Pasal 9
BAB 4 — PELAKSANAAN PINJAMAN
(1) Berdasarkan persetujuan PT SMI atas usulan Pinjaman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8, Pemda dan PT SMI menandatangani Perjanjian Pinjaman Pembiayaan, yang memuat paling kurang: a. jumlah Pinjaman; b. jangka waktu dan tingkat bunga Pinjaman; c. lingkup dan tujuan Perjanjian Pinjaman Pembiayaan; d. syarat efektif Perjanjian Pinjaman Pembiayaan; e. ketentuan dan jadwal pembayaran kembali; f. persyaratan pencairan dana dengan memastikan perkembangan pembangunan proyek infrastruktur; g. kesediaan untuk dilakukan pemotongan DAU dan/atau DBH dalam hal Pemda Gagal Bayar; h. ketentuan mengenai kewajiban Pemda dalam rangka pelaksanaan pembiayaan infrastruktur daerah (covenants) termasuk kewajiban untuk memastikan ketersediaan layanan publik melalui infrastruktur yang pembiayaannya disediakan oleh PT SMI; i. ketentuan mengenai cidera janji termasuk Jangka Waktu Pemulihan; j. sanksi dan/atau penalti; dan k. mekanisme penyelesaian sengketa. (2) Perjanjian Pinjaman Pembiayaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat ditandatangani, apabila: a. Pemda telah menyampaikan surat kepada PT SMI yang berisi pernyataan Kepala Daerah yang telah disetujui oleh Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah mengenai kesediaan pemotongan DAU dan/atau DBH secara langsung dalam hal terjadi
Gagal Bayar; dan b. Pemda telah memenuhi syarat penandatanganan Perjanjian Pinjaman Pembiayaan lainnya. (3) Perjanjian Pinjaman Pembiayaan yang telah ditandatangani sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berlaku efektif, apabila: a. Pemda telah menyampaikan kepada PT SMI surat persetujuan melampaui defisit APBD dari Menteri dalam hal Pinjaman melebihi batas maksimal defisit APBD tahun yang berkenaan; dan b. Pemda telah memenuhi syarat efektif lainnya yang diatur dalam Perjanjian Pinjaman Pembiayaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d.
