Pasal 37
BAB 3 — PEMBENTUKAN PERJANJIAN KERJA LAUT
(1) PHK dapat dilaksanakan apabila: a. PKL batal demi hukum; dan/atau b. PKL berakhir dengan sendirinya. (2) PHK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat atas permintaan pemilik Kapal Perikanan, Operator Kapal Perikanan, Agen Awak Kapal Perikanan, Nakhoda Kapal Perikanan, Awak Kapal Perikanan, instansi berwenang, organisasi perikanan, atau organisasi awak kapal perikanan. (3) PHK sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat dilakukan oleh pemilik Kapal Perikanan, Operator Kapal Perikanan, Agen Awak Kapal Perikanan, Atau Nakhoda Kapal Perikanan, antara lain karena: a. sudah tidak produktif bekerja; b. melalaikan kewajibannya;
c. tidak mentaati ketentuan peraturan perundang- undangan; d. menggunakan dokumen palsu; e. membahayakan ketertiban kerja di Kapal Perikanan; dan/atau f. terlibat dalam tindak pidana. (4) PHK sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat dilakukan oleh Awak Kapal Perikanan, antara lain karena: a. sering menerima pengancaman, penganiayaan, dan penindasan; b. tidak mendapat perlindungan dan kesejahteraan; c. tidak mendapat bayaran upah; d. melanggar ketentuan peraturan perundang- undangan; dan/atau e. melakukan tindakan asusila. (5) Dalam hal terjadi PHK, pemilik Kapal Perikanan, Operator Kapal Perikanan, Agen Awak Kapal Perikanan, atau Nakhoda Kapal Perikanan wajib membayar hak-hak awak Kapal Perikanan sampai berakhir masa kerja dan sampai kapal bersandar di pelabuhan perikanan atau pelabuhan umum yang ditunjuk.
