Pasal 8
(1) Setelah mendapatkan persetujuan diplomatic clearance dan security clearance, kegiatan angkutan udara bukan niaga dan niaga tidak berjadwal luar negeri dengan pesawat udara sipil asing yang terbang ke dan dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia wajib mendapatkan persetujuan terbang (flight approval). (2) Persetujuan terbang (flight approval) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan oleh Direktur. (3) Pemberian persetujuan terbang (flight approval) sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diterbitkan dengan memperhatikan aspek keamanan dan keselamatan penerbangan serta alokasi ketersediaan waktu terbang bandar udara (slot time). (4) Persetujuan terbang (flight approval) sebagaimana dimaksud pada ayat (3) berlaku untuk 1 (satu) kali penerbangan.
- Ketentuan Pasal 11 diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut:
