di Sungai Asahan Hilir (Kabupaten Asahan);
- Fungsi lahan tidak sesuai RTRW yaitu terjadi alih fungsi penggunaan lahan yang terbesar pada sektor Holtikultura, Hutan, Hutan Lindung, Hutan Produksi, Hutan Produksi Konservasi, Jalur Hijau, Kawasan Mata Air Panas, Perikanan Darat, Perkebunan, Pertanian, Pertanian Lahan Basah, Pertanian Lahan Kering terjadi alih fungsi penggunaan lahan menjadi Pemukiman sebesar 8,627 km2;
- Terdapat lahan sangat kritis seluas 99,116 km2 dan lahan kritis seluas 313,843 km2 dan lahan agak kritis 3.514,667 km2 yang tersebar di WS Toba Asahan.
- Terjadi penurunan kualitas air dibandingkan dengan standar baku, dari hasil pengukuran kualitas air di danau toba rata-rata menunjukkan kondisi cemar ringan dan Sungai Asahan antara cemar ringan dibagian hulu semakin hilir kondisinya cemar berat; dan
- Pengelolaan limbah sampah belum optimal di Kota Tanjung Balai, Kisaran, Porsea, Balige, dan Parapat.
B. Aspek Pendayagunaan Sumber Daya Air
- Belum adanya peraturan yang menetapkan peruntukan air pada sumber air tertentu;
- Berdasarkan data kebutuhan air di WS Toba Asahan sebesar 32,18 m3/det sedangkan suplai air 33,36 m3/det, kondisi tersebut menunjukkan surplus air tetapi Belum Optimalnya infrastrukur penghubung yang baik antar daerah layanan dengan Sumber air utama (Sungai Asahan) mengakibatkan pelayanan yang masih kurang;
- Kerusakan jaringan irigasi dan prasarana SDA di Sub DAS Toba, Sub DAS Asahan;
- Manajemen aset sarana dan prasarana sumber daya air belum terlaksana; dan
- Kurang optimalnya pemanfaatan potensi sumber daya air untuk penyediaan air baku oleh PDAM maupun swasta dengan terlihat jumlah penyediaan air baku yang baru mencapai 437 lt/det.
C. Aspek Pengendalian Daya Rusak Air
- Belum adanya sistem pengendalian banjir secara terpadu dan menyeluruh di WS Toba Asahan;
- Kapasitas aliran sungai mengalami penurunan;
- Penggunaan bantaran sungai untuk pemukiman;
- Belum tersedia sistem peringatan dini banjir pada Sungai Asahan;
- Terdapat pantai kritis dan sedimentasi muara di Tanjung Balai (Pelabuhan Tanjung Balai); dan
- Terdapat kawasan rawan longsor dan abrasi.
D. Aspek Sistem Informasi Sumber Daya Air
- Belum adanya database sumber daya air (hidrologi, prasarana, hidrogeologi, hidroklimatologi, kualitas air, dan lingkungan) belum terintegrasi;
- Perlunya penguatan kapasitas Sumber Daya Manusia pengelola SISDA dan hidrologi.
E. Aspek Pemberdayaan dan Peningkatan Peran Masyarakat dan Dunia Usaha
Masih sedikitnya peran aktif masyarakat dalam Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) yang ditunjukkan dari jumlahnya yang masih 236 kelompok;
Masih kurangnya pembinaan dan pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan irigasi dan pertanian basah pada Daerah Irigasi kewenangan Pemerintah Pusat, Provinsi, dan Kabupaten/Kota serta petani lahan kering;
Masih rendahnya kapasitas SDM pada Lembaga/Organisasi Masyarakat Forum Sumber Daya Air dan OPD Pemerintah Daerah dalam pengelolaan SDA;
Kurangnya peran masyarakat dalam pengelolaan sampah, mengenai bahaya banjir yang ada pada daerah zona banjir, dan pengelolaan sempadan danau dan sungai; dan
Belum adanya kerja sama hulu hilir dalam pelaksanaan konservasi DAS, terutama di DAS Asahan.
2.3.2. Potensi Sumber Daya Air A. Aspek Konservasi Sumber Daya Air Beberapa potensi yang bisa dikembangkan untuk aspek konservasi sumber daya air di WS Toba Asahan antara lain:
- Usaha-usaha konservasi yang dapat dilakukan antara lain dengan melakukan rehabilitasi hutan dan lahan, pelestarian hutan lindung, dan meningkatkan ruang terbuka hijau melalui lahan perkebunan. Disamping melakukan konservasi, dapat dilakukan budidaya kawasan hutan produksi (produksi terbatas, tetap, dan konversi). Kawasan hutan produksi terbatas dapat dilakukan tersebar di seluruh DAS di WS Toba Asahan, sedangkan hutan produksi konversi terdapat di Sub DAS Asahan;
- Kegiatan perkebunan terdiri dari perkebunan rakyat dan perkebunan besar (kelapa sawit, kelapa, karet, kopi, dan coklat). Pengembangan perkebunan besar diarahkan di Sub DAS Asahan (Kabupaten Asahan);
- Potensi check dam tersebar di beberapa kabupaten yang berada di WS Toba Asahan (seperti yang terlihat pada tabel 4.41) antara lain, Kabupaten Humbang Hasundutan terdapat 27 lokasi, Kabupaten Karo terdapat 2 lokasi, Kabupaten Samosir terdapat 19 lokasi, Kabupaten Simalungun terdapat 3 lokasi, Kabupaten Tapanuli Utara terdapat 1 lokasi, dan Kabupaten Toba terdapat 29 lokasi; dan
- Potensi embung konservasi yang tedapat di WS Toba Asahan tersebar dibeberapa Kabupaten antara lain, Kabupaten Humbang Hasundutan tersebar di 5 lokasi, Kabupaten Karo terdapat 1 lokasi, Kabupaten Samosir terdapat 8 lokasi, Kabupaten Simalungun terdapat 3 lokasi,
Kabupaten Tapanuli Utara terdapat 2 lokasi, dan Kabupaten Toba terdapat 11 lokasi.
B. Aspek Pendayagunaan Sumber Daya Air Beberapa potensi yang bisa dikembangkan untuk aspek pendayagunaan sumber daya air di WS Toba Asahan antara lain:
- Potensi sumber daya air di WS Toba Asahan sebagian besar untuk memenuhi kebutuhan air irigasi, PLTA, industri, rumah tangga dan perkotaan dan potensi pengembangan sistem penyediaan air minum (SPAM) regional pada kawasan lintas kabupaten/kota meliputi: Kota Tanjung Balai – Kabupaten Asahan dan SPAM Regional Kawasan Pariwisata Danau Toba;
- Potensi peningkatan kapasitas produksi sumber air bersih eksisting untuk wilayah sekitar Danau Toba menggunakan sumber air danau sedangkan untuk daerah dengan kondisi perbukitan mengandalkan sumber air bersih dari mata air, sungai tadah hujan, dan kolam-kolam penampungan seperti di Kecamatan Ronggur Nihuta, Kecamatan Pangururan bagian Timur, Kecamatan Onan Runggu bagian Barat, Kecamatan Nainggolan bagian Utara, Kecamatan Simanindo bagian Barat, Kecamatan Palipi bagian Timur, dan Kecamatan Sianjur Mula-mula bagian sebelah Barat;
- Penyediaan air khususnya pulau samosir dan daerah kering adalah dengan Akuifer Buatan Pemanenan Simpanan Air Hujan (ABPSAH);
- WS Toba Asahan mempunyai potensi pengembangan pertanian yang sangat tinggi, terutama tanaman padi yang tersebar di seluruh DAS, sedangkan untuk tanaman pangan lahan kering banyak tersebar di DAS Danau Toba Kabupaten Toba (seperti di Daerah Irigasi Aek Nabara Laguboti, Aek Mandosi di Porsea dan Bonatua Lunasi, Simangatasi Silaen dan Bondar Juda Balige) dan Kabupaten Samosir;
- Potensi pembangkitan listrik tenaga air di DAS Asahan (Sungai Asahan) yang dapat menghasilkan produksi listrik sekitar 7,2 milyar kWh per tahun (PLTA Sigura-gura, PLTA Tangga-Siruar, PLTA Asahan III). PLTA di Kabupaten Humbang Hasundutan (Bakti Raja (Dolok Sanggul)), PLTA Laurenun (Kabupaten Dairi) DAS-nya merupakan WS Alas-singkil namun untuk menambah debit ke danau toba dilakukan pengaliran air ke Danau Toba (WS Toba Asahan).
- WS Toba Asahan memiliki potensi Embung antara lain Embung Binanga Aron, Embung Sungai Sinapi, Embung Binanga Bolon, Embung Sungai
Gereat Polumbuan, Embung Sungai Siabung, Situ Pea Nabagas, Situ Pea Tapian, Situ Pea Sunut, dan Situ Loduk Attonang; 7. Terdapat Potensi pengembangan Irigasi seluas 116.206 ha terdiri dari DI Tambun Tulang seluas 7.500 ha, Sungai Silau terdapat DI Silau-Bunut seluas 17.000 ha, DI Simpang Empat seluas 4.000 ha, DI Padang Mahondang seluas 8.300 ha, DI Leidong Asahan seluas 62.100 ha dan Potensi pengembangan DI Eksisting dari luasan fungsional menjadi luasan Potensional seluas 17.306 ha; dan 8. Terdapat potensi pengembangan dan peningkatan sarana prasarana dan fasilitas pada pelabuhan Bakkara di Kecamatan Baktiraja sebagai pelabuhan penyeberangan Balige – Onan Runggu – Nainggolan – Muara – Bakkara, untuk mendukung pembangunan di kawasan Danau Toba khususnya pada bagian Kabupaten Humbang Hasundutan, Pengembangan prasarana dan sarana transportasi sungai di beberapa kawasan, seperti rencana kawasan wisata pada Kecamatan Datuk Bandar Timur, Pengembangan dermaga yang sudah ada saat ini di Kabupaten Simalungun yaitu dermaga Tigaraja, Tigaras dan Haranggaol. Tigaras ditingkatkan statusnya menjadi pelabuhan fery dengan fungsi utama untuk menunjang kawasan pariwisata yang berorientasi ke Danau Toba.
C. Aspek Pengendalian Daya Rusak Air
Beberapa kondisi yang berpotensi terjadinya daya rusak sumber daya air di WS
Toba Asahan antara lain:
- Kawasan rawan banjir/genangan di sebagian wilayah Kota Tanjung Balai, Kabupaten Asahan dan Kabupaten Toba. Kawasan rawan banjir bandang berpotensi di Kabupaten Samosir dan Kabupaten Dairi serta Kabupaten Simalungun;
- Kawasan rawan akibat tanggul jebol (elevasi daerah sekitarnya hampir sama dengan dasar sungai) berpotensi di Kabupaten Toba;
- Terdapat bangunan sungai dan tanggul di beberapa sungai WS Toba Asahan yang mengalami kerusakan akibat banjir Sungai Asahan;
- Terdapat abrasi pantai untuk ditangani di Pantai Kawasan Danau Toba, serta pantai-pantai di pesisir timur Sumatera Utara; dan
- Terdapat kawasan rawan tanah longsor di Kabupaten Karo (Kecamatan Merek), Kabupaten Dairi (Kecamatan Silalahi, Kecamatan Parbuluan), Kabupaten Simalungun (Kecamatan Dolok Perdamaian) di daerah tangkapan air Danau Toba yaitu di daerah perbatasan Kecamatan Raya
dengan Kecamatan Raya Kahean, Kecamatan Dolog Silou, Kecamatan Silou Kahean, Kabupaten Toba (Kecamatan Laguboti, Kecamatan Porsea dan Kecamatan Habinsaran), Kabupaten Samosir (Kecamatan Sitio tio), Kabupaten Humbang Hasundutan (Kecamatan Bakti Raja), Kabupaten Tapanuli Utara (Kecamatan Muara).
D. Aspek Sistem Informasi Sumber Daya Air Beberapa potensi yang bisa dikembangkan untuk aspek sistem informasi sumber daya air di WS Toba Asahan antara lain:
- Potensi Pembuatan 8 (delapan) Stasiun Curah Hujan dan 16 (enam belas) AWLR di DAS Toba Asahan;
- Potensi penerapan Role sharing antar institusi pengelola sumber daya air, yang memungkinkan sharing sistem informasi sumber daya air sampai terbentuknya Water Resource Data Center (WRDC); dan
- Terdapat potensi pengembangan sumber daya manusia (pengelola) khusus area Danau Toba (meliputi 8 Kabupaten) oleh PJT 1 dan jaringan informasi sumber daya air yang terpadu dan sharing data informasi antar institusi pengelola data informasi.
E. Aspek Pemberdayaan dan Peningkatan Peran Masyarakat dan Dunia Usaha Beberapa potensi yang bisa dikembangkan untuk aspek pemberdayaan dan peningkatan peran masyarakat dan dunia usaha di WS Toba Asahan antara lain:
- Pembentukan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) yang baru berjumlah 236 kelompok dan peningkatan kapasitas kelembagaan pengelolaan irigasi serta pertanian pada Daerah Irigasi kewenangan Pemerintah Pusat, Provinsi, dan Kabupaten/Kota;
- Terdapat potensi keterlibatan Badan Usaha dalam Pengeloaan DAS seperti peran PT. Inalum dan PT Badjradaya;
- Pelibatan masyarakat sejak perencanaan (perencanaan partisipatif) sampai konstruksi;
- Meningkatkan peran masyarakat dalam pengelolaan sampah, mengenai bahaya banjir yang ada pada daerah zona banjir, dan pengelolaan sempadan danau dan sungai; dan
- Kegiatan Pengelolaan sumber daya air sebagai sarana untuk mewujudkan kesadaran penyelamatan sumber-sumber air dalam upaya meningkatkan peran masyarakat dengan mengaktifkan kegiatan pada TKPSDA WS Toba
Asahan, Badan Otorita Pengelola Kawasan Pariwisata Danau Toba bersama PJT I dan Forum DAS.
BAB III PEMILIHAN STRATEGI
3.1. Dasar Pertimbangan dalam Pemilihan Strategi Skenario yang digunakan dalam pola pengelolaan sumber daya air WS Toba- Asahan di dasarkan pada kondisi pertumbuhan ekonomi, yaitu pertumbuhan PDRB Provinsi Sumatera Utara Tahun 2005-2009, yang selanjutnya dapat diproyeksikan pertumbuhan ekonomi periode Tahun 2011-2031, dengan memperhitungkan target pertumbuhan ekonomi sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sumatera Utara, dapat diketahui target pertumbuhan ekonomi Tahun 2014–2034, dimana mempunyai kecenderungan akan terus meningkat. Sektor Pertanian, Jasa-jasa, Perdagangan, Hotel, dan Restoran diperkirakan tetap akan memberikan sumbangan yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Provinsi Sumatera Utara, khususnya di WS Toba Asahan. Asumsi pertumbuhan ekonomi yang digunakan adalah sebagai berikut: a. Pertumbuhan ekonomi rendah, jika pertumbuhan ekonominya < 4,5%; b. Pertumbuhan ekonomi sedang, jika pertumbuhan ekonominya 4,5% - 6,5%; dan c. Pertumbuhan ekonomi tinggi, jika pertumbuhan ekonominya > 6,5%. Berdasarkan kajian ekonomi, tata kelola pemerintahan dan pengaruh perubahan iklim pada WS Toba Asahan, dapat disimpulkan sebagai berikut: a. Kecenderungan pertumbuhan ekonomi nasional, provinsi, 6,22% per tahun; b. Kabupaten/kota pada WS Toba Asahan berkisar 5,5 – 6,63% per tahun; c. Kecenderungan pertumbuhan anggaran pemerintah, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten/kota pada WS Toba asahan antara 4,99 – 5,71% per tahun; d. Kecenderungan pertumbuhan investasi swasta terkait dengan Pengelolaan sumber daya air secara nasional dan pemerintah daerah pada wilayah sungai Toba Asahan adalah 6,28 -6,63% per tahun; e. Kecenderungan tata kelola pemerintahan dan dukungan politik cukup kuat di bidang pertanian, perkebunan, dan industri; dan f. Kecenderungan perubahan kondisi lingkungan yang ditandai kemerosotan luas hutan dan perluasan daerah kritis, serta dampak perubahan iklim yang
menimbulkan banjir di daerah hilir sungai asahan serta kemarau yang panjang menyebabkan kekeringan di Pulau Samosir. Disamping mempertimbangkan hal-hal tersebut diatas perlu mempertimbangkan dibawah ini: a. Sumber daya air harus dikelola dengan kesungguhan pemerintah dan semua pihak terkait terhadap peningkatan kelembagaan, disertai penegakan hukum yang berlaku secara tegas dan adil (tata kelola pemerintahan yang baik); b. Perlu melaksanakan perlindungan kawasan pertanian tanaman pangan, mengacu kepada Undang-undang nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan; c. Perlu melaksanakan konservasi DAS secara berkelanjutan; d. Memilih pertumbuhan ekonomi yang paling mungkin sesuai kemampuan Pemerintah dan Pemerintah Daerah setempat; e. Melaksanakan sebagian besar upaya yang direncanakan namun dengan tingkat pembiayaan yang wajar; dan f. Memanfaatkan air Sungai Asahan yang berlimpah (100-120 m3/det sepanjang tahun) untuk pengembangan irigasi di daerah Asahan hilir (Kabupaten Asahan dan Kabupaten Labuhanbatu Utara), walaupun Kabupaten Labuhanbatu Utara berada diluar WS Asahan, yaitu di WS Barumun Kualuh, namun secara topografi memungkinkan dan dukungan masyarakat tani yang baik.
3.2 Pemilihan Strategi Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air (TKPSDA) WS Toba Asahan dibentuk pada tanggal 14 Februari 2011 dengan Surat Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 334/KPTS/M/2010. Dalam sidangnya pada tanggal 25 April 2014, TKPSDA WS Toba Asahan sesuai kewenangannya telah membahas dan telah melaksanakan pemilihan Alternatif Strategi untuk ditindak lanjuti dengan studi penyusunan Rencana PSDA WS Toba Asahan. Dalam Berita Acara Sidang Pleno TKPSDA WS Toba asahan tentang Pemilihan Strategi Rancangan Pola PSDA WS Toba asahan, tanggal 25 April 2014, TKPSDA WS Toba asahan telah merekomendasikan sebagai Strategi Terpilih adalah Strategi dengan pertumbuhan ekonomi sedang. Berikut ini merupakan Berita acara Pemilihan Strategi Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Toba Asahan
BAB IV INVENTARISASI SUMBER DAYA AIR
4.1. Kondisi Hidrologis, Hidrometeorologis dan Hidrogeologi 4.1.1. Kondisi Hidrologis A. Curah hujan Data curah hujan dalam kegiatan ini diperoleh dari BWS Sumatera II yang tercatat di tiap stasiun penakar curah hujan di sekitar WS Toba Asahan. Stasiun penakar curah hujan yang berpengaruh terhadap WS Toba Asahan terdapat di beberapa Kabupaten antara lain Kabupaten Asahan, Kabupaten Samosir, Kabupaten Toba, Kabupaten Tapanuli Utara dan Kabupaten Humbang. Curah hujan rata-rata tahunan berkisar 1000 mm sampai 3.000 mm. Terdapat stasiun curah hujan aktif berjumlah 12 lokasi dan stasiun curah hujan tidak aktif berjumlah 12 lokasi. Rekapitulasi stasiun penakar curah hujan yang mempengaruhi tiap DAS ditampilkan pada Tabel 4.1 di bawah ini. Sedangkan peta stasiun hujan dapat dilihat pada Gambar 4.1 dan peta isohiyet dapat dilihat pada Gambar 4.2.
Tabel 4.1 Data Stasiun Hujan di Kawasan WS Toba Asahan No Kode /Nama Stasiun Hujan Koordinat Lokasi Jenis Pencatatan Status Kewenangan X Y Desa Kecamatan Kabupaten
1 P_001_Terusan Tengah 572602,401189 308779,314867 Terusan Tengah Buntu Pane Asahan Harian Aktif BWSSII 2 P_002_Simpang Kawat 581239,357427 322893,179091 Simpang Kawat Air Batu Asahan Harian Aktif BWSSII 3 P_003_Kuala 568164,021382 307281,372485 Kuala Kemuning Simpang Asahan Harian Aktif BWSSII 4 P_004_Ujung Seribu 562916,320487 322085,201184 Ujung Seribu Tinggi Raja Asahan Harian Aktif BWSSII 5 P_005_Pangururan 466430,827992 288910,275749 Pangururan Pangururan Samosir Harian Tidak aktif BWSSII 6 P_006_Lumban Julu 504512,662653 283448,910876 Lumban Julu Lumban Julu Toba Harian Tidak aktif BWSSII 7 P_007_Porsea 517331,743514 273310,365548 Porsea Porsea Tapanuli Harian Tidak aktif BWSSII 8 P_008_Laguboti 513951,354478 259480,779891 Laguboti Laguboti Tapanuli Harian Tidak aktif BWSSII 9 P_009_Gurgur Balige 507805,066200 258000,861185 Gurgur Balige Balige Tapanuli Harian Tidak aktif BWSSII 10 P_011_Bandar Pulau 557110,918901 298663,183473 Bandar Pulau Bandar Pulau Asahan Harian Tidak aktif BWSSII 11 P_012_BP Mandoge 536771,349341 306258,724290 BP Mandoge B. P. Mandoge Asahan Harian Tidak aktif BWSSII 12 P_013_PulauRaja 569712,806820 298644,023762 Pulau Raja Pulo Rakyat Asahan Harian Tidak aktif BWSSII 13 P_018_GBHuta 497782,565095 255225,551914 GB Huta Muara Tapanuli Harian Tidak aktif BWSSII 14 P_020_BPPSibarani 512781,573851 258587,670986 BPP Sibarani Sibarani Toba Harian Tidak aktif BWSSII 15 P_021_Rianiate 470670,377487 282872,747836 Rianiate Rianiate Toba Harian Tidak aktif BWSSII 16 P_022_SMPKBalige 508392,674669 257233,375279 SMPK G Balige Balige Toba Harian Tidak aktif BWSSII 17 P_023_PintuPohan 530864,948193 278894,920036 Pintu Pohan Pintu Pohan Toba Harian Aktif BWSSII 18 P_024_Maranti 542137,275815 280455,540476 Maranti Pintu Pohan Toba Harian Aktif BWSSII 19 P_025_KebunNanas 538875,354593 275108,807834 Kebun Nanas Pintu Pohan Toba Harian Aktif BWSSII 20 P_026_Siriaria 550010,250070 283925,750052 Siriaria Pintu Pohan Toba Harian Aktif BWSSII 21 P_027_LumbanLobu 504613,356896 288636,817108 Lumban Lobu Lumban Julu Toba Harian Aktif BWSSII 22 P_028_Silaen 524264,926984 265221,714162 Silaen Silaen Toba Harian Aktif BWSSII 23 P_029_LumbanBorotan 512141,249792 279104,713331 Lumban Borotan Pintu Pohan Toba Harian Aktif BWSSII 24 P_030_Sitonggitonggi 526048,277240 278523,689898 Sitonggitonggi Pintu Pohan Toba Harian Aktif BWSSII Sumber: Hasil Analisis Data BWSS II, Tahun 2020
Sumber: Hasil Analisis Data BWSS II, Tahun 2020 Gambar 4.1 Peta Stasiun Hujan WS Toba Asahan
Sumber: Hasil Analisis Data BWSS II, Tahun 2020 Gambar 4.2 Peta Isohyet Hujan Tahunan WS Toba Asahan
B. Kandungan Air (Debit Air) Data debit air dalam kegiatan ini diperoleh dari BWS Sumatera II yang tercatat di pos duga yang berada di sekitar Wilayah Sungai Toba Asahan. Pos duga yang berpengaruh terhadap WS Toba Asahan terdapat di beberapa Sungai antara lain, Aek Silang, Sei Asahan dan Sei Piasa. Rekapitulasi pos duga data debit air yang mempengaruhi ditampilkan pada Tabel 4.2. Peta Pos Duga Air WS Toba Asahan dapat terlihat pada Gambar 4.3.
Tabel 4.2. Data Pos Duga Air di Kawasan WS Toba Asahan N o Nama Pos Duga Air Koordinat Lokasi Jenis Pencatatan Status Kewenangan X Y Sungai Utama Desa Kecamatan Kabupaten 1 Aek Silang 477742,1 2444941 254500,2 58512297 Aek Silang Simamora Bakti Raja Humbang Hasunduta n Harian Tidak Aktif BWSSII 2 Sei Asahan Pulau Raja 569693,5 64266959 299026,1 09336083 Sei Asahan Pulau Raja Pulau Rakyat Asahan Harian Aktif BWSSII 3 Sei Asahan Porsea 517040,4 70872336 269206,6 72251536 Sei Asahan Porsea Parmaksian Toba Harian Aktif BWSSII 4 Sei Asahan Siruar 521845,6 66148081 271166,6 29094631 Sei Asahan Siruar Siantar Narumonda Toba Harian Tidak Aktif BWSSII 5 Sei Asahan Simorea 589718,3 42121226 331216,2 73162196 Sei Asahan Simorea Tanjung Balai Selatan Kota Tanjung Balai Harian Tidak Aktif BWSSII 6 Sei Piasa Tinggi Raja 563202,5 4402218 320688,3 96561799 Sei Piasa Tinggi Raja Buntu Pane Asahan Harian Aktif BWSSII 7 Sei Silau Buntu Pane 552579,4 03006536 314548,3 07620064 Sei Silau Buntu Pane Buntu Pane Asahan Harian Aktif BWSSII 8 Sei Silau Kisaran Naga 569755,2 73456616 328694,9 29104764 Sei Silau Kisaran Naga Kisaran Timur Asahan Harian Aktif BWSSII 9 Jembatan Rihol 586364,0 42003217 316915,3 31589562 Asahan Jembatan Rihol Datuk Bandar Timur Kota Tanjung Balai Harian Aktif BWSSII 10 Kampung Mardede 470170,4 71739382 255730,8 65253511 Aek Silang Sipituhuta Pollung Humbang Hasunduta n Harian Aktif BWSSII 11 Pangururan 465333,7 71240979 286738,2 74192313 Lau Prembaka n Boho Sianjur mula-mula Samosir Harian Aktif BWSSII 12 AWLR Sei Asahan 557134,2 29147451 295520,9 15021483 Asahan Padang Pulau Bandar Pulau Asahan Harian Aktif PSDA Provinsi Sumatera Utara 13 AWLR Sungai Silau 562859,8 23931974 323156,6 99459719 Silau Tinggi raja Buntu Pane Asahan Harian Aktif PSDA Provinsi Sumatera Utara Sumber: Hasil Analisis Data BWSS II, Tahun 2020
Sumber: Hasil Analisis Data BWSS II, Tahun 2020 Gambar 4.3 Peta Pos Duga Air WS Toba Asahan
Berdasarkan data dari PT. Inalum tercatat debit tertinggi di lokasi bendungan rata rata berada pada bulan Mei yang disajikan pada Gambar 4.4.
Sumber: PT. Inalum, 2020 Gambar 4.4 Debit rata-rata bulanan Sungai Asahan dilokasi Bendungan Siruar, Bendungan Sigura-gura dan Bendungan Tangga Tahun (1982- 2018)
Hasil Simulasi debit aliran pada Kajian Rencana Alokasi Akhir Tahunan (RAAT) oleh BWS Sumatera II Tahun 2019 dengan menggunakan Metode Mock yang akan digunakan dalam analisis seperti yang terlihat pada Gambar 4.5.
Sumber: BWS Sumatera II, 2019 Gambar 4.5 Debit Aliran Tengah Bulanan DAS Asahan
C. Tinggi Muka Air Berdasarkan data pencatatan ketinggian muka air Danau Toba dari AWLR Bendungan Siruar pada Tahun 1963 sampai Tahun 2018 ketinggian muka air tertinggi 905,99 m pada tahun Februari 1970 dan muka air terendah 902,28 m pada tahun Juli 1998 yang tersaji pada Gambar 4.6. Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2014 tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Danau Toba Dan Sekitarnya disebutkan elevasi muka air rata-rata Danau Toba pada 904 m.dpl. Kepmen PU No. 55 Tahun 1983 tentang pemberian izin penggunaan air dan pengaturan pengendalian air Sungai Asahan untuk pembangkit listrik tenaga air kepada P.T. Indonesia Asahan Inalum memberikan rekomendasi untuk operasional Bendungan Siruar sebagai pengendali ketingggian permukaan air Danau Toba digunakan elevasi terendah pada 902,4 m dan tertinggi 905 m.
Sumber PT. Inalum 2019 Gambar 4.6 Grafik Muka Air Danau Toba pada Akhir Bulan (1963-2018) Batas Atas OP 905 Batas Bawah OP 902,4 Muka Air Terendah GRAFIK ELEVASI MUKA AIR DANAU TOBA DATA REGULATING DAM 1963 ‐ 2018 Muka Air Tertinggi
4.1.2. Kondisi Hidrometeorologis Data yang disajikan merupakan kondisi WS Toba Asahan di daerah Toba yaitu di daerah perbukitan/pegunungan dengan ketinggian sekitar 900.00 mdpl, adapun data pada bagian dataran rendah tentu berbeda terutama temperatur di daerah Tanjungbalai dan sekitarnya. WS Toba Asahan tidak memiliki Pos Klimatologi tersendiri, baik milik BWS Sumatera II atau BMKG. Sebagai gambaran kondisi iklim di WS Toba Asahan dapat didekati berdasarkan Data Stasiun meteorologi PPKS Marihat – Siantar yang menginformasikan suhu tercatat berkisar 24- 26⁰C. Berikut merupakan data klimatologi yang terdapat pada Tabel 4.3. Tabel 4.3 Data Klimatologi di Stasiun meteorologi PPKS Marihat – Siantar No Jenis Uraian Jan Peb Mart Apr Mei Juni Juli Agus Sep Okt Nov Des 1 Suhu (ºC) 24,3 24,9 24,9 24,5 26,0 25,5 26,0 24,7 24,7 25,1 24,8 25,1 2 Kelembaban (%) 87 85 86 85 84 85 83 86 87 86 87 86 3 Intensitas Matahari (%) 64 72 57 59 59 56 63 48 56 51 49 49 4 Penguapan (mm) 2,83 2,90 2,34 2,37 2,59 2,68 3,28 2,52 2,10 3,05 2,44 3,19 Sumber: Stasiun Meteorologi PPKS Balai Marihat Siantar, 2018 Iklim di WS Toba Asahan termasuk iklim tropis seperti pada umumnya di Indonesia, yaitu musim hujan terjadi pada bulan Oktober-Maret dan musim kemarau terjadi pada musim April-September. WS Toba Asahan berada pada daerah sisi timur Provinsi Sumatera Utara yang mempunyai karakteristik pola hujan yang berbeda dengan sisi barat. Pada sisi barat cenderung lebih rendah hujannya dibanding sisi timur (WS Toba asahan bagian timur yaitu mendekat pantai), sehingga pada bagian hulu yang bergunung di Kabupaten Samosir.
4.1.3. Kondisi Hidrogeologis Pada daerah aliran sungai terdapat lima Cekungan air tanah yaitu CAT Medan, Sidikalang, Samosir, Porsea-Parapat dan CAT Tarutung yang mempunyai luas 4.968 km2 dengan ketersediaan air sebesar 2.193,3 juta m3/Tahun. Potensi air tanah di WS Toba Asahan terdapat dibeberapa Cekungan Air Tanah, sebagaimana disajikan dalam Tabel 4.4.
Tabel 4.4. Data Cekungan Air Tanah di Kawasan WS Toba Asahan
No.
Cekungan
Air Tanah
Luas
Total
CAT
Luas
CAT
di
WS
Bobot
Q1*
Q2*
Q1 di WS
Q2 di
WS
Q Total
(CAT)
km2
km2
CAT
juta m3
juta m3
juta m3
juta
m3
1
Sidikalang
2.425
539
0,222
914,0
59,0
203,2
13,1
216,3
2
Samosir
645
645
1,000
324,0
15,0
324,0
15,0
339,0
3
Tarutung
873
595
0,682
524,0
4,0
357,1
2,7
359,8
4
Porsea-
Parapat
483
483
1,000
302,0
5,0
302,0
5,0
307,0
5
Medan
19.920
2.706
0,136
6.040,0
1.109,0
820,5
150,7
971,2
Jumlah 24.346 4.968
8.104,0 1.192,0 2.006,8 186,5 2.193,3 Keterangan: * Keputusan Presiden Nomor 26 Tahun 2011 tentang Penetapan Cekungan Air Tanah Q1 : Air tanah dangkal (unconfined aquifer) Q2 : Air tanah dalam (confined aquifer) Sumber: Keputusan Presiden Nomor 26 Tahun 2011 dan Peraturan Menteri ESDM Nomor 02 Tahun 2017
Lokasi Cekungan Air Tanah pada WS Toba Asahan bisa dilihat pada Gambar 4.7.
Sumber: Peraturan Menteri ESDM Nomor 02 Tahun 2017 Gambar 4.7 Peta Cekungan Air Tanah WS Toba Asahan
4.2. Kuantitas dan kualitas sumber daya air
4.2.1. Kuantitas Sumber Daya Air
A. Sumber Ketersediaan Air
1). Sungai
Di WS Toba Asahan terdapat beberapa sungai yang menjadi sumber, sungai
tersebut berada di Sub DAS Toba dan Sub DAS Asahan, berikut ini merupakan
informasi detail sungai pada Tabel 4.5.
Tabel 4.5. Debit Andalan Yang Dapat Disuplai Pada WS Toba Asahan
No.
Nama
Sumber
Lokasi
Luas DAS
(Km2)
Panjang
sungai (km) Ordo
Debit
Andalan
(m3/s)
Keterangan
Sungai Aek
Mandosi
Kecamatan
Porsea
112,95
5,48
2
1,14
Muara
ke
danau toba
dan Sungai
Asahan
Sungai Aek
Bolon
Kecamatan
Balige
59,93
16,89
2
0,51
Muara
ke
danau toba
dan Sungai
Asahan
Sungai
Binanga
Aron
Kecamatan
Pangururasn
24,52
6,719
1
2,71
Muara
ke
danau toba
Sungai Silau
Kecamatan
Asahan
1.275,00
394.405,13 2
8,87
Bermuara
ke
sungai
Asahan
Sungai
Asahan
WS Toba
Asahan
270,76
557.909,67 1
5,16
Bermuara
Ke laut
Sunga
Konsideran (Menimbang & Mengingat)
a. bahwa berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 04/PRT/M/ 2015 tentang Kriteria dan Penetapan Wilayah Sungai, Wilayah Sungai Toba-Asahan merupakan wilayah sungai strategis nasional yang merupakan kewenangan Pemerintah Pusat; b. bahwa berdasarkan Pasal 3 ayat (1) Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 10/PRT/M/ 2015 tentang Rencana dan Rencana Teknis Tata Pengaturan Air dan Tata Pengairan, serta untuk menjamin terselenggaranya tata pengaturan air dan tata pengairan yang baik pada setiap wilayah sungai, perlu dibuat rencana tata pengaturan air dan tata pengairan berupa rencana pengelolaan sumber daya air; c. bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 9 ayat (2) dan ayat (3) Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 10/ PRT/ M/ 2015 tentang Rencana dan Rencana Teknis Tata Pengaturan Air dan Tata Pengairan, rencana pengelolaan sumber daya air yang telah dirumuskan dalam wadah koordinasi pengelolaan sumber daya eit pada wilayah sungai strategis nasional ditetapkan oleh Menteri; 2 d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu
- Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2019 tentang Sumber Daya Air (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2019 Nomor 190, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6405);
- Peraturan Presiden Nomor 27 Tahun 2020 tentang Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2020 Nomor 40);
- Keputusan Presiden Nomor 113/P Tahun 2019 tentang Pembentukan Kementerian Negara dan Pengangkatan Menteri Kabinet Indonesia Maju Periode Tahun 2019- 2024;
- Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 10/PRT/M/2015 tentang Rencana dan Rencana Teknis Tata Pengaturan Air dan Tata Pengairan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 535);
- Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 13 Tahun 2020 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2020 Nomor 473);
- Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 16 Tahun 2020 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Berita Negara Republik Indonesia tahun 2020 Nomor 554) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 26 Tahun 2020 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 16 Tahun 2020 tentang 3 Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2020 Nomor 1144);
