Pasal 15
(1) Dasar pengenaan PAT sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 3 ayat (3) huruf c merupakan nilai perolehan Air
Tanah. (21 Nilai perolehan Air Tanah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah hasil perkalian antara harga air baku dengan bobot Air Tanah.
(3) Nilai perolehan Air Tanah sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) dalam Daerah provinsi diatur dengan peraturan gubernur.
(4) Besarnya . . .
SK No l8l597A
PRESIDEN
REPUBLIX INDONESIA
(4) Besarnya nilai perolehan Air Tanah sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) dalam Daerah kabupaten/kota diatur dengan peraturan bupati/wali kota dengan berpedoman pada nilai perolehan Air Tanah yang ditetapkan oleh gubernur.
(5) Saat terutang PAT ditetapkan pada saat terjadinya
pengambilan dan/atau pemanfaatan Air Tanah.
(6) Wilayah Pemungutan PAT yang terutang merupakan
wilayah Daerah tempat pengambilan dan/atau pemanfaatan Air Tanah.
(7) Penetapan besarnya nilai perolehan Air Tanah yang
ditetapkan dengan peraturan gubernur sebagaimana dimaksud pada ayat (3) berpedoman pada peraturan menteri yang menyelenggarakan Urusan Pemerintahan di bidang energi dan sumber daya mineral mengenai nilai perolehan Air Tanah.
(8) Peraturan yang ditetapkan oleh menteri yang
menyelenggarakan Urusan Pemerintahan di bidang energi dan sumber daya mineral sebagaimana dimaksud pada ayat (7l., disusun dengan memperhatikan kebijakan kemudahan berinvestasi dan ditetapkan setelah mendapat pertimbangan dari Menteri.
