Pasal 225
BAB 6 — TRANSPORTASI UDARA
(1) Kawasan operasional bandar udara meliputi :
a. Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan; dan b. kawasan kebisingan.
(2) Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a terdiri atas :
a. kawasan ancangan pendaratan dan lepas landas; b. kawasan kemungkinan bahaya kecelakaan; c. kawasan di bawah permukaan transisi; d. kawasan di bawah permukaan horizontal-dalam; e. kawasan di bawah permukaan kerucut; dan f. kawasan di bawah permukaan horizontal-luar.
(3) Kawasan kebisingan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b merupakan kawasan tertentu di sekitar bandar udara yang terpengaruh gelombang suara mesin pesawat yang terdiri atas :
a. kebisingan tingkat I; b. kebisingan tingkat II; dan c. kebisingan tingkat III.
(4) Untuk mendirikan, mengubah dan melestarikan bangunan serta menanam atau memelihara pepohonan di dalam Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan tidak boleh melebihi batas ketinggian Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan.
(5) Untuk mengendalikan penggunaan lahan pada kawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), Pemerintah Daerah berwenang :
a. melakukan pengaturan peruntukan lahan pada Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan dan batas kawasan kebisingan sesuai dengan rencana detail tata ruang;
b. melarang setiap orang dan/atau badan membuat halangan (obstacle) dan/atau melakukan kegiatan lain di Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan yang dapat membahayakan keselamatan dan keamanan penerbangan kecuali telah memperoleh izin dari Otoritas Bandar Udara; dan
c. mengeluarkan rekomendasi Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan berdasarkan kajian teknis aeronautika dari Otoritas Bandar Udara.
