Pasal 33
BAB 5 — AREAL KAWASAN HUTAN YANG TELAH DILEPAS DAN DIBEBANI HAK GUNA USAHA (HGU)
(1) Hasil tebangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (1), dibuat LHP oleh Ganis PHPL PKB, dan dilaporkan kepada Kepala Dinas Kabupaten/Kota. (2) Berdasarkan laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Kepala Dinas Kabupaten/Kota menugaskan Wasganis PHPL PKB untuk mengesahkan LHP. (3) Apabila dalam jangka waktu 2 x 24 jam sejak diterimanya LHP, Wasganis PHPL PKB sebagaimana dimaksud pada ayat (2), belum melakukan proses pemeriksaan untuk pengesahan LHP, maka pengesahan LHP dilakukan oleh Ganis PHPL PKB. (4) Kebenaran LHP yang disahkan sebagaimana dimaksud pada ayat (3), menjadi tanggung jawab Ganis PHPL PKB dengan membuat surat pernyataan di atas materai.
(5) Dalam hal tidak terdapat realisasi produksi, maka Pembuat LHP wajib membuat LHP KB/KBS/KBK NIHIL dengan menyebutkan alasan- alasannya dan disampaikan kepada P2LHP. (6) Dalam hal pemegang HGU tidak memiliki Ganis PHPL PKB sebagaimana dimaksud pada ayat (1), maka LHP dapat dibuat oleh Wasganis PHPL PKB. (7) Wasganis PHPL PKB yang ditugaskan sebagai Pembuat LHP tidak dapat merangkap sebagai Pengesah LHP pada pemegang hak yang sama. (8) LHP yang telah disahkan merupakan dasar perhitungan/pengenaan PSDH, DR dan/atau PNT. (9) Berdasarkan LHP sebagaimana dimaksud pada ayat (8), pemegang HGU wajib melunasi PSDH, DR, dan PNT sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (10) Atas bukti setor PSDH, DR, dan PNT yang setoran tersebut telah masuk ke rekening Bendaharawan Penerima Kementerian Kehutanan, pemegang HGU dapat mengajukan permohonan pengangkutan kayu bulat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
