Pasal 60
( 1) Berdasarkan hasil pengembangan dan analisis terhadap informasi, data, laporan, dan pengaduan, Direktur Jenderal Pajak berwenang melakukan Pemeriksaan Bukti Permulaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43A Undang-Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan.
(2) Pemeriksaan Bukti Permulaan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dapat dilakukan secara tertutup atau secara terbuka.
(3) Pemeriksaan Bukti Permulaan secara tertutup dilakukan
tanpa pemberitahuan kepada Wajib Pajak.
(4) Pemeriksaan Bukti Permulaan secara terbuka dilakukan
dengan pemberitahuan secara tertulis kepada Wajib Pajak.
(5) Dalam melaksanakan Pemeriksaan Bukti Permulaan,
pejabat yang melakukan Pemeriksaan Bukti Permulaan secara terbuka berwenang:
meminjam dan memeriksa buku atau catatan, dokumen yang menjadi dasar pembukuan atau pencatatan, dan dokumen lain yang berhubungan dengan penghasilan yang diperoleh, kegiatan usaha, pekerjaan bebas Wajib Pajak, atau objek yang terutang pajak;
mengakses dan/ a tau mengunduh data yang dikelola secara elektronik;
memasuki dan memeriksa tempat atau ruang, barang bergerak dan/ atau tidak bergerak yang diduga a tau patut diduga digunakan untuk menyimpan buku atau catatan, dokumen yang menjadi dasar pembukuan atau pencatatan, dokumen lain, uang, dan/ atau barang yang dapat memberi petunjuk tentang penghasilan yang diperoleh, kegiatan usaha, pekerjaan bebas Wajib Pajak, atau objek yang terutang pajak;
melakukan ...
SK No 086561 A
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
- melakukan penyegelan tempat atau ruang tertentu serta barang bergerak dan/ atau barang tidak bergerak;
- meminta keterangan dan/ atau bukti yang diperlukan dari pihak ketiga yang mempunyai hubungan dengan Wajib Pajak yang dilakukan Pemeriksaan Bukti Permulaan melalui Direktur Jenderal Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54;
- meminta keterangan kepada pihak yang berkaitan dan dituangkan dalam berita acara permintaan keterangan; dan
- melakukan tindakan lain yang diperlukan dalam rangka Pemeriksaan Bukti Permulaan.
(6) Ketentuan mengenai tata cara penyegelan sebagaimana
dimaksud pada ayat (5) huruf d diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan.
(7) Pemeriksaan Bukti Permulaan harus ditindaklanjuti dengan:
- Penyidikan Tindak Pidana di Bidang Perpajakan dalam hal ditemukan bukti permulaan tindak pidana di bidang perpajakan;
- pemberitahuan secara tertulis kepada Wajib Pajak bahwa Wajib Pajak tidak dilakukan Penyidikan dalam hal Wajib Pajak telah mengungkapkan ketidakbenaran perbuatannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7;
- dihapus;
- penghentian Pemeriksaan Bukti Permulaan dalam hal:
- Wajib Pajak orang pribadi yang dilakukan Pemeriksaan Bukti Permulaan meninggal dunia; atau
- tidak ditemukan adanya bukti permulaan tindak pidana di bidang perpajakan; atau
- dihapus.
- Ketentuan ...
SK No 086559 A
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
- Ketentuan ayat (2) Pasal 62 diubah, dan di antara ayat (2) dan ayat (3) Pasal 62 disisipkan 1 (satu) ayat yakni ayat (2a), sehingga
Pasal 62 berbunyi sebagai berikut:
