Pasal 23
BAB 4 — SISTIM RUTE
(1) Bagan pemisah lalu lintas di laut (traffic separation scheme) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (1) huruf a, ditetapkan berdasarkan: a. kondisi lebar alur-pelayaran; b. dimensi kapal; c. kepadatan lalu lintas berlayar; d. bahaya pelayaran; e. sifat-sifat khusus kapal; f. alur tertentu; dan g. setiap alur yang biasanya digunakan untuk Navigasi internasional. (2) Rute dua arah (two way routes) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (1) huruf b, ditetapkan berdasarkan: a. kondisi lebar alur-pe1ayaran; b. dimensi kapal; c. kepadatan lalu lintas berlayar; d. bahaya pe1ayaran; e. sifat-sifat khusus kapal; f. alur tertentu; dan g. setiap alur yang biasanya digunakan untuk pelayaran internasional. (3) Garis haluan yang dianjurkan (recommended tracks), sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (1) huruf c ditetapkan untuk:
a. panduan nakhoda kapal saat memasuki alur- pelayaran di laut; b. garis panduan yang telah ditetapkan pada peta laut; c. menunjukan titik kritis dari satu be1okan; dan d. memperjelas rute yang aman untuk kapal. (4) Rute air dalam (deep water routes) sebagaimana dimaksuddalam Pasal 22 ayat (1) huruf d ditetapkan berdasarkan: a. dimensi kapal; b. under keel clearance; c. draught kapal; d. kondisi dari dasar laut yang tertera di peta laut; e. bahaya-bahaya navigasi; dan f. mengambarkan titik-titik tertentu untuk suatu belokan. (5) Daerah yang harus dihindari (areas to be avoided) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (1) huruf e, ditetapkan berdasarkan: a. lokasi labuh jangkar yang telah ditetapkan; b. lokasi yang dilindungi; c. kondisi dari dasar laut yang tertera di peta laut; dan d. bahaya-bahaya navigasi. (6) Daerah lalu lintas pedalaman (inshore traffic zones) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (1) huruf f, ditetapkan berdasarkan: a. diperuntukan untuk kapal yang panjangnya kurang dari 20 (dua puluh) meter; b. rute diperuntukan untuk menuju dan keluar pelabuhan; c. diperuntukan bagi kapal ikan di sekitar traffic separation scheme (TSS) yang akan melaksanakankegiatan; d. kapal dalam kondisi tidak beroperasi dengan baik. (7) Daerah kewaspadaan (precaution areas) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (1) huruf g ditetapkan berdasarkan: a. lokasi labuh sementara;
b. daerah joint kapal untuk masuk ke bagan pemisah; c. daerah ditentukan untuk kapal memotong suatu bagan pemisah. (8) Daerah-daerah putaran (roundabouts) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (1) huruf h, ditetapkan berdasarkan: a. kondisi lebar alur-pelayaran; b. dimensi kapal; c. kepadatan lalu lintas berlayar; d. bahaya pelayaran; e. sifat-sifat khusus kapal; f. alur tertentu; g. setiap alur yang biasanya digunakan untuk pelayaran internasional; h. digunakan untuk memandu traffic dengan cara mengitari berlawanan arah jarum jam suatu daerah pemisah berbentuk bulat.
