Pasal 11
BAB 4 — PEMOTONGAN TUNJANGAN KINERJA
(1) Pegawai yang mengambil cuti tahunan dikenakan pemotongan Tunjangan Kinerja sebesar 0% (nol perseratus). (2) Pegawai yang melaksanakan cuti sakit sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) huruf d dikenakan pemotongan Tunjangan Kinerja sebagai berikut: a. cuti sakit yang dibuktikan dengan surat keterangan dokter selama 3 (tiga) hari atau lebih, dikenakan pemotongan sebesar 2 % (dua perseratus) untuk tiap 1 (satu) hari tidak masuk bekerja; b. Pegawai yang menjalani rawat inap yang dibuktikan dengan surat keterangan rawat inap untuk paling lama 20 (dua puluh) hari kerja, diberlakukan pemotongan Tunjangan Kinerja sebesar 0 % (nol perseratus) dan untuk hari berikutnya dikenakan pemotongan Tunjangan Kinerja sebesar 2 % (dua perseratus) per hari kerja; c. Pegawai yang menjalani rawat jalan setelah selesai menjalani rawat inap yang dibuktikan dengan surat keterangan dari dokter, diberlakukan pemotongan Tunjangan Kinerja sebesar 2 % (dua perseratus) per hari kerja; dan d. Pegawai wanita yang mengalami gugur kandungan namun tidak menjalani rawat inap yang dibuktikan dengan surat keterangan dokter untuk paling lama 3 (tiga) hari kerja, dikenakan pemotongan Tunjangan
Kinerja sebesar 0% (nol perseratus) dan untuk hari berikutnya dikenakan pemotongan Tunjangan Kinerja sebesar 2 % (dua perseratus) per hari kerja. (3) Pegawai yang melaksanakan cuti bersalin dikenakan Tunjangan Kinerja sebagai berikut: a. kepada pegawai yang sedang menjalani cuti bersalin untuk melaksanakan persalinan pertama sampai dengan ketiga sejak diangkat sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil, dikenakan pemotongan Tunjangan Kinerja sebesar 0 % (nol perseratus) selama 5 (lima) hari kerja pertama dan untuk hari berikutnya dikenakan pemotongan Tunjangan Kinerja sebesar 1,5 % (satu koma lima perseratus) per hari kerja; dan b. kepada pegawai yang melaksanakan persalinan yang keempat dan berikutnya sejak diangkat sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil, dikenakan Pemotongan Tunjangan Kinerja.
