Pasal 43
(1) Kesiapsiagaan Krisis Pangan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 41 huruf b terdiri atas:
a. kesiapsiagaan Krisis Pangan tingkat nasional;
b. kesiapsiagaan Krisis Pangan tingkat provinsi; dan
c. kesiapsiagaan Krisis Pangan tingkat kabupaten/kota.
(2) Kesiapsiagaan Krisis Pangan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dilaksanakan berdasarkan program kesiapsiagaan
Krisis Pangan.
(3) Program kesiapsiagaan Krisis Pangan sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) disusun dan ditetapkan oleh:
a. Kepala Lembaga Pemerintah, untuk program kesiapsiagaan
Krisis Pangan nasional;
b. gubernur, untuk program kesiapsiagaan Krisis Pangan
provinsi; dan
c. bupati/wali kota, untuk program kesiapsiagaan Krisis
Pangan kabupaten/kota.
(4) Program kesiapsiagaan Krisis Pangan sebagaimana dimaksud
pada ayat (3) paling sedikit memuat:
a. organisasi;
b. koordinasi;
c. fasilitas, sarana, dan prasarana;
d. pelatihan dan gladi kedaruratan Krisis Pangan;
e. prosedur penanggulangan;
f. tindakan mitigasi;
g. kegiatan penanggulangan Krisis Pangan; dan
h. pemberian informasi dan instruksi kepada masyarakat.
(5) Kepala …
(5) Kepala Lembaga Pemerintah, gubernur, dan bupati/wali kota sesuai dengan kewenangannya sebelum menyusun program kesiapsiagaan Krisis Pangan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) melakukan kajian. (6) Kajian sebagaimana dimaksud pada ayat (5) paling sedikit meliputi: a. analisis risiko; b. perkiraan kebutuhan Pangan; dan c. dampak Krisis Pangan. (7) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pelaksanaan dan rincian kajian diatur dengan Peraturan Kepala Lembaga Pemerintah.
