Pasal 7
Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Menteri ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal, 25 Februari 2025
MENTERI LINGKUNGAN HIDUP/ KEPALA BADAN PENGENDALIAN LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA,
Œ
HANIF FAISOL NUROFIQ
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal
Д
DIREKTUR JENDERAL
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
KEMENTERIAN HUKUM REPUBLIK INDONESIA,
Ѽ
DAHANA PUTRA
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2025 NOMOR Ж
LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP/KEPALA BADAN PENGENDALIAN LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2025 TENTANG PENGOLAHAN AIR LIMBAH PERTAMBAKAN UDANG
BAKU MUTU AIR LIMBAH PERTAMBAKAN UDANG
No Parameter Satuan Kadar Paling Tinggi 1. pH
6 - 9
2.
BOD
mg/L
3.
PO4 (total)
mg/L
0,5
4.
NH3 (total)
mg/L
5.
TSS
mg/L
MENTERI LINGKUNGAN HIDUP /KEPALA BADAN PENGENDALIAN LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
HANIF FAISOL NUROFIQ
LAMPIRAN II PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP/KEPALA BADAN PENGENDALIAN LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2025 TENTANG PENGOLAHAN AIR LIMBAH PERTAMBAKAN UDANG
STANDAR TEKNOLOGI PENGOLAHAN AIR LIMBAH
A.
Pengolahan Air Limbah kegiatan Pertambakan Udang
Air Limbah Tambak Udang yang telah diolah (Efluen) merupakan air yang
telah mengalami proses perbaikan mutu sebelum masuk ke Badan Air
atau laut. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meminimalisir
beban yang terdapat pada Air Limbah kegiatan Pertambakan Udang yaitu
dengan menerapkan standar teknologi pada IPAL sehingga Efluen yang
dibuang ke lingkungan dapat memenuhi Baku Mutu Air Limbah yang
ditetapkan
dan
Pertambakan
Udang
dapat
beroperasi
secara
berkelanjutan.
Standar teknologi ini berlaku untuk Pengolahan Air Limbah kegiatan
Pertambakan Udang dengan menggunakan metode pengolahan biologi
aerob atau metode Lahan Basah Buatan sistem aliran permukaan (Free
water surface).
1.
Karakteristik Air Limbah
Air Limbah kegiatan Pertambakan Udang mengandung N-total tanah
selama periode budi daya udang berkisar antara 0,05-0,13% dengan
kandungan amonium tanah berkisar antara 24,4-237,99 ppm dan
C/N rasio berkisar 3-18 artinya Air Limbah kegiatan Pertambakan
Udang kaya akan unsur hara dan dapat digunakan sebagai alternatif
sumber unsur hara bagi tumbuhan. Semakin tinggi tingkat produksi
udang dan semakin luas areal budi daya maka semakin tinggi air
limbah yang dihasilkan. Dengan demikian semakin kontinu tingkat
budi daya yang diterapkan akan semakin tinggi pula jumlah air
limbah (Paena, dkk., 2020). Limbah organik yang dihasilkan secara
kontinu yang berasal dari pakan terdiri dari limbah organik yang
terbuang selama budi daya sebesar 24,32% dari total pakan yang
digunakan, pakan yang tidak dicerna dengan rata-rata sebesar
15,88%, dan Limbah organik ekskresi dari udang.
Kebutuhan air dihitung berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan
Perikanan Republik Indonesia Nomor 75/PERMEN-KP/2016 tentang
Pedoman Umum Pembesaran Udang Windu (Penaeus monodon) dan
Udang Vaname (Litopenaeus vannamei).
Air Limbah yang dikelola dari kegiatan Pertambakan Udang yaitu Air
Limbah pemeliharaan dan Air Limbah panen.
a.
Air Limbah pemeliharaan
Air Limbah pemeliharaan merupakan air yang berasal dari air
yang digunakan untuk mengganti air kolam tambak setiap hari.
Besarnya aliran Air Limbah pemeliharaan untuk setiap metode
pembesaran udang bervariasi.
b.
Air Limbah panen
Air Limbah panen merupakan air yang berasal dari proses
pengurasan air kolam tambak saat panen.
- Fasilitas Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Proses IPAL untuk kegiatan Pertambakan Udang, adalah sebagai berikut:
Gambar 1 Flowchart IPAL kegiatan Pertambakan Udang
a.
Sarana utama
Sarana
utama
untuk
pengolahan
Air
Limbah
kegiatan
Pertambakan Udang meliputi unit pra-pengolahan dan unit
pengolahan utama.
1)
Unit pra-pengolahan merupakan unit yang digunakan
sebelum pengolahan utama. Fungsi unit pra-pengolahan
adalah memastikan sistem pengolahan utama dapat bekerja
secara konstan sehingga efisiensi IPAL dapat terjaga dengan
mengatur laju pembebanan dan karakteristik Air Limbah.
Adapun unit pra-pengolahan berfungsi sebagai kolam
penyaringan. Inlet kolam aerasi diberikan jaring untuk
menyaring bahan kasar yang masuk ke IPAL.
Selain itu, kolam pra-pengolahan juga digunakan sebagai
kolam sedimentasi awal untuk mengendapkan lumpur yang
terbawa dari kolam pembesaran.
2)
Unit pengolahan utama terdiri dari:
a)
Kolam Ekualisasi
Kolam ekualisasi merupakan kolam yang berfungsi
untuk menyeragamkan beban pencemar Air Limbah.
Kolam ekualisasi juga digunakan untuk mengatur
aliran Air Limbah yang masuk ke proses pengolahan
utama.
b)
Pengolahan biologi secara aerob menggunakan metode
lumpur aktif konvensional.
Pengolahan biologi secara aerob berupa kolam aerasi.
Kolam aerasi merupakan unit pengolahan limbah yang
bertujuan untuk meningkatkan kadar oksigen terlarut,
menurunkan BOD, dan menaikan pH dalam Air
Limbah, serta membuang CO2 dan H2S, serta gas-gas
terlarut lainnya. Kolam aerasi didesain agar mampu
menguraikan bahan organik yang dilakukan oleh
mikroorganisme secara aerob dan membantu proses
nitrifikasi
(proses
pembentukan
senyawa
nitrit
dan/atau nitrat dari senyawa amonia dan oksigen
dengan bantuan mikroorganisme).
Di dalam bak Aerasi ini terjadi proses penguraian
partikel-partikel organik secara aerobik oleh aktivitas
biologis mikroorganisme. Untuk mendapatkan kondisi
tersebut, ke dalam bak aerasi dimasukkan sejumlah
udara yang disuplai dari surface aerator yang dapat
menjangkau sampai ke dasar kolam. Dengan adanya
suplai udara/oksigen yang cukup yang diperlukan oleh
mikroorganisme,
terbentuk
lumpur
yang
akan
dipisahkan pada tahapan selanjutnya.
Peralatan mekanis digunakan pada kolam aerasi yaitu
menggunakan aerator tipe surface aerator. Peralatan
ini berfungsi untuk mensuplai udara kedalam bak
aerasi sebagai suplai oksigen pada mikroorganisme
pengurai sehingga tetap aktif dan dapat mengurai
limbah secara efektif.
c)
Lahan basah buatan sistem aliran permukaan (Free
water surface).
Lahan basah buatan atau Constructed wetlands secara
umum didefinisikan suatu perencanaan ekosistem
lingkungan berupa tanah jenuh air yang dapat
ditumbuhi
oleh
tanaman
air
dan
pada
bagian
permukaannya dapat dimanfaatkan oleh aktivitas
mikroorganisme
atau
komunitas
hewan,
yang
kondisinya dibuat sesuai dengan bentuk lahan basah
alaminya, dengan tujuan untuk meminimalisasikan
kandungan konsentrasi Air Limbah yang berpotensi
menyebabkan Pencemaran Air.
Lahan basah buatan yang digunakan yaitu lahan
basah buatan tipe aliran permukaan (Free water
surface). Lahan basah buatan tipe ini menyerupai
lahan basah alami dengan area perairan terbuka dan
penuh vegetasi. Penggunaan tanaman dapat dilakukan
penggabungan tanaman air timbul (cattail, rumput
gajah, alang-alang), tanaman terapung (duckweed,
eceng gondok), dan tanaman terendam (sagu kolam,
rumput widgeon).
Gambar 2 Penampang melintang lahan basah buatan Dinding kolam memiliki lapisan kedap air atau impermeable untuk mencegah terjadinya kontaminasi Air Limbah ke area sekitar. Ketebalan dinding kolam
disesuaikan dengan jenis material dinding kolam,
tekanan air dan jenis tanah di sekitar lokasi IPAL.
Selain
itu,
disediakan
jalan
inspeksi
untuk
memudahkan operasional dan perawatan lahan basah
buatan.
d)
Kolam Efluen/ sebagai kolam penaatan baku mutu Air
Limbah.
Kolam
efluen
berfungsi
sebagai
penampungan
sementara Air Limbah sebelum dibuang ke Badan Air
dan tempat melakukan sampel kualitas akhir air
olahan. Pada kolam Efluen dapat ditambahkan ikan
sebagai bioindikator.
b.
Fasilitas lainnya/sarana pemantauan
1)
Fasilitas pengatur debit
Fasilitas pengatur debit diletakkan antara kolam ekualisasi
menuju kolam pengolahan biologi aerob IPAL. Fasilitas ini
berfungsi untuk mengatur debit masukan Air Limbah ke
proses utama IPAL dapat diatur secara kontinu dan tidak
terjadi fluktuasi debit dan beban IPAL.
2)
Papan informasi
a)
Nama dan Koordinat lokasi pemantauan;
b)
Simbol dan label jenis Air Limbah; dan
c)
Nama dan kapasitas kolam.
- Estimasi Debit Air Limbah Debit Air Limbah kegiatan Pertambakan Udang memiliki 2 jenis debit yaitu debit Air Limbah pemeliharaan dan debit Air Limbah panen. Air Limbah pemeliharaan merupakan air yang digunakan para petambak dalam melakukan penggantian rutin atau sirkulasi air kolam. Banyaknya air sirkulasi bervariasi untuk setiap jenis tambak namun antara 5-50% air disirkulasi setiap hari tergantung umur udang dan metode yang digunakan. Rata-rata penggantian air harian sebesar 20% dari jumlah debit air kolam tambak. Sedangkan, debit Air Limbah panen merupakan air yang dihasilkan pada saat pengurasan kolam ketika panen dilakukan. Lama waktu pengurasan kolam ketika panen umumnya tidak lebih dari 4 jam untuk masing-masing kolam, sehingga laju aliran Air Limbah per jam pada saat panen adalah 16,7% dari volume air kolam tambak. Debit Air Limbah pemeliharaan dari seluruh kolam tidak boleh melebihi debit Air Limbah panen. Jika petambak memiliki 10 kolam Tambak Udang, maka debit maksimum air pemeliharaan adalah 10% dari kapasitas kolam.
- Desain Instalasi Pengolahan Air Limbah a. Perhitungan kebutuhan lahan untuk sarana utama dan sarana pendukung
- Volume Air Limbah yang diolah Volume Air Limbah yang akan diolah pada sistem IPAL adalah debit maksimum dari Air Limbah pemeliharaan atau Air Limbah panen.
Persentase Air Limbah pemeliharaan untuk masing-masing kolam dapat dihitung sebagai berikut: 𝐴𝐿𝑃= 100 % 𝑛𝑘
Keterangan
ALP = Air Limbah pemeliharaan setiap kolam (%) nk = Jumlah kolam tambak
Tinggi genangan air yang direncanakan Tinggi genangan air yang direncanakan mengacu kepada jenis tanaman yang digunakan. Kedalaman kolam baik ketebalan media dan tinggi genangan air ditentukan berdasarkan daya cengkeram akar jenis tanaman dan maksimum genangan air yang dapat ditoleransi tanaman. Kedalaman kolam sebaiknya tidak lebih dari 0,6 meter.
Jenis media dan tanaman yang digunakan. Media tanam menentukan porositas lahan basah buatan.
Tabel 1 Karakteristik media untuk lahan basah buatan Tipe Media Porositas [n] Medium sand 0,42 Coarse sand 0,39 Gravelly sand 0,35 Fine gravel 0,38 Medium gravel 0,40 Coarse rock 0,45 Sumber :Metcalf & Eddy (2001) & Reed (1991)
Tanaman yang digunakan dalam sistem lahan basah buatan tipe aliran permukaan (Free water surface) merupakan tanaman yang dapat hidup dalam genangan air atau tanaman yang mengapung. Jenis tanaman yang digunakan menentukan kedalaman genangan air dalam sistem lahan basah buatan tipe aliran permukaan (Free water surface).
- Penghitungan parameter untuk sistem lahan basah buatan tipe aliran permukaan (Free water surface) a) Menghitung Nilai Konstanta temperatur (KT)
KT = K20(1.06)(T-20)
Keterangan :
KT = Konstanta temperatur;
K20 = Nilai konstanta pada temperatur 20oC (0,2779);
T
= Temperatur (oC).
b)
Menghitung Luas permukaan lahan basah buatan (As)
As = (Q (ln Ce – ln Ci + ln A )) / (KT (y)(n))
Keterangan :
As
= Luas permukaan lahan basah tipe Free water
surface (m2);
Q
= Debit Air Limbah (m3/hari);
Ce = Konsentrasi BOD Efluen (mg/l);
Ci
= Konsentrasi BOD Influen (mg/l);
A
= Koefisien fraksi BOD5 yang tidak tersisihkan
oleh pengendapan pada bagian awal sistem;
KT = Konstanta temperatur;
y
= Kedalaman kolam (m);
n
= Porositas lahan basah;
Contoh perhitungan kebutuhan lahan basah buatan sebagai berikut: Tabel 2 Contoh perhitungan kebutuhan lahan basah buatan No Parameter Nilai Satuan BOD Influen (Ci) mg/L BOD Efluen (Ce) mg/L Debit (Q) m3/hari A 0,52
Porositas lahan basah (n) 0,35
K20 0,2779 per hari Kedalaman (y) 0,7 m Temperatur minimum °C
• Konstanta temperatur (KT) = K20(1,06)(T-20) K (23) = 0,2779 (1,06)(23-20) = 0,331 hari • Lus Permukaan lahan basah buatan (AS) AS = Q (ln Ce – ln Ci + ln A)/KT(y)(n)
AS = 300 (𝑙𝑛 150 – 𝑙𝑛 10 + 𝑙𝑛 0,52) 0,331 𝑥 0,7 𝑥 0,75
= 300 (5,01− 2,30+(−0,65)) 0,331 𝑥 0,7 𝑥 0,35
= 616,24 0,08
AS = 7.599,34m2
b. Penentuan waktu tinggal 1) Pengendapan (TSS) Waktu tinggal pada kolam pra-pengolahan dihitung dengan menentukan waktu tinggal Air Limbah di dalam kolam pra- pengolahan. Waktu tinggal pada kolam pra-pengolahan diharapkan tidak kurang dari 4 jam. Menghitung waktu tinggal Air Limbah kolam pra-pengolahan dapat dilakukan sebagai berikut: 𝑡′ = 𝑄 𝑉 Keterangan: t’ = Waktu tinggal (jam),
Q = debit (m3/jam),
V = volume kolam pra-pengolahan (m3)
- Pengolahan biologi aerob Waktu tinggal pada kolam pengolahan biologi aerob yang diharapkan adalah 6 - 24 jam.
- Pengolahan parameter organik pada sistem lahan basah buatan Pengolahan parameter organik pada sistem lahan basah buatan dilakukan dengan sistem tanaman air yang dapat ditanam dalam media tergenang air (tanaman rawa) atau sistem floating menggunakan tanaman air. Pengukuran waktu tinggal hidrolis pada sistem lahan basah buatan dilakukan dengan melakukan perhitungan sebagai berikut: t = (-ln (Ce/Ci)) / KT Keterangan: t = waktu tinggal hidrolis (hari);
Ce = Konsentrasi BOD Efluen (mg/l);
Ci = Konsentrasi BOD Influen (mg/l);
KT = Konstanta temperatur.
c. Kriteria Desain Kriteria desain lahan basah buatan menurut Metcalf dan Eddy (1991), dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 1 Kriteria desain sistem lahan basah buatan tipe aliran permukaan Parameter Unit Nilai Waktu tinggal hidrolis Hari 4 - 15 Kedalaman air m 0,1- 0,6 Laju pembebanan BOD5 Kg/ha.hari < 67 Laju pembebanan hidrolis m3/m2.hari 0,014 - 0.047 Luas area spesifik Ha/(m3/hari) 7,12 - 2,14
Untuk melakukan pengecekan terhadap kesesuaian kriteria
desain yang telah direncanakan, maka dilakukan perhitungan
terhadap kriteria desain tersebut menggunakan rumus sebagai
berikut:
1)
Pengecekan laju pembebanan hidrolis/Hydraulic loading
rate (HLR)
Laju Pembebanan Hidrolis atau Hydraulic Loading Rate
(HLR) merupakan jumlah air yang diolah per satuan luas
permukaan per hari. Perhitungan laju pembebanan hidrolis
dapat dihitung menggunakan rumus sebagai berikut:
𝐻𝐿𝑅= 𝑄/𝐴𝑠
Keterangan:
HLR = Hydraulic loading rate (m3/m2/hari);
Q
= Debit (m3/hari);
As = Luas permukaan kolam (m2)
- Pengecekan laju pembebanan BOD5
𝐿𝐵𝑂𝐷5 = 𝑄 𝑥 𝐵𝑂𝐷 𝑖𝑛 𝐴𝑠
Keterangan:
LBOD5
= laju pembebanan BOD pada sistem (g/m2/hari);
Q
= Debit (m3/hari);
BOD in = BOD masukan (g/m3)
As
= Luas permukaan kolam (m2)
- Penyisihan suspended solid 𝐶𝑒 = 𝐶𝑜 [0,1058 + 0,0011 (𝐻𝐿𝑅)] Keterangan:
Ce = Efluen TSS (mg/L);
Co = Influen TSS (mg/L);
HLR = Hydraulic loading rate (m3/m2/hari)
- Pemeliharaan Instalasi Pengolahan Air Limbah Pemeliharaan Instalasi Pengolahan Air Limbah dilakukan untuk menjaga kinerja IPAL dalam mengolah Air Limbah sehingga efektivitas dan efisiensi pengolahan tetap terjaga. Frekuensi pemeliharaan disesuaikan dengan jenis pemeliharaan dari masing- masing unit sistem IPAL. Pemeliharaan sistem IPAL meliputi: a. Kolam pra-pengolahan Pemeliharaan kolam pra-pengolahan dilakukan terhadap saluran dan kondisi kebersihan kolam. Memastikan sampah pada saluran dan sistem penyaringan kolam pra-pengolahan selalu dibersihkan sesering mungkin. Selain itu, dilakukan pengurasan lumpur yang mengendap pada kolam pra- pengolahan setiap akhir masa panen sebelum kolam tambak digunakan kembali. b. Kolam ekualisasi Pemeliharaan kolam ekualisasi dilakukan pada kebersihan kolam dari sampah dan pengecekan alat pengatur debit. c. Kolam Pengolahan Biologi Aerob Pemeliharaan kolam pengolahan biologi aerob dilakukan pada unit aerator dan kondisi bakteri aerob pada sistem lumpur aktif.
- Unit aerator diperiksa fungsinya setiap minggu. jika salah satu unit aerator mati, akan diperiksa penyebabnya mulai dari kelistrikan dan kondisi unit. Perlu segera lakukan pergantian dengan unit cadangan jika unit tersebut sudah tidak dapat digunakan.
- Kondisi bakteri aerob pada lumpur aktif perlu dilakukan pemeliharaan dengan cara memberikan suplai udara pada kolam aerasi. Jika kolam pengolahan biologi tidak diberi beban organik dalam waktu lama, perlu dilakukan penambahan atau pergantian lumpur aktif pada kolam. d. Lahan basah buatan
- Pemeliharaan media Media yang digunakan sebagai media tumbuh tanaman dapat dilakukan pembersihan dari lumpur serta
penambahan ketebalan media jika ketebalan medianya
berkurang.
2)
Pemeliharaan tanaman
Pemeliharaan tanaman dapat dilakukan dengan cara
mengganti tanaman yang mati dengan tanaman yang baru
dan melakukan pemanenan tanaman pada setiap masa
akhir panen udang atau 3 bulan sekali.
e.
Kolam Efluen sebagai kolam penaatan baku mutu Air Limbah
Pemeliharaan
kolam
Efluen
dilakukan
dengan
menjaga
kebersihan kolam dari sampah, pemeliharaan hewan sebagai
bioindikator kolam dan perawatan peralatan pengukur debit
efluen.
- Perhitungan Efisiensi Pengolahan Air Limbah Dalam upaya pemantauan maka perlu dilakukan perhitungan efisiensi pengolahan Air Limbah. Hal ini dilakukan agar proses pengolahan bahan organik dapat berjalan sesuai desain teknis yang diharapkan. Perhitungan efisiensi dapat dilakukan dengan metode sebagai berikut: 𝐸𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛𝑠𝑖 𝑝𝑒𝑛𝑔𝑜𝑙𝑎ℎ𝑎𝑛 (%) = 𝐶𝑖𝑛−𝐶𝑒𝑓 𝐶𝑖𝑛 𝑥 100% Keterangan : Cin = konsentrasi pencemar di Influen Cef = konsentrasi pencemar di Efluen
B.
Kriteria Desain dan Dimensi Unit IPAL Sederhana
1.
Kolam IPAL selain Lahan Basah Buatan
a.
Flowchart Pengolahan Air Limbah kegiatan Pertambakan Udang
Pengolahan
Air
Limbah
kegiatan
Pertambakan
Udang
menggunakan standar teknologi pengolahan Air Limbah dengan
proses sebagai berikut:
b. Contoh Kriteria Desain dan Perhitungan Dimensi Unit Sistem IPAL: Berikut disajikan contoh kriteria desain dan perhitungan dimensi masing-masing unit sistem IPAL selain unit pengolahan lahan basah buatan yang dijelaskan secara terpisah.
Kriteria Desain IPAL: Kapasitas IPAL Debit
m3/hari BOD in
mg/L BOD out
mg/L IPAL ini dapat melayani tambak dengan volume tambak sebagai berikut: Air Panen = maksimal 1 tambak dengan volume 300 m3 Air Pemeliharaan (asumsi 20%) = maksimal 5 tambak dengan debit masing-masing tambak 60 m3/hari
Perhitungan Dimensi Unit Sistem IPAL: Kolam Pra-Pengolahan
Debit (Q)
m3/hari
Waktu tinggal (t)
jam
Volume
50,00 m3
Dimensi
P X L X T (PERSEGI)
Panjang
m
Lebar
5,5 m
Tinggi
1,52 m
Tinggi + freeboard
3,42 m Kolam Ekualisasi
Debit (Q)
300 m3/hari Waktu tinggal (t)
2,80 Jam Volume
35,0 m3 Dimensi
P X L x T (PERSEGI) Panjang
6 m Lebar
3,5 m Tinggi
1,7 m Tinggi + freeboard
3,4 m Kolam Aerasi
Debit (Q)
300 m3/hari COD in
400,00 mg/l BOD in
240 mg/l Rasio F/M*
0,15
MLSS**
3500 mg/l BOD removal
0,70
Maka volume bak aerasi
96,0 m3 Waktu detensi di bak aerasi = 7,68 Jam Dimensi volume bak aerasi
Panjang
10,00 m Lebar
6,00 m Tinggi
1,60 m Tinggi + freeboard
= 3,40 m
- Rasio F/M adalah singkatan dari Food to Microorganism Ratio. Rasio ini digunakan untuk mengukur keseimbangan antara jumlah makanan (bahan organik) yang tersedia dengan jumlah mikroorganisme yang ada dalam proses pengolahan air limbah. ** MLSS adalah singkatan dari Mixed Liquor Suspended Solids. MLSS merujuk pada konsentrasi total padatan yang tersuspensi dalam campuran air limbah dan mikroorganisme aktif. Padatan ini terdiri dari biomassa mikroorganisme (bakteri, protozoa) dan partikel organik lainnya yang berperan penting dalam proses penguraian bahan organik dalam air limbah.
Kolam Efluen /Sampling
Debit (Q)
300 m3/hari Waktu tinggal (t)
0,1 jam Volume
1,25 m3 Dimensi = P X L X T Panjang
2 m Lebar
1 m Tinggi
0,63 m Tinggi + freeboard
0,93 m
c. Detail Engineering Design IPAL
- Kolam Lahan basah buatan
a. Persyaratan Desain Lahan Basah Buatan No Parameter Nilai Satuan A1) 0,52
Porositas lahan basah (n) 0,75
K202) 0,2779 d-1 Kedalaman (T) 0,7 m Temperatur minimum oC Keterangan: 1) Koefisien fraksi BOD5 yang tidak tersisihkan oleh pengendapan pada bagian awal dari sistem 2) Konstanta ketergantungan pada temperatur
b. Contoh Kriteria Desain dan Perhitungan Dimensi Unit Sistem Lahan Basah Buatan: 1) Kriteria Desain: Kapasitas Unit Sistem Lahan Basah Buatan Debit
m3/hari BOD in
mg/L BOD out
mg/L Unit ini dapat melayani tambak dengan volume tambak sebagai berikut: Air Panen = maksimal 1 tambak dengan volume 300 m3 Air Pemeliharaan (asumsi 20%) = maksimal 5 tambak dengan debit masing-masing tambak 60 m3/hari
- Perhitungan Dimensi Unit Lahan Basah Buatan
Dimensi Unit Lahan Basah Buatan Konstanta Temperatur (KT) = K20(1,06)^(T-20) K(16) = 0,331 d-1 Luas Permukaan (AS) = Q (ln Co – ln Ce3) + ln A)/KT(y)(n) AS = 3.546,357 m2 Panjang Sisi = 59,551 m Waktu tinggal (t) = - ln (Ce/Co4)) / KT t = 8,182 hari Hydraulic loading rate (HLR) = Q/AS HLR = 0,085 m3/m2/d Penyisihan (SS) = Co [ 0.1139 + 0.00213 (HLR) ] SS Co = 1,472 mg/L Keterangan: 1) Ce = Konsentrasi BOD hasil pengolahan 2) Co = Konsentrasi BOD masuk ke IPAL
MENTERI LINGKUNGAN HIDUP/KEPALA BADAN PENGENDALIAN LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
HANIF FAISOL NUROFIQ
LAMPIRAN III PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP/BADAN PENGENDALIAN LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2025 TENTANG PENGOLAHAN AIR LIMBAH PERTAMBAKAN UDANG
FORMAT LAPORAN HASIL PEMANTAUAN
Nama Usaha dan/atau Kegiatan
: …...................
Kode sampel
: …...................
Lokasi pengambilan contoh uji
:
Jam, Tanggal, Tahun pengambilan contoh
uji
:
…...................
Petugas pengambil contoh uji
: …...................
Debit Air Limbah saat pengambilan contoh
uji
:
…................... m3/dtk
Tanggal, Tahun Penerimaan contoh uji
: …...................
Tanggal, Tahun analisis contoh uji
: …...................
Lama waktu produksi
: …................... hari
Jumlah bahan baku saat pengambilan
contoh uji
: …................... ton (satuan
disesuaikan atau dikonversi)
Jumlah produksi / biomassa saat
pengambilan contoh uji
: …................... ton (satuan
disesuaikan atau dikonversi)
Hasil Analisis
Parameter Kadar (mg/L) Beban Pencemaran (kg/ton) Kadar (mg/L) Metode Uji 1. pH
6 - 9
TSS
BOD
PO4 (total)
0,5
- NH3 (total)
Tempat, tanggal
Tanda tangan dilengkapi dengan cap lab
(atas nama penanggung jawab lab yang bertanggung jawab)
MENTERI LINGKUNGAN HIDUP/KEPALA BADAN PENGENDALIAN LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
HANIF FAISOL NUROFIQ
