Pasal 147
(1) Pimpinan DPR setelah menerima rancangan undang-
undang dari DPD sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 146 ayat (1) memberitahukan adanya usul
rancangan undang-undang tersebut kepada anggota DPR dan membagikannya kepada seluruh anggota DPR dalam rapat paripurna.
(2) DPR memutuskan usul rancangan undang-undang
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam rapat paripurna berikutnya, berupa:
persetujuan;
persetujuan dengan pengubahan; atau
penolakan.
(3) Dalam hal rapat paripurna memutuskan memberi
persetujuan terhadap usul rancangan undang-undang yang berasal dari DPD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a, rancangan undang-undang tersebut menjadi rancangan undang-undang usul dari DPR.
(4) Dalam hal rapat paripurna memutuskan memberi
persetujuan dengan pengubahan terhadap usul rancangan undang-undang yang berasal dari DPD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b, rancangan undang-undang tersebut menjadi rancangan undang- undang usul dari DPR dan untuk selanjutnya DPR
menugaskan . . .
menugaskan penyempurnaan rancangan undang-undang tersebut kepada komisi, gabungan komisi, Badan Legislasi, atau panitia khusus.
(5) Dalam hal rapat paripurna memutuskan menolak usul
rancangan undang-undang yang berasal dari DPD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c, pimpinan DPR menyampaikan keputusan mengenai penolakan tersebut kepada pimpinan DPD.
(6) Pimpinan DPR menyampaikan rancangan undang-undang
sebagaimana dimaksud pada ayat (3) atau rancangan undang-undang yang telah disempurnakan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) kepada Presiden dan Pimpinan DPD, dengan permintaan kepada Presiden untuk menunjuk menteri yang akan mewakili Presiden dalam melakukan pembahasan rancangan undang-undang serta kepada DPD untuk menunjuk alat kelengkapan DPD yang akan membahas rancangan undang-undang tersebut.
(7) Apabila dalam waktu 60 (enam puluh) hari DPD belum
menunjuk alat kelengkapan DPD sebagaimana dimaksud pada ayat (6), pembahasan rancangan undang-undang tetap dilaksanakan.
