Pasal 3
(1) Dalam melaksanakan tugasnya, Panitia berwenang: a. menerbitkan Surat Penerimaan Pengurusan Piutang Negara (SP3N), Surat Penolakan Pengurusan Piutang Negara, dan Surat Pengembalian Pengurusan Piutang Negara; b. membuat Pernyataan Bersama (PB) dan Surat Pemberitahuan Perubahan Besaran Piutang Negara;
c. menerbitkan Surat Keputusan Penetapan Jumlah Piutang Negara (PJPN) dan Surat Pemberitahuan Koreksi/Perubahan Besaran Piutang Negara; d. menerbitkan Surat Paksa (SP); e. menerbitkan Surat Perintah Penyitaan (SPP); f. meminta Sita Persamaan; g. menerbitkan Surat Perintah Pengangkatan Penyitaan (SPPP); h. menerbitkan Surat Perintah Penjualan Barang Sitaan (SPPBS); i. menyetujui/ menolak Penjualan tanpa melalui lelang dan Penebusan; j. MENETAPKAN Nilai Limit Lelang, nilai Penjualan tanpa melalui lelang, nilai Penebusan dengan nilai di bawah hak tanggungan, dan nilai Penebusan jaminan yang tidak diikat dengan sempurna atau tidak ada pengikatan; k. menerbitkan Surat Pernyataan Pengurusan Piutang Negara Lunas (SPPNL) dan Surat Pernyataan Pengurusan Piutang Negara Selesai (SPPNS); l. menerbitkan Surat Penetapan Piutang Negara Untuk Sementara Belum Dapat Ditagih (PSBDT); m. menyetujui/menolak penarikan pengurusan Piutang Negara; n. menyetujui/menolak rencana Paksa Badan, meminta izin Paksa Badan kepada Kepala Kejaksaan Tinggi, menerbitkan Surat Perintah Paksa Badan, menerbitkan Surat Perintah Perpanjangan Paksa Badan, menerbitkan Surat Izin Keluar dari Tempat Paksa Badan, dan menerbitkan Surat Perintah Pembebasan Paksa Badan; o. dihapus; p. MENETAPKAN kembali PSBDT menjadi piutang aktif; q. MENETAPKAN Piutang Negara Telah Dihapuskan secara Mutlak (PTDM); dan r. meminta izin kepada Gubernur Bank INDONESIA untuk memperoleh keterangan dari bank mengenai simpanan nasabah. (2) Kewenangan menerima pengurusan piutang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi piutang Instansi Pemerintah, piutang BUMN/BUMD yang dananya bersumber dari pemerintah dengan pola
channeling atau risk sharing, dan piutang BUMN/BUMD nonperbankan. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai prosedur kerja dan bentuk surat untuk melaksanakan kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Ketua Panitia Pusat. 3. Ketentuan Pasal 7 ayat (1) huruf b dan ayat (3) huruf c diubah, sehingga Pasal 7 berbunyi sebagai berikut:
