Pasal 26
BAB 4 — PENAGIHAN DAN PENYETORAN
(1) Penagihan dalam rangka penyelesaian Kerugian Negara terhadap pegawai bukan bendahara yang karena perbuatan melawan hukum dan/atau lalai, yang mengakibatkan Kerugian Negara dilakukan atas dasar: a. SKTJM; b. SKP2KS; atau c. SKP2K. (2) Tata cara penagihan untuk memulihkan Kerugian Negara dilakukan sebagai berikut: a. Penagihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilakukan dengan surat penagihan (SPn) atas nama Pihak Yang Merugikan/Pengampu/Yang Memperoleh Hak/Ahli Waris yang bertanggung jawab atas Kerugian Negara tersebut; b. Surat penagihan diterbitkan oleh PPKN atau pejabat yang diberi kewenangan paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sejak SKTJM, SKP2KS, atau SKP2K ditetapkan; c. Berdasarkan surat penagihan sebagaimana dimaksud pada huruf a, Pihak Yang Merugikan/Pengampu/Yang Memperoleh Hak/Ahli Waris menyetorkan ganti Kerugian Negara ke Kas Negara; d. Surat penagihan sebagaimana dimaksud pada huruf b, diterbitkan dengan ketentuan:
- SPn Pertama merupakan dokumen yang diterbitkan oleh Kepala Satker untuk penagihan pertama piutang PNBP kepada pihak terutang yakni Pihak Yang Merugikan/ Pengampu/Yang Memperoleh Hak/Ahli Waris.
- SPn Kedua, merupakan yang diterbitkan oleh Kepala Satker apabila sampai dengan tanggal jatuh tempo pembayaran pada SPn Pertama
pihak terutang yakni Pihak Yang Merugikan/ Pengampu/Yang Memperoleh Hak/Ahli Waris belum melunasi piutang PNBP; 3) SPn Ketiga, merupakan dokumen yang diterbitkan oleh Kepala Satker apabila sampai dengan tanggal jatuh tempo pembayaran pada Surat penagihan kedua pihak terutang yakni Pihak Yang Merugikan/Pengampu/Yang Memperoleh Hak/Ahli Waris belum melunasi piutang PNBP.
