Pasal 40
BAB 5 — PENYELESAIAN KERUGIAN NEGARA
(1) Dalam hal pelaksanaan penyelesaian secara paksa, Kepala BNN segera mengeluarkan SKP2KS/SKPS kepada Bendahara, Pegawai atau CPNS bukan bendahara, dan/atau Pihak Ketiga yang bersangkutan. (2) Atas SKP2KS/SKPS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Bendahara, Pegawai atau CPNS bukan bendahara, dan/atau Pihak Ketiga yang bersangkutan dapat mengajukan keberatan/pembelaan diri secara tertulis paling lama 14 (empat belas) hari kerja sejak diterimanya SKP2KS/SKPS tersebut dengan disertai bukti-bukti yang kuat. (3) Apabila Bendahara, Pegawai atau CPNS bukan bendahara, dan/atau Pihak Ketiga yang bersangkutan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak mengajukan keberatan/pembelaan diri dalam waktu 14 (empat belas) hari atau keberatan/pembelaan diri ditolak, Kepala BNN MENETAPKAN SKP2K. (4) SKP2K sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan dasar untuk: a. memerintahkan Bendahara, Pegawai atau CPNS bukan bendahara, dan/atau Pihak Ketiga yang bersangkutan/pengampu/yang memperoleh hak/ahli waris untuk melakukan pembayaran tunai dan seketika dan untuk menyerahkan kekayaan yang dilengkapi dengan surat kuasa untuk menjual; b. meminta instansi yang berwenang untuk menjual barang bergerak maupun tidak bergerak milik Bendahara, Pegawai atau CPNS bukan bendahara, dan/atau Pihak Ketiga yang bersangkutan/pengampu/ yang memperoleh hak/ahli waris; dan c. melakukan pemotongan gaji/pensiun/penghasilan lain sesuai ketentuan apabila pembayaran tunai dan seketika tidak dapat dilaksanakan atau tidak mencukupi.
www.djpp.kemenkumham.go.id
(5) Apabila keberatan/pembelaan diri sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diterima, Kepala BNN menerbitkan Surat Keputusan tentang Peninjauan Kembali SKP2KS/SKPS. (6) SKP2K sebagaimana dimaksud pada ayat (4) pelaksanaannya dapat dilakukan dengan cara pembayaran tunai dan seketika. (7) Apabila pembayaran tunai dan seketika sebagaimana dimaksud pada ayat (6) tidak dapat dilaksanakan atau tidak mencukupi pembayaran dapat dilakukan melalui pemotongan gaji dan/atau penghasilan lainnya atau diangsur. (8) Pemotongan gaji dan/atau penghasilan lainnya atau diangsur sebagaimana dimaksud pada ayat (7) pelunasannya paling lama 2 (dua) tahun, dan apabila dianggap perlu dapat meminta bantuan kepada yang berwajib untuk dilakukan penagihan.
