PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PENGELOLAAN UTANG
Pembukaan
KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN UTANG
KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PENGELOLAAN UTANG
NOMOR KEP- 32 /PU/2012
TENTANG
PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PENGELOLAAN UTANG
NOMOR KEP-46/PU/2011 TENTANG STRATEGI PEMBIAYAAN TAHUNAN MELALUI UTANG TAHUN 2012
DIREKTUR JENDERAL PENGELOLAAN UTANG,
Menimbang :
a. bahwa dalam rangka mengamankan pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2012, telah dilakukan penyesuaian terhadap defisit dan kebutuhan anggaran serta sumber-sumber pembiayaan sebagaimana telah ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2012 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2011 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2012;
b. bahwa sehubungan adanya penyesuaian terhadap pemenuhan sumber pembiayaan sebagai akibat kondisi pasar global, perubahan APBN Tahun Anggaran 2012, dan perubahan asumsi nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing yang dapat mempengaruhi secara signifikan pada strategi pembiayaan APBN melalui utang tahun 2012 sebagaimana dimaksud dalam huruf a, diperlukan penyesuaian dan perubahan Strategi Pembiayaan Tahunan Melalui Utang Tahun 2012;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Keputusan Direktur Jenderal Pengelolaan Utang tentang Perubahan Atas Keputusan Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Nomor KEP-46/PU/2011 tentang Strategi Pembiayaan Tahunan Melalui Utang Tahun 2012;
Mengingat :
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2012 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2011 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2012 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 87, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5303);
Keputusan Presiden Nomor 120/M Tahun 2006;
Keputusan Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Nomor KEP-46/PU/2011 tentang Strategi Pembiayaan Tahunan Melalui Utang Tahun 2012;
MEMUTUSKAN:
Menetapkan :
KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PENGELOLAAN UTANG TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PENGELOLAAN UTANG NOMOR KEP-46/PU/2011 TENTANG STRATEGI PEMBIAYAAN TAHUNAN MELALUI UTANG TAHUN 2012.
Pasal I
- Mengubah Lampiran Keputusan Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Nomor KEP-46/PU/2011 tentang Strategi Pembiayaan Tahunan Melalui Utang Tahun 2012 sehingga menjadi sebagaimana
KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN UTANG
ditetapkan dalam Lampiran yang tidak terpisahkan dari Keputusan Direktur Jenderal Pengelolaan Utang ini.
- Ketentuan-ketentuan lain dalam Keputusan Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Nomor KEP-46/PU/2011 tentang Strategi Pembiayaan Tahunan Melalui Utang Tahun 2012 dinyatakan tetap berlaku sepanjang tidak dilakukan perubahan atau diganti dengan Keputusan Direktur Jenderal Pengelolaan Utang ini.
Pasal II
Keputusan Direktur Jenderal Pengelolaan Utang ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 29 Juni 2012
DIREKTUR JENDERAL,

RAHMAT WALUYANTO NIP 195610031985101001
KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN UTANG
LAMPIRAN
KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PENGELOLAAN UTANG
NOMOR KEP-32 /PU/2012
TENTANG
PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PENGELOLAAN UTANG NOMOR KEP-46/PU/2011 TENTANG STRATEGI PEMBIAYAAN TAHUNAN MELALUI UTANG TAHUN 2012
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang
REVISI STRATEGI PEMBIAYAAN TAHUNAN MELALUI UTANG TAHUN 2012
Strictly Confidential
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
DAFTAR ISI
Daftar Isi ... i Daftar Tabel dan Grafik ... ii Latar Belakang ... 1 Tujuan Strategi ... 1 Ruang Lingkup Strategi ... 2 Kondisi Portofolio Utang 2007 - 2011 ... 2 Target Yang Ingin Dicapai ... 2 Strategi Umum Pembiayaan Tahunan ... 3 Pembiayaan APBN-P 2012 ... 4
- Strategi Pembiayaan dan Pengelolaan Pinjaman 2012 ... 4 1.1. Tujuan ... 4 1.2. Kondisi Portofolio Pinjaman Periode 2007 - 2011 ... 4 1.3. Target Pinjaman yang Ingin Dicapai ... 6 1.4. Pembiayaan Melalui Pinjaman Tahun 2012 ... 6 1.5. Strategi Operasional Pengadaaan dan Pengelolaan portofolio Pinjaman ... 8 1.6. Hal-hal Lain Terkait Strategi Operasional Pinjaman ... 11
- Strategi Pembiayaan dan Pengelolaan Surat Berharga Negara Tahun 2012 ... 14 2.1. Tujuan ... 14 2.2. Ruang Lingkup ... 14 2.3. Kondisi Portofolio SBN Periode 2007 - 2011 ... 14 2.4. Target SBN yang Ingin Dicapai ... 15 2.5. Strategi Umum Pembiayaan Melalui SBN ... 17 2.6. Strategi Operasional Pembiayaan dan Pengelolaan SBN ... 18 2.7. Hal-hal Lain Terkait Operasional SBN ... 20
Lampiran:
Lampiran 1: APBN 2012 ... 27 Lampiran 2: Outstanding pinjaman berdasarkan Regional ... 28 Lampiran 3: Outstanding Pinjaman Berdasarkan Lender ... 29 Lampiran 4: Outstanding Pinjaman Berdasarkan Jenis Mata Uang (Currency) ... 30 Lampiran 5: Outstanding SBN per 21 Juni 2012 ... 31 Lampiran 6: Outstanding Surat Utang Pemerintah ... 33 Lampiran 7: Formulasi yang Digunakan dalam Menghitung Nilai dari Indikator Risiko Portofolio Utang ... 34
Strictly confidential
DAFTAR TABEL
Tabel
| Tabel | Tabel | Tabel | | --- | --- | --- | | Tabel 1 | Kondisi Portofolio Utang Tahun 2006 - 2011 | 2 | | Tabel 2 | Target Indikator Risiko Portofolio Utang | 3 | | Tabel 3 | Pembiayaan APBN-P 2012 | 4 | | Tabel 4 | Komposisi dan Indikator Portofolio Pinjaman | 5 | | Tabel 5 | Indikator Risiko Portofolio Pinjaman | 6 | | Tabel 6 | Komposisi Indikatif Komitmen Pinjaman Program 2012 | 7 | | Tabel 7 | Komposisi Indikatif Disbursement Pinjaman Proyek Tahun 2012 | 8 | | Tabel 8 | Kisaran Terms and Conditions Pinjaman Baru selama Tahun 2010 - 2011 | 9 | | Tabel 9 | Komposisi dan Indikator Portofolio SBN 5 Tahun Terakhir | 15 | | Tabel 10 | Target Indikator Risiko Pengelolaan Portofolio SBN Tahun 2012 | 16 | | Tabel 11 | Target Indikator Risiko Pengelolaan Portofolio SUN dan SBSN Tahun 2012 | 16 | | Tabel 12 | Duration Portofolio SBN Tradable | 18 | | Tabel 13 | Komposisi Indikatif Penerbitan SBN 2011 | 19 |
Strictly confidential
B
II
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
REVISI STRATEGI PEMBIAYAAN TAHUNAN MELALUI UTANG TAHUN 2012
LATAR BELAKANG
Perubahan anggaran pembiayaan APBN 2012 dan perubahan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing.
Pelaksanaan pembiayaan APBN 2012 melalui utang sampai dengan bulan Juni 2012, belum sepenuhnya berjalan sesuai dengan yang direkomendasikan dalam dokumen strategi pembiayaan yang telah ditetapkan pada akhir tahun 2011. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya:
a. Ketidakpastian kondisi pasar global (krisis utang Eropa) yang masih berlanjut dan mempengaruhi pasar keuangan domestik secara signifikan. b. Perubahan anggaran APBN 2012, dimana Pemerintah memutuskan pembiayaan APBN-P tahun 2012 meningkat dari anggaran sebelumnya sebesar Rp134,60 triliun menjadi Rp159,60 triliun. c. Perubahan asumsi nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing yang dapat mempengaruhi secara signifikan risiko nilai tukar pada portofolio utang pemerintah.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, strategi pembiayaan APBN 2012 melalui utang yang telah ditetapkan perlu direvisi dan tetap menyesuaikan dengan pokok-pokok strategi pengelolaan utang jangka menengah periode 2010-2014 sehingga lebih relevan dengan kebutuhan pembiayaan APBN dan kondisi perekonomian saat ini, serta pencapaian portofolio utang yang lebih optimal.
TUJUAN STRATEGI
Tujuan strategi pembiayaan tahunan
Tujuan dari Strategi pembiayaan tahunan melalui utang tahun 2012 adalah memenuhi target pembiayaan APBN-P tahun 2012 melalui utang dan membiayai kembali utang yang jatuh tempo dengan biaya yang efisien dan risiko yang terkendali.
Strategi Pembiayaan melalui utang tahun 2012 disusun dengan mengantisipasi dinamika kondisi pasar keuangan pada tahun berjalan sehingga apabila terjadi perubahan kondisi pasar yang signifikan, maka dokumen strategi ini dapat direvisi untuk menyesuaikan dengan perubahan dimaksud. Untuk mendukung pencapaian tujuan strategi ini, pelaksanaannya akan dimonitor dan dievaluasi secara periodik.
Selain itu, dalam rangka mentransmisikan kebijakan pengelolaan utang jangka menengah yang digariskan dalam strategi jangka menengah, diperlukan strategi yang sifatnya lebih operasional, yang mencakup pengelolaan pinjaman maupun pengelolaan SBN.
Strictly confidential
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
RUANG LINGKUP STRATEGI
Ruang lingkup strategi pembiayaan tahunan
Strategi pembiayaan tahunan melalui utang tahun 2012 melingkupi pembiayaan melalui:
a. Pinjaman, yang terdiri dari pinjaman dalam negeri dan pinjaman luar negeri b. Surat Berharga Negara, yang terdiri dari Surat Utang Negara (SUN) dan Surat Berharga Negara Syariah (SBSN).
dalam rangka pembiayaan defisit APBN-P 2012 dan pembiayaan lainnya.
KONDISI PORTOFOLIO UTANG PERIODE 2007 - 2011
Kondisi portofolio utang periode 2007 - 2011
Kondisi portofolio utang akhir tahun 2011 menunjukkan perbaikan cukup signifikan yang ditunjukkan semakin membaiknya indikator risiko portofolio utang. Perbaikan tersebut merupakan hasil dari upaya pencapaian penyusunan portofolio utang yang optimum, sebagaimana yang digariskan dalam strategi pengelolaan jangka menengah.
Perkembangan kondisi portofolio utang yang semakin membaik dalam kurun waktu 2007-2011 dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 1 Kondisi Portofolio Utang Tahun 2007 - 2011
| Indikator | Des-07 | Des-08 | Des-09 | Des-10 | Des-11 | | --- | --- | --- | --- | --- | --- | | Outstanding (miliar Rupiah) | | | | | | | SBN | 803.059 | 906.495 | 979.458 | 1.064.406 | 1.187.655 | | Pinjaman | 586.361 | 730.241 | 611.149 | 612.446 | 615.834 | | Total | 1.389.420 | 1.636.736 | 1.590.608 | 1.676.852 | 1.803.489 | | Indikator Portofolio Utang | | | | | | | Interest Rate Risk | | | | | | | VR proportion | 26,70% | 22,89% | 21,99% | 20,29% | 17,68% | | Refixing Rate | 30,23% | 28,16% | 28,16% | 26,08% | 24,79% | | Exchange Rate Risk | | | | | | | FX Proportion | 46,95% | 52,11% | 47,42% | 46,17% | 44,95% | | Refinancing Risk | | | | | | | ATM (years) | 10,39 | 9,96 | 9,66 | 9,45 | 9,33 | | Matured in 1 years | 6,79% | 6,41% | 7,57% | 7,06% | 8,15% | | Matured in 3 years | 19,36% | 18,64% | 20,29% | 20,82% | 22,65% | | Matured in 5 years | 30,62% | 31,05% | 33,17% | 34,15% | 34,55% | | Avg. Ann. Mty in 5y | 6,12% | 6,21% | 6,63% | 6,83% | 6,91% |
TARGET YANG INGIN DICAPAI
Target yang ingin dicapai dalam pembiayaan utang tahun 2012
Strategi pembiayaan melalui utang pada tahun 2012 menargetkan beberapa hal sebagai berikut:
- Pembiayaan APBN-P melalui utang sebesar Rp156,16 triliun yang terdiri dari penerbitan SBN neto sebesar Rp159,59 triliun dan pinjaman neto sebesar negatif Rp3,43 triliun.
Strictly confidential
Dengan memperhitungkan refinancing SBN sebesar Rp111,37 triliun dan penarikan pinjaman sebesar Rp54,72 triliun, maka target pembiayaan APBN melalui utang secara gross sebesar Rp325,69 triliun.
- Target pengelolaan portofolio utang dari sisi indikator risiko diharapkan semakin membaik dengan target sebagaimana pada tabel berikut:
Tabel 2 Target Indikator Risiko Portofolio Utang
| Indikator | Capaian Tahun 2011 | Target Tahun 2012 | | --- | --- | --- | | Interest Rate Risk | | | | VR proportion | 17,68% | 16,62% | | Refixing Rate | 24,79% | 23,14% | | Exchange Rate Risk | | | | FX Proportion | 44,95% | 44,78% | | Refinancing Risk | | | | ATM (years) | 9,33 | 9,59 | | Rata-rata Tahunan yang Jatuh Tempo dalam 5 Tahun | 6,91% | 6,66% |
STRATEGI UMUM PEMBIAYAAN TAHUNAN
Strategi umum pembiayaan yang ingin dicapai dalam pembiayaan utang tahun 2012
Kebijakan umum yang digunakan dalam penyusunan strategi pembiayaan tahunan adalah sebagai berikut:
- Mengoptimalkan potensi pembiayaan utang dari pasar domestik melalui penerbitan SBN Rupiah maupun penarikan pinjaman dalam negeri;
- Terus melakukan diversifikasi instrumen utang agar diperoleh fleksibilitas dalam memilih berbagai instrumen yang lebih cost-efficient dan risiko minimal;
- Pengadaan pinjaman/kredit luar negeri dilakukan sepanjang untuk memenuhi kebutuhan prioritas, memberikan terms & conditions yang menguntungkan Pemerintah, dan tanpa agenda politik dari kreditor;
- Tetap mempertahankan kebijakan pengurangan pinjaman/kredit luar negeri secara bertahap;
- Meningkatkan koordinasi dengan otoritas moneter dan otoritas pasar modal, terutama dalam rangka mendorong upaya financial deepening;
- Meningkatkan koordinasi dan komunikasi dengan berbagai pihak dalam rangka meningkatkan sovereign credit rating.
Kebijakan tersebut di atas menjadi acuan dalam penyusunan strategi pembiayaan tahunan, namun untuk mencapai target yang ditetapkan disusun parameter yang lebih spesifik.
Strictly confidential
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
PEMBIAYAAN APBN-P 2012
Pembiayaan APBN 2012 diatur dalam undang-undang
Pembiayaan APBN-P tahun 2012 ditetapkan melalui Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2012 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2011 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2012 dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 3 Pembiayaan APBN-P 2012
| URAIAN | APBN | % thdp prab | APBN-P | % thdp Prab | | --- | --- | --- | --- | --- | | A. PENDAPATAN NEGARA DAN HIBAH | 1.311.386,7 | | 1.358.205,0 | | | B. BELANJA NEGARA | 1.435.406,7 | | 1.548.310,4 | | | C. KESEIMBANGAN PRIMER | (1.802,4) | | (72.319,9) | | | D. SURPLUS DEFISIT ANGGARAN (A - B) | (124.020,0) | | (190.105,3) | | | E. PEMBIAYAAN | 124.020,0 | 1,53 | 190.105,3 | 2,23 | | I. NON UTANG | (9.544,4) | (0,12) | 33.943,1 | 0,40 | | II. UTANG | 133.564,4 | 1,64 | 156.162,2 | 1,83 | | 1. Surat Berharga Negara (neto) | 134.596,8 | 1,66 | 159.596,7 | 1,87 | | I. Penerbitan | 240.327,8 | 2,96 | 270.969,4 | 3,17 | | II. Pembayaran pokok dan Pembelian kembali | (105.731,0) | (1,30) | (111.372,7) | (1,30) | | 2. Pinjaman | (1.032,4) | (0,01) | (3.434,5) | (0,04) | | I. Pinjaman Luar Negeri | (1.892,4) | (0,02) | (4.425,7) | (0,05) | | Penarikan Pinjaman LN | 54.282,3 | 0,67 | 53.731,1 | 0,63 | | a. Pinjaman Program | 15.257,1 | 0,19 | 15.603,9 | 0,18 | | b. Pinjaman Proyek | 39.025,2 | 0,48 | 38.127,2 | 0,45 | | Penerusan Pinjaman | (8.914,6) | (0,11) | (8.431,8) | (0,10) | | Pembayaran Cicilan Pokok Utang LN | (47.260,1) | (0,58) | (49.724,9) | (0,58) | | II. Pinjaman Dalam Negeri | 860,0 | 0,01 | 991,2 | 0,01 | | a. Produk Domestik Bruto (milliar Rp) | 8.119.780,5 | | 8.542.634,4 | | | b. Pertumbuhan Ekonomi (%) | 6,7 | | 6,5 | | | c. Infiasi (%) y-o-y | 5,3 | | 6,8 | | | d. Tingkat Bunga SBI 3 Bulan (%) | 6,0 | | 5,0 | | | e. Nilai Tukar (Rp/US$1) | 8.800,0 | | 9.000,0 | |
Prinsip fleksibilitas pemilihan instrumen utang tunai pada APBN-P dapat diberlakukan pada tahun 2012 sebagaimana diamanatkan pada pasal 38 ayat 4 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2011 tentang APBN 2012. Dengan adanya prinsip tersebut maka dimungkinkan untuk mencari sumber pembiayaan utang yang memiliki biaya yang paling efisien.
1. STRATEGI PEMBIAYAAN DAN PENGELOLAAN PINJAMAN 2012
1.1. Tujuan
Tujuan strategi pembiayaan melalui pinjaman
Strategi Pembiayaan tahun 2012 meliputi segi pengadaan dan pengelolaan portofolio pinjaman yang akan menjadi pedoman dalam upaya mencapai portofolio pinjaman yang optimum.
1.2. Kondisi Portofolio Pinjaman Periode 2007 - 2011
Kondisi portofolio pinjaman dalam kurung waktu 5 tahun terakhir.
Perkembangan portofolio pinjaman selama 2007 sampai 2011 mengalami perubahan yang cukup berarti ke arah optimalisasi struktur portofolio, yang ditunjukkan oleh indikator-indikator berikut:
Strictly confidential
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
- Eksposur portofolio terhadap flukutasi mata uang meningkat, karena tambahan porsi JPY akibat bertambahnya penarikan pinjaman JPY dan apresiasi JPY terhadap mata uang lainnya.
- Risiko suku bunga portofolio menurun akibat bertambahnya porsi pinjaman fixed rate karena peningkatan penarikan pinjaman JICA, JBIC, dan IBRD yang bersuku bunga fixed.
- Risiko refinancing membaik dengan meningkatnya Average Time to Maturity (ATM) serta penurunan jumlah pinjaman jatuh tempo kurang dari 1 (satu) tahun, sebagai akibat penarikan pinjaman dengan grace period dan jangka waktu panjang seperti JICA dan IBRD.
Perkembangan posisi, komposisi, dan indikator portofolio pinjaman disajikan dalam Tabel 4.
Tabel 4 Komposisi dan Indikator Portofolio Pinjaman
| Indikator | Des-2007 | Des-2008 | Des-2009 | Des-2010 | Des-2012 | | --- | --- | --- | --- | --- | --- | | Total outs. (USD miliar) | 62,25 | 66,69 | 65,02 | 68,12 | 67,91 | | Total outs. (IDR miliar) | 586.361,01 | 730.240,54 | 611.149,34 | 612.446,45 | 615.834,37 | | Kurs | 9.419 | 10.950 | 9.400 | 8.991 | 9.068 | | Outstanding per Jenis Mata Uang (USD miliar) | | | | | | | - JPY | 25,95 | 31,22 | 29,07 | 31,83 | 32,08 | | - USD | 20,95 | 21,55 | 22,23 | 23,65 | 23,53 | | - EUR | 10,50 | 9,51 | 8,49 | 7,19 | 6,10 | | - IDR | | | | 0,02 | 0,09 | | - Lainnya | 4,85 | 4,40 | 5,22 | 5,43 | 6,12 | | Outstanding per Jenis Suku Bunga (USD miliar) | | | | | | | - Fixed Rate | 40,05 | 44,79 | 42,22 | 45,43 | 46,84 | | - Tanpa Bunga | 0,98 | 1,12 | 0,56 | 0,72 | 0,81 | | - Bunga Mengambang | 21,22 | 20,78 | 22,24 | 21,97 | 20,26 | | Outstanding per Jenis Kreditur (USD miliar) | | | | | | | - Multilateral | 19,06 | 20,34 | 21,53 | 23,13 | 23,36 | | - Bilateral | 41,03 | 44,28 | 41,27 | 41,89 | 41,64 | | - Swasta Komersial | 2,08 | 1,98 | 2,15 | 3,04 | 2,86 | | - Supplier | 0,08 | 0,09 | 0,07 | 0,06 | 0,06 | | Indikator Portofolio Pinjaman | | | | | | | Interest Rate Risk | | | | | | | Proporsi VR | 34,09% | 31,16% | 34,07% | 32,23% | 29,83% | | Refixing Rate | 40,53% | 38,29% | 39,75% | 37,45% | 35,35% | | Exchange Rate Risk | | | | | | | Valas Proportion | 100,0% | 100,0% | 100,0% | 100,0% | 99,87% | | Refinancing Risk | | | | | | | ATM (tahun) | 7,58 | 7,41 | 7,56 | 7,58 | 7,33 | | Jatuh Tempo < 1 thn | 9,77% | 8,54% | 8,56% | 7,70% | 7,86% | | Jatuh Tempo < 3 thn | 27,97% | 24,40% | 23,75% | 23,72% | 25,19% | | Jatuh Tempo < 5 thn | 42,00% | 39,30% | 39,29% | 39,96% | 41,32% |
Strictly confidential
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
1.3. Target Pinjaman yang Ingin Dicapai
Beberapa indikator risiko yang menjadi target pencapaian dalam pengelolaan pinjaman tahun 2012
Beberapa target pinjaman yang ingin dicapai pada tahun 2012 adalah:
- Pemenuhan pembiayaan APBN-P melalui pinjaman sebesar Rp54,72 triliun yang terdiri dari pinjaman dalam negeri sebesar Rp0,99 triliun dan pinjaman luar negeri sebesar Rp53,73 triliun.
- Indikator risiko pada pengelolaan portofolio pinjaman tercermin dalam tabel berikut ini:
Tabel 5 Indikator Risiko Portofolio Pinjaman
| | Capaian Tahun 2011 | Target Tahun 2012 | | --- | --- | --- | | Interest Rate Risk | | | | Komposisi Variable Rate | 29,83% | 32,07% | | Exchange Rate Risk | | | | Porsi mata uang bervolatilitas rendah (USD dan EUR) | 43,62% | 42,68% | | Refinancing Risk | | | | ATM (year) | 7,33 | 7,37 | | Rata-rata jatuh tempo tahunan dalam 5 tahun | 8,26% | 8,30% |
1.4. Pembiayaan Melalui Pinjaman Tahun 2012
Pembiayaan melalui pinjaman bersumber dari pinjaman program dan pinjaman proyek.
Undang-Undang APBN-P tahun 2012 menetapkan pembiayaan melalui pinjaman sebesar Rp54,72 triliun yang terdiri atas:
- pinjaman program (tunai) sebesar Rp15,60 triliun dan
- pinjaman proyek (kegiatan) sebesar Rp39,12 triliun.
Pinjaman Program
Penarikan pinjaman program diarahkan untuk pemenuhan kebutuhan defisit APBN-P 2012 yang terdiri dari pinjaman program reguler sebesar Rp11,76 triliun dan pinjaman program sektoral sebesar Rp3,99 triliun sebagaimana komposisi indikatif komitmen pada Tabel 6.
Target pinjaman program di APBN-P tidak berubah dari target di APBN, hanya ada perubahan asumsi nilai tukar rupiah. Untuk rincian target pinjaman program dapat dilihat pada Tabel 6 sebagai berikut.
Strictly confidential
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
Tabel 6 Komposisi Indikatif Komitmen Pinjaman Program 2012
| No | Lender | 2012 | | | --- | --- | --- | --- | | | | APBN | APBN-P | | 1 | World Bank | 950,0 | 950,0 | | 1 | Public Financial Management (PFM) | 407,0 | 407,0 | | 2 | BOS-KITA Refinancing 2 | 113,3 | 113,3 | | 3 | PNPM Refinancing (Urban 3, Rural 4) (Ongoing) | 248,9 | 248,9 | | 4 | Local Government Dev't Program – Refinancing (Ongoing) | 80,8 | 80,8 | | 5 | Domestic Connectivity | 100,0 | 100,0 | | 2 | Asian Development Bank | 600,0 | 600,0 | | 1 | Capital Market Development Program | 300,0 | 300,0 | | 2 | Enhancing Inclusive Growth Through Connectivity | 300,0 | 300,0 | | 3 | JICA, Japan | 200,0 | 200,0 | | 1 | Unidentified | 200,0 | 200,0 | | 4 | Unidentified | - | - | | Total (USD Juta) | | 1.750,0 | 1.750,0 | | Total (Rp Milliar)* | | 15.257,0 | 15.603,9 |
Keterangan: *) Asumsi kurs APBN-P: Rp9.000/USD **) Untuk pinjaman program sektoral menggunakan kurs realisasi
Pinjaman Proyek
Pembiayaan pinjaman proyek dimanfatkan untuk melaksanakan kegiatan di Kementerian/Lembaga, serta di Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Pemerintah Daerah yang dilakukan melalui mekanisme penerusan pinjaman.
Pinjaman proyek di APBN-P 2011 terdiri atas proyek Pemerintah Pusat sebesar Rp29,69 triliun, termasuk pinjaman dalam negeri sebesar Rp991,16 miliar, dan penerusan pinjaman sebesar Rp8,43 triliun, sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 7.
Pinjaman proyek Pemerintah Pusat dialokasikan untuk membiayai kegiatan sebagai berikut:
- Proyek-proyek reguler pada Kementerian/Lembaga sebesar Rp27,97 triliun;
- Proyek Mass Rapid Transit (MRT) sebesar Rp1,57 triliun;
- Water Resources and Irrigation System Management Project - APL 2 (WISMP-2) sebesar Rp147,78 miliar;
Sedangkan untuk penerusan pinjaman dialokasikan untuk beberapa kegiatan sebagai berikut:
- Proyek-proyek pada Perusahaan Listrik Nasional (PT PLN Persero) sebesar Rp6,77 triliun;
- Proyek Perusahaan Sarana Multi Infrastruktur sebesar Rp1 triliun dan Perusahaan Penjaminan Infrastruktur Indonesia sebesar Rp39,60 miliar;
- Proyek Perusahaan Pelabuhan Indonesia II sebesar Rp160,60 miliar;
- Proyek Perusahaan Pertamina (Persero) sebesar Rp65,95 miliar;
- Proyek Perusahaan Gas Negara sebesar Rp56,86 miliar
- Beberapa kegiatan yang diperuntukkan Pemerintah Daerah
Strictly confidential
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
(Pemda) dengan total biaya sebesar Rp337,11 miliar; Tabel 7 Komposisi Indikatif Disbursement Pinjaman Proyek Tahun 2012
| Kreditur | Jumlah (USD juta) | Jumlah (IDR miliar) | | --- | --- | --- | | a. Multilateral | | | | A D B | 209,97 | 1.889,76 | | I B R D | 304,41 | 2.739,66 | | I D A | 19,54 | 175,87 | | I D B | 61,78 | 556,05 | | I F A D | 8,74 | 78,68 | | Jumlah Multilateral | 604,45 | 5.440,01 | | b. Bilateral | | | | Australia | 89,24 | 803,20 | | Japan | 1.746,73 | 15.720,61 | | Rep. Rakyat China | 73,10 | 657,91 | | Korea Selatan | 150,86 | 1.357,72 | | Amerika Serikat | 56,83 | 511,50 | | Negara lainnya | 102,07 | 918,64 | | Jumlah Bilateral | 2.218,84 | 19.969,58 | | c. Lainnya | | | | Pinjaman Dalam Negeri | 125,83 | 1.132,43 | | Kebutuhan pembiayaan new commitment | 1.287,24 | 11.585,13 | | Jumlah lainnya | 1.413,06 | 12.717,56 | | Jumlah | 4.236,35 | 38.127,15 |
- asumsi kurs APBN-P 2012: USD 1 = IDR 9.000
1.5. Strategi Operasional Pembiayaan Tahunan Melalui Pinjaman
Strategi operasional pembiayaan tahunan
Strategi operasional pinjaman diarahkan pada pencapaian portofolio pinjaman yang lebih optimal serta mendukung penerapan assets and liability management pengelolaan keuangan negara.
a. Memanfaatkan pinjaman program dan pinjaman komersial secara lebih efektif
Arahan Presiden Republik Indonesia agar berhati-hati memanfaatkan Pinjaman Luar Negeri untuk pembiayaan APBN, salah satunya dapat diterjemahkan ke dalam pemanfaatan pinjaman program dan pinjaman komersial secara lebih efektif.
Hal ini dilakukan melalui pemilihan terms and conditions yang favorable, dilihat dari sisi biaya efektif maupun komponen biaya pinjaman. Sebagai batasannya dapat ditetapkan benchmark terhadap kedua biaya tersebut dengan pertimbangan dari sisi kondisi pasar keuangan, khususnya liquidity risk dan lending interest rate yang berlaku di negara kreditur.
Khusus untuk pembiayaan alutsista, perlu dipertimbangkan adanya tambahan margin untuk meng-cover risiko pembiayaan atas underlying project yang sifatnya spesifik.
Strictly confidential
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
Dalam tabel berikut disajikan kisaran terms and conditions pengadaan pinjaman baru periode 2010-2011 sebagai acuan pemilihan terms and conditions yang favorable.
Tabel 8 Kisaran Terms and Conditions Pinjaman Baru selama Tahun 2010 - 2011
| Rate Uang | Janis Suku Runga | Suku Runga (%) | Int. Margin (%) | Manag. Faw Up/ Front (%) | Comm. Faw (%) | Risk Pro. (%) | | --- | --- | --- | --- | --- | --- | --- | | Multilateral | | | | | | | | USD | Fixed | - | 1,20% - 5,10% | - | - | - | | | Floating | USD Libor | 0,09% - 1,20% | - | 0,15% | - | | Bilateral | | | | | | | | JPY | Fixed | 0,01% - 3,46% | - | - | 0,10% - 0,20% | - | | USD | Fixed | 0,10% - 5,30% | - | - | - | - | | | Floating | Libor, US Prime Rate | 0,15% - 0,47% | - | - | - | | EUR | Fixed | 0,15% - 1,00% | - | - | - | - | | Komersial (ECA) | | | | | | | | USD | Fixed | 3,59% | - | 0,75% | 0,50% | 3,92% - 4,11% | | | Floating | Libor, Sibor | 0,75% - 1,75% | 0,30% - 0,75% | 0,25% - 0,75% | 4,00% - 4,37% | | EUR | Fixed | 4,06% | - | - | 0,75% | 5,38% | | Komersial (Non-ECA) | | | | | | | | USD | Floating | Libor, Sibor | 1,75% - 3,25% | 0,75% - 1,35% | 0,25% - 0,75% | 4,00% - 4,37% | | EUR | Floating | Euribor | 1,50% - 1,75% | 0,50% - 0,60% | 0,50% - 1,00% | 4,30% - 5,78% | | IDR | Floating | Jibor | 1,00% - 1,10% | - | - | - |
Box 1. Perubahan Coefficient Dalam Perhitungan Premi Risiko Berdasarkan OECD Guidelines
Seiring perkembangan krisis keuangan 2009 yang masih berdampak hingga tahun 2011, telah mendorong Organization for Economics Co-operation and Development (OECD) melakukan penyesuaian premi risiko atas pinjaman fasilitas kredit ekspor. Penyesuaian dilakukan dengan mengubah Country Risk Coefficient yang berlaku efektif mulai 1 September 2011 sebagai upaya menurunkan risk premium fee dalam memperoleh fasilitas pendanaan, sehingga menjadi lebih menarik di tengah sulitnya likuiditas perbankan komersial.
Perubahan Country Risk Coefficient tersebut perlu dicermati dengan adanya kemungkinan lender melakukan kompensasi atas penurunan risk premium fee ke dalam interest margin atau biaya lainnya, sehingga biaya efektif pinjaman yang diteruskan kepada debitur tidak berubah. Sebagai konsekuensinya, pada saat negosiasi pinjaman perlu diperhatikan tren perubahan komponen-komponen biaya pinjaman dibandingkan dengan pinjaman-pinjaman sebelumnya, sehingga dapat menjadi dasar negosiasi komponen biaya pinjaman yang lebih wajar.
Adanya penurunan premi risiko yang mengikuti perbaikan tingkat Country Risk Classification Indonesia dari peringkat 4 menjadi peringkat 3 per tanggal 30 Maret 2012, menjadi pendorong dalam menaikkan posisi tawar Pemerintah Indonesia pada negosiasi pinjaman luar negeri. Dengan perbaikan kondisi tersebut dan mengingat premi risiko merupakan salah satu dasar perhitungan
Strictly confidential
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
Strictly confidential
B
b. Memilih suku bunga dan margin yang sifatnya floating
Kondisi pasar keuangan tahun 2011 yang sangat fluktuatif dan cenderung mengalami distress karena krisis utang Eropa berakibat sebagian besar kreditur menaikkan margin suku bunga pinjaman yang berdampak kepada peningkatan refixing swap rate lebih besar dibandingkan peningkatan basis rate-nya.
Memanfaatkan kondisi tersebut dengan mempertimbangkan masih rendahya tingkat bunga floating secara historis, pilihan jenis suku bunga diarahkan pada floating rate. Untuk margin pinjaman, dengan kondisi penyesuaian margin pinjaman yang cukup lambat, dipertimbangkan untuk memilih margin yang sifatnya floating, dengan range antara fixed dan floating margin mendekati 10 bps sebagaimana kondisi sebelum krisis 2008.
Untuk pilihan basis suku bunga diutamakan Libor rate yang disesuaikan dengan denominasi pinjaman, dengan pertimbangan likuiditas di pasar dan kemudahan dalam mencari counterpart transaksi hedging.
c. Memilih mata uang pinjaman yang merupakan hard currency dengan volatilitas rendah
Kondisi pasar keuangan global yang distress, sangat mempengaruhi fluktuasi kurs Rupiah terhadap mata uang lainnya. Untuk mendukung pengendalian risiko nilai tukar, mata uang pinjaman dipilih yang merupakan hard currency dengan volatilitas rendah, seperti USD dan EUR.
Di sisi lain, pinjaman dengan mata uang IDR tetap menjadi prioritas sumber pembiayaan, khususnya dari pinjaman dalam negeri. Penjajakan pinjaman dalam IDR dari kreditur swasta asing perlu dilakukan, dengan tetap mempertimbangkan suku bunga yang kompetitif.
d. Memilih grace period pinjaman yang lebih panjang untuk meminimalkan biaya pinjaman
Memperhatikan peningkatan biaya pinjaman serta kondisi maturity profile portofolio pinjaman saat ini, pemilihan grace period diarahkan pada jangka yang lebih panjang. Hal ini akan mendukung upaya membenahi struktur portofolio pinjaman dan menekan biaya efektif.
Grace period untuk pinjaman jangka panjang, dipilih paling pendek berjangka 4 tahun. Sedangkan untuk pinjaman jangka pendek dipilih yang paling pendek 2 tahun. Kedua hal ini mempertimbangkan bahwa loan matured dalam tahun 2012 hingga 2014 masih cukup rendah dibandingkan tahun setelahnya.
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
e. Mendorong perencanaan pinjaman yang lebih komprehensif untuk mendukung peningkatan daya serap pinjaman
Untuk mengoptimalkan daya serap pinjaman dan menekan biaya efektif pinjaman, perlu diupayakan mendorong perencanaan pinjaman yang lebih matang, khususnya pembuatan feasibility study yang lebih komprehensif.
Pembenahan sisi perencanaan ini, khususnya untuk pinjaman program, juga perlu didukung pihak front office untuk mempercepat proses persiapannya sehingga menurunkan risiko pembiayaan APBN.
Selain itu, perlu dilakukan percepatan tindak lanjut hasil monitoring dan evaluasi dalam rangka pengadaan dan pemanfaatan pinjaman. Dalam upaya mengindari mahalnya biaya pinjaman karena penyerapan yang tidak optimal, pinjaman yang berstatus slow disbursement dalam waktu lama juga perlu dipertimbangkan untuk pembatalannya dengan memperhatikan aspek finansial dan hukum.
1.6. Hal-Hal Lain Terkait Strategi Operasional Pinjaman
Beberapa hal sebagai pendukung pelaksanaan strategi operasional pinjaman
Untuk mendukung strategi operasional di atas, terdapat beberapa hal lain yang terkait sebagaimana diuraikan berikut:
a. Memperkuat implementasi Peraturan Pemerintah 10 tahun 2011
Untuk memperkuat implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 10 tahun 2011 dan tetap mempertimbangkan perkembangan kondisi pasar pinjaman, diperlukan:
i. Persiapan infrastruktur, antara lain peraturan turunan, perbaikan proses bisnis, pengembangan sistem informasi dan basis data, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
ii. Sosialisasi secara internal maupun eksternal Kementerian Keuangan untuk membuat kesamaan pemahaman atas penerapan peraturan
iii. Upaya penyesuaian sistem penganggaran agar dapat dilakukan dalam jangka panjang
iv. Pengkajian berbagai instrumen pembiayaan alternatif sebagai pelengkap (komplementer) ataupun sebagai pengganti (substitusi) instrument pembiayaan yang ada saat ini.
v. Melengkapi dan melakukan penyempurnaan data base lender Kredit Swasta Asing (KSA) untuk mempermudah dalam memilih lender.
Strictly confidential
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
Strictly confidential
12
b. Melakukan evaluasi atas pengadaan Pinjaman Dalam Negeri (PDN)
Agar pemanfaatan PDN, sebagaimana Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2008, dapat lebih efisien, perlu dilakukan:
i. evaluasi dan kajian yang menyeluruh terhadap pelaksanaan pengadaan tersebut yang telah dilakukan dalam 2 (dua) tahun ini.
ii. penyusunan nota kesepahaman antara Kementerian Keuangan dan Kementerian Pertahanan tentang pemanfaatan PDN, dengan beberapa tindakan pendukung, antara lain:
menekankan pemahaman bahwa angka dalam APBN merupakan jumlah PDN yang harus ditarik dan bukan hanya jumlah komitmen pada tahun yang bersangkutan;
memastikan rencana penarikan atas setiap kontrak agar dapat diarahkan untuk di-disburse dalam satu tahun anggaran sehingga meningkatkan efektivitas penggunaan dan menekan biaya pinjaman
melakukan monitoring secara bertahap pasca pengadaan pinjaman terhadap progress pelaksanaan kontrak, sehingga proses pelaksanaan PDN berjalan dengan lebih tepat waktu
melakukan pengaturan kelembagaan dan mempersingkat rantai komunikasi antar unit serta mempertegas tanggung jawab atas tindak lanjut hasil monitoring
c. Mengkaji restrukturisasi pinjaman, khususnya melalui pemanfaatan opsi konversi maupun transaksi lindung nilai
Dalam rangka mencapai portofolio pinjaman yang optimum dapat dilakukan melalui restrukturisasi pinjaman. Restrukturisasi ini khususnya terhadap terms and conditions seperti suku bunga, mata uang maupun tenor pinjaman, yang perlu didukung dengan pemantauan kondisi pasar keuangan secara berkala.
Restrukturisasi dapat dilakukan melalui pemanfaatan opsi konversi dalam perjanjian yang tidak bersifat memberatkan serta adanya benefit yang melebihi biaya restrukturisasi.
Model lain dari restrukturisasi dapat dilakukan dengan memanfaatkan transaksi lindung nilai untuk mengurangi risiko portofolio dalam jangka panjang. Transaksi lindung nilai yang dilakukan merujuk pada ketentuan yang berlaku dengan pendokumentasian yang lengkap dan jelas.
Kementerian Keuangan Republik Indonesia 13
d. Menetapkan metode benchmarking biaya pinjaman yang lebih komprehensif dan mendukung optimalisasi pengambilan keputusan
Dalam kondisi pasar keuangan yang sangat volatile dan distress seperti saat ini, penetapan benchmarking pinjaman perlu dilihat secara lebih komprehensif mempertimbangkan faktor internal dan eksternal yang relevan. Kedua faktor tersebut akan mendukung pemilihan terms and conditions yang lebih wajar dilihat dari kemampuan berutang debitur maupun kemampuan penyaluran dana dari kreditur.
Metode benchmarking yang ditetapkan dan pengolahan data pasar keuangan perlu dipahami oleh pihak front office agar dapat mengambil keputusan dalam negosiasi dengan lebih cepat.
e. Mengkaji dan mempersiapkan instrumen pembiayaan kontinjensi untuk mengantisipasi krisis
Dalam Undang-Undang Nomor 4 tentang APBN-P tahun 2012 diatur ketentuan mengenai pemanfaatan pembiayaan kontinjensi untuk mengantisipasi krisis sebagai berikut:
i. Pasal 41 membuka peluang untuk memanfaatkan pembiayaan kontinjensi dalam mendukung kebijakan ketahanan pangan.
ii. Pasal 43 mengamanatkan apabila terjadi keadaan darurat yang berdampak pada pelaksanaan APBN, Pemerintah dapat mengambil beberapa tindakan, salah satunya mencari alternatif sumber pembiayaan dari kreditur bilateral maupun multilateral dengan memperhatikan fasilitas yang tersedia.
Untuk mendukung hal tersebut, perlu dilakukan koordinasi antar unit terkait yang lebih intensif dalam mengkaji dan menyiapkan desain skema pembiayaan yang lebih efektif serta penentuan trigger pemanfaatan pinjaman kontinjensi khususnya pembiayaan kontijensi untuk mengantisipasi krisis pangan.
Sementara itu, khusus untuk pinjaman kontijensi dalam rangka pembiayaan APBN perlu diperhatikan pemantauan trigger dan prosedur penarikan pinjaman antara development partners.
Strictly confidential
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
2. STRATEGI PEMBIAYAAN UTANG MELALUI SURAT BERHARGA NEGARA TAHUN 2012
2.1. Tujuan
Tujuan umum dari strategi pembiayaan SBN tahun 2012
Strategi pembiayaan utang menggunakan SBN memberikan pedoman dan referensi bagi Pemerintah dalam rangka mencapai target pembiayaan APBN-P menggunakan SBN dan meningkatkan pengelolaan portofolio SBN tahun 2012. Strategi pembiayaan dan pengelolaan SBN meliputi strategi penerbitan dan pengelolaan portofolio melalui pembelian kembali (cash buyback) dan penukaran (debt switch) SBN.
2.2. Ruang Lingkup
Cakupan pengelolaan SBN meliputi SBN tradable-non tradable, SUN - SBSN, dan SBN Rupiah maupun Valas
Ruang lingkup dari strategi pembiayaan dan pengelolaan SBN meliputi penggunaan instrumen SBN untuk pembiayaan APBN-P dan pengelolaan portofolio. Instrumen SBN dalam strategi ini meliputi SBN yang dapat diperdagangkan (tradable) dan tidak diperdagangkan (non tradable), baik konvensional atau sukuk, maupun berdenominasi Rupiah atau Valas. Pengelolaan SBN non tradable yang ditempatkan di Bank Indonesia (Surat Utang kepada BI) tidak termasuk dalam fokus Strategi Pengelolaan Surat Berharga Negara ini mengingat sifatnya yang spesifik dan fleksibel.
2.3. Kondisi Portofolio SBN Periode 2007 - 2011
Kondisi portofolio SBN dalam kurang waktu 5 tahun terakhir.
Strategi pembiayaan dan pengelolaan SBN meliputi kebutuhan penerbitan SBN pada tahun 2012, strategi penerbitan SBN tahun 2012, serta berbagai operasi pengelolaannya yang disusun dengan mempertimbangkan historis portofolio SBN 5 tahun terakhir sebagai bahan pijakan untuk menuju tujuan jangka panjang.
Perkembangan historis portofolio SBN selama 5 tahun dapat dilihat pada Tabel 9. Berdasarkan tabel tersebut, perkembangan portofolio SBN selama 5 tahun terakhir menunjukkan bahwa semakin lengkapnya instrumen yang digunakan yang terbagi ke dalam instrumen konvensional dan syariah. Pada instrumen konvensional (Surat Utang Negara) penggunaan SPN dan obligasi fixed rate semakin mendominasi, sementara untuk obligasi variable rate mulai berkurang. Untuk Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) telah diperkenalkan instrumen antara lain Islamic Fixed rate bond (IFR), SDHI, dan SPN Syariah, serta mulai ditawarkan Project Based Sukuk (PBS).
Selain perkembangan instrumen SBN, indikator risiko portofolio SBN juga menunjukkan tren yang membaik. Hal ini ditandai dengan beberapa parameter dari indikator risiko tersebut mengalami perubahan ke arah yang lebih baik, diantaranya VR proportion dan refixing rate yang menunjukkan tren menurun. Kemudian ATM dan Duration dari portofolio SBN menunjukkan
Strictly confidential
tren yang menurun. Namun untuk porsi SBN valas terhadap total SBN (FX proportion) dalam 5 tahun terakhir mengalami peningkatan sejalan dengan meningkatnya kebutuhan pembiayaan APBN, sementara kapasitas daya serap pasar SBN dalam negeri belum mampu menyerap peningkatan kebutuhan tersebut.
Tabel 9 Komposisi dan Indikator Portofolio SBN 5 Tahun Terakhir
| Indikator | Des-07 | Des-08 | Des-09 | Des-10 | Des-11 | | --- | --- | --- | --- | --- | --- | | Outstanding (Millar Rp) | | | | | | | SUN | 803.059 | 901.795 | 959.129 | 1.020.062 | 1.109.922 | | SPN | 4.169 | 10.012 | 24.700 | 29.795 | 29.900 | | ZC | 10.500 | 11.491 | 8.686 | 2.512 | 2.512 | | FR | 294.453 | 353.558 | 393.543 | 440.396 | 517.142 | | VR | 168.625 | 145.934 | 143.286 | 142.795 | 135.063 | | Intl Bonds | 65.933 | 122.640 | 137.040 | 156.132 | 180.668 | | SU dan SRBI | 259.379 | 258.160 | 251.875 | 248.432 | 244.636 | | SBSN | - | 4.700 | 20.329 | 44.344 | 77.733 | | SPNS | - | - | - | - | 1.320 | | IFR/PBS | - | 4.700 | 11.533 | 25.717 | 37.668 | | Intl Bonds | - | - | 6.110 | 5.844 | 14.962 | | SDHI | - | - | 2.686 | 12.783 | 23.783 | | SBN | 803.059 | 906.495 | 979.458 | 1.064.406 | 1.187.655 | | Indikator Portofolio SBN | | | | | | | Interest Rate Risk | | | | | | | VR proportion | 21,30% | 16,23% | 14,63% | 13,42% | 11,37% | | Refixing Rate | 22,70% | 19,99% | 20,92% | 19,53% | 19,31% | | Exchange Rate Risk | | | | | | | FX Proportion | 8,21% | 13,53% | 14,62% | 15,22% | 16,47% | | Refinancing Risk | | | | | | | ATM (years) | 12,44 | 12,00 | 10,96 | 10,54 | 10,37 | | Mac Duration (years) | 9,17 | 8,98 | 8,17 | 7,94 | 7,85 | | Matured in 1 years | 4,61% | 4,69% | 6,96% | 6,68% | 8,30% | | Matured in 3 years | 13,08% | 14,00% | 18,14% | 19,16% | 21,34% | | Matured in 5 years | 22,32% | 24,41% | 29,35% | 30,80% | 31,04% | | Avg. Ann. Mty in 5y | 4,46% | 4,88% | 5,87% | 6,16% | 6,21% |
2.4. Target SBN yang Ingin Dicapai
Target pelaksanaan strategi pembiayaan melalui SBN
Target pelaksanaan strategi pembiayaan tahun 2012 melalui SBN disusun sebagai berikut:
- Pemenuhan pembiayaan APBN-P melalui penerbitan SBN neto sebesar Rp159,59 triliun, atau secara gross sebesar Rp270,97 triliun. Jumlah penerbitan SBN gross telah memperhitungkan jumlah SBN yang jatuh tempo tahun 2012 sebesar Rp111,37 triliun (termasuk SPN 3 bulan yang diterbitkan pada tahun 2012), serta cash buyback sebesar Rp3,0 triliun.
Strictly confidential
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
- Indikator risiko pengelolaan portofolio SBN diuraikan pada tabel berikut:
Table 10 Target Indikator Risiko Pengelolaan Portofolio SBN Tahun 2012
| Indikator * | Capalan Tahun 2011 | Target Tahun 2012 | | --- | --- | --- | | Interest Rate Risk | | | | VR proportion | 11,37% | 9,24% | | Refixing Rate | 19,31% | 15,91% | | Exchange Rate Risk | | | | FX Proportion | 16,47% | 19,25% | | Refinancing Risk | | | | ATM (years) | 10,37 | 10,71 | | Rata-rata Tahunan yang Jatuh | 6,21% | 5,78% | | Tempo dalam 5 Tahun | | |
Keterangan:
- proporsi terhadap total SBN dengan memperhitungkan SUP dan SDHI.
Dalam kondisi pasar yang kondusif dimana trade off antara biaya dan risiko yang favorable, dimungkinkan untuk mencapai target indikator risiko yang lebih baik dari target ditentukan. Sebagai contoh: ATM akhir tahun 2011 melebihi 10,18 tahun atau FX proportion dibawah 16,56%.
Jika target indikator risiko portofolio SBN tersebut dijabarkan pada setiap intrumen baik SUN maupun SBSN, maka target dari masing-masing instrumen dapat dilihat tabel berikut:
Table 11 Target Indikator Risiko Pengelolaan Portofolio SUN dan SBSN Tahun 2012
| Indikator | SUN* | SBSN** | | --- | --- | --- | | Interest Rate Risk | | | | VR proportion | 10,17% | - | | Refixing Rate | 16,34% | 11,41% | | Exchange Rate Risk | | | | FX Proportion | 19,15% | 20,30% | | Refinancing Risk | | | | ATM (years) | 11,19 | 5,99 | | Rata-rata Tahunan yang Jatuh | 5,32% | 10,36% | | Tempo dalam 5 Tahun | | |
Keterangan: *) proporsi terhadap total SUN dengan memperhitungkan SUP. **) proporsi terhadap total SBSN dengan memperhitungkan SDHI.
Strictly confidential
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
2.5. Strategi Umum Pembiayaan Melalui SBN
Strategi umum pembiayaan melalui SBN
Strategi umum pembiayaan melalui SBN tahun 2012 adalah :
- Mengutamakan penerbitan SBN (SUN dan SBSN) Rupiah di pasar domestik. Berdasarkan strategi tersebut ditetapkan mayoritas penerbitan tahun 2012 dilaksanakan di pasar domestik, sedangkan sisanya diterbitkan di pasar Internasional.
Strategi umum tersebut dipilih dengan maksud sebagai berikut:
- Mendukung pengembangan pasar uang dan pasar modal domestik untuk memperkuat sistem keuangan. Dengan menambah supply SBN di pasar domestik, akan menambah jumlah instrumen yang dapat digunakan sebagai sarana investasi institusi keuangan baik di pasar uang maupun di pasar modal.
- Mendorong terciptanya investment-oriented society. Dengan memprioritaskan penerbitan di pasar domestik akan lebih menunjang pertumbuhan industri reksadana maupun dapat membangun basis investor ritel pasar modal yang horison investasinya lebih bersifat long term.
- Mendukung pengelolaan moneter yang efisien. Dengan tersedianya instrumen SBN yang likuid, akan dapat digunakan sebagai instrumen pengelolaan moneter oleh Bank Indonesia, sehingga mengurangi biaya operasi moneter.
- Mengurangi risiko nilai tukar. Dengan memprioritaskan penerbitan SBN rupiah di pasar domestik dan mengurangi porsi penerbitan SBN valas secara berangsur akan menurunkan risiko nilai tukar portofolio utang Pemerintah.
- Penerbitan SBN valas (global bonds, global sukuk, Samurai bonds) bersifat komplementer terhadap penerbitan SBN Rupiah, untuk:
- Diversifikasi instrumen pembiayaan guna memperluas pasar. Besarnya kebutuhan pembiayaan yang semakin meningkat, perlu ditunjang oleh sebanyak mungkin alternatif sumber pembiayaan. Penerbitan SBN valas ditujukan untuk menyediakan alternatif sumber pembiayaan yang siap digunakan/dioptimalkan.
- Menjaga kehadiran instrumen keuangan Pemerintah di pasar Internasional. Untuk memelihara alternatif sumber pembiayaan dan menjaga eksposure investor terhadap instrumen keuangan Pemerintah diperlukan adanya konsistensi kehadiran SBN valas.
Strictly confidential
- Menghindari “crowding-out” di pasar obligasi domestik. Besarnya target pembiayaan yang harus dilaksanakan pada tahun 2012 belum sepenuhnya dapat diserap oleh pasar domestik, sehingga untuk menghindari kondisi crowding-out di pasar domestik, Pemerintah perlu menerbitkan SBN di pasar internasional.
- Penerbitan SBN memperhitungkan dukungan terhadap implementasi Asset Liability Management bersama BI. Untuk mengurangi beban operasi moneter BI akibat penggunaan SBI sebagai instrumen moneter, Pemerintah menerbitkan SPN sebagai instrumen pasar uang yang dapat digunakan pula sebagai instrumen moneter.
Untuk mengakumulasi kepemilikan SBN oleh BI agar terkumpul jumlah yang memadai, maka akan dilanjutkan partisipasi BI dalam lelang di pasar perdana untuk SPN dan juga melalui program konversi Surat Utang Pemerintah menjadi SBN tradable (sedang dalam pengkajian).
- Mempertahankan kelanjutan program pengembangan pasar SBN untuk meningkatkan kedalaman, likuiditas, dan aktivitas pasar sekunder. Program pengembangan pasar SBN dilakukan melalui peningkatan peran Dealer Utama, menambah likuiditas SBN seri-seri benchmark, mendiversifikasi instrumen-instrumen SBN, dan mengembangkan berbagai mekanisme penerbitan SBN.
2.6. Strategi Operasional Pembiayaan dan Pengelolaan SBN
Strategi operasional yang disiapkan untuk menunjang strategi pembiayaan melalui SBN
Strategi operasional yang disiapkan dalam pelaksanaan strategi pembiayaan dan pengelolaan SBN tahun 2012 sebagai berikut:
Melakukan front loading strategy dalam rangka mengamankan pembiayaan APBN sebagai langkah mitigasi risiko terhadap potensi kondisi pasar yang dapat memburuk secara tiba-tiba akibat ketidakpastian penyelesaian krisis utang di Eropa. Front loading strategy dilakukan secara terukur dengan mempertimbangkan kebutuhan pembiayaan sampai dengan akhir tahun.
Mempertahankan durasi portofolio pada tingkat yang aman. Dengan memperhatikan komposisi indikatif tenor diperkirakan duration akan memanjang sebagaimana tabel berikut:
Table 12 Duration Portfolio SBN Tradable
| Duration (years) | 2011 | 2012* | | --- | --- | --- | | SBN Tradable | 6,10 | 6,98 | | SBN Tradable Domestic | 5,58 | 6,52 |
- proyeksi akhir tahun 2012
Strictly confidential
Apabila terjadi krisis, maka duration dapat disesuaikan/ diturunkan.
- Komposisi indikatif Penerbitan SBN. Untuk mendukung target strategi pembiayaan utang melalui penerbitan SBN, maka perlu dilakukan penyusunan rekomendasi komposisi indikatif penerbitan SBN yang dibagi berdasarkan tenornya dalam persentasi. Rekomendasi komposisi penerbitan SBN dapat dilihat pada tabel berikut:
Table 13 Komposisi Indikatif Penerbitan SBN 2012
| Tenor | SUN | SBSN | SBN | | --- | --- | --- | --- | | VR | 0% | 0% | 0% | | 1 | 17% | 4% | 14% | | 3 | 6% | 24% | 10% | | 5 | 9% | 19% | 11% | | 10 | 16% | 18% | 17% | | 15 | 12% | 6% | 11% | | 20 | 18% | 11% | 17% | | Domestik | 78% | 83% | 79% | | Valas | 22% | 17% | 21% | | Total (miliar rp) | 213.969 | 57.000 | 270.969 |
Keterangan:
- Komposisi tenor di atas untuk penerbitan SBN domestik, sedangkan untuk SBN valas memiliki tenor dikisaran 7 - 20 tahun.
- Total indikatif di atas termasuk penerbitan SPN 3 bulan
Berdasarkan tabel di atas, komposisi tenor untuk penerbitan SBN domestik masing-masing memiliki bucket maturity sebagaimana dijelaskan pada Lampiran 7.
Komposisi penerbitan SBN pada Tabel 13, menunjukkan bahwa Pemerintah lebih mengutamakan penerbitan dalam negeri (domestik) dibandingkan penerbitan valas sebagaimana telah dijelaskan pada bagian strategi umum pembiayaan melalui SBN.
Pergeseran antar kelompok tenor maupun antar instrumen dapat dilakukan, sepanjang tetap memperhatikan dampak terhadap pengelolaan portofolio dan risikonya. Pemerintah akan memonitor dan mengevaluasi strategi setiap 3 (tiga) bulan, dan menyesuaikannya jika diperlukan.
Mengkaji implementasi dan menyiapkan peraturan pelaksanaan yang mendukung penerbitan SBSN untuk membiayai proyek (project financing). Saat ini tengah diupayakan untuk memperluas sumber pembiayaan yang diperuntukkan khusus membiayai suatu kegiatan/proyek.
Mengkaji kemungkinan transaksi buyback/debt switching dalam rangka melakukan portofolio managemen utang yang lebih baik.
Strictly confidential
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
Melakukan Buyback dan Debt Switching terhadap SBN domestik untuk pengelolaan risiko dan stabilisasi pasar. a. Untuk memanfaatkan idle cash di awal tahun, dilakukan early redemption terhadap seri-seri SBN yang akan jatuh tempo pada tahun berjalan, b. Untuk pengelolaan portofolio, dilakukan buyback dan debt switching terhadap seri-seri SBN yang kurang likuid, c. Untuk stabilisasi pasar SBN, dilakukan targeted buyback terhadap seri-seri SBN yang mengalami koreksi harga yang cukup dalam yang berpotensi mengganggu pasar SBN.
Dalam rangka penerapan Asset Liability Management dilakukan upaya berikut:
- Meningkatkan koordinasi dengan pengelolaan kas dalam rangka penerbitan SBN untuk menghindarkan besarnya idle cash.
- Meneruskan pembahasan dengan Bank Indonesia dalam rangka restrukturisasi Surat Utang Pemerintah yang bertujuan meningkatkan pengembangan pasar SBN dan mengurangi biaya moneter.
Menyiapkan strategi alternatif apabila kondisi pasar domestik cenderung memburuk atau terjadi reversal. Apabila pasar SBN domestik mengalami koreksi yang cukup signifikan dan terjadi reversal, alternatif pembiayaan yang dapat diambil adalah sebagai berikut: a. Penggunaan SAL untuk menutupi defisit. b. Menambah porsi penerbitan SBN Valas dengan tetap memperhitungkan yield yang diminta investor. c. Menambah porsi SPN atau menurunkan duration penerbitan. d. Menyiapkan pinjaman kontinjensi.
Mengoperasionalkan Crisis Management Protocol (CMP) dan Bonds Stabilization Framework (BSF). a. Menyiapkan peraturan pendukung CMP dan BSF. b. Meningkatkan koordinasi dengan pihak terkait. c. Menyiapkan kajian CMP nasional.
2.7. Hal-hal Terkait Operasional SBN
Beberapa hal terkait mengenai strategi operasional SBN
1. Metode Penerbitan SBN
Terkait dengan SBN berdenominasi Rupiah, penerbitannya akan dilakukan melalui mekanisme lelang sebagaimana biasanya. Untuk meningkatkan likuiditas SBSN, diupayakan penerbitan
Strictly confidential
mengacu benchmark series. Selain itu, jadwal serta target indikatif pelaksanaan lelang juga akan diumumkan pada awal tahun untuk memberikan transparansi kepada investor. Pemerintah juga tetap membuka kemungkinan melakukan penerbitan dengan metode private placement untuk menutupi kekurangan kas jangka pendek pada awal tahun anggaran.
2. Penerbitan SBN Ritel
Penerbitan SBN ritel diasumsikan secara moderat yaitu sebesar Rp26,6 triliun pada tahun 2012 dengan tenor 3 tahun. Target penerbitan SBN ritel diupayakan semakin meningkat dengan tetap memperhatikan yield premium yang diberikan tidak terlalu jauh dari SBN konvensional (SBN dengan tenor yang sama).
3. Penerbitan SBN Valas
Target indikatif penerbitan SBN valas adalah sebesar ekuivalen USD6,0 miliar. Penerbitan tersebut terdiri dari penerbitan melalui GMTN program, Samurai Bond, dan Sukuk Valas. Pemerintah memandang target tersebut cukup feasible dengan mempertimbangkan daya serap pasar internasional serta risiko nilai tukar. Selain untuk memenuhi pembiayaan APBN, penerbitan SBN valas juga dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pembayaran kewajiban dalam valas serta memperkuat cadangan devisa.
4. Buyback dan Debt Switching
Dalam rangka mengurangi risiko dalam pengelolaan utang terutama refinancing risk, Pemerintah mengupayakan dilakukan transaksi cash buyback dan debt switching. Target utama SBN yang akan ditarik ialah yang akan jatuh tempo tahun 2012 hingga 2014, serta merupakan seri-seri yang kurang likuid. Transaksi cash buyback dapat pula dilakukan dalam rangka stabilisasi pasar SBN. Anggaran pembelian kembali direncanakan sebesar Rp3,0 triliun, namun dengan memperhatikan konsep neto, target ini dapat meningkat atau menurun, disesuaikan dengan kondisi. Transaksi cash buyback dan debt switching ini dapat dilakukan melalui lelang maupun transaksi langsung melalui dealing room.
5. Mengkaji penggunaan instrumen lindung nilai/hedging dalam mitigasi risiko
Dalam rangka mengelola risiko akibat volatilitas faktor-faktor di pasar keuangan, meningkatkan kepastian besarnya kewajiban utang, serta mewujudkan struktur portofolio utang yang optimal dengan biaya minimum pada tingkat risiko yang terkendali,
Strictly confidential
Kementerian Keuangan Republik Indonesia Strictly confidential B 22
Pemerintah melakukan pengkajian penggunaan instrumen lindung nilai/hedging dalam pengelolaan utang. Strategi implementasi hedging meliputi penyiapan peraturan yang mendasari transaksi hedging oleh Pemerintah, penyusunan kebijakan pelaksanaan hedging, metodologi dokumentasi, serta melakukan koordinasi dengan pihak terkait.
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
LAMPIRAN
Strictly confidential 25
LAMPIRAN 1:
| APBN-P 2012 (dalam miliar rupiah) | | | | | | | --- | --- | --- | --- | --- | --- | | | APBN | RAPBN-P | Kesepakatan Banggar | Selisih thd RAPBN-P | Rupiah | | A. PENDAPATAN NEGARA DAN HIBAH | | | | | | | I. PENERIMAAN DALAM NEGERI | 1.311.386,7 | 1.344.476,8 | 1.358.205,0 | 13.728,3 | 1.358.205.043.200.000 | | 1. Penerimaan Perpajakan | 1.310.561,6 | 1.343.651,7 | 1.357.380,0 | 13.728,3 | 1.357.379.951.614.000 | | Tax Ratio (% thd PDB) | 12,72 | 11,64 | 11,50 | 0,05 | 11,90 | | a. Pajak Dalam Negeri | 989.636,5 | 963.793,8 | 968.203,2 | 4.499,4 | 968.203.241.511.000 | | 1) Pajak Penghasilan | 519.984,7 | 510.329,7 | 513.650,2 | 3.320,5 | 513.650.100.000.000 | | - PPh Non-Migas | 459.048,2 | 445.733,4 | 445.733,4 | 0,0 | 445.733.430.000.000 | | - PPh Migas | 60.915,5 | 64.596,3 | 67.916,7 | 3.320,5 | 67.916.730.000.000 | | 2) Pajak pertambahan nilai | 352.949,9 | 335.248,9 | 336.057,0 | 808,0 | 336.056.979.511.000 | | 3) Pajak bumi dan bangunan | 35.646,9 | 29.687,5 | 29.687,5 | 0,0 | 29.687.507.000.000 | | 4) BPHTB | 0,0 | 0,0 | 0,0 | 0,0 | 0,0 | | 5) Cukai | 75.443,1 | 83.265,6 | 83.266,6 | 0,0 | 83.266.625.000.000 | | 6) Pajak lainnya | 5.632,0 | 5.261,1 | 5.632,0 | 370,9 | 5.631.970.000.000 | | b. Pajak Perdagangan Internasional | 42.933,6 | 47.944,1 | 47.944,1 | 0,0 | 47.944.100.000.000 | | 1) Bea masuk | 23.734,5 | 24.737,9 | 24.737,9 | 0,0 | 24.737.900.000.000 | | 2) Bea Keluar | 19.199,0 | 23.206,2 | 23.206,2 | 0,0 | 23.206.200.000.000 | | 2. Penerimaan Negara Bukan Pajak | 277.991,4 | 331.913,8 | 341.142,6 | 9.228,9 | 341.142.610.103.000 | | a. Penerimaan SDA | 177.263,4 | 208.456,4 | 217.158,9 | 8.702,4 | 217.158.876.693.000 | | 1) SDA Migas | 159.471,9 | 189.698,6 | 198.311,1 | 8.702,4 | 198.311.060.000.000 | | 2) Non Migas | 17.791,5 | 18.847,8 | 18.847,8 | 0,0 | 18.847.816.693.000 | | b. Bagian Laba BUMN | 28.001,3 | 30.775,4 | 30.776,3 | 0,9 | 30.776.336.250.000 | | c. PNBP Lainnya | 53.492,3 | 72.273,9 | 72.799,4 | 525,5 | 72.799.374.473.000 | | d. Pendapatan BLU | 19.234,4 | 20.408,0 | 20.408,0 | 0,0 | 20.408.022.687.000 | | II. PENERIMAAN HIBAH | 825,1 | 825,1 | 825,1 | 0,0 | 825.091.586.000 | | B. BELANJA NEGARA | | | | | | | I. BELANJA PEMERINTAH PUSAT | 1.435.406,7 | 1.504.582,1 | 1.548.310,4 | 13.728,3 | 1.548.310.378.180.000 | | Belanja K/L | 508.359,6 | 535.087,6 | 547.925,5 | 12.837,9 | 547.925.546.116.000 | | Belanja Non K/L | 456.637,7 | 523.230,6 | 521.608,9 | (1.621,9) | 521.608.898.831.000 | | 1. Belanja Pegawai | 215.862,4 | 212.242,8 | 212.255,1 | 12,3 | 212.255.054.654.600 | | 2. Belanja Barang | 188.001,7 | 186.555,9 | 186.582,7 | 26,7 | 186.582.673.902.700 | | 3. Belanja Modal | 151.975,0 | 168.875,2 | 168.871,2 | (204,0) | 168.871.205.331.300 | | 4. Pembayaran Bunga Utang | 122.217,6 | 117.795,4 | 117.785,4 | 0,0 | 117.785.423.800.000 | | a. Utang Dalam Negeri | 88.503,3 | 84.749,3 | 84.749,3 | 0,0 | 84.749.300.000.000 | | b. Utang Luar Negeri | 33.714,3 | 33.036,1 | 33.036,1 | 0,0 | 33.036.123.800.000 | | 5. Subsidi | 208.856,2 | 273.155,6 | 245.076,3 | (28.079,3) | 245.076.318.862.000 | | a. Subsidi Energi | 168.558,9 | 230.432,5 | 202.353,2 | (28.079,3) | 202.353.245.300.000 | | - BBM, LPG & BBN | 123.599,7 | 137.379,8 | 137.379,8 | 0,0 | 137.379.845.300.000 | | Listrik | 44.960,2 | 93.052,7 | 64.973,4 | (28.079,3) | 64.973.400.000.000 | | b. Subsidi Non Energi | 40.296,3 | 42.723,1 | 42.723,1 | (0,0) | 42.723.073.562.000 | | 6. Belanja Hibah | 1.796,7 | 1.790,0 | 1.790,0 | 0,0 | 1.790.036.805.000 | | 7. Bantuan Sosial | 47.762,8 | 35.377,5 | 55.377,5 | 0,0 | 55.377.526.939.000 | | 8. Belanja Lain-Lain | 28.529,7 | 42.535,0 | 65.535,0 | 23.000,0 | 65.535.045.391.400 | | a.) Cadangan Risiko Energi | 0,0 | 0,0 | 23.000,0 | 23.000,0 | 23.000.000.000.000 | | 9. Tambahan Anggaran | | | 16.460,3 | 16.460,3 | 16.460.260.761.000 | | K/L | | | 13.460,3 | 0,0 | 13.460.260.761.000 | | a. Non Pendidikan | | | 10.747,6 | 10.747,6 | 10.747.606.028.000 | | b. Pendidikan | | | 2.712,7 | 2.712,7 | 2.712.654.733.000 | | Non K/L | | | 3.000,0 | 3.000,0 | 3.000.000.000.000 | | II. TRANSFER KE DAERAH | 470.409,5 | 476.263,7 | 478.775,0 | 2.512,3 | 478.775.033.233.000 | | 1. Dana Perimbangan | 399.985,6 | 405.839,8 | 408.352,1 | 2.512,3 | 408.352.055.705.000 | | a. Dana Bagi Hasil | 100.055,2 | 105.909,4 | 108.421,7 | 2.512,3 | 108.421.669.502.000 | | b. Dana Alokasi Umum | 273.814,4 | 273.814,4 | 273.814,4 | 0,0 | 273.814.438.203.000 | | c. Dana Alokasi Khusus | 26.115,9 | 26.115,9 | 26.115,9 | 0,0 | 26.115.948.000.000 | | 2. Dana Otonomi Khusus dan Penyesuaian | 70.423,9 | 70.423,9 | 70.423,9 | 0,0 | 70.423.877.528.000 | | a. Dana Otonomi Khusus | 11.952,6 | 11.952,6 | 11.952,6 | 0,0 | 11.952.577.528.000 | | b. Dana Penyesuaian | 58.471,3 | 58.471,3 | 58.471,3 | 0,0 | 58.471.300.000.000 | | Total Anggaran Pendidikan | 285.957,8 | 308.091,8 | 310.847,9 | 2.756,2 | 310.847.948.510.000 | | % Thd Belanja Negara | 20,2 | 20,1 | 20,1 | (0,0) | 20,1 | | C. KESEIMBANGAN PRIMER | | | | | | | D. SURPLUS (DEFISIT) ANGGARAN (A - B) | (1.802,4) | (72.319,9) | (72.319,9) | 0,0 | (72.319.911.180.000) | | % Terhadap PDB | (124.929,0) | (190.105,3) | (190.105,3) | 0,0 | (190.105.334.989.000) | | E. PEMBIAYAAN (I + II) | 125.912,3 | 194.531,0 | 194.531,0 | 0,0 | 194.531.004.181.000 | | 1. Perbankan dalam negeri | 8.947,9 | 60.501,6 | 60.501,6 | 0,0 | 60.501.822.881.000 | | a.) SAL | 5.056,8 | 56.173,7 | 56.173,7 | 0,0 | 56.173.747.225.000 | | 2. Non-perbankan dalam negeri | 116.965,3 | 133.969,4 | 133.969,4 | 0,0 | 133.969.381.380.000 | | a.) Surat Bernarga Negara (neto) | 134.306,7 | 159.596,7 | 159.596,7 | 0,0 | 159.596.700.000.000 | | Dana Pengembangan Pendidikan Nasional | (1.000,0) | (7.000,0) | (7.000,0) | 0,0 | (7.000.000.000.000) | | II. PEMBIAYAAN LUAR NEGERI (neto) | (1.892,3) | (4.425,7) | (4.425,7) | 0,0 | (4.425.660.201.000) | | 1. Penarikan Pinjaman LN (bruto) | 54.282,4 | 53.731,1 | 53.731,1 | 0,0 | 53.731.053.828.000 | | a. Pinjaman Program | 15.257,1 | 15.603,9 | 15.603,9 | 0,0 | 15.603.899.524.000 | | b. Pinjaman Proyek Bruto | 36.625,3 | 38.127,2 | 38.127,2 | 0,0 | 38.127.154.304.000 | | 2. Penerusan Pinjaman (SLA) | (8.914,6) | (8.431,8) | (8.431,8) | 0,0 | (8.431.823.029.000) | | 3. Pembayaran Cicilan Pokok Utang LN | (47.350,1) | (49.724,9) | (49.724,9) | 0,0 | (49.724.900.000.000) | | KELEBIHAN(KEKURANGAN) PEMBIAYAAN | 6,6 | (0,0) | (0,0) | 0,0 | (0) | | a. Produk Domestik Bruto - IHK (miliar Rp) | 8.119.780,5 | 8.542.634,4 | 8.542.634,4 | | | | b. Pertumbuhan ekonomi (%) | 6,7 | 6,5 | 6,5 | | | | c. Inflasi (%) y-o-y | 5,3 | 7,0 | 6,8 | | | | d. Tkt bunga SPN 3 bulan (%) | 6,00 | 5,86 | 5,00 | | | | e. Nilai luker (Rb/US$1) | 8,800 | 9,000 | 9,000 | | | | f. Harga minyak (US$/berat) | 90,0 | 105,0 | 105,0 | | | | g. Lifting (Rbu barelihari) | 650 | 930 | 930 | | |
Strictly confidential
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
LAMPIRAN 2:
Outstanding Pinjaman Berdasarkan Regional
Per 31 Mei 2012
| Regional Type | Outs in Original Curr | Outs in USD | | --- | --- | --- | | A D B | 99.257.483.836 | 10.352.504.215 | | BRUNEI DARUSSALAM | 33.369.142 | 33.369.142 | | CANADA | 262.551.550 | 258.431.589 | | CHINA | 2.068.408.042 | 759.224.927 | | COMMONWEALTH OF AUSTRALIA | 787.257.373 | 805.193.954 | | E I B | 65.842.341 | 65.842.341 | | GERMANY FED.REP. | 1.753.713.380 | 2.121.534.071 | | I B R D | 9.947.866.266 | 9.871.273.168 | | I D A | 1.587.327.125 | 2.226.134.877 | | I D B | 308.533.370 | 457.685.052 | | I F A D | 84.569.256 | 127.833.173 | | JAPAN | 2.385.832.126.848 | 30.281.114.616 | | KINGDOM OF BELGIUM | 134.198.581 | 165.943.656 | | KINGDOM OF DENMARK | 93.830.447 | 57.337.126 | | KINGDOM OF NETHERLANDS | 982.573.365 | 1.207.952.011 | | KINGDOM OF NORWAY | 74.144.251 | 74.144.251 | | KINGDOM OF SAUDI ARABIA | 136.349.067 | 29.157.446 | | KINGDOM OF SPAIN | 434.060.322 | 455.865.746 | | KINGDOM OF SWEDEN | 25.176.586 | 25.176.586 | | KOREA, REPUBLIC OF | 196.508.004.804 | 503.484.983 | | KUWAIT | 10.147.400 | 36.112.178 | | MALAYSIA | 6.871.358 | 6.871.358 | | N I B | 33.380.170 | 38.480.270 | | REGION OF THE PEOPLE'S REPUBLIC OF CHINA | 4.065.248 | 2.945.248 | | REPUBLIC OF AUSTRIA | 793.930.759 | 982.172.032 | | REPUBLIC OF FINLAND | 6.032.586 | 6.747.473 | | REPUBLIC OF FRANCE | 2.249.646.990 | 2.517.571.631 | | REPUBLIC OF HUNGARY | 3.721.902 | 3.721.902 | | REPUBLIC OF INDONESIA | 1.413.320.936.943 | 120.228.557 | | REPUBLIC OF ITALY | 25.347.980 | 25.970.665 | | REPUBLIC OF POLAND | 77.048.999 | 77.048.999 | | REPUBLIC OF SOUTH AFRICA | 5.630.401 | 5.630.401 | | RUSSIAN FEDERATION | 145.057.545 | 140.035.000 | | SINGAPORE | 309.443.485 | 282.711.349 | | SWITZERLAND | 270.603.027 | 278.699.758 | | TAIWAN, PROVINCE OF CHINA | 5.663.276 | 5.663.276 | | UNITED KINGDOM OF GREAT BRITAIN AND NORTH.IRELAND | 564.073.740 | 787.517.792 | | UNITED STATES OF AMERICA | 1.700.864.763 | 1.700.864.763 | | Grand Total | | 66.898.195.583 |
Strictly confidential
LAMPIRAN 3:
Outstanding Pinjaman Berdasarkan Lender
Per 31 Mei 2012
| Lamijar | Duke kr USD | | --- | --- | | A D B | 10.352.504.215 | | ADB-OF | 9.058.910.139 | | ADB-SF | 1.293.594.076 | | BRUNEI DARUSSALAM | 33.369.142 | | BRUNEI INVEST. BANK | 33.369.142 | | CANADA | 258.431.589 | | CIDA | 140.383.076 | | EDC | 118.048.514 | | CHINA | 759.224.927 | | BANK OF COMMUNICATIO | 38.240.822 | | CHINA CITIC BANK | 20.326.176 | | EKIM BANK OF CHINA | 700.657.929 | | COMMONWEALTH OF AUSTRALIA | 805.193.954 | | AUSTRALIA | 341.079.474 | | EFIC | 464.114.480 | | E I B | 65.842.341 | | EIB | 65.842.341 | | GERMANY FED.REP. | 2.121.534.071 | | IKB DEUTSCHE | 2.107.900 | | KFW | 2.119.426.172 | | I B R D | 9.871.273.168 | | IBRD | 9.871.273.168 | | I D A | 2.226.134.877 | | IDA | 2.226.134.877 | | I D B | 457.685.052 | | IDB | 457.685.052 | | IF A D | 127.833.173 | | IFAD | 127.833.173 | | JAPAN | 30.281.114.616 | | DEUTSCHE BANK TOKYO | 10.612.387 | | JAICAF | 211.409.537 | | JBIC | 2.770.196.142 | | JICA | 26.680.726.199 | | MAFF, JAPAN | 159.457.406 | | METI, GOV. OF JAPAN | 402.843.564 | | SUMITOMO CORPORATION | 45.869.381 | | PT BNI TOKYO BRANCH | - | | KINGDOM OF BELGIUM | 165.943.656 | | BELGIUM | 72.626.647 | | COMMERZBANK AG. | 2.347.528 | | FORTIS BANK, BRUSSEL | 9.005.138 | | ONDO | 81.964.344 | | KINGDOM OF DENMARK | 57.337.126 | | DENMARK | 7.698.323 | | EKF | 41.303.882 | | FIH | 1.335.000 | | NORDEA BANK DANMARK | 6.999.921 | | KINGDOM OF NETHERLANDS | 1.207.952.011 | | ABN AMRO ROTTERDAM | 49.917.705 | | ATRADIUS DSB | 180.189.002 | | GE ARTESIA BANK | 3.870.156 | | ING BANK AMSTERDAM | 518.155.230 | | N I O | 359.368.048 | | RBS N.V. AMSTERDAM | 96.451.870 | | Lamijar | Duke kr USD | | --- | --- | | KINGDOM OF NORWAY | 74.144.251 | | EKSPORTFINANS ASA | 64.074.325 | | GIEK | 10.069.926 | | KINGDOM OF SAUDI ARABIA | 29.157.446 | | SFE | 29.157.446 | | KINGDOM OF SPAIN | 455.865.746 | | BANCO DE SABADELL | 8.226.567 | | BANKIA, S.A SPAIN | 7.913.449 | | BBVA | 7.222.936 | | BNP PARIBAS, SPAIN | 4.003.339 | | CESCE, SPAIN | 57.443.564 | | DEUTSCHE BANK MADRID | 17.676.386 | | ICC | 353.379.504 | | KINGDOM OF SWEDEN | 25.176.586 | | EKN | 25.176.586 | | KOREA, REPUBLIC OF | 503.484.983 | | BNP PARIBAS, SEOUL | 16.778.821 | | EKIM BANK KOREA | 478.474.349 | | WOONI BANK | 8.231.813 | | KUWAIT | 36.112.178 | | KFAEO | 36.112.178 | | MALAYSIA | 6.871.358 | | EKIM-BANK MALAYSIA | 6.871.358 | | N I B | 38.480.270 | | NIB | 38.480.270 | | REGION OF THE PEOPLE'S REPUBLIC OF CHINA | 2.945.248 | | PT. BNI-HONG KONG | 2.945.248 | | REPUBLIC OF AUSTRIA | 982.172.032 | | B A W A G | 48.040.062 | | ERSTE BANK, VIENNA | 19.125.521 | | OEKB | 165.137.905 | | RAIFFEISEN BANK INTL | 37.836.221 | | UNICREDIT BANK AUSTR | 712.032.323 | | REPUBLIC OF FINLAND | 6.747.473 | | FINLAND | 5.383.843 | | SAMPO BANK PLC | 1.363.630 | | REPUBLIC OF FRANCE | 2.517.571.631 | | AFD | 836.731.886 | | BANQUE DE FRANCE | 254.859.550 | | BNP PARIBAS, PARIS | 236.954.571 | | CIC PARIS | 18.333.872 | | COFACE | 435.265.824 | | CREDIT AGRICOLE CIB | 4.535.016 | | FORTIS BANK SA/NV | 29.499.487 | | HSBC FRANCE | - | | NATIXIS BANQUE | 701.391.424 | | REPUBLIC OF HUNGARY | 3.721.902 | | M K B | 3.721.902 | | REPUBLIC OF INDONESIA | 120.228.557 | | BANK MANDIRI | 16.852.458 | | PT. BNI (PERSERO) | 62.656.027 | | PT. BRI (PERSERO) | 40.720.072 | | Lamijar | Duke kr USD | | --- | --- | | REPUBLIC OF ITALY | 25.970.665 | | ARTIGIANCASSA ITALY | 4.718.629 | | ITALY | 10.170.067 | | SACE | 11.081.969 | | REPUBLIC OF POLAND | 77.048.999 | | GOSPORSTWA | 77.048.999 | | REPUBLIC OF SOUTH AFRICA | 5.630.401 | | IDC | 5.630.401 | | RUSSIAN FEDERATION | 140.035.000 | | RUSIA FED. | 140.035.000 | | SINGAPORE | 282.711.349 | | ANZ SINGAPORE BRANCH | 16.306.728 | | CREDIT AGRICOLE | 33.286.553 | | DBS BANK LIM SINGAPO | 3.107.812 | | DRESDNER SINGAPORE | 2.057.030 | | FERCO A. PTE.LTD. | 4.434.006 | | FORTIS BANK SING. | 26.862.988 | | NATIXIS SINGAPORE | 126.650.000 | | NORD LB SINGAPORE | 10.774.359 | | PT. BNI-SINGAPORE | 59.231.874 | | SWITZERLAND | 278.699.758 | | CREDIT SUISSE | 12.883.696 | | SERV | 242.471.185 | | SWISS | 23.344.877 | | TAIWAN, PROVINCE OF CHINA | 5.663.276 | | EKIM BANK TAIPEI | 5.663.276 | | UNITED KINGDOM OF GREAT BRITAIN AND NORTH.IRELAND | 787.517.992 | | ANZ | 4.430.852 | | BARCLAYS BANK | 1.922.569 | | BNP PARIBAS, LONDON | 19.234.915 | | CDC | 15.101.015 | | CITIBANK | 11.374.047 | | DEUTSCHE BANK LONDON | 897.902 | | ECGD | 636.956.668 | | HSBC LONDON | 80.212.410 | | LLOYDS BANK | 2.783.237 | | WEST LB, LONDON | 14.604.177 | | UNITED STATES OF AMERICA | 1.700.864.763 | | BANK LEUMI USA | 2.974.137 | | BANK NEW YORK | 33.838.519 | | BNP PARIBAS NEW YORK | 7.003.841 | | BRI-CAYMAN ISLAND | 77.699.396 | | DFAS | 8.792.535 | | OPIC | 100.878.778 | | US DEP TREASURY | 39.582.259 | | US EKIM | 589.773.611 | | USAID | 486.101.516 | | USDA | 354.220.171 | | Grand Total | 66.898.195.583 |
Strictly confidential
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
LAMPIRAN 4:
Outstanding Pinjaman Berdasarkan Jenis Mata Uang (Currency)
per 31 Mei 2012
| Currency | Outs in Original Curr | Outs in USD | Kurs USD/Curr | Outs in IDR | Kurs USD/IDR | | --- | --- | --- | --- | --- | --- | | ACU | 302.785.918 | 457.685.052 | 0,66 | 4.377.757.524.469 | 14.458,26 | | ADB | 120.211.429 | 120.211.429 | 1,00 | 1.149.822.317.715 | 9.565,00 | | AUD | 351.410.729 | 341.079.474 | 1,03 | 3.262.425.168.837 | 9.283,80 | | CAD | 144.503.036 | 140.383.076 | 1,03 | 1.342.764.118.065 | 9.292,29 | | CHF | 270.603.027 | 278.699.758 | 0,97 | 2.665.763.188.045 | 9.851,20 | | CNY | 1.550.083.480 | 244.666.052 | 6,34 | 2.340.230.783.105 | 1.509,75 | | DKK | 46.250.332 | 7.698.323 | 6,01 | 73.634.460.459 | 1.592,09 | | EUR | 4.855.458.505 | 6.006.689.493 | 0,81 | 57.453.985.002.814 | 11.832,87 | | GBP | 408.004.993 | 631.449.044 | 0,65 | 6.039.810.109.495 | 14.803,28 | | JPY | 2.465.703.038.807 | 31.298.832.667 | 79 | 299.373.334.456.752 | 121,42 | | KRW | 196.155.512.690 | 166.214.368 | 1.180,14 | 1.589.840.430.352 | 8,11 | | KWD | 10.147.400 | 36.112.178 | 0,28 | 345.412.980.271 | 34.039,56 | | SAR | 109.349.067 | 29.157.446 | 3,75 | 278.890.967.146 | 2.550,47 | | SDR | 2.199.024.489 | 3.324.000.816 | 0,66 | 31.794.067.808.850 | 14.458,26 | | USD | 23.380.129.359 | 23.380.129.359 | 1,00 | 223.630.937.320.250 | 9.565,00 | | WBD | 314.958.492 | 314.958.492 | 1,00 | 3.012.577.975.024 | 9.565,00 | | IDR | 1.149.986.143.799 | 120.228.557 | 9.565,00 | 1.149.986.143.799 | 1,00 | | TOTAL | | 66.898.195.583 | | 639.881.240.755.449 | |
Strictly confidential
LAMPIRAN 5:
OUTSTANDING GOVERNMENT SECURITIES
As of June 21, 2012
| No | Series | First Issued Date | Maturity Date | Next Coupon Date | Coupon | Face Value | | --- | --- | --- | --- | --- | --- | --- | | I. TRADABLE SECURITIES | | | | | | | | A. GOVERNMENT DEBT SECURITIES | | | | | | | | 1. Rupiah Denominated | | | | | | | | a. Zero Coupon | | | | | | | | 1 | SPN20120706 | 7-Jul-11 | 6-Jul-12 | - | - | Rp 2,200,000,000,000.00 | | 2 | SPN12120818 | 19-Aug-11 | 18-Aug-12 | - | - | Rp 1,800,000,000,000.00 | | 3 | SPN12120914 | 15-Sep-11 | 14-Sep-12 | - | - | Rp 2,050,000,000,000.00 | | 4 | SPN12121005 | 6-Oct-11 | 5-Oct-12 | - | - | Rp 4,100,000,000,000.00 | | 5 | SPN12121102 | 3-Nov-11 | 2-Nov-12 | - | - | Rp 4,350,000,000,000.00 | | 6 | SPN12130111 | 12-Jan-12 | 11-Jan-13 | - | - | Rp 3,350,000,000,000.00 | | 7 | SPN12130208 | 9-Feb-12 | 8-Feb-13 | - | - | Rp 1,750,000,000,000.00 | | 8 | SPN12130307 | 8-Mar-12 | 7-Mar-13 | - | - | Rp 2,100,000,000,000.00 | | 9 | SPN12130404 | 5-Apr-12 | 4-Apr-13 | - | - | Rp 2,900,000,000,000.00 | | 10 | SPN03120718 | 19-Apr-12 | 18-Jul-12 | - | - | Rp 300,000,000,000.00 | | 11 | SPN12130502 | 4-May-12 | 2-May-13 | - | - | Rp 900,000,000,000.00 | | 12 | SPN12130606 | 7-Jun-12 | 6-Jun-13 | - | - | Rp 1,880,000,000,000.00 | | 13 | SPN03120920 | 21-Jun-12 | 20-Sep-12 | - | - | Rp 500,000,000,000.00 | | 14 | ZC0003 | 22-Nov-07 | 20-Nov-12 | - | - | Rp 1,249,000,000,000.00 | | 15 | ZC0005 | 31-Jan-08 | 20-Feb-13 | - | - | Rp 1,263,000,000,000.00 | | Total Zero Coupon | | | | | | Rp 30,692,000,000,000.00 | | b. Fixed Coupon | | | | | | | | 1 | FR0018 | 20-Nov-02 | 15-Jul-12 | 15-Jul-12 | 13.17500% | Rp 5,430,062,000,000.00 | | 2 | FR0019 | 20-Nov-02 | 15-Jun-13 | 15-Dec-12 | 14.25000% | Rp 11,456,341,000,000.00 | | 3 | FR0020 | 20-Nov-02 | 15-Dec-13 | 15-Dec-12 | 14.27500% | Rp 10,007,751,000,000.00 | | 4 | FR0023 | 11-Sep-03 | 15-Dec-12 | 15-Dec-12 | 11.00000% | Rp 14,622,143,000,000.00 | | 5 | FR0026 | 26-Aug-04 | 15-Oct-14 | 15-Oct-12 | 11.00000% | Rp 13,354,479,000,000.00 | | 6 | FR0027 | 27-Jan-05 | 15-Jun-15 | 15-Dec-12 | 9.50000% | Rp 19,550,000,000,000.00 | | 7 | FR0028 | 24-Feb-05 | 15-Jul-17 | 15-Jul-12 | 10.00000% | Rp 14,221,766,000,000.00 | | 8 | FR0030 | 19-May-05 | 15-May-16 | 15-Nov-12 | 10.75000% | Rp 10,657,000,000,000.00 | | 9 | FR0031 | 16-Jun-05 | 15-Nov-20 | 15-Nov-12 | 11.00000% | Rp 17,899,000,000,000.00 | | 10 | FR0032 | 1-Sep-05 | 15-Jul-18 | 15-Jul-12 | 15.00000% | Rp 1,434,000,000,000.00 | | 11 | FR0033 | 26-Jan-06 | 15-Mar-13 | 15-Sep-12 | 12.50000% | Rp 9,397,474,000,000.00 | | 12 | FR0034 | 26-Jan-06 | 15-Jun-21 | 15-Dec-12 | 12.80000% | Rp 16,756,400,000,000.00 | | 13 | FR0035 | 16-Feb-06 | 15-Jun-22 | 15-Dec-12 | 12.90000% | Rp 11,023,750,000,000.00 | | 14 | FR0036 | 20-Apr-06 | 15-Sep-19 | 15-Sep-12 | 11.50000% | Rp 10,735,500,000,000.00 | | 15 | FR0037 | 18-May-06 | 15-Sep-26 | 15-Sep-12 | 12.00000% | Rp 2,450,000,000,000.00 | | 16 | FR0038 | 24-Aug-06 | 15-Aug-18 | 15-Aug-12 | 11.60000% | Rp 2,920,757,000,000.00 | | 17 | FR0039 | 24-Aug-06 | 15-Aug-23 | 15-Aug-12 | 11.75000% | Rp 4,175,000,000,000.00 | | 18 | FR0040 | 21-Sep-06 | 15-Sep-25 | 15-Sep-12 | 11.00000% | Rp 26,474,000,000,000.00 | | 19 | FR0042 | 25-Jan-07 | 15-Jul-27 | 15-Jul-12 | 10.25000% | Rp 14,774,100,000,000.00 | | 20 | FR0043 | 22-Feb-07 | 15-Jul-22 | 15-Jul-12 | 10.25000% | Rp 14,417,000,000,000.00 | | 21 | FR0044 | 19-Apr-07 | 15-Sep-24 | 15-Sep-12 | 10.00000% | Rp 18,014,000,000,000.00 | | 22 | FR0045 | 24-May-07 | 15-May-37 | 15-Nov-12 | 9.75000% | Rp 6,400,000,000,000.00 | | 23 | FR0046 | 19-Jun-07 | 15-Jul-23 | 15-Jul-12 | 9.50000% | Rp 16,855,000,000,000.00 | | 24 | FR0047 | 30-Aug-07 | 15-Feb-28 | 15-Aug-12 | 10.00000% | Rp 20,840,000,000,000.00 | | 25 | FR0048 | 27-Sep-07 | 15-Sep-16 | 15-Sep-12 | 9.00000% | Rp 5,675,970,000,000.00 | | 26 | FR0049 | 14-Feb-08 | 15-Sep-13 | 15-Sep-12 | 9.00000% | Rp 4,786,607,000,000.00 | | 27 | FR0050 | 24-Jan-08 | 15-Jul-36 | 15-Jul-12 | 10.50000% | Rp 15,686,000,000,000.00 | | 28 | FR0051 | 15-Jan-09 | 15-May-14 | 15-Nov-12 | 11.25000% | Rp 2,334,123,000,000.00 | | 29 | FR0052 | 20-Aug-09 | 15-Aug-30 | 15-Aug-12 | 10.50000% | Rp 23,500,000,000,000.00 | | 30 | FR0053 | 8-Jul-10 | 15-Jul-21 | 15-Jul-12 | 8.25000% | Rp 19,123,793,000,000.00 | | 31 | FR0054 | 22-Jul-10 | 15-Jul-31 | 15-Jul-12 | 9.50000% | Rp 27,096,000,000,000.00 | | 32 | FR0055 | 23-Sep-10 | 15-Sep-16 | 15-Sep-12 | 7.37500% | Rp 15,400,000,000,000.00 | | 33 | FR0056 | 23-Sep-10 | 15-Sep-26 | 15-Sep-12 | 8.37500% | Rp 17,164,000,000,000.00 | | 34 | FR0057 | 21-Apr-11 | 15-May-41 | 15-Nov-12 | 9.50000% | Rp 13,550,000,000,000.00 | | 35 | FR0058 | 21-Jul-11 | 15-Jun-32 | 15-Dec-12 | 8.25000% | Rp 32,120,000,000,000.00 | | 36 | FR0059 | 15-Sep-11 | 15-May-27 | 15-Nov-12 | 7.00000% | Rp 24,730,000,000,000.00 | | 37 | FR0060 | 6-Oct-11 | 15-Apr-17 | 15-Oct-12 | 6.25000% | Rp 9,050,000,000,000.00 | | 38 | FR0061 | 6-Oct-11 | 15-May-22 | 15-Nov-12 | 7.00000% | Rp 26,400,000,000,000.00 | | 39 | FR0062 | 9-Feb-12 | 15-Apr-42 | 15-Oct-12 | 6.37500% | Rp 10,250,000,000,000.00 | | 40 | OR0005 | 3-Sep-08 | 15-Sep-13 | 15-Jul-12 | 11.45000% | Rp 2,664,875,000,000.00 | | 41 | OR0006 | 12-Aug-09 | 15-Aug-12 | 15-Jul-12 | 9.35000% | Rp 8,186,730,000,000.00 | | 42 | OR0007 | 4-Aug-10 | 15-Aug-13 | 15-Jul-12 | 7.95000% | Rp 7,923,000,000,000.00 | | 43 | OR0008 | 26-Oct-11 | 15-Oct-14 | 15-Jul-12 | 7.30000% | Rp 11,000,000,000,000.00 | | Total Fixed Coupon | | | | | | Rp 570,506,621,000,000.00 | | c. Variable Coupon | | | | | | | | 1 | FR0018 | 25-Oct-02 | 25-Oct-12 | 25-Jul-12 | 3.30573% | Rp 4,368,483,000,000.00 | | 2 | VR0019 | 20-Nov-02 | 25-Dec-14 | 25-Jun-12 | 3.08000% | Rp 11,426,226,000,000.00 | | 3 | VR0020 | 20-Nov-02 | 25-Apr-15 | 25-Jul-12 | 3.30573% | Rp 9,799,007,000,000.00 | | 4 | VR0021 | 20-Nov-02 | 25-Nov-15 | 25-Aug-12 | 3.30573% | Rp 7,436,328,000,000.00 | | 5 | VR0022 | 20-Nov-02 | 25-Mar-16 | 25-Jun-12 | 3.08000% | Rp 9,016,749,000,000.00 | | 6 | VR0023 | 20-Nov-02 | 25-Oct-16 | 25-Jul-12 | 3.30573% | Rp 8,652,056,000,000.00 | | 7 | VR0024 | 20-Nov-02 | 25-Feb-17 | 25-Aug-12 | 3.30573% | Rp 9,909,300,000,000.00 | | 8 | VR0025 | 20-Nov-02 | 25-Sep-17 | 25-Jun-12 | 3.08000% | Rp 3,209,300,000,000.00 | | 9 | VR0026 | 20-Nov-02 | 25-Jan-18 | 25-Jul-12 | 3.30573% | Rp 5,442,142,000,000.00 | | 10 | VR0027 | 20-Nov-02 | 25-Jul-18 | 25-Jul-12 | 3.30573% | Rp 5,442,142,000,000.00 | | 11 | VR0028 | 20-Nov-02 | 25-Aug-18 | 25-Aug-12 | 3.30573% | Rp 7,033,994,000,000.00 | | 12 | VR0029 | 20-Nov-02 | 25-Aug-19 | 25-Aug-12 | 3.30573% | Rp 12,212,320,000,000.00 | | 13 | VR0030 | 20-Nov-02 | 25-Dec-19 | 25-Jun-12 | 3.08000% | Rp 10,503,015,000,000.00 | | 14 | VR0031 | 20-Nov-02 | 25-Jul-20 | 25-Jul-12 | 3.30573% | Rp 25,322,354,000,000.00 | | Total Variable Coupon | | | | | | Rp 129,773,416,000,000.00 | | Total Rupiah Denominated | | | | | | Rp 730,972,037,000,000.00 |
Strictly confidential
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
32
2019
2019
2018
2017
| 2. US Dollar Denominated | | | | | | | | --- | --- | --- | --- | --- | --- | --- | | a. Fixed Coupon | | | | | | | | 1 | Rt0014 | 10-Mar-04 | 10-Mar-14 | 10-Sep-12 | 6.75000% | USD 1,300,000,000.00 | | 2 | Rt140504 | 4-Mar-09 | 4-May-14 | 4-Nov-12 | 10.37500% | USD 1,000,000,000.00 | | 3 | Rt0015 | 20-Apr-05 | 20-Apr-15 | 20-Oct-12 | 7.25000% | USD 1,000,000,000.00 | | 4 | Rt0016 | 12-Oct-05 | 15-Jan-16 | 15-Jul-12 | 7.50000% | USD 900,000,000.00 | | 5 | Rt0017 | 9-Mar-06 | 9-Mar-17 | 9-Sep-12 | 6.87500% | USD 1,000,000,000.00 | | 6 | Rt0018 | 17-Jan-08 | 17-Jan-18 | 17-Jul-12 | 6.87500% | USD 1,900,000,000.00 | | 7 | Rt190304 | 4-Mar-09 | 4-Mar-19 | 4-Sep-12 | 11.62500% | USD 2,000,000,000.00 | | 8 | Rt0035 | 12-Oct-05 | 12-Oct-35 | 12-Oct-12 | 8.50000% | USD 1,600,000,000.00 | | 9 | Rt0037 | 14-Feb-07 | 17-Feb-37 | 17-Aug-12 | 6.62500% | USD 1,500,000,000.00 | | 10 | Rt0038 | 17-Jan-08 | 17-Jan-38 | 17-Jul-12 | 7.75000% | USD 2,000,000,000.00 | | 11 | Rt0320 | 19-Jan-10 | 13-Mar-20 | 13-Sep-12 | 5.87500% | USD 2,000,000,000.00 | | 12 | Rt0521 | 5-May-11 | 5-May-21 | 5-Nov-12 | 4.87500% | USD 2,500,000,000.00 | | 13 | Rt0142 | 17-Jan-12 | 17-Jan-42 | 17-Jul-12 | 5.25000% | USD 2,250,000,000.00 | | 14 | Rt0422 | 25-Apr-12 | 25-Apr-22 | 25-Oct-12 | 3.75000% | USD 2,000,000,000.00 | | | Total Fixed Coupon | | | | | USD 22,950,000,000.00 | | | Total US Denominated/equivalent in Rupiah (1) | | | | | Rp 217,405,350,000,000.00 | | 3. Japan Yen Denominated | | | | | | | | a. Fixed Coupon | | | | | | | | 1 | RtJPY0719 | 29-Jul-09 | 29-Jul-19 | 29-Jul-12 | 2.73000% | JPY 35,000,000,000.00 | | 2 | RtJPY1120 | 12-Nov-10 | 12-Nov-20 | 12-Nov-12 | 1.60000% | JPY 60,000,000,000.00 | | | Total Fixed Coupon | | | | | JPY 95,000,000,000.00 | | | Total JPY Denominated/equivalent in Rupiah (1) | | | | | Rp 11,305,950,000,000.00 | | | TOTAL GOVERNMENT DEBT SECURITIES | | | | | Rp 959,683,337,000,000.00 | | B. GOVERNMENT ISLAMIC SECURITIES | | | | | | | | 1. Rupiah Denominated | | | | | | | | a. Zero Coupon | | | | | | | | 1 | SPN-IS 14092012 | 15-Mar-12 | 14-Sep-12 | - | - | Rp 280,000,000,000.00 | | 2 | SPN-IS 09112012 | 10-May-12 | 9-Nov-12 | - | - | Rp 905,000,000,000.00 | | | Total Zero Coupon | | | | | Rp 1,185,000,000,000.00 | | b. Fixed Coupon | | | | | | | | 1 | IFR0001 | 26-Aug-08 | 15-Aug-15 | 15-Aug-12 | 11.80000% | Rp 2,714,700,000,000.00 | | 2 | IFR0002 | 26-Aug-08 | 15-Aug-18 | 15-Aug-12 | 11.95000% | Rp 1,985,000,000,000.00 | | 3 | IFR0003 | 29-Oct-09 | 15-Sep-15 | 15-Sep-12 | 9.25000% | Rp 2,632,000,000,000.00 | | 4 | IFR0004 | 12-Nov-09 | 15-Oct-13 | 15-Oct-12 | 9.00000% | Rp 650,000,000,000.00 | | 5 | IFR0005 | 21-Jan-10 | 15-Jan-17 | 15-Jul-12 | 9.00000% | Rp 1,171,000,000,000.00 | | 6 | IFR0006 | 1-Apr-10 | 15-Mar-30 | 15-Sep-12 | 10.25000% | Rp 2,175,000,000,000.00 | | 7 | IFR0007 | 21-Jan-10 | 15-Jan-25 | 15-Jul-12 | 10.25000% | Rp 1,547,000,000,000.00 | | 8 | IFR0008 | 15-Apr-10 | 15-Mar-20 | 15-Sep-12 | 8.80000% | Rp 252,000,000,000.00 | | 9 | IFR0010 | 3-Mar-11 | 15-Feb-36 | 15-Aug-12 | 10.00000% | Rp 4,110,000,000,000.00 | | 10 | PBS001 | 16-Feb-12 | 15-Feb-18 | 15-Aug-12 | 4.45000% | Rp 3,465,000,000,000.00 | | 11 | PBS002 | 2-Feb-12 | 15-Jan-22 | 15-Jul-12 | 5.45000% | Rp 1,015,000,000,000.00 | | 12 | PBS003 | 2-Feb-12 | 15-Jan-27 | 15-Jul-12 | 6.00000% | Rp 2,847,000,000,000.00 | | 13 | PBS004 | 16-Feb-12 | 15-Feb-37 | 15-Aug-12 | 6.10000% | Rp 4,915,000,000,000.00 | | 14 | KR-002 | 10-Feb-10 | 10-Feb-13 | 10-Jul-12 | 8.70000% | Rp 8,033,860,000,000.00 | | 15 | SR-003 | 23-Feb-11 | 23-Feb-14 | 23-Jun-12 | 8.15000% | Rp 7,341,410,000,000.00 | | 16 | SR-004 | 21-Mar-12 | 21-Sep-15 | 21-Jul-12 | 6.25000% | Rp 13,613,805,000,000.00 | | | Total Fixed Coupon | | | | | Rp 58,367,775,000,000.00 | | | Total Rupiah Denominated | | | | | Rp 59,552,775,000,000.00 | | 2. US Dollar Denominated | | | | | | | | a. Fixed Coupon | | | | | | | | 1 | SNI14 | 23-Apr-09 | 23-Apr-14 | 23-Oct-12 | 8.80000% | USD 650,000,000.00 | | 2 | SNI18 | 21-Nov-11 | 21-Nov-18 | 21-Nov-12 | 4.00000% | USD 1,000,000,000.00 | | | Total Fixed Coupon | | | | | USD 1,650,000,000.00 | | | Total US Denominated/equivalent in Rupiah (1) | | | | | Rp 15,630,450,000,000.00 | | | TOTAL GOVERNMENT ISLAMIC SECURITIES | | | | | Rp 75,183,225,000,000.00 | | | TOTAL TRADABLE GOVERNMENT SECURITIES | | | | | Rp 1,034,866,562,000,000.00 | | II. NON-TRADABLE SECURITIES | | | | | | | | A. GOVERNMENT DEBT SECURITIES (2) | | | | | | | | 1. Rupiah Denominated | | | | | | | | a. Fixed Coupon | | | | | | | | 1 | SDH02013A | 17-May-10 | 17-May-13 | 17-Jul-12 | 7.55000% | Rp 4,250,000,000,000.00 | | 2 | SDH02014A | 9-Aug-10 | 9-Aug-14 | 9-Jul-12 | 7.36000% | Rp 2,855,000,000,000.00 | | 3 | SRBI-01/MK/2003 (4) | 7-Aug-03 | 1-Aug-33 | 1-Aug-12 | 0.10% | Rp 126,697,947,827,429.00 | | 4 | SU-007/MK/2006 | 1-Jan-06 | 1-Aug-25 | 1-Aug-12 | 0.10% | Rp 47,625,884,600,374.00 | | | Total Fixed Coupon | | | | | Rp 242,595,069,905,736.00 | | | TOTAL GOVERNMENT DEBT SECURITIES | | | | | Rp 242,595,069,905,736.00 | | B. GOVERNMENT ISLAMIC SECURITIES | | | | | | | | 1. Rupiah Denominated | | | | | | | | a. Fixed Coupon | | | | | | | | 1 | SDH02013A | 17-May-10 | 17-May-13 | 17-Jul-12 | 7.55000% | Rp 4,250,000,000,000.00 | | 2 | SDH02014A | 9-Aug-10 | 9-Aug-14 | 9-Jul-12 | 7.36000% | Rp 2,855,000,000,000.00 | | 3 | SDH02014B | 25-Aug-10 | 25-Aug-14 | 25-Jun-12 | 7.30000% | Rp 336,000,000,000.00 | | 4 | SDH02014C | 7-Oct-10 | 7-Oct-14 | 7-Jul-12 | 7.13000% | Rp 2,000,000,000,000.00 | | 5 | SDH02014D | 11-Feb-11 | 11-Feb-14 | 11-Jul-12 | 7.85000% | Rp 6,000,000,000,000.00 | | 6 | SDH02021A | 11-Apr-11 | 11-Apr-21 | 11-Jul-12 | 8.00000% | Rp 2,000,000,000,000.00 | | 7 | SDH02021B | 17-Oct-11 | 17-Oct-21 | 17-Jul-12 | 7.16000% | Rp 3,000,000,000,000.00 | | 8 | SDH02017A | 21-Mar-12 | 21-Mar-17 | 21-Jul-12 | 5.16000% | Rp 2,000,000,000,000.00 | | 9 | SDH02019A | 21-Mar-12 | 21-Mar-19 | 21-Jul-12 | 5.46000% | Rp 3,000,000,000,000.00 | | 10 | SDH02022A | 21-Mar-12 | 21-Mar-22 | 21-Jul-12 | 5.91000% | Rp 3,342,000,000,000.00 | | 11 | SDH02016A | 27-Apr-12 | 27-Apr-16 | 27-Jun-12 | 5.03000% | Rp 1,000,000,000,000.00 | | 12 | SDH02020A | 27-Apr-12 | 27-Apr-20 | 27-Jun-12 | 5.79000% | Rp 1,500,000,000,000.00 | | 13 | SDH02018A | 30-May-12 | 30-May-18 | 30-Jun-12 | 6.06000% | Rp 2,500,000,000,000.00 | | | Total Fixed Coupon | | | | | Rp 33,783,000,000,000.00 | | | TOTAL GOVERNMENT ISLAMIC SECURITIES | | | | | Rp 33,783,000,000,000.00 | | | TOTAL NON TRADABLE GOVERNMENT SECURITIES | | | | | Rp 276,378,069,905,736.00 |
Notes:
- Assumed exchange rate for conversion (IDR/USD) is Assumed exchange rate for conversion (IDR/JPY) is
- Non-tradable Government Debt Securities are held by Bank Indonesia.
Strictly confidential
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
LAMPIRAN 6:
Maturity Surat Utang Pemerintah dalam juta rupiah
| Tahun | SU2 | | SU4 | | SU7 | | SRBI | | Total | | | --- | --- | --- | --- | --- | --- | --- | --- | --- | --- | --- | | 2012 | Rp | 704.284,91 | Rp | 1.779.670,46 | Rp | 1.700.847,92 | Rp | - | Rp | 4.184.803,29 | | 2013 | Rp | 776.474,11 | Rp | 1.962.086,69 | Rp | 1.875.184,83 | Rp | - | Rp | 4.613.745,63 | | 2014 | Rp | 856.062,71 | Rp | 2.163.200,57 | Rp | 2.067.391,28 | Rp | - | Rp | 5.086.654,55 | | 2015 | Rp | 943.809,13 | Rp | 2.384.928,63 | Rp | 2.279.298,88 | Rp | - | Rp | 5.608.036,65 | | 2016 | Rp | 1.040.549,57 | Rp | 2.629.383,82 | Rp | 2.512.927,02 | Rp | - | Rp | 6.182.860,40 | | 2017 | Rp | 1.147.205,90 | Rp | 2.898.895,66 | Rp | 2.770.502,04 | Rp | - | Rp | 6.816.603,59 | | 2018 | Rp | 1.264.794,50 | Rp | 3.196.032,46 | Rp | 3.054.478,49 | Rp | - | Rp | 7.515.305,46 | | 2019 | Rp | 1.394.435,94 | Rp | 3.523.625,79 | Rp | 3.367.562,54 | Rp | - | Rp | 8.285.624,27 | | 2020 | Rp | 1.537.365,62 | Rp | 3.884.797,43 | Rp | 3.712.737,70 | Rp | - | Rp | 9.134.900,76 | | 2021 | Rp | 1.694.945,60 | Rp | 4.282.989,17 | Rp | 4.093.293,31 | Rp | - | Rp | 10.071.228,09 | | 2022 | Rp | 1.868.677,52 | Rp | 4.721.995,56 | Rp | 4.512.855,88 | Rp | - | Rp | 11.103.528,96 | | 2023 | Rp | 2.060.216,97 | Rp | 5.206.000,10 | Rp | 4.975.423,61 | Rp | - | Rp | 12.241.640,68 | | 2024 | Rp | 2.271.389,21 | Rp | 5.739.615,12 | Rp | 5.485.404,53 | Rp | - | Rp | 13.496.408,85 | | 2025 | Rp | 1.221.564,20 | Rp | 6.327.925,66 | Rp | 6.047.658,49 | Rp | - | Rp | 13.597.148,35 | | 2033 | Rp | - | Rp | - | Rp | - | Rp | 126.697.947,83 | Rp | 126.697.947,83 | | Jumlah | Rp | 18.781.775,89 | Rp | 50.701.147,13 | Rp | 48.455.566,51 | Rp | 126.697.947,83 | Rp | 244.636.437,36 |
Strictly confidential
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
LAMPIRAN 7:
FORMULASI YANG DIGUNAKAN DALAM MENGHITUNG NILAI DARI INDIKATOR RISIKO PORTOFOLIO UTANG
| Interest Rate Risk | | | | --- | --- | --- | | Variable Rate proportion (VR) | $VR = \frac{\sum x_{vr}}{\sum x_{tot}} \times 100%$ | $x_{vr}$ : Jumlah Outs. SBN/Pinjaman seri VR $x_{tot}$ : Jumlah Outs. SBN/Pinjaman Total | | Refixing rate risk (RFR) | $RFR = (VR + M t y_{t \leq 1}) - VR_{t \leq 1}$ | $M t y_{t \leq 1}$ : Proporsi SBN/Pinjaman yang jatuh tempo kurang dari atau sama dengan 1 tahun terhadap SBN Total $VR_{t \leq 1}$ : Proporsi SBN/Pinjaman VR yang jatuh tempo kurang dari atau sama dengan 1 tahun terhadap SBN Total | | Average Time to Refixing (ATR) | Portofolio SBN: $ATR = \frac{(\sum_{i=1}^{n} (t_{mty} - t_0)i \cdot x_i) + 0,125 \cdot \sum x{vr}}{(\sum_{i=1}^{n} x_i) + \sum x_{vr}}$ | $t_{mty}$ : tanggal jatuh tempo SBN seri ke-i $t_0$ : waktu saat ini/settlement date $x_i$ : Jumlah outstanding SBN seri ke-i (tidak termasuk seri VR) | | | Portofolio Pinjaman: $ATR = ATM(1 - VR) + 0,5 \cdot VR$ | $x_{vr}$ : Jumlah outstanding SBN seri VR | | | | | | Exchange Rate Risk | | | | FX proportion (FX) | Portofolio SBN: $FX = \frac{\sum x_{fx}}{\sum x_{tot}} \times 100%$ | $x_{fx}$ : Jumlah outstanding SBN Valas $x_{uzd}$ : Jumlah outstanding Pinjaman bermata uang USD $x_{eur}$ : Jumlah outstanding Pinjaman bermata uang EUR | | Porsi mata uang yang bervolatilitas rendah (USD dan EUR) | Portofolio Pinjaman: $FX = \frac{\sum x_{uzd} + \sum x_{eur}}{\sum x_{tot}} \times 100%$ | | | Refinancing Risk | | | | Average Time to Maturity (ATM) | Portofolio SBN: Manual Formula: $ATM = \frac{\sum_{i=1}^{n} (t_{mty} - t_0)i \cdot x_i}{\sum{i=1}^{n} x_i}$ | $x_i$ : Jumlah outstanding SBN seri ke-i termasuk seri VR $s_i$ : Jumlah outstanding Pinjaman yang jatuh tempo pada tahun ke-i $k$ : posisi tahun jatuh tempo pinjaman yang terpanjang | | | Formula in MS Excel: YEARFRAC(start_date; end_date; basis) | $z = 0,5 \cdot \left(\frac{m}{12}\right)$ dimana $m$: sisa bulan pada tahun berjalan | | | Portofolio Pinjaman: $ATM = \frac{\sum_{i=1}^{k} (z + i - 1)s_i}{\sum_{i=1}^{k} s_i}$ | | | | | | | Mac Duration (D) | Manual Formula: $D_{Mac} = \sum_{i=1}^{T} \frac{t \cdot C_t}{(1 + r)^i} \cdot \frac{1}{P}$ | $C_t$ : Coupon/Interest rate obligasi seri ke-i $r$ : yield obligasi (diasumsikan $r=0$) $T$ : $2x$ (Maturity date – Settlement date) $P$ : Price (harga obligasi) | | | Strictly confidential | |
Kementerian Keuangan Republik Indonesia
Formula in MS Excel: DURATION(settL_date;mty_date; coupon;yld;frequency;basis)
Maturity in $i$-yr (Mty) $$ Mty_{t \leq i} = \frac{\sum x_{t \leq i}}{i \sum x_{tot}} \times 100% \quad , \quad i = 1,3,5 $$ $x_{t \leq i}$ : Jumlah outstanding SBN/Pinjaman yang jatuh tempo kurang dari atau sama dengan $i$ tahun
BUCKET MATURITY KOMPOSISI PENERBITAN SBN
| No | Tenor (x) | | Bucket Maturity | | | --- | --- | --- | --- | --- | | 1 | 1 | Tahun | ≤ 1 Tahun | | | 2 | 3 | Tahun | 1 tahun < x < 4 Tahun | | | 3 | 5 | Tahun | 4 tahun ≤ x < 8 Tahun | | | 4 | 10 | Tahun | 8 tahun ≤ x < 13 Tahun | | | 5 | 15 | Tahun | 13 tahun ≤ x < 18 Tahun | | | 6 | > 20 | Tahun | x ≥ 18 Tahun | |
DIREKTUR JENDERAL Rahmat Waluyanto NIP 195610031985101001
Strictly confidential
35
Kementerian Keuangan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Jl. Lapangan Banteng Timur No. 2-4 Jakarta 10710 - Indonesia Strictly confidential
Konsideran (Menimbang & Mengingat)
a. bahwa dalam rangka mengamankan pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2012, telah dilakukan penyesuaian terhadap defisit dan kebutuhan anggaran serta sumber-sumber pembiayaan sebagaimana telah ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2012 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2011 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2012;
b. bahwa sehubungan adanya penyesuaian terhadap pemenuhan sumber pembiayaan sebagai akibat kondisi pasar global, perubahan APBN Tahun Anggaran 2012, dan perubahan asumsi nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing yang dapat mempengaruhi secara signifikan pada strategi pembiayaan APBN melalui utang tahun 2012 sebagaimana dimaksud dalam huruf a, diperlukan penyesuaian dan perubahan Strategi Pembiayaan Tahunan Melalui Utang Tahun 2012;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2012 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2011 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2012 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 87, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5303);
Keputusan Presiden Nomor 120/M Tahun 2006;
Keputusan Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Nomor KEP-46/PU/2011 tentang Strategi Pembiayaan Tahunan Melalui Utang Tahun 2012;
