Pasal 41
(1) Pemerintah Pusat menyelenggarakan dan melakukan pembinaan pengelolaan Pelabuhan Perikanan. l2l Pemerintah Pusat dalam menyelenggarakan dan melakukan pembinaan pengelolaan Pelabuhan Perikanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menetapkan: a. rencana induk Pelabuhan Perikanan secara nasional; b. klasifikasi Pelabuhan Perikanan; c. pengelolaanPelabuhan Perikanan; d. persyaratan danf atau standar teknis dalam perencanaan, pembangunan, operasional, pembinaan, dan pengawasan Pelabuhan Perikanan; e. wilayah kerja dan pengoperasian Pelabuhan Perikanan yang meliputi bagian perairan dan daratan tertentu yang menjadi wilayah kerja dan pengoperasian Pelabuhan Perikanan; dan f. Pelabuhan Perikanan yang tidak dibangun oleh Pemerintah. SK No 176148A (3) Setiap. . . PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA (3) Setiap kapal penangkap Ikan dan kapal pengangkut Ikan harus mendaratkan Ikan tangkapan di Pelabuhan Perikanan yang ditetapkan atau pelabuhan lainnya yang ditunjuk. (4) Setiap Orang yang memiliki dan/atau mengoperasikan kapal penangkap Ikan dan/atau kapal pengangkut Ikan yang tidak melakukan bongkar muat lkan tangkapan di Pelabuhan Perikanan yang ditetapkan atau pelabuhan lainnya yang ditunjuk sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dikenai sanksi administratif berrrpa peringatan, pembekuan Perizinan Berusaha, atau pencabutan Perizinan Berusaha. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai kriteria, jenis, dan tata cara pengenaan sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diatur dalam Peraturan Pemerintah. 20. Ketentuan Pasal 42 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal42 (1) Dalam rangka keselamatan operasional Kapal Perikanan, ditunjuk syahbandar di Pelabuhan Perikanan. (21 Syahbandar di Pelabuhan Perikanan mempunyai tugas dan wewenang: a. menerbitkanpersetujuanberlayar; b. mengatur kedatangan dan keberangkatan Kapal Perikanan; c. memeriksa ulang kelengkapan dokumen Kapal Perikanan; d. memeriksa teknis dan nautis Kapal Perikanan dan memeriksa alat Penangkapan lkan, dan alat bantu Penangkapan Ikan; e. memeriksa dan mengesahkan perjanjian kerja laut; f. memeriksa log book penangkapan dan pengangkutan Ikan; SK No 176149 A g. mengatur PRESIDEN BLIK INDONESIA g. mengatur olah gerak dan lalu lintas Kapal Perikanan di Pelabuhan Perikanan; h. mengawasi pemanduan; i. mengawasi pengisian bahan bakar; j. mengawasi kegiatan pembangunan fasilitas Pelabuhan Perikanan; k. melaksanakan bantuan pencarian dan penyelamatan; l. memimpin penanggulangan pencemaran dan pemadaman kebakaran di Pelabuhan Perikanan; m. mengawasi pelaksanaan perlindungan lingkungan maritim; n. memeriksa pemenuhan persyaratan pengawakan Kapal Perikanan; o. menerbitkan surat tanda bukti lapor kedatangan dan keberangkatan Kapal Perikanan; dan p. memeriksa sertifikat Ikan hasil tangkapan. (3) Setiap Kapal Perikanan yang akan berlayar melakukan Penangkapan Ikan dan/atau pengangkutan Ikan dari Pelabuhan Perikanan wajib memiliki persetujuan berlayar yang dikeluarkan oleh syahbandar di Pelabuhan Perikanan. (41 Syahbandar di Pelabuhan Perikanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diangkat oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pelayaran. (5) Dalam melaksanakan tugasnya, syahbandar di Pelabuhan Perikanan dikoordinasikan oleh pejabat yang bertanggung jawab di Pelabuhan Perikanan setempat. (6) Ketentuan lebih lanjut mengenai kesyahbandaran di Pelabuhan Perikanan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan. 21. Ketentuan Pasal 43 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: Pasal43... SK No 176150 A REPUELIK INDONESIA -t40-
