Pasal 38
BAB 3 — PEMBENTUKAN PERJANJIAN KERJA LAUT
(1) PKL dinyatakan batal demi hukum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 ayat (1) huruf a, apabila: a. dokumen Awak Kapal Perikanan tidak lengkap atau palsu; b. dokumen pemilik Kapal Perikanan, Operator Kapal Perikanan, Agen Awak Kapal Perikanan, atau Nakhoda Kapal Perikanan tidak lengkap atau palsu; c. dokumen Kapal Perikanan tidak lengkap atau palsu; d. Kapal Perikanan dalam status sengketa; e. Kapal Perikanan dinyatakan bermasalah status hukumnya oleh instansi berwenang atau organisasi Perikanan atau organisasi Awak Kapal Perikanan;
f. Awak Kapal Perikanan ditempatkan pada kapal yang identitasnya tidak sesuai dengan PKL; g. Kapal Perikanan dinyatakan tidak laik laut oleh pihak yang berwenang; h. Kapal Perikanan telah melampaui batas usia teknis; atau i. daerah operasional Kapal Perikanan dinyatakan dalam kondisi perang. (2) PKL dinyatakan berakhir dengan sendirinya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 ayat (1) huruf b, apabila: a. masa berlaku PKL habis; b. Awak Kapal Perikanan dipekerjakan pada kapal yang melakukan illegal, unregulated and unreported (IUU) fishing dan/atau trans international crime; c. pemilik Kapal Perikanan atau operator Kapal Perikanan dinyatakan pailit oleh pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap; d. Kapal Perikanan tenggelam; e. Kapal Perikanan dijual secara sah; f. Awak Kapal Perikanan dipindahkan pada Kapal Perikanan lain yang berbeda jenis alat penangkap ikannya; g. Awak Kapal Perikanan mengalami penganiayaan; h. Awak Kapal Perikanan secara medis dinyatakan tidak dapat bekerja; i. Awak Kapal Perikanan meninggal dunia; j. Awak Kapal Perikanan mengundurkan diri; k. Awak Kapal Perikanan terlibat kasus kriminal; l. Awak Kapal Perikanan terbukti secara hukum dengan sengaja melakukan perbuatan yang merugikan pemilik Kapal Perikanan atau operator Kapal Perikanan; atau m. Awak Kapal Perikanan karena kelalaiannya sendiri menyebabkan ketinggalan Kapal Perikanan.
