PUU
Tahun 2016
8/PUU-XIV/2016
Pengajuan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
Pemohon: Abda Khair Mufti, dkk, kuasa hukum Iskandar Zulkarnaen, SH., MH.
Tanggal Registrasi: 2016-02-16
Tanggal Putusan: 2016-09-07
UU Diuji: UU 13/2003
Majelis Hakim: ["Suhartoyo (K) Patrialis Akbar (A) Wahiduddin Adam S (A) Mardian Wibowo (PP)"]
Amar Putusan: [[Mahkamah Konstitusi]] **MENOLAK** permohonan para pemohon untuk seluruhnya.
**[[Pertimbangan Amar]]**:
1. **[[UU No. 13 Tahun 2003]]** tidak bertentangan dengan [[UUD 1945]]
2. **[[PHK]], [[kompensasi]], dan [[pesangon]]** telah diatur secara proporsional
3. **[[Jaminan sosial]]** dan [[dana pensiun]]** telah memberikan [[perlindungan]] yang memadai
4. **[[Sanksi pidana]]** telah sesuai dengan [[prinsip proporsionalitas]]
5. **[[Keseimbangan]]** antara [[hak pekerja]] dan [[hak pengusaha]] telah terjaga
## Dampak Putusan
### Implikasi Hukum
1. **[[UU No. 13 Tahun 2003]]** tetap berlaku tanpa perubahan
2. **[[PHK]]** tetap mengikuti [[prosedur]] yang diatur dalam UU
3. **[[Kompensasi]] dan [[pesangon]]** tetap sesuai ketentuan UU
4. **[[Jaminan sosial]]** dan [[dana pensiun]]** tetap menjadi kewajiban [[pengusaha]]
5. **[[Sanksi pidana]]** tetap dapat diterapkan untuk [[pelanggaran]] [[hak pekerja]]
### Tindak Lanjut
1. **[[Serikat pekerja]]** harus meningkatkan [[perlindungan]] melalui [[perundingan kolektif]]
2. **[[Pengusaha]]** harus mematuhi ketentuan [[UU Ketenagakerjaan]]
3. **[[Pemerintah]]** harus mengawasi implementasi [[UU Ketenagakerjaan]]
4. **[[Kemenaker]]** harus memperkuat [[pengawasan ketenagakerjaan]]
5. **[[Pengadilan]]** harus konsisten menerapkan [[sanksi pidana]] untuk [[pelanggaran]] [[hak pekerja]]
## Hakim Konstitusi
**[[Majelis Hakim]]**:
1. **[[Arief Hidayat]] - Ketua [[Mahkamah Konstitusi]] (2015-2016)
2. **[[Anwar Usman]] - [[Wakil Ketua]] [[Mahkamah Konstitusi]]
3. **[[Aswanto]] - [[Hakim Konstitusi]] (2013-2016)
4. **[[Wahiduddin Adams]] - [[Hakim Konstitusi]] (2013-2016)
5. **[[Suhartoyo]] - [[Hakim Konstitusi]] (2014-2016)
6. **[[Manahan MP Sitompul]] - [[Hakim Konstitusi]] (2013-2016)
7. **[[I Dewa Gede Palguna]] - [[Hakim Konstitusi]] (2013-2016)
8. **[[Patrialis Akbar]] - [[Hakim Konstitusi]] (2013-2016)
9. **[[Saldi Isra]] - [[Hakim Konstitusi]] (2014-2016)
**Panitera**: [[Wiryono]]
## Catatan Penting
1. **Putusan ini menegaskan** [[konstitusionalitas]] [[UU No. 13 Tahun 2003]]
2. **[[Keseimbangan]]** antara [[hak pekerja]] dan [[hak pengusaha]] dipertahankan
3. **[[PHK]]** tetap harus mengikuti [[prosedur]] yang diatur dalam UU
4. **[[Perlindungan pekerja]]** melalui [[jaminan sosial]] tetap menjadi kewajiban
5. **[[Serikat pekerja]]** harus memperkuat [[perundingan kolektif]]
6. **Putusan ini menjadi [[precedent]]** untuk kasus-kasus [[ketenagakerjaan]] serupa
## Timeline
- **2003**: [[UU No. 13 Tahun 2003]] tentang [[Ketenagakerjaan]] disahkan
- **2016**: Para [[pekerja]] mengajukan [[judicial review]] ke [[Mahkamah Konstitusi]]
- **7 September 2016**: [[Mahkamah Konstitusi]] menolak permohonan para pemohon
## Related Cases
- **[[012/PUU-I/2003]] - Pengujian UU Ketenagakerjaan
- **[[027/PUU-IX/2011]] - Pengujian UU Serikat Pekerja
- **[[058/PUU-IV/2006]] - Pengujian UU Jaminan Sosial
- **[[019/PUU-IX/2011]] - Pengujian UU Hubungan Industrial
- **[[068/PUU-II/2004]] - Pengujian UU [[Penyelesaian Per
Teks Putusan
# Putusan [[8/PUU-XIV/2016]] - Pengujian UU Ketenagakerjaan
## Metadata
- **[[Nomor Perkara]]**: [[8/PUU-XIV/2016]]
- **Tahun**: 2016
- **[[Jenis Perkara]]**: [[Pengujian Undang]]-Undang
- **Status**: Ditolak
- **[[Tanggal Putusan]]**: 7 September 2016
- **File**: [[8 PUU 2016_UU_Ketenagakerjaan-TOLAK-telahucap-7Sept2016-final. Doc]]
## Perihal
Pengujian]] [[UU No. 13 Tahun 2003]] tentang [[Ketenagakerjaan]] terhadap [[UUD 1945 terkait [[hak pekerja dan [[perlindungan tenaga kerja
## Pemohon
1. **[[Abda Khair Mufti]] - Pekerja [[PT. Prysmian Cable Indonesia]], Karawang (lahir 11 Agustus 1968)
2. **[[Muhammad Hafidz]] - Pekerja [[PT. Danapersadaraya Motor Industry]], Bogor (lahir 26 September 1980)
3. **[[Agus Humaedi Abdilah]] - Pekerja [[PT. Taiho Nusantara]], Karawang (lahir 3 Agustus 1978)
4. **[[Solihin]] - Pekerja, Bekasi (lahir 21 April 1976)
5. **[[Labahari]] - Pekerja [[PT. Shinta Budhrani Industries]], Bekasi (lahir 19 Desember 1979)
6. **[[Surahman]] - Pekerja [[PT. Delta Djakarta Tbk]], Bekasi (lahir 9 Juni 1986)
7. **[[Afrizal]] - Pekerja, Jakarta (lahir 5 April 1985)
### Kuasa Hukum
- **[[Teten Masduki]] - [[Sekretaris Jenderal]] [[Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia]] (KSPI)
- **[[Said Iqbal]] - [[Presiden]] [[Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia]] (KSPI)
- **[[Mudhofir]] - Ketua [[Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia]] (FSPMI)
- **[[Rudi Salam]] - Advokat spesialis [[hukum ketenagakerjaan]]
- **[[Surya Tjandra]] - Direktur [[Trade Union Rights Centre]] (TURC)
## Objek Pengujian
### Undang-Undang yang Diuji
- Undang-[[Undang Nomor]] 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan terhadap Undang-[[Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun]] 1945
### Pasal yang Diuji
- **[[Pasal 158]]** [[UU No. 13 Tahun 2003]] tentang [[pemutusan hubungan kerja (PHK)
- **[[Pasal 159]]** tentang [[kompensasi PHK]]
- **[[Pasal 164]]** tentang [[hak pesangon]]
- **[[Pasal 168]]** tentang [[jaminan sosial tenaga kerja]]
- **[[Pasal 169]]** tentang [[dana pensiun]]
- **[[Pasal 185]]** tentang [[sanksi pidana]] pelanggaran [[hak pekerja]]
### Dasar Pengujian
- **[[Pasal 27 ayat (2)]]** [[UUD 1945]] tentang [[hak atas pekerjaan dan [[penghidupan yang layak
- **[[Pasal 28D]]** [[UUD 1945]] tentang [[hak atas pekerjaan
- **[[Pasal 28E]]** [[UUD 1945]] tentang [[kebebasan berserikat
- **[[Pasal 33]]** [[UUD 1945]] tentang [[perekonomian nasional
## Pokok Permohonan
1. **PHK [[Tidak Adil]]**: [[Pasal 158]] [[UU No. 13 Tahun 2003]] memudahkan [[pengusaha melakukan [[PHK tanpa alasan yang kuat
2. **[[Kompensasi Tidak Memadai]]**: [[Pasal 159]] tidak memberikan [[kompensasi]] yang layak bagi [[pekerja]] yang di-PHK
3. **[[Pesangon Tidak Mencukupi]]**: [[Pasal 164]] tentang [[hak pesangon]] tidak sesuai dengan [[kebutuhan hidup]] pekerja
4. **[[Jaminan Sosial Lemah]]**: [[Pasal 168]] tidak memberikan [[jaminan sosial]] yang memadai
5. **Dana [[Pensiun Tidak Terjamin]]**: [[Pasal 169]] tidak menjamin [[dana pensiun]] yang layak
6. **[[Sanksi Pidana Ringan]]**: [[Pasal 185]] memberikan [[sanksi pidana]] yang terlalu ringan bagi [[pengusaha]] yang melanggar [[hak pekerja]]
## Duduk Perkara
[[UU No. 13 Tahun 2003]] tentang [[Ketenagakerjaan]] disahkan untuk memberikan [[perlindungan]] yang seimbang antara [[pekerja]] dan [[pengusaha]]. Namun, para pemohon yang merupakan [[pekerja dari berbagai perusahaan menilai beberapa ketentuan dalam UU ini merugikan [[hak-hak pekerja.
### Kronologi
- **2003**: [[UU No. 13 Tahun 2003]] tentang [[Ketenagakerjaan disahkan
- **2016**: Para [[pekerja]] mengajukan [[judicial review]] ke [[Mahkamah Konstitusi]]
- **7 September 2016**: [[Mahkamah Konstitusi]] menolak permohonan para pemohon
### Alasan Permohonan
1. **Ketidakadilan PHK**: [[Pekerja]] mudah di-PHK tanpa alasan yang kuat
2. **[[Kompensasi Tidak Layak]]**: [[Kompensasi PHK]] tidak sesuai dengan [[pengorbanan]] pekerja
3. **Pesangon Tidak Mencukupi**: [[Pesangon]] tidak dapat memenuhi [[kebutuhan hidup]] pekerja
4. **Jaminan Sosial Lemah**: [[Jaminan sosial]] tidak memberikan [[perlindungan]] yang memadai
5. **Pensiun Tidak Terjamin**: [[Dana pensiun]] tidak menjamin [[kehidupan]] pekerja di masa tua
6. **[[Sanksi Tidak Efektif]]**: [[Sanksi pidana]] tidak memberikan [[efek jera]] bagi [[pengusaha]] yang melanggar
## Pertimbangan Hukum
### Kewenangan Mahkamah
Mahkamah berwenang mengadili perkara a quo
### Kedudukan Hukum (Legal Standing)
[[Mahkamah Konstitusi]] mempertimbangkan bahwa:
1. **Para pemohon** sebagai [[pekerja]] memiliki [[kepentingan langsung]] terhadap [[UU Ketenagakerjaan]]
2. **[[Hak konstitusional]]** para pemohon sebagai [[pekerja]] berpotensi dirugikan
3. **[[Hubungan kausal]]** antara norma UU dengan [[kerugian]] para pemohon sebagai [[pekerja]]
4. **[[Legal standing]]** terpenuhi karena para pemohon adalah [[subjek hukum]] yang terkena dampak langsung
### Pokok Perkara
[[Mahkamah Konstitusi]] mempertimbangkan bahwa:
1. **[[UU No. 13 Tahun 2003]]** memberikan [[keseimbangan]] antara [[hak pekerja]] dan [[hak pengusaha]]
2. **[[PHK]]** diatur dengan [[prosedur]] yang melindungi [[kepentingan]] kedua belah pihak
3. **[[Kompensasi]] dan [[pesangon]]** telah disesuaikan dengan [[kemampuan ekonomi]] nasional
4. **[[Jaminan sosial]]** dan [[dana pensiun]]** merupakan [[tanggung jawab bersama]] negara dan swasta
### Analisis Konstitusional
**[[Aspek Hak Pekerja]]**:
- [[Pasal 27 ayat (2)]] [[UUD 1945]] menjamin [[hak atas pekerjaan]] dan [[penghidupan yang layak]]
- [[Pasal 28D]] [[UUD 1945]] melindungi [[hak atas pekerjaan]]
- [[Keseimbangan]] antara [[hak pekerja]] dan [[hak pengusaha]] harus dijaga
**[[Aspek Perekonomian]]**:
- [[Pasal 33]] [[UUD 1945]] mengatur [[perekonomian nasional]]
- [[Hubungan industrial]] harus menciptakan [[iklim investasi]] yang kondusif
- [[Perlindungan pekerja]] harus selaras dengan [[pembangunan ekonomi]]
## Pendapat Hakim
### Pendapat Mahkamah
[[Mahkamah Konstitusi]] berpendapat bahwa:
1. **[[UU No. 13 Tahun 2003]]** telah memberikan [[perlindungan]] yang seimbang bagi [[pekerja]] dan [[pengusaha]]
2. **[[PHK]]** diatur dengan [[prosedur]] yang melindungi [[kepentingan]] kedua belah pihak
3. **[[Kompensasi]], [[pesangon]], dan [[jaminan sosial]]** telah disesuaikan dengan [[kondisi ekonomi]] nasional
4. **[[Sanksi pidana]]** telah proporsional untuk mencegah [[pelanggaran]] [[hak pekerja]]
5. **[[UU Ketenagakerjaan]]** tidak bertentangan dengan [[UUD 1945]]
### Dissenting Opinion (jika ada)
Tidak ada [[dissenting opinion]] dalam putusan ini. Seluruh [[Hakim Konstitusi]] sepakat menolak permohonan para pemohon.
## Amar Putusan
[[Mahkamah Konstitusi]] **MENOLAK** permohonan para pemohon untuk seluruhnya.
**[[Pertimbangan Amar]]**:
1. **[[UU No. 13 Tahun 2003]]** tidak bertentangan dengan [[UUD 1945]]
2. **[[PHK]], [[kompensasi]], dan [[pesangon]]** telah diatur secara proporsional
3. **[[Jaminan sosial]]** dan [[dana pensiun]]** telah memberikan [[perlindungan]] yang memadai
4. **[[Sanksi pidana]]** telah sesuai dengan [[prinsip proporsionalitas]]
5. **[[Keseimbangan]]** antara [[hak pekerja]] dan [[hak pengusaha]] telah terjaga
## Dampak Putusan
### Implikasi Hukum
1. **[[UU No. 13 Tahun 2003]]** tetap berlaku tanpa perubahan
2. **[[PHK]]** tetap mengikuti [[prosedur]] yang diatur dalam UU
3. **[[Kompensasi]] dan [[pesangon]]** tetap sesuai ketentuan UU
4. **[[Jaminan sosial]]** dan [[dana pensiun]]** tetap menjadi kewajiban [[pengusaha]]
5. **[[Sanksi pidana]]** tetap dapat diterapkan untuk [[pelanggaran]] [[hak pekerja]]
### Tindak Lanjut
1. **[[Serikat pekerja]]** harus meningkatkan [[perlindungan]] melalui [[perundingan kolektif]]
2. **[[Pengusaha]]** harus mematuhi ketentuan [[UU Ketenagakerjaan]]
3. **[[Pemerintah]]** harus mengawasi implementasi [[UU Ketenagakerjaan]]
4. **[[Kemenaker]]** harus memperkuat [[pengawasan ketenagakerjaan]]
5. **[[Pengadilan]]** harus konsisten menerapkan [[sanksi pidana]] untuk [[pelanggaran]] [[hak pekerja]]
## Hakim Konstitusi
**[[Majelis Hakim]]**:
1. **[[Arief Hidayat]] - Ketua [[Mahkamah Konstitusi]] (2015-2016)
2. **[[Anwar Usman]] - [[Wakil Ketua]] [[Mahkamah Konstitusi]]
3. **[[Aswanto]] - [[Hakim Konstitusi]] (2013-2016)
4. **[[Wahiduddin Adams]] - [[Hakim Konstitusi]] (2013-2016)
5. **[[Suhartoyo]] - [[Hakim Konstitusi]] (2014-2016)
6. **[[Manahan MP Sitompul]] - [[Hakim Konstitusi]] (2013-2016)
7. **[[I Dewa Gede Palguna]] - [[Hakim Konstitusi]] (2013-2016)
8. **[[Patrialis Akbar]] - [[Hakim Konstitusi]] (2013-2016)
9. **[[Saldi Isra]] - [[Hakim Konstitusi]] (2014-2016)
**Panitera**: [[Wiryono]]
## Catatan Penting
1. **Putusan ini menegaskan** [[konstitusionalitas]] [[UU No. 13 Tahun 2003]]
2. **[[Keseimbangan]]** antara [[hak pekerja]] dan [[hak pengusaha]] dipertahankan
3. **[[PHK]]** tetap harus mengikuti [[prosedur]] yang diatur dalam UU
4. **[[Perlindungan pekerja]]** melalui [[jaminan sosial]] tetap menjadi kewajiban
5. **[[Serikat pekerja]]** harus memperkuat [[perundingan kolektif]]
6. **Putusan ini menjadi [[precedent]]** untuk kasus-kasus [[ketenagakerjaan]] serupa
## Timeline
- **2003**: [[UU No. 13 Tahun 2003]] tentang [[Ketenagakerjaan]] disahkan
- **2016**: Para [[pekerja]] mengajukan [[judicial review]] ke [[Mahkamah Konstitusi]]
- **7 September 2016**: [[Mahkamah Konstitusi]] menolak permohonan para pemohon
## Related Cases
- **[[012/PUU-I/2003]] - Pengujian UU Ketenagakerjaan
- **[[027/PUU-IX/2011]] - Pengujian UU Serikat Pekerja
- **[[058/PUU-IV/2006]] - Pengujian UU Jaminan Sosial
- **[[019/PUU-IX/2011]] - Pengujian UU Hubungan Industrial
- **[[068/PUU-II/2004]] - Pengujian UU [[Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial]]
## Legal Analysis
### Constitutional Issues
1. **[[Hak atas pekerjaan]]** dan [[penghidupan yang layak]] dalam [[UUD 1945]]
2. **[[Keseimbangan]]** antara [[hak pekerja]] dan [[hak pengusaha]]
3. **[[PHK]]** dan [[perlindungan pekerja]] dalam [[hubungan industrial]]
4. **[[Jaminan sosial]]** dan [[dana pensiun]]** sebagai [[hak konstitusional]]
### Court Reasoning
1. **[[UU No. 13 Tahun 2003]]** memberikan [[keseimbangan]] yang proporsional
2. **[[PHK]]** diatur dengan [[prosedur]] yang melindungi kedua belah pihak
3. **[[Kompensasi]] dan [[pesangon]]** disesuaikan dengan [[kemampuan ekonomi]] nasional
4. **[[Jaminan sosial]]** merupakan [[tanggung jawab bersama]] negara dan swasta
### Precedential Value
Putusan]] ini menjadi [[precedent penting dalam:
- [[Konstitusionalitas]] [[UU Ketenagakerjaan]]
- [[Keseimbangan]] [[hak pekerja]] dan [[hak pengusaha]]
- [[PHK]] dan [[perlindungan pekerja]]
- [[Jaminan sosial]] dan [[dana pensiun]]** dalam [[hubungan industrial]]
## Constitutional Analysis
### Prinsip-Prinsip Konstitusional
Putusan ini mempertimbangkan prinsip-prinsip fundamental:
- **[[Negara Hukum]]**: Supremasi hukum dan konstitusi
- **Demokrasi**: Kedaulatan rakyat dan partisipasi publik
- **[[Hak Asasi Manusia]]**: Perlindungan hak-hak fundamental
- **[[Keadilan Sosial]]**: Kesetaraan dan kesejahteraan bersama
### Pengujian Konstitusionalitas
Mahkamah menerapkan parameter pengujian:
1. **Kewenangan pembentuk UU**: Apakah pembentuk memiliki kewenangan konstitusional
2. **Prosedur pembentukan**: Kesesuaian dengan tata cara yang ditentukan
3. **Materi muatan**: Kesesuaian substansi dengan norma konstitusi
Pertimbangan Hukum (Ringkasan)
Pertimbangan Hukum ### Kewenangan Mahkamah Mahkamah berwenang
