Pasal 94
BAB 6 — PEMBAHASAN RANCANGAN UNDANG-UNDANG
(1) Pembahasan rancangan UNDANG-UNDANG dalam pembicaraan tingkat I sebagaimana dimaksud dalam Pasal 87 ayat (2) huruf a dilakukan dengan kegiatan sebagai berikut: a. pengantar musyawarah; b. pembahasan daftar inventarisasi masalah; c. penyampaian pendapat mini sebagai sikap akhir; dan d. pengambilan keputusan. (2) Pembahasan rancangan UNDANG-UNDANG mengenai anggaran pendapatan dan belanja negara dilakukan sesuai dengan mekanisme pembahasan dalam rapat Badan Anggaran. (3) DPD ikut membahas rancangan UNDANG-UNDANG yang berkaitan dengan otonomi daerah; hubungan pusat dan daerah; pembentukan, pemekaran, dan penggabungan daerah; pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya; serta yang berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah. (4) Dalam pengantar musyawarah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a: a. DPR memberikan penjelasan dan
menyampaikan pandangan apabila rancangan UNDANG-UNDANG berasal dari DPR;
b. DPR memberikan penjelasan serta PRESIDEN dan DPD menyampaikan pandangan apabila rancangan UNDANG-UNDANG berasal dari DPR yang berkaitan dengan kewenangan DPD; c. DPD memberikan penjelasan serta DPR dan
menyampaikan pandangan apabila rancangan UNDANG-UNDANG berasal dari DPD yang berkaitan dengan kewenangan DPD; d. memberikan penjelasan dan Fraksi memberikan pandangan apabila rancangan UNDANG-UNDANG berasal dari PRESIDEN; atau e. PRESIDEN memberikan penjelasan serta Fraksi dan DPD menyampaikan pandangan apabila rancangan UNDANG-UNDANG berasal dari
yang berkaitan dengan kewenangan DPD. (5) Daftar inventarisasi masalah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b diajukan oleh: a. PRESIDEN jika rancangan UNDANG-UNDANG berasal dari DPR; b. DPR jika rancangan UNDANG-UNDANG berasal dari PRESIDEN; c. DPR dan DPD jika rancangan UNDANG-UNDANG berasal dari PRESIDEN sepanjang berkaitan dengan kewenangan DPD; d. DPR dan PRESIDEN jika rancangan UNDANG-UNDANG berasal dari DPD sepanjang terkait dengan kewenangan DPD; atau e. DPD dan PRESIDEN jika rancangan UNDANG-UNDANG berasal dari DPR sepanjang terkait dengan kewenangan DPD. (6) Penyampaian pendapat mini sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c disampaikan pada akhir pembicaraan tingkat I oleh: a. Fraksi; b. DPD jika rancangan UNDANG-UNDANG berkaitan dengan kewenangan DPD; dan c. PRESIDEN.
(7) Dalam hal DPD tidak memberikan pandangan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf b dan huruf e dan/atau tidak menyampaikan pendapat mini sebagaimana dimaksud pada ayat (6) huruf b, pembicaraan tingkat I tetap dilaksanakan. (8) Dalam pembicaraan tingkat I dapat diundang pimpinan lembaga negara atau lembaga lain apabila materi rancangan UNDANG-UNDANG berkaitan dengan lembaga negara atau lembaga lain.
