Pasal 9
(1) GSB berdasarkan Orientasi persil dan/atau bangunan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 8 huruf a meliputi:
a. persil dan/atau bangunan yang menghadap pada 1 (satu) muka jalan;
dan
b. persil dan/atau bangunan yang menghadap pada ≥2 (lebih dari atau
sama dengan dua) muka jalan.
(2) Dalam hal persil dan/atau bangunan yang menghadap pada 1 (satu) muka
jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, penentuan GSB
mengacu pada Orientasi persil dan/atau bangunan.
(3) Dalam hal persil dan/atau bangunan yang menghadap pada ≥2 (lebih dari
atau sama dengan dua) muka jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf b, penentuan GSB ditetapkan berdasarkan luas persil.
(4) Penentuan GSB berdasarkan luas persil pada persil dan/atau bangunan
yang menghadap pada ≥2 (lebih dari atau sama dengan dua) muka jalan
sebagaimana dimaksud pada ayat (3), berlaku ketentuan:
a. persil dengan luas <200 m2 (kurang dari dua ratus meter persegi) maka
penentuan GSB mengacu pada Orientasi persil dan/atau bangunan
utama; dan
b. persil dengan luas ≥200 m2 (lebih atau sama dengan dua ratus meter
persegi) maka penentuan GSB mengacu pada Orientasi dari seluruh
persil dan/atau bangunan yang menghadap jalan.
(5) Penentuan GSB mengacu pada Orientasi persil dan/atau bangunan utama
sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf a berdasar pada:
a. alamat persil dan/atau bangunan;
b. akses utama; atau
c. fungsi jalan paling tinggi.
(6) Gambaran teknis metode penerapan ketentuan GSB yang dibedakan
berdasarkan arah hadap atau Orientasi persil dan/atau bangunan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran II yang
merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Wali Kota ini.
Bagian Ketiga Garis Sempadan Bangunan pada Bangunan Tertentu yang Memiliki Pengaturan Teknis Tersendiri
