Pasal 20
Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Menteri ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.
Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 25 Maret 2022
MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
SITI NURBAYA
Diundangkan di Jakarta pada tanggal 5 April 2022
DIREKTUR JENDERAL PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
BENNY RIYANTO
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2022 NOMOR 374
Salinan sesuai dengan aslinya Plt. KEPALA BIRO HUKUM
ttd.
SUPARDI
LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2022 TENTANG PENGOLAHAN AIR LIMBAH BAGI USAHA DAN/ATAU KEGIATAN PERTAMBANGAN DENGAN MENGGUNAKAN METODE LAHAN BASAH BUATAN
PERSYARATAN LOKASI DAN FASILITAS LAHAN BASAH BUATAN
Lahan Basah Buatan atau sering disebut constructed wetland dapat difungsikan sebagai fasilitas Pengolahan Air Limbah dengan memanfaatkan proses kombinasi antara tanaman, media organik, mikroba, dan tanah dalam kondisi tergenang air. Tipe Lahan Basah Buatan ada dua yaitu sistem aliran permukaan atau Free Water System (FWS) dan sistem aliran bawah permukaan atau Sub-surface Flow System (SSF). Standar teknis ini berlaku hanya untuk Pengolahan Air Limbah Pertambangan dengan menggunakan Lahan Basah Buatan yang tepat yakni sistem aliran permukaan (FWS).
A.
Karakteristik Air Limbah
Klasifikasi Air Limbah yang dikelola meliputi:
1.
Air Limbah yang dihasilkan dari proses utama
Air Limbah dari proses utama aktivitas Pertambangan meliputi:
a)
Air limpasan berasal dari air larian permukaan yang melewati
stockpile, permukaan lainnya yang masuk ke dalam sistem
drainase. Debit air limpasan dihitung berdasarkan estimasi
curah hujan beserta intensitasnya.
b)
Air Limbah dari lubang tambang yang merupakan air hujan dan
air tanah yang masuk ke dalam lubang tambang, yang
selanjutnya dipompa selama proses penambangan. Karakteristik
Air Limbah dari proses utama ini, yakni dimungkinkan
terbentuknya air asam tambang.
c)
Air Limbah dari proses pengolahan atau pemurnian hasil
tambang.
Sisa/kelebihan air yang digunakan pada proses pencucian batu bara
atau air yang digunakan untuk mengurangi debu pada proses
crushing dan penimbunan batu bara.
- Air Limbah yang dihasilkan dari proses penunjang Air Limbah dari proses utama aktivitas Pertambangan meliputi:
- Air Limbah Domestik adalah yang berasal dari aktivitas hidup sehari-hari manusia yang berhubungan dengan pemakaian air. Air Limbah Domestik dihasilkan dari kegiatan perkantoran, mess karyawan. Pada umumnya limbah domestik memiliki kandungan organik yang tinggi.
- Air Limbah yang dihasilkan dari proses penunjang kegiatan Pertambangan seperti bengkel/workshop dan laboratorium. Karakteristik Air Limbah dari bengkel/workshop pada umumnya selain mengandung organik yang tinggi juga mengandung bahan anorganik dan bahkan mengandung oli, bahan berbahaya dan beracun, minyak dan lemak, deterjen dan bahan yang mudah menguap akibat dari minyak pelumas dan bensin atau bahan bakar didalamnya.
B. Pemilihan Lokasi Lokasi pembangunan Lahan Basah Buatan tidak harus berada di satu lokasi tertentu, tetapi dapat menyebar mengikuti topografi permukaan lahan yang ada. Dalam hal terdapat beberapa calon lokasi Lahan Basah Buatan, maka untuk menentukan lokasi yang paling sesuai dilakukan dengan penilaian bobot sebagai berikut (Yusmur et.al, 2019)
dimana:
Analisis dilakukan menggunakan data spasial untuk setiap kriteria. Reklasifikasi peta kriteria tersebut dilakukan mengacu pada Tabel 1. Analisis spasial dilakukan dengan cara overlay data spasial menggunakan perangkat lunak pengolah data spasial. Tabel 1. Reklasifikasi kriteria beserta nilai pembobotannya Kriteria Reklasifikasi Nilai Elevasi Elevasi inlet kolam penaatan (mdpl) Elevasi antara outlet void dan kolam penaatan (mdpl) Elevasi outlet void (mdpl)
Kemiringan lahan 0 – 8% 8 – 15% 15 – 25% 25 – 40% 40%
Penutupan lahan Rawa/ Genangan Saluran/Kanal Lahan terbuka Area Revegetasi Jalan, Void, Sediment pond
Daerah Tangkapan Hujan Terjauh dari kolam penaatan Antara void dan kolam penaatan Terdekat dari kolam penaatan
Jarak dari saluran/ kanal 50 m dari Kanal 100 m dari Kanal 150 m dari Kanal 200 m dari Kanal 250 m dari Kanal
Jarak dari kolam monitoring 50 m dari Kolam 100 m dari Kolam 150 m dari Kolam
Kriteria Reklasifikasi Nilai 200 m dari Kolam 250 m dari Kolam
Dari hasil analisis pembobotan, kesesuaian lokasi Lahan Basah Buatan dapat diklasifikasikan menjadi 5 kelas, yakni: Sangat sesuai (X = 5) Sesuai (X = 4) Tidak sesuai (X = 3) Sangat tidak sesuai (X = 2) Dilarang (X = 0)
Gambar 1. Contoh Peta Kesesuaian Lokasi Lahan Basah Buatan
C. Fasilitas Lahan Basah Buatan 1. Sarana utama Sarana utama meliputi unit prapengolahan (unit operasi) dan unit instalasi Pengolahan Air Limbah Lahan Basah Buatan (unit proses). Unit prapengolahan berfungsi sebagai unit pengolahan fisik untuk mengatur debit dan konsentrasi total padatan tersuspensi (TSS) pada Air Limbah agar kinerja pada unit Lahan Basah Buatan menjadi maksimal. Sedangkan pada unit Lahan Basah Buatan, terjadi proses pengolahan secara kimia dan biologi untuk menurunkan derajat keasaman (pH), logam berat, serta parameter organik.
Unit prapengolahan terbagi menjadi kolam ekualisasi dan kolam pengendapan. Sedangkan unit Pengolahan Air Limbah Lahan Basah Buatan terbagi menjadi kolam pengolahan derajat keasaman (pH) dan parameter logam, kolam pengolahan parameter organik dan kolam indikator penaatan Baku Mutu Air Limbah.
Skema umum kedua unit tersebut dapat terlihat pada Gambar 2.
Gambar 2. Site Plan Lahan Basah Buatan
Penentuan unit prapengolahan dan unit Lahan Basah Buatan
ditentukan berdasarkan karakteristik Air Limbah yang masuk ke
dalam sistem Pengolahan Air Limbah sebagaimana terlihat pada
diagram alir penentuan kebutuhan unit pada Pengolahan Air Limbah
pada Lahan Basah Buatan (Gambar 3). Penentuan instalasi unit pra
pengolahan berdasarkan pada karateristik debit Air Limbah besar
dan/atau fluktuasi tinggi serta TSS >400 mg/l.
Sedangkan
penentuan
instalasi
unit
Pengolahan
Air
Limbah
berdasarkan
pada
karakteristik
Air
Limbah
yang
konsentrasi
parameter derajat keasaman (pH), logam berat dan bahan organik
melebihi baku mutu.
TSS > 400 mg/l Tidak Debit dan/atau Fluktuasi Tinggi Tidak Tidak Kolam Pengendapan > Kolam Ekualisasi Ya Kolam Indikator Kolam Pengendapan dan Lahan Basah Buatan Ya Ya Ya Kolam Indikator Tidak TSS > 400 mg/l pH < 6 dan/atau Logam Berat BMAL , Kolam Pengendapan Kolam Pengendapan dan Lahan Basah Buatan Ya Kolam Pengendapan Kolam Pengendapan dan Lahan Basah Buatan Kolam Ekualisasi, Kolam Pengendapan dan Lahan Basah Buatan Tidak Ya Tidak Ya Kolam Pengendapan dan Lahan Basah Buatan Kolam Pengendapan > Kolam Ekualisasi Kolam Pengendapan > Kolam Ekualisasi Ya Ya Kolam Ekualisasi, Kolam Pengendapan dan Lahan Basah Buatan pH < 6 dan/atau Logam Berat BMAL pH < 6 dan/atau Logam Berat BMAL pH < 6 dan/atau Logam Berat BMAL Tidak Tidak Kolam Pengendapan dan Lahan Basah Buatan Kolam Indikator Kolam Indikator Kolam Indikator Kolam Indikator Kolam Indikator Kolam Indikator Kolam Indikator Tidak
Gambar 3. Diagram alir penentuan kebutuhan unit pada Pengolahan Air Limbah pada Lahan Basah Buatan
Unit prapengolahan terdiri dari: 1) Kolam ekualisasi Kolam ini berfungsi sebagai penampungan sementara Air Limbah dan untuk pengaturan debit Air Limbah yang masuk menuju unit Lahan Basah Buatan. 2) Kolam pengendapan. Pada kolam pengendapan atau sedimentasi ini memanfaatkan sistem gravitasi untuk mengendapkan padatan terlarut. Untuk meningkatkan efektivitas pengendapan, pada kolam ini dapat ditambahkan tanaman air (floating wetland) yang memiliki kemampuan untuk menyaring Air Limbah. Kolam pengendapan dapat terdiri dari beberapa kompartemen dengan menyesuaikan konsentrasi total padatan tersuspensi dari Air Limbah tambang.
Sedangkan unit instalasi Pengolahan Air Limbah Lahan Basah Buatan terdiri dari: 1) Kolam pengolahan derajat keasaman (pH) dan unsur logam. Pengolahan derajat keasaman (pH) dan unsur logam pada sistem Lahan Basah Buatan ini memanfaatkan interaksi antara bahan organik, mikro organisme dan tanaman. Kolam pengolahan derajat keasaman (pH) dan unsur logam terdiri dari beberapa kompartemen yang mempertimbangkan luas Lahan Basah Buatan yang diperlukan maupun yang tersedia, pengaturan proses pengaliran Air Limbah, dan pemeliharaan pada masing-masing kompartemen. Bahan organik akan menghasilkan asam organik yang selanjutnya bereaksi kimia untuk menurunkan konsentrasi sulfat, mengendapkan dan menjerat unsur logam, serta menaikkan derajat keasaman (pH) sebagaimana terlihat pada Reaksi (1) dan Reaksi 2 berikut: (Reaksi 1)
(Reaksi 2) (Me = unsur logam)
Bakteri pereduksi sulfat (BPS) akan tumbuh berkembang dan aktif mereduksi sulfat dalam air asam tambang (bioremediasi). Penyerapan unsur-unsur logam oleh tanaman (fitoremediasi). Daun-daun dan organ tanaman yang mati akan memberikan masukan bahan organik ke dalam sistem Lahan Basah Buatan sehingga keberlanjutannya dapat terjaga.
Kolam pengolahan parameter organik. Dari proses pengolahan derajat keasaman (pH) dan unsur logam yang memanfaatkan bahan organik, implikasinya terjadi peningkatan parameter Kebutuhan Oksigen Biokimiawi (BOD). Untuk menetralisir Kebutuhan Oksigen Biokimiawi (BOD) dilakukan dengan memanfaatkan tanaman yang memiliki kemampuan untuk menetralisir Kebutuhan Oksigen Biokimiawi (BOD). Bahan organik yang terdapat dalam Air Limbah akan diubah menjadi senyawa lebih sederhana dan akan dimanfaatkan oleh tumbuhan sebagai nutrisi, sedangkan sistem perakaran tumbuhan air akan menghasilkan oksigen yang dapat digunakan sebagai sumber energi/katalis untuk rangkaian proses metabolisme mikroorganisme. Kolam pengolahan Kebutuhan Oksigen Biokimiawi (BOD) dapat terdiri dari beberapa kompartemen yang mempertimbangkan beban Kebutuhan Oksigen Biokimiawi (BOD) yang dihasilkan dari bahan organik yang digunakan.
Kolam indikator penaatan Baku Mutu Air Limbah (termasuk apabila ada pembatasan debit Air Limbah maksimal). Kolam indikator penaatan Baku Mutu Air Limbah dapat dilengkapi sarana dan prasarana yang disesuaikan dengan kualitas Air Limbah dan Baku Mutu Air Limbah. Sarana dan prasarana tersebut seperti bahan dan alat untuk penambahan kapur.
- Fasilitas lainnya/sarana pemantauan Selain sarana utama dan sarana pendukung sebagaimana diuraikan di atas, Lahan Basah Buatan dilengkapi dengan fasilitas lainnya, berupa:
a. fasilitas pengatur debit di inlet, untuk mengurangi fluktuasi debit yang berlebihan; b. titik penaatan yang mudah terjangkau dan alat ukur debit Air Limbah pada titik penaatan, pada outlet unit proses; c. sarana pengambilan contoh uji, pada titik inlet unit operasi dan titik outlet unit proses; dan d. papan informasi 1) titik penaatan dan koordinat; 2) simbol dan label jenis Air Limbah; dan 3) nama dan kapasitas kolam.
D.
Estimasi Debit Air Limbah
Perhitungan debit yang akan diolah merupakan salah satu penentu
untuk mengetahui luas lahan basah dan unit yang dibutuhkan. Debit
yang digunakan adalah debit Air Limbah maksimum.
Dalam menghitung estimasi volume Air Limbah yang dikelola adalah
sebagai berikut:
- Debit air limpasan
Debit air limpasan berasal dari estimasi debit aliran permukaan dari
curah hujan. Data curah hujan yang digunakan untuk analisa yakni
minimal periode pengulangan selama 10 (sepuluh) tahun terakhir,
meliputi data curah hujan tiap periode waktu dan curah hujan
harian maksimum.
Data curah hujan tersebut merupakan data mentah yang belum bisa digunakan langsung untuk perencanaan, tetapi perlu diolah terlebih dahulu dengan prinsip statistika. Hasil pengolahan ini merupakan angka-angka perkiraan tinggi hujan maksimum yang dianggap terjadi sekali dalam periode ulang hujan yang direncanakan. Pengolahan data curah hujan dimaksudkan untuk mendapatkan data curah hujan tiap selang waktu dan intensitas curah hujan yang siap pakai untuk perencanaan. Metode yang dipakai dalam pengolahan data curah hujan adalah menggunakan metode analisa Gumbel,
̅
Keterangan:
= Curah hujan rencana (mm/hari)
= Rata-rata curah hujan (mm/hari)
= nilai rata-rata dari reduksi variat (reduce mean)
= deviasi standar dari reduksi variat (reduced standard
deviation)
= nilai reduksi variat (reduced variate)
= standar deviasi (simpangan baku)
Dari metode tersebut didapatkan curah hujan harian maksimum seperti terlihat di Tabel 2. Tabel 2. Contoh Curah Hujan Maksimum
Pengolahan data curah hujan untuk mendapatkan kurva durasi yang nantinya akan digunakan sebagai dasar perhitungan air limpasan. Metode yang dipakai dalam pengolahan intensitas curah hujan adalah metode Analisa Mononobe, yaitu: (
)
dimana:
= intensitas hujan (mm/jam)
= curah hujan rencana (mm/hari)
= lamanya waktu konsentrasi (jam)
Untuk menghitung luas daerah tangkapan hujan, dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak. Daerah tangkapan hujan pada lumbang tambang dibatasi oleh tanggul-tanggul di sekeliling lubang
tambang tersebut. Untuk mengestimasi batas daerah tangkapan hujan maka dilakukan pengolahan data topografi di sekeliling pit untuk mengestimasi arah aliran air limpasan. Hasil analisis data tersebut maka dapat ditentukan ditentukan batasan daerah tangkapan hujan serta luas daerah tangkapan hujan pada lubang tambang (A). Sedangkan data untuk menghitung koefisien limpasan (C) dari daerah tangkapan meliputi tutupan lahan dan tingkat kemiringan lahan. Dengan demikian maka debit limpasan dapat dihitung menggunakan rumus penghitungan sebagai berikut:
dimana:
= Debit Limpasan (m3 /detik)
= Koefisien limpasan
= Intensitas curah hujan (mm/jam)
= Luas daerah tangkapan (catchment area) (km2)
- Debit air lubang tambang Air Limbah dari proses utama penambangan yang berasal dari air lubang tambang. Debit air pada lubang tambang merupakan debit air yang dipompa selama proses penambangan. Perhitungan debit Air Limbah ini dilakukan terhadap kapasitas pemompaan pada kondisi debit maksimum. Perhitungan debit pompa yang dibutuhkan untuk mengeluarkan air yang masuk sebagai berikut:
Keterangan:
= debit pompa yang dibutuhkan (m3/detik)
= debit air total masuk (m3)
= lama waktu pemompaan (hari)
- Debit Air Limbah domestik Debit Air Limbah yang akan diolah ke instalasi pengolahan Air Limbah berasal dari kebutuhan air bersih yang digunakan orang setiap harinya. Dari kebutuhan air tersebut sekitar 80% (delapan
puluh persen) akan menjadi Air Limbah. Data kebutuhan air yang
berasal dari studi literatur yakni 200 liter/org.hari.
Berikut merupakan contoh perhitungan debit Air Limbah:
⁄
⁄
⁄ ⁄
( )
⁄ ⁄ ⁄
E. Desain Lahan Basah Buatan 1) Penghitungan Kebutuhan Lahan untuk Sarana Utama dan Sarana Pendukung Penghitungan kebutuhan lahan untuk desain Lahan Basah Buatan dilakukan dengan cara sebagai berikut: a) Volume Air Limbah yang diolah Volume Air Limbah yang diolah dihitung dari debit maksimum Air Limbah dan retensi/waktu tinggal yang direncanakan. Misal: ⁄ ⁄
b) Tinggi air genangan yang direncanakan Pengolahan Air Limbah dengan Lahan Basah Buatan salah satunya memanfaatkan fungsi dari tanaman air. Untuk menjaga kelangsungan hidup tanaman air, perlunya mengatur tinggi genangan. Tinggi genangan maksimum 60 (enam puluh) centimeter dari dasar kolam atau permukaan bahan organik, agar tanaman tidak tenggelam. Dalam penghitungan luas lahan basah yang dibutuhkan maka perhitungan dilakukan sebagai berikut:
Maka estimasi sistem Lahan Basah Buatan yang dibutuhkan:
Dengan asumsi terdapat 5 (lima) kompartemen, maka luas per kompartemen:
Dengan asumsi lebar tanggul untuk seluruh kompartemen sebesar 5 (lima) meter dan rasio kolam P: L adalah 4 : 1 maka: √
m
Dengan asumsi kolam dibangun secara paralel, maka luas sistem Lahan Basah Buatan adalah
- Penentuan waktu retensi Dalam uji coba waktu tinggal atau waktu retensi untuk penentuan luas Lahan Basah Buatan yang dibutuhkan, telah mempertimbangkan beban Air Limbah. Untuk mengetahui waktu tinggal atau waktu retensi yang direncanakan pada setiap unit instalasi Pengolahan Air Limbah Lahan Basah Buatan, dilakukan melalui uji coba laboratorium sebagai berikut: a. Pengendapan (TSS) Kolam pengendapan diperlukan karena Air Limbah mengandung total padatan tersuspensi (TSS) yang melampaui Baku Mutu Air Limbah. Dalam merancang kolam pengendapan terdapat beberapa faktor yang harus dipertimbangkan, antara lain ukuran dan bentuk butiran padatan, kecepatan aliran, persen padatan. Kecepatan pengendapan dapat dihitung dengan menggunakan Persamaan Stokes:
Keterangan:
V = kecepatan pengendapan partikel (m/detik) g = percepatan gravitasi (m/detik2) p = berat jenis partikel padatan (kg/m3) a = berat jenis air (kg/m3) = kekentalan dinamik air (kg/mdetik) D = diameter partikel padatan (m)
Perhitungan Presentase Pengendapan
Perhitungan Presentase pengendapan ini bertujuan untuk
mengetahui kolam pengendapan yang akan dibuat dapat
berfungsi
untuk
mengendapkan
partikel
padatan
yang
terkandung dalam air limpasan tambang.
Waktu yang dibutuhkan partikel untuk mengendap dengan
kecepatan (V) sejauh h adalah
Keterangan: Waktu pengendapan partikel (detik) kecepatan pengendapan partikel (m⁄ detik) kedalaman (meter)
Keterangan Kecepatan pengendapan partikel (m/detik) debit aliran yang masuk ke kolam pengendapan (m3/detik) luas permukaan (m2)
Sedangkan waktu yang dibutuhkan partikel untuk keluar dari kolam pengendapan dengan kecepatan Vh adalah:
Keterangan: Waktu keluar partikel (detik) Panjang kolam pengendapan (m) Kecepatan pengendapan partikel (m/detik)
Dalam proses pengendapan ini partikel mampu mengendap dengan baik jika tv tidak lebih besar dari th.
b. Pengolahan derajat keasaman (pH) dan parameter logam Pengolahan derajat keasaman (pH) dan parameter logam dilakukan dengan memanfaatkan fungsi bahan organik dan tanaman. Untuk menghitung waktu tinggal atau waktu retensi dari bahan organik yang akan digunakan dilakukan melalui uji coba. Sedangkan pemanfaatan tanaman untuk menyerap parameter logam disesuaikan dengan referensi.
c.
Pengolahan parameter organik
Pengolahan parameter organik dilakukan dengan sistem floating
tanaman air.
- Kriteria Desain
Menurut Metcalf & Eddy (1991) kriteria desain untuk sistem Lahan
Basah Buatan terdiri dari waktu tinggal hidrolik, kedalaman kolam,
geometri kolam (Panjang dan lebar), BOD loading rate dan hydraulic
loading rate dan luas area. Parameter desain Lahan Basah Buatan
untuk sistem sistem aliran permukaan adalah sebagai berikut
(Tabel 3): Tabel 3. Kriteria Desain Lahan Basah Buatan Parameter Desain Satuan Nilai Waktu tinggal hari 5 – 14(*)
Kedalaman air m 0,1 – 0,5 BOD loading rate g/m2.hari Hydraulic loading rate mm/hari 7 – 60 Metal loading rate (Fe) g/m2.hari Metal loading rate (Mn) g/m2.hari 0,5 Rasio (Panjang : lebar)
2:1 - 10:1 Frekuensi pemanenan tahun 3 - 5 Sumber: Wood (1995), Hedin, et.al (1994)
Keterangan: (*) = Disesuaikan dengan hasil uji coba retensi penggunaan bahan organik
Kriteria desain tersebut merupakan nilai batas yang menjadi acuan untuk parameter dalam perancangan Lahan Basah Buatan. Sebagaimana terlihat pada diagram berikut (Gambar 4).
Gambar 4. Proses Desain Lahan Basah Buatan
Untuk melakukan pengecekan kesesuaian terhadap parameter beban, maka rumus yang digunakan adalah sebagai berikut (Tabel 4).
Tabel 4. Rumus Perhitungan Parameter Beban
Jenis Beban
Rumus
Keterangan
Beban
hidrolik
(Hydraulic
loading):
jumlah Air Limbah yang
diolah per satuan luas
permukaan
media
per
hari.
Dihitung
pada
kolam
Pengolahan
pH
dan logam
beban hidrolik (m3/m2.hari)
max/tertinggi debit Air Limbah (m3/hari) Luas Permukaan kolam (m2)
Beban logam (Metal loading) digunakan untuk mendesain luas permukaan kolam yang didasarkan pada banyaknya beban logam yang masuk setiap hari ke dalam kolam tersebut setiap hari.
beban solid (kgSS/m2.hari)
max/tertinggi debit Air Limbah (m3/hari) beban logam (kgLOGAM/m3) Luas Permukaan kolam (m2)
Beban Organik (Organic Loading) digunakan untuk mendesain luas permukaan kolam yang didasarkan pada
beban solid (gBOD/m2.hari)
max/tertinggi debit Air Limbah (m3/hari) beban pencemar organic (gBOD/m3) Luas Permukaan kolam (m2)
Penghitungan Debit Penghitungan Volume Penghitungan Luas Penghitungan Waktu Retensi Pengecekan kesesuaian dengan Kriteria Desain
Jenis Beban Rumus Keterangan banyaknya beban pencemar organik (BOD atau COD) yang masuk setiap hari ke dalam kolam tersebut setiap hari.
Beban solid (Solid loading) digunakan untuk mendesain luasan bak pengendap yang didasarkan pada kecepatan digunakan untuk mendesain luas permukaan bak pengendap yg didasarkan pada kecepatan pengendapan partikel flokulen.
beban solid (gSS/m2.hari)
max/tertinggi debit Air Limbah (m3/hari) beban solid (gSS/m3) Luas Permukaan kolam (m2)
- Komponen Lahan Basah Penampang melintang Lahan Basah Buatan secara sederhana tergambar pada Gambar 5. Komponen Lahan Basah Buatan terdiri dari bahan organik, tanaman, dan kolam. Untuk perancangan Lahan Basah Buatan, maka mengikuti kriteria teknis sebagai berikut:
Gambar 5. Penampang melintang Lahan Basah Buatan
a) Media organik Berdasarkan Ellis (2003), karakteristik media organik adalah: 1) Kedalaman media organik: 0,6 m. 2) Hydraulic conductivity media organik: 10-3 m/s sampai 10- 2 m/s 3) Media organik harus memiliki hydraulic conductivity yang cukup tinggi, agar Air Limbah bisa mengalir dengan laju yang cukup dan tidak terjadi overflow. 4) Untuk meningkatkan konduktivitas hidrolik total bisa ditambahkan kerikil dan juga untuk menopang akar tanaman serta bertindak sebagai perangkap lumpur. 5) Sebelum digunakan, semua komponen media organic harus dianalisis terlebih dahulu nilai hydraulic conductivity, buffer capacity, derajat keasaman (pH), tingkat nutrisi untuk tanaman dan aktivitas mikroba.
b) Jenis tanaman Berdasarkan Ellis (2003), aspek yang perlu diperhatikan dalam pemilihan tanaman untuk digunakan pada Lahan Basah Buatan adalah sebagai berikut: 1) Menggunakan spesies lokal dan non-invasif; 2) Dapat tumbuh cepat dan relatif konstan; 3) Memiliki kemampuan fitoremediasi (tahan terhadap pH rendah dan toksik logam berat); 4) Biomassa tinggi, struktur akar padat; 5) Memiliki kemampuan propagasi yang baik; 6) Toleransi terhadap kondisi eutrofik; 7) Kemudahan panen dan memiliki potensi pemanfaatan tumbuhan setelah dipanen; 8) Memiliki nilai ekologis; dan 9) Ketersediaan tanaman.
c) Kolam 1) Kemiringan Debit Air Limbah yang masuk ke Lahan Basah Buatan dipengaruhi kemiringan dan volume drainase.
- Jenis tanah Memiliki kondisi derajat keasaman (pH) 6,5 – 8,5 dan kondisi fisika kimia mampu mendukung pertumbuhan tanaman dan aktivitas mikroba.
- Dinding kolam
Dinding bagian dalam kolam memiliki lapisan yang impermeabel yang disesuaikan dengan tekanan air dan jenis tanah. Salah satunya dengan cara melapisi dengan lempung yang dapat mencegah rembesan serta mengurangi turbiditas. Ketebalan lempung yang dipadatkan minimal 30 (tiga puluh) centimeter.
Dinding bagian luar yang berbatasan dengan sekitar LBB didesain landai atau cascade untuk mengantisipasi satwa liar yang terperosok di kolam. - Tanggul
Tanggul merupakan partisi antar kompartemen. Tanggul
harus
dibangun
cukup
lebar
untuk
mempermudah
konstruksi, operasi, dan perawatan.
Tanggul bagian terluar selebar minimal 5 (lima) meter untuk menghindari galian oleh hewan dan memiliki ketinggian lebih tinggi untuk menjaga sistem dari curah hujan tinggi maupun badai. Sedangkan tanggul antar kompartemen minimal 2,5 (dua koma lima) - 3 (tiga) meter. Pada konstruksi dinding yang miring, kemiringan tanggul pada proporsi tinggi dan lebar 2:1. - Jalan inspeksi Jalan inspeksi dibangun untuk memudahkan operasional dan perawatan. Jalan inspeksi merupakan lebar dinding antar kompartemen. Lebar minimal jalan inspeksi antar tanggul 3 (tiga) - 5 (lima) meter untuk dapat dilewati kendaraan dengan kemiringan maksimum 12% (dua belas persen). Permukaan jalan diantisipasi terhadap beban kendaraan dan mencegah erosi dan kerusakan. Contoh tanggul antar kompartemen dapat dilihat pada Gambar 6.
Gambar 6. Contoh Sayatan Penampang
- Pengendalian debit saluran air Setiap kolam dilengkapi saluran inlet dan pipa berlubang- lubang untuk outlet. Untuk pengendalian debit dapat dilakukan dengan menggunakan struktur inlet dan outlet yang sesuai. Inlet FWS dan SSF dapat menggunakan pipa dengan ujung terbuka, kanal, maupun pipa. Pemasangan katup (valve/weir) pada inlet dan outlet juga dapat digunakan untuk mengatur aliran ke dalam Lahan Basah Buatan. Konduktivitas hidrolik dapat ditingkatkan dengan menggunakan bronjong pada inlet. Pengaturan debit air outlet sesuai dengan standar teknis dan/atau untuk pengendalian banjir (asumsi yang tadinya berhutan runoff 0,1 dan saat penambangan runoff 0,9).
- Sistem drainase
Keluaran hasil pengolahan limbah dialirkan ke badan perairan terdekat dan menghindari adanya genangan pada sistem drainase untuk menghindari vektor penyakit.
Untuk spesifikasi teknis masing-masing kolam dari unit pra
pengolahan dan unit instalasi Pengolahan Air Limbah Lahan
Basah Buatan dapat mengikuti kriteria sebagai berikut:
a.
Kolam pengendapan
1.
Sesuai dengan fungsinya untuk mengendapkan TSS,
diperlukan
pengerukan/pembongkaran
sedimen
secara berkala (variabel beban TSS, waktu retensi dan
luas permukaan kolam).
2.
Desain
kolam
yang
mempermudah
pelaksanaan
pengerukan/ pembongkaran, yakni:
a)
Kolam 2 (dua) jalur sistem paralel, untuk
pergantian antara pelaksanaan pengendapan dan
pengerukan/pembongkaran sedimen agar fungsi
Lahan Basah Buatan tetap berjalan.
b)
Dalam setiap jalur dapat menggunakan beberapa
kompartemen.
c)
Tanggul dengan lebar dan konstruksi yang kuat,
disesuaikan dengan peralatan untuk pengerukan
dan pengangkutan sedimen.
3.
Keberhasilan kolam ini dalam mengendapkan TSS
akan
meringankan
pemeliharaan
pada
kolam
berikutnya, karena tidak adanya pembongkaran.
4.
Desain luas kolam berdasarkan beban TSS yang
masuk tiap hari dikali waktu retensi yang didesain
(hasil uji coba).
5.
Rasio/ukuran panjang dan lebar kolom yang efektif
untuk proses pengendapan yakni 2:1 atau 4:1.
6.
Konstruksi dasar kolam dari pasangan batu kedap air
atau dilakukan pemadatan, dengan kedalaman yang
disesuaikan dengan kapasitas Air Limbah yang
dikelola dan debit aliran (bisa lebih dari 2 (dua) meter).
7.
Dinding kolam ditanami cover crop untuk stabilitas
dan
mencegah
masuknya
sedimen
dari
areal
sekitarnya.
8.
Dapat ditambahkan tanaman air dengan metode
penanaman mengapung (floating garden), sehingga
pada saat pengambilan sedimen atau lumpur dapat
digeser.
b.
Kolam pengolahan derajat keasaman (pH) dan unsur logam
1.
Kolam dapat terdiri dari beberapa kompartemen.
2.
Desain luas kolam berdasarkan beban Air Limbah
yang masuk tiap hari dikali waktu retensi yang
didesain (hasil uji coba).
3.
Rasio/ukuran panjang dan lebar kolam yang efektif
untuk mengatur aliran air dan pengelolaan yakni 2:1.
4.
Konstruksi kolam dari pasangan batu kedap air atau
dilakukan pemadatan, dengan kedalaman ± 1 m.
5.
Dasar
kolam
di
isi
dengan
bahan
organik
setinggi/setebal 30 (tiga puluh) - 40 (empat puluh)
centimeter. Bahan organik yang digunakan sesuai
dengan hasil uji coba.
6.
Ditanami tumbuhan air dan/atau pohon tahan
genangan (satu jenis atau beberapa jenis) yang
berjarak (tumbuhan air 50×50cm atau 1×1m, bibit
pohon 2×2m, 3×3m atau 4×4m disesuaikan ukuran
kompartemen) dan ditata untuk mengalirkan Air
Limbah secara merata.
7.
Dialirkan Air Limbah setinggi 60 (enam puluh)
centimeter dengan mengatur level (ketinggian) outlet
yang memungkinkan kolam selalu tergenang air.
c.
Kolam pengolahan parameter organik
1.
Desain luas kolam berdasarkan beban Kebutuhan
Oksigen Biokimiawi (BOD) / Kebutuhan Oksigen
Kimiawi (COD) yang masuk tiap hari dikali waktu
retensi yang didesain (hasil uji coba).
2.
Kolam dengan kedalaman ± 1-2 m.
3.
Dasar kolam tanpa media tumbuh tanaman.
4.
Ditanami tanaman air (satu jenis atau beberapa jenis)
yang mengapung (floating garden). Jika menggunakan
tanaman invasif, perlu upaya mitigasi agar tanaman
tidak keluar dari Lahan Basah Buatan.
d. Kolam indikator penaatan Baku Mutu Air Limbah 1. Kolam dengan kedalaman ± 25 cm untuk memastikan masuknya sinar matahari hingga ke dasar kolam. 2. Dilengkapi dengan peralatan dan bahan untuk menetralisir kualitas air apabila belum memenuhi Baku Mutu Air Limbah. atau pemompaan menuju kolam atau kompartemen sebelumnya. 3. Kolam dilengkapi saluran inlet dan outlet yang dapat mengatur debit air maksimal yang dizinkan untuk dibuang ke lingkungan.
F. Pemeliharaan Lahan Basah Buatan Pemeliharaan terhadap persyaratan fasilitas dan pemantauan Lahan Basah Buatan dilakukan untuk tetap menjaga fungsi dan efisiensi
Pengolahan Air Limbah sesuai dengan yang direncanakan. Pemeliharaan
persyaratan fasilitas Lahan Basah Buatan meliputi:
1.
Kolam ekualisasi
Fungsi kolam ekualisasi yakni untuk pengaturan debit Air Limbah
yang akan diolah. Pemeliharaan dilakukan terhadap saluran dan
sistem pemompaan agar tetap berfungsi.
2.
Kolam pengendapan
Pemeliharaan
pada
kolam
pengendapan
dilakukan
melalui
pengambilan lumpur atau sedimen secara kontinu. Sesuai dengan
uji laboratorium dalam pengukuran kecepatan pengendapan, dapat
disusun jadwal pengambilan lumpur atau sedimen.
Untuk kolam pengendapan yang dipasang tanaman dengan cara
floating atau terapung, pengeseran tanaman dilakukan sebelum
pengambilan lumpur atau sedimen untuk mencegah kerusakan pada
tanaman. Pada saat pelaksanaan pengambilan lumpur atau sedimen
ini, saluran yang masuk ke Lahan Basah Buatan dalam kondisi
tertutup.
Pengurasan sedimen dilakukan dengan menggunakan alat berat
untuk kemudian dipindahkan ke area penimbunan yang telah
ditentukan. Pada kondisi musim hujan maka pengurasan dapat
dilakukan dengan metode side dumping. Air yang masih terkandung
pada sedimen dialirkan kembali ke dalam lahan basah buatan.
3.
Kolam pengolahan parameter derajat keasaman dan logam
a.
Pemeliharaan bahan organik/substrat
Pemeliharaan dilakukan agar bahan organik/substrat tetap
dalam kondisi basah atau tergenang. Penambahan bahan
organik/substrat dapat dilakukan apabila efisiensi pengolahan
Air Limbah menurun atau konsentrasi Air Limbah bertambah.
b.
Pemeliharaan tanaman
Pemeliharaan tanaman meliputi:
1)
Penggantian tanaman apabila terdapat tanaman yang mati,
2)
Pemanenan tanaman dilakukan pada saat kondisi jenuh
(kandungan logam telah tinggi atau efisiensi Pengolahan Air
Limbah menurun).
3)
Dalam pemeliharaan tanaman ini, khususnya yang berupa
pohon dilakukan dengan menjaga ketinggian air dalam
kolam tidak menyebabkan tanaman tergenang lebih dari 60
(enam puluh) centimeter .
4)
Waktu pemanenan bergantung pada siklus tumbuh dari
tanaman dan tingkat kerapatan tanaman.
5)
Pemanenan dapat dilakukan secara manual maupun
dengan alat berat.
6)
Pada tahap awal instalasi, pemeriksaan terhadap kondisi
tanaman dilakukan berkala setiap minggu untuk melihat
menjaga tanaman tetap tumbuh dan bebas dari hama.
Selain itu perlu dilakukan pencegahan pembersihan gulma.
4.
Kolam pengolahan parameter organik
Pemeliharaan dilakukan terhadap tanaman floating atau terapung,
dengan
mengganti
atau
menambah
tanaman
yang
mempertimbangkan
kemampuan
tanaman
dalam
pengolahan
parameter organik.
5.
Kolam indikator ketaatan Baku Mutu Air Limbah
Pemeliharaan kolam indikator ini dilakukan dengan menjaga air
kolam dapat terkena sinar matahari langsung.
6.
Tanggul
Fungsi tanggul adalah untuk mencegah aliran air limpasan langsung
masuk ke kolam baik pada pra pengolahan maupun Lahan Basah
Buatan. Oleh karena itu, pemeliharaan dilakukan dengan menjaga
tanggul agar tidak rusak dan segera memperbaiki apabila terjadi
kerusakan. Pemeriksaan kolam dilakukan secara berkala minimal
setiap satu bulan sekali untuk memeriksa struktur kolam.
Pemeliharaan juga dilakukan dengan menjaga tanggul tetap tertutup
oleh tanaman penutup tanah.
7.
Jalan inspeksi
Pemeliharaan jalan inspeksi dimaksudkan agar tidak mengganggu
aksesibilitas dalam pelaksanaan pemantauan dan pemeliharaan
Lahan Basah Buatan.
8.
Tempat penampungan lumpur
Pemeliharaan terhadap tempat penampungan lumpur yakni agar
lumpur tidak terbawa aliran air limpasan. Salah satu upaya
pemeliharaan penimbunan lumpur yakni menggunakan tanaman
penutup tanah untuk kemudian direvegetasi.
G.
Pemeliharaan persyaratan pemantauan
Pemeliharaan terhadap persyaratan pemantauan dilakukan untuk untuk
memastikan fungsi peralatan untuk pemantauan dapat berjalan dengan
sebagaimana mestinya.
Pemeliharaan persyaratan pemantauan meliputi:
1.
Fasilitas pengatur debit.
Pemeliharaan terhadap pengatur debit dilakukan untuk mengurangi
fluktuasi debit berlebihan. Salah satu upaya pemeliharaan fasilitas
pengatur debit dilakukan dengan pembersihan saluran air dan
pengatur debit dari kotoran yang dapat menyumbat saluran. Selain
itu untuk mmpertahankan tinggi muka air yang berpengaruh
terhadap tanaman pada lahan basah perlu dilakukan pemantauan
debit inlet setiap hari.
2.
Titik penaatan Air Limbah
Titik penaatan Air Limbah ditetapkan untuk mengambil contoh uji
air limbah untuk mengetahui tingkat ketaatan terhadap baku mutu
yang ditetapkan. Pada titik penaatan dilakukan pengukuran debit Air
Limbah dan kualitas Air Limbah.
Pengukuran debit Air Limbah dapat dilakukan dengan menggunakan
antara lain V-notch atau flow meter. Pemeliharaan pada alat ukur
debit dilakukan dengan cara pembersihan saluran Air Limbah pada
titik penaatan maupun jalan menuju titik penaatan sehingga dalam
pengambilan contoh uji mudah terjangkau. Selain itu pemeliharaan
dilakukan terhadap alat ukur debit yaitu dengan melakukan
kalibrasi jika alat ukur debit menggunakan flow meter.
Sedangkan untuk pemantauan kualitas Air Limbah secara terus
menerus
dan
dalam
jaringan
(Sparing)
pemeliharaan
untuk
memastikan
fungsi
sistem
Sparing
dapat
berjalan
dengan
sebagaimana mestinya. Pemeliharaan yang dilakukan antara lain:
a)
Pengecekan rutin kondisi sensor, diagnostik sistem, dan alarm,
b)
Pengecekan rutin kondisi koneksi komunikasi dan transmisi
data,
c)
Pengecekan rutin kondisi sistem pembersihan otomatis,
d)
Pengecekan rutin hasil dan kualitas data yang dikirimkan ke
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan,
e)
Pembersihan sensor jika diperlukan,
f) Kalibrasi rutin setiap sensor terpasang tiap 1 (satu) bulan atau per 3 (tiga) bulan sesuai dengan petunjuk manual alat dari manufaktur, dan/atau g) penggantian alat-alat/komponen Sparing jika terjadi kerusakan. Berdasarkan kegiatan-kegiatan tersebut di atas maka, kegiatan perawatan dapat dikelompokan menjadi 2 (dua) kegiatan yaitu: a) pemeriksaan harian untuk mengetahui status sensor, alarm diagnostik sistem, status koneksi, transmisi data, b) pemeriksaan bulanan untuk sensor dan pembersihan sistem, cadangan data, kalibrasi parameter sebagaimana ditentukan dalam jadwal kalibrasi sesuai dengan manual alat. 3. Sarana pengambilan contoh uji Pemeliharaan dilakukan terhadap sarana pengambilan contoh uji pada titik inlet dan titik outlet dimaksudkan agar memudahkan petugas pengambil contoh uji dalam mengambil contoh uji baik di inlet maupun outlet. 4. Alat pemantauan mutu air secara terus menerus dan dalam jaringan. Pemeliharaan dilakukan dengan cara: a) Pembersihan alat pemantauan mutu air secara terus menerus dan dalam jaringan secara rutin dan berkala untuk menghilangan lumpur yang menempel pada probe; b) Kalibrasi secara rutin dan berkala sesuai dengan manual kalibrasi alat; dan c) Penggantian probe atau membrane alat pemantauan mutu air secara terus menerus dan dalam jaringan jika mengalami kerusakan. 5. Papan informasi Pemeliharaan papan informasi dimaksudkan untuk mengetahui lokasi dan koordinat titik penaatan, karakteristik Air Limbah yang diolah serta informasi nama dan kapasitas kolam.
H. Penghitungan Efisiensi Pengolahan Air Limbah Dalam upaya pemantauan maka perlu dihitung efisiensi Pengolahan Air Limbah, dengan metode sebagai berikut:
Keterangan: Cin = konsentrasi pencemar di influen Cef = konsentrasi pencemar di efluen
Salinan sesuai dengan aslinya Plt. KEPALA BIRO HUKUM, MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA, ttd.
SUPARDI ttd.
SITI NURBAYA
LAMPIRAN II PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2022 TENTANG PENGOLAHAN AIR LIMBAH BAGI USAHA DAN/ATAU KEGIATAN PERTAMBANGAN DENGAN MENGGUNAKAN METODE LAHAN BASAH BUATAN
BAKU MUTU AIR LIMBAH BAGI USAHA DAN/ATAU KEGIATAN PERTAMBANGAN DENGAN CARA LAHAN BASAH BUATAN
A. BAKU MUTU AIR LIMBAH PERTAMBANGAN BATU BARA DAN LIGNIT Parameter Satuan Kadar Maksimum Penambangan Pengolahan /Pencucian Derajat Keasaman (pH)
6 – 9 6 - 9 Padatan Tersuspensi Total (TSS)
mg/l Besi (Fe) Total
mg/l Mangan (Mn) Total
mg/l Kebutuhan Oksigen Biokimiawi (BOD)
mg/l Kebutuhan Oksigen Kimiawi (COD) mg/l
B. BAKU MUTU AIR LIMBAH PERTAMBANGAN PASIR BESI DAN BIJIH BESI
Parameter Satuan Kadar Maksimum Penambangan Pengolahan Derajat Keasaman (pH)
6 – 9 6 – 9 Padatan Tersuspensi Total (TSS)
mg/l Besi (Fe)
mg/l
Mangan (Mn)
mg/l
Parameter Satuan Kadar Maksimum Penambangan Pengolahan Tembaga (Cu)
mg/l Seng (Zn)
mg/l Timbal (Pb)
mg/l 0,1 0,1 Nikel (Ni)
mg/l 0,5 0,5 Kromium VI (CR 6+)
mg/l 0,1 0,1 Kebutuhan Oksigen Biokimiawi (BOD)
mg/l Kebutuhan Oksigen Kimiawi (COD) mg/l
C. BAKU MUTU AIR LIMBAH PERTAMBANGAN BIJIH LOGAM LAINNYA YANG TIDAK MENGANDUNG BESI, TIDAK TERMASUK BIJIH LOGAM MULIA
BAKU MUTU AIR LIMBAH PERTAMBANGAN BIJIH TIMAH Parameter Satuan Kadar Maksimum Penambangan Pengolahan Derajat Keasaman (pH)
6 – 9 6 – 9 Padatan Tersuspensi Total (TSS)
mg/l Besi (Fe) Total
mg/l Seng (Zn)
mg/l Tembaga (Cu)
mg/l Kromium (Cr) Total
mg/l 0,5 0,5 Timbal (Pb)
mg/l 0,1 0,1 As
mg/l 0,2 0,1 S+2
mg/l 0,05 0,05 Mn
mg/l Sn+ mg/l
Parameter Satuan Kadar Maksimum Penambangan Pengolahan Kebutuhan Oksigen Biokimiawi (BOD)
mg/l Kebutuhan Oksigen Kimiawi (COD) mg/l
BAKU MUTU AIR LIMBAH PERTAMBANGAN TEMBAGA Parameter Satuan Kadar Maksimum Penambangan Pengolahan Derajat Keasaman (pH)
6 – 9 6 – 9 Padatan Tersuspensi Total (TSS)
mg/l Seng (Zn)
mg/l Kadmium (Cd)
mg/l 0,1 0,1 Tembaga (Cu)
mg/l Kromium (Cr)
mg/l Timbal (Pb)
mg/l Nikel (Ni)
mg/l 0,5 0,5 Arsen (As)
mg/l 0,5 0,5 Merkuri (Hg)
mg/l 0,005 0,005 Kebutuhan Oksigen Biokimiawi (BOD)
mg/l Kebutuhan Oksigen Kimiawi (COD) mg/l
BAKU MUTU AIR LIMBAH PERTAMBANGAN BIJIH NIKEL Parameter Satuan Kadar Maksimum Penambangan Pengolahan Derajat Keasaman (pH)
6 – 9 6 – 9 Padatan Tersuspensi Total (TSS)
mg/l
Parameter Satuan Kadar Maksimum Penambangan Pengolahan Besi (Fe) Total
mg/l Seng (Zn)
mg/l Kadmium (Cd)
mg/l 0,05 0,05 Kobalt (Co)
mg/l 0,4 0,4 Tembaga (Cu)
mg/l Kromium VI (Cr 6+) mg/l 0,1 0,1 Kromium (Cr) Total
mg/l 0,5 0,5 Timbal (Pb)
mg/l 0,1 0,1 Nikel (Ni)
mg/l 0,5 0,5 Kebutuhan Oksigen Biokimiawi (BOD)
mg/l Kebutuhan Oksigen Kimiawi (COD) mg/l
BAKU MUTU AIR LIMBAH PERTAMBANGAN BIJIH BAUKSIT Parameter Satuan Kadar Maksimum Penambangan Pencucian Derajat Keasaman (pH)
6 – 9 6 – 9 Padatan Tersuspensi Total (TSS)
mg/l Besi (Fe) Total
mg/l Mangan (Mn) Total
mg/l Tembaga (Cu)
mg/l
Timbal (Pb)
mg/l
0,1 Nikel (Ni)
mg/l
0,5 Kebutuhan Oksigen Biokimiawi (BOD)
mg/l Kebutuhan Oksigen Kimiawi mg/l
Parameter Satuan Kadar Maksimum Penambangan Pencucian (COD)
D. BAKU MUTU AIR LIMBAH PERTAMBANGAN BIJIH LOGAM MULIA
BAKU MUTU AIR LIMBAH PERTAMBANGAN BIJIH EMAS Parameter Satuan Kadar Maksimum Penambangan Pengolahan Derajat Keasaman (pH)
6 – 9 6 – 9 Padatan Tersuspensi Total (TSS)
mg/l Seng (Zn)
mg/l Kadmium (Cd)
mg/l 0,1 0,1 Sianida (CN)
mg/l
0,5 Tembaga (Cu)
mg/l Kromium (Cr)
mg/l Timbal (Pb)
mg/l Nikel (Ni)
mg/l 0,5 0,5 Arsen (As)
mg/l 0,5 0,5 Merkuri (Hg)
mg/l 0,005 0,005 Kebutuhan Oksigen Biokimiawi (BOD)
mg/l Kebutuhan Oksigen Kimiawi (COD) mg/l
Salinan sesuai dengan aslinya Plt. KEPALA BIRO HUKUM, MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA,
ttd. SUPARDI ttd. SITI NURBAYA
