Pasal 20
BAB 4 — SISTEM RUTE
(1) Bagan pemisah lalu lintas di laut (traffic separation scheme) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) huruf a ditetapkan berdasarkan: a. kondisi lebar alur-pelayaran; b. dimensi kapal; c. kepadatan lalu lintas berlayar; d. bahaya pelayaran;
e. sifat-sifat khusus kapal; f. alur tertentu; g. setiap alur yang biasanya digunakan untuk Navigasi internasional.
(2) Rute dua arah (two way routes) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) huruf b ditetapkan berdasarkan: a. kondisi lebar alur-pelayaran; b. dimensi kapal; c. kepadatan lalu lintas berlayar; d. bahaya pelayaran; e. sifat-sifat khusus kapal; f. alur tertentu; g. setiap alur yang biasanya digunakan untuk pelayaran internasional.
(3) Garis haluan yang dianjurkan (recommended tracks), sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) huruf c ditetapkan untuk: a. panduan nakhoda kapal saat memasuki alur-pelayaran di laut; b. garis panduan yang telah ditetapkan pada peta laut; c. menunjukan titik kritis dari satu belokan; d. memperjelas rute yang aman untuk kapal.
(4) Rute air dalam (deep water routes) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) huruf d ditetapkan berdasarkan: a. dimensi kapal; a. under keel clearance; b. draught kapal; c. kondisi dari dasar laut yang tertera di peta laut; d. bahaya-bahaya navigasi; e. mengambarkan titik-titik tertentu untuk suatu belokan.
(5) Daerah yang harus dihindari (areas to be avoided) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) huruf e ditetapkan berdasarkan: a. lokasi labuh jangkar yang telah ditetapkan; b. lokasi yang dilindungi; c. kondisi dari dasar laut yang tertera di peta laut; d. bahaya-bahaya navigasi.
(6) Daerah lalu lintas pedalaman (inshore traffic zones) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) huruf f ditetapkan berdasarkan: a. diperuntukan untuk kapal yang panjangnya kurang dari 20 meter;
b. rute diperuntukan untuk menuju dan keluar pelabuhan; c. diperuntukan bagi kapal ikan di sekitar traffic separation scheme (TSS) yang akan melaksanakan kegiatan; d. kapal dalam kondisi tidak beroperasi dengan baik.
(7) Daerah kewaspadaan (precaution areas) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) huruf g ditetapkan berdasarkan: a. lokasi labuh sementara; b. daerah joint kapal untuk masuk ke bagan pemisah; c. daerah ditentukan untuk kapal memotong suatu bagan pemisah.
(8) Daerah-daerah putaran (roundabouts) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) huruf h ditetapkan berdasarkan: a. kondisi lebar alur-pelayaran; b. dimensi kapal; c. kepadatan lalu lintas berlayar; d. bahaya pelayaran; e. sifat-sifat khusus kapal; f. alur tertentu; g. setiap alur yang biasanya digunakan untuk pelayaran internasional; h. digunakan untuk memandu traffic dengan cara mengitari berlawanan arah jarum jam suatu daerah pemisah berbentuk bulat.
