Pasal 2
BAB 2 — PENETAPAN KHDTK
(1) KHDTK ditetapkan untuk kepentingan: a. Litbang Kehutanan; b. Diklat Kehutanan; atau c. Religi dan Budaya setempat. (2) Penetapan KHDTK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan pada: a. semua fungsi kawasan hutan kecuali pada cagar alam dan zona inti taman nasional;
b. kawasan hutan yang telah dibebani hak pengelolaan oleh badan usaha milik negara bidang kehutanan; atau c. kawasan hutan yang telah dibebani izin pemanfaatan hutan, setelah dikeluarkan dari areal kerjanya. (3) Penetapan KHDTK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan ketentuan: a. tidak mengubah fungsi pokok kawasan hutan; b. tidak mengubah bentang lahan pada hutan konservasi atau hutan lindung; c. penutupan hutannya bukan berupa hutan primer; dan d. ditetapkan menjadi zona/blok khusus dalam penataan areal KPH. (4) Penetapan KHDTK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan ketentuan luas: a. pada areal KPH, paling banyak 5% (lima per seratus) dari luas setiap KPH; b. pada provinsi yang luas kawasan hutan di atas 30% (tiga puluh per seratus) dari luas daerah aliran sungai, pulau dan/atau provinsi, paling luas 500 (lima ratus) hektar; c. pada provinsi yang luas kawasan hutan sama dengan atau kurang dari 30% (tiga puluh per seratus) dari luas daerah aliran sungai, pulau dan/atau provinsi, paling luas 100 (seratus) hektar; dan d. untuk 1 (satu) unit KHDTK Religi dan Budaya, paling luas 10 (sepuluh) hektar.
