Pasal 42
(l) Dalam rangka keselamatan operasional Kapal Perikanan, ditunjuk syahbandar di Pelabuhan Perikanan. (21 Syahbandar di Pelabuhan Perikanan mempunyai tugas dan wewenang:
a. menerbitkanpersetujuanberlayar;
b. mengatur kedatangan dan keberangkatan Kapal Perikanan;
c. memeriksa ulang kelengkapan dokumen Kapal Perikanan;
d. memeriksa teknis dan nautis Kapal Perikanan dan memeriksa alat Penangkapan Ikan, dan alat bantu Penangkapan Ikan;
e. memeriksa dan mengesahkan perjanjian kerja laut;
f. memeriksa log book penangkapan dan pengangkutan Ikan;
g. mengatur olah gerak dan lalu lintas |kpal Perikanan di Pelabuhan Perikanan;
h. mengawasipemanduan;
i. mengawasi pengisian bahan bakar;
j. mengawasi kegiatan pembangunan fasilitas Pelabuhan Perikanan;
k. melaksanakan bantuan pencarian dan penyelamatan;
l. memimpin penanggulangan pencemaran dan pemadaman kebakaran di Pelabuhan Perikanan;
m. mengawasi pelaksanaan perlindungan lingkungan maritim;
n. memeriksa pemenuhan persyaratan pengawakan Kapal Perikanan;
o. menerbitkan surat tanda bukti lapor kedatangan dan keberangkatan Kapal Perikanan; dan
p. memeriksa sertifikat Ikan hasil tangkapan.
(3) Setiap Kapal Perikanan yang akan berlayar melakukan Penangkapan Ikan dan/atau pengangkutan Ikan dari Pelabuhan Perikanan wajib memiliki persetqjuan berlayar yang dikeluarkan oleh syahbandar di Pelabuhan Perikanan. (41 Syahbandar di Pelabuhan Perikanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diangkat oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pelayaran.
(5) Dalam melaksanakan tugasnya, syahbandar di Pelabuhan Perikanan dikoordinasikan oleh pejabat yang bertanggung jawab di Pelabuhan Perikanan setempat.
(6) Ketentuan lebih lanjut mengenai kesyahbandaran di Pelabuhan Perikanan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan peruridang- undangan.
- Ketentuan Pasal 43 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:
