Pasal 17
(1) Dalam hal setelah dilakukan pembayaran sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 15 ayat (2) huruf b masih terdapat saldo dalam RPATA atas sisa pekerjaan yang tidak terselesaikan, PPK membuat SPP-penihilan sebesar selisih antara nilai SPM-penampungan dengan nilai SPM- pembayaran.
(2) Dalam hal hasil penilaian PPK menyatakan pekerjaan
tidak terselesaikan dan tidak terdapat kemajuan pekerjaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (2) huruf c, PPK membuat SPP-penihilan sebesar nilai SPM- penampungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (6).
(3) Terhadap pekerjaan sebagaimana dimaksud pada ayat
(2), PPK menetapkan denda keterlambatan penyelesaian
pekerjaan yang harus dibayarkan oleh Penyedia berdasarkan jumlah hari keterlambatan penyelesaian pekerjaan.
(4) Penyedia harus menyetorkan denda keterlambatan
penyelesaian pekerjaan sebagaimana dimaksud pada ayat
(3) paling lama 5 (lima) hari kerja sejak sejak tanggal
surat pernyataan wanprestasi.
(5) PPK membuat SPP-penihilan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dan ayat (2) dengan ketentuan:
- menggunakan akun pengeluaran nonanggaran (82xxxx) pada sisi pengeluaran;
- dipotong dengan akun penerimaan kembali belanja tahun anggaran yang lalu (4259xx) pada s1s1 penerimaan; dan
- SPP neto bernilai nihil.
(6) PPK menyampaikan SPP-penihilan sebagaimana
dimaksud pada ayat (5) ke PPSPM dan dalam hal SPP- penihilan dibuat sebagaimana dimaksud pada ayat (2), SPP-penihilan dilampiri dengan bukti penerimaan negara atas penyetoran denda keterlambatan penyelesaian pekerjaan.
(7) PPSPM melakukan pengujian SPP-penihilan sebagaimana
dimaksud ayat (6).
jdih.kemenkeu.go.id
(8) Terhadap SPP-penihilan yang memenuhi persyaratan
pengujian sebagaimana dimaksud pada ayat (7), PPSPM menerbitkan SPM-penihilan.
(9) PPSPM menyampaikan SPM-penihilan sebagaimana
dimaksud pada ayat (8) kepada KPPN dan dalam hal SPM-penihilan dibuat berdasarkan SPP-penihilan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), SPM-penihilan dilampiri dengan bukti penerimaan negara atas penyetoran denda keterlambatan penyelesaian pekerjaan.
(10) SPM-penihilan sebagaimana dimaksud pada ayat (9)
disampaikan paling lama 5 (lima) hari kerja setelah jangka waktu pemberian kesempatan penyelesaian sisa pekerjaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) berakhir.
(11) Ketentuan mengenai dokumen lampiran SPP-penihilan
dan SPM-penihilan, dan pengujian SPP-penihilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (9), ayat
(10), dan ayat (12) berlaku mutatis mutandis terhadap
dokumen lampiran SPP-penihilan dan SPM-penihilan, pengujian SPP-penihilan dan SPM-penihilan sebagaimana dimaksud pada ayat (6), ayat (7), dan ayat (9) .
