Pasal 24
(1) Sistem Jaringan transportasi udara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) huruf c meliputi: a. bandar udara umum; b. bandar udara khusus; c. penataan kawasan keselamatan operasional penerbangan; d. penataan Batas Kawasan Kebisingan (BKK); e. penataan Daerah Lingkungan Kerja (DLKr); dan f. penataan Daerah Lingkungan Kepentingan (DLKp). (2) Bandar udara umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi : a. Bandar udara pengumpul skala pelayanan primer berupa Bandar Udara Ahmad Yani di Kota Semarang; b. Bandar udara pengumpul skala pelayanan sekunder berupa Bandar Udara Adisumarmo di Kabupaten Boyolali; c. Bandar udara pengumpan meliputi:
- Bandar Udara Tunggul Wulung di Kabupaten Cilacap;
- Bandar Udara Jenderal Besar Soedirman di Kabupaten Purbalingga;
- Bandar Udara Dewadaru di Kabupaten Jepara; dan
- Bandar Udara Ngloram Cepu di Kabupaten Blora. (3) Bandar udara khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dikembangkan untuk menunjang pengembangan kegiatan tertentu sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (4) Lokasi lain dapat dikembangkan sebagai bandar udara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (5) Penataan kawasan keselamatan operasional penerbangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dilakukan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan meliputi:
a. penataan kawasan pendekatan dan lepas landas. b. penataan kawasan di bawah permukaan horizontal dalam; dan c. penataan kawasan di bawah permukaan horizontal luar. (6) Penataan Batas Kawasan Kebisingan (BKK) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d, merupakan kawasan tertentu disekitar bandar udara yang terpengaruh gelombang suara mesin pesawat udara. (7) Penataan Daerah Lingkungan Kerja (DLKr) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d, merupakan penataan daerah yang dikuasai oleh penyelenggara bandar udara yang digunakan untuk pelaksanaan pembangunan, pengembangan dan pengoperasian fasilitas bandar udara. (8) Penataan Daerah Lingkungan Kepentingan (DLKp) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf f, merupakan penataan daerah di luar lingkungan kerja bandar udara yang digunakan untuk menjamin keselamatan dan keamanan penerbangan, serta kelancaran aksesibilitas penumpang dan kargo.
- Ketentuan ayat (1), ayat (2) dan ayat (3) Pasal 25 diubah serta ditambahkan 1 (satu) ayat baru yaitu ayat (4) sehingga Pasal 25 berbunyi sebagai berikut:
