Pasal 6
diatur dengan Peraturan Menteri tersendiri. Pasal 3 Perubahan fungsi kawasan hutan menjadi hutan produksi yang dapat dikonversi tidak dapat dilakukan pada provinsi yang luas kawasan hutannya kurang dari 30% (tiga puluh perseratus). Pasal 4 (1) Perubahan fungsi kawasan hutan secara parsial sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3) huruf a dilakukan melalui perubahan fungsi: a. antar fungsi pokok kawasan hutan; atau b. dalam fungsi pokok kawasan hutan. (2) Perubahan fungsi antar fungsi pokok kawasan hutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, meliputi perubahan fungsi dari: a. kawasan hutan konservasi menjadi kawasan hutan lindung dan/atau kawasan hutan produksi; b. kawasan hutan lindung menjadi kawasan hutan konservasi dan/atau kawasan hutan produksi; dan c. kawasan hutan produksi menjadi kawasan hutan konservasi dan/atau kawasan hutan lindung. (3) Perubahan fungsi dalam fungsi pokok kawasan hutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, dilakukan dalam kawasan: a. hutan konservasi; atau b. hutan produksi. Bagian Ketiga Perubahan Fungsi Antar Fungsi Pokok Kawasan Hutan Pasal 5 Perubahan fungsi kawasan hutan konservasi menjadi kawasan hutan lindung dan/atau kawasan hutan produksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) huruf a wajib memenuhi ketentuan: a. tidak memenuhi seluruh kriteria sebagai kawasan hutan konservasi sesuai peraturan perundang- undangan; dan b. memenuhi kriteria hutan lindung atau hutan produksi sesuai peraturan perundang-undangan. Pasal 6 Perubahan fungsi kawasan hutan lindung menjadi kawasan hutan konservasi dan/atau kawasan hutan produksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) huruf b wajib memenuhi ketentuan: a. tidak memenuhi kriteria sebagai kawasan hutan lindung sesuai peraturan perundang-undangan dalam hal untuk diubah menjadi hutan produksi; dan b. memenuhi kriteria hutan konservasi atau hutan produksi sesuai peraturan perundang-undangan. 5 / 11 DIVA | DIUNDUH PADA 23 JULI 2023
