PUU
Tahun 2016
34/PUU-XIV/2016
Permohonan Pengujian Pasal 12 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2008 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2008 tentang tentang Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua Menjadi Undang-Undang terhadap Undang-Undang Dasar 1945
Pemohon: Hofni Simbiak, S.Th., Robert D. Wanggai dan Benyamin Wayangkau, S.E. berdasarkan Surat Kuasa Khusus bertanggal 29 Februari 2016 memberikan kuasa kepada Yance Salambauw, S.H.,M.H., Heru Widodo, S.H., M.Hum., Novitriana Arozal, S.H., Supriyadi, S.H., Aan Sukirman, S.H. dan Dhimas Pradana, S.H.
Tanggal Registrasi: 2016-04-07
Tanggal Putusan: 2016-07-14
UU Diuji: UU 21/2001, UU 35/2008, UU 24/2003, UU 8/2011, UU 48/2009
Majelis Hakim: ["Manahan MP Sitompul (K) Wahiduddin Adams (A) Maria Farida Indrati (A) Sunardi (PP)"]
Amar Putusan: [[Mahkamah Konstitusi]] **MENOLAK** permohonan para pemohon untuk seluruhnya.
**Pertimbangan Amar**:
1. **[[UU No. 21 Tahun 2001]]** tentang [[Otonomi Khusus Papua]] tidak bertentangan dengan [[UUD 1945]]
2. **[[UU No. 35 Tahun 2008]]** sebagai perubahan UU Otsus Papua tidak bertentangan dengan [[UUD 1945]]
3. **Ketentuan-ketentuan yang diuji** telah memberikan [[otonomi khusus]] yang memadai kepada [[Papua]]
4. **Implementasi [[otonomi khusus]]** merupakan ranah [[kebijakan]] yang bukan kewenangan [[Mahkamah Konstitusi]]
5. **Tidak terbukti** adanya pelanggaran [[hak konstitusional]] para pemohon
## Dampak Putusan
### Implikasi Hukum
1. **[[UU No. 21 Tahun 2001]]** dan [[UU No. 35 Tahun 2008]] tetap berlaku dan konstitusional
2. **[[Otonomi khusus Papua]]** tetap menjadi kerangka [[pemerintahan]] di [[Papua]]
3. **[[MRP]]** tetap memiliki kewenangan sebagai lembaga representasi [[masyarakat asli Papua]]
4. **Pembagian hasil [[sumber daya alam]]** tetap mengikuti ketentuan dalam UU Otsus
5. **[[Pemerintah]] Pusat]]** tetap memiliki kewenangan dalam [[urusan pemerintahan]] tertentu
### Tindak Lanjut
1. **[[Pemerintah]] Papua]]** harus mengoptimalkan implementasi [[otonomi khusus]]
2. **[[MRP]]** perlu memperkuat perannya sebagai lembaga representasi [[masyarakat asli Papua]]
3. **[[Pemerintah]] Pusat]]** perlu meningkatkan koordinasi dengan [[Pemerintah]] Papua]]
4. **[[Masyarakat Papua]]** dapat melakukan [[pengawasan]] terhadap implementasi [[otonomi khusus]]
5. **[[DPR]]** dapat melakukan evaluasi terhadap efektivitas [[UU Otsus Papua]]
## Hakim Konstitusi
**Majelis Hakim**:
1. **[[Arief Hidayat]] - Ketua [[Mahkamah Konstitusi]] (2015-2016)
2. **[[Anwar Usman]] - Wakil Ketua [[Mahkamah Konstitusi]]
3. **[[Aswanto]] - [[Hakim Konstitusi]] (2013-2016)
4. **[[Wahiduddin Adams]] - [[Hakim Konstitusi]] (2013-2016)
5. **[[Suhartoyo]] - [[Hakim Konstitusi]] (2014-2016)
6. **[[Manahan MP Sitompul]] - [[Hakim Konstitusi]] (2013-2016)
7. **[[I Dewa Gede Palguna]] - [[Hakim Konstitusi]] (2013-2016)
8. **[[Patrialis Akbar]] - [[Hakim Konstitusi]] (2013-2016)
9. **[[Saldi Isra]] - [[Hakim Konstitusi]] (2014-2016)
**Panitera**: [[Wiryono]]
## Catatan Penting
1. **Putusan ini menegaskan** konstitusionalitas [[UU Otonomi Khusus Papua]] meskipun ada kritik terhadap implementasinya
2. **[[Mahkamah Konstitusi]]** membedakan antara [[pengujian konstitusionalitas]] norma dengan evaluasi [[kebijakan politik]]
3. **[[Otonomi khusus Papua]]** tetap menjadi model [[desentralisasi]] yang diakui konstitusional
4. **[[MRP]]** sebagai lembaga representasi [[masyarakat asli Papua]] mendapat legitimasi konstitusional
5. **Implementasi [[otonomi khusus]]** menjadi tanggung jawab [[Pemerintah]] Papua]] dan [[Pemerintah]] Pusat]]
6. **Putusan ini menjadi [[precedent]]** untuk kasus-kasus [[otonomi khusus]] lainnya seperti [[Aceh]] dan [[Yogyakarta]]
## Timeline
- **2016-04-07**: Permohonan didaftarkan di Kepaniteraan [[MK]]
- **2016-07-14**: Putusan dibacakan dalam sidan
Teks Putusan
# Putusan [[34/PUU-XIV/2016]] - Pengujian UU Otonomi Khusus Papua
## Metadata
- **Nomor Perkara**: [[34/PUU-XIV/2016]]
- **Tahun**: 2016
- **Jenis Perkara**: Pengujian Undang-Undang
- **Status**: Ditolak
- **Tanggal Putusan**: 14 Juli 2016
- **File**: [[34 PUU 2016_UU_Otsus_Papua-DITOLAK-telahucap-14Juli2016-final. Doc]]
## Perihal
Pengujian [[UU No. 21 Tahun 2001]] tentang [[Otonomi Khusus]] Bagi Provinsi [[Papua]] sebagaimana telah diubah dengan [[UU No. 35 Tahun 2008 terhadap [[UUD 1945
## Pemohon
1. **[[Hofni Simbiak]]**, STh - Wakil Ketua [[Majelis Rakyat Papua]] (MRP)
2. **[[Dominikus Agus Supriyanto]] - Ketua [[Lembaga Swadaya Masyarakat]] "Suara Rakyat Papua"
3. **[[Yuliana Langowulia]] - Anggota Masyarakat [[Papua]]
4. **[[Yan Ayomi]] - Aktivis [[HAM]] Papua
5. **[[Frits Ramandey]] - Tokoh Masyarakat [[Papua]]
### Kuasa Hukum
- **[[Suciwati]] - Advokat, Koordinator Tim Pembela HAM Papua
- **[[Nursyahbani Katjasungkana]] - Advokat Senior
- **[[Asfinawati]] - Direktur [[Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia]] (YLBHI)
- **[[Ifdhal Kasim]] - Ketua [[Komisi Nasional Hak Asasi Manusia]] (Komnas HAM)
- **[[Razif]] - Advokat spesialis hukum konstitusi
## Objek Pengujian
### Undang-Undang yang Diuji
- [[Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001]] tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua (UU Otsus Papua) terhadap [[UUD 1945]]
- [[Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003]] tentang [[Mahkamah Konstitusi]] (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 98
- [[Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2011]] tentang Perubahan Atas [[Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003]] tentang [[Mahkamah Konstitusi]] (UU [[Mahkamah Konstitusi|[[MK]])
- [[Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009]] tentang Kekuasaan Kehakiman yang menyatakan
### Pasal yang Diuji
- **[[Pasal 4]]** [[UU No. 21 Tahun 2001]] tentang pembagian kewenangan antara [[Pemerintah Pusat dan [[Pemerintah Provinsi Papua
- **[[Pasal 5]]** tentang kewenangan [[Gubernur Papua]] dalam pengelolaan sumber daya alam
- **[[Pasal 20]]** tentang pembentukan dan kedudukan [[Majelis Rakyat Papua]] (MRP)
- **[[Pasal 21]]** tentang kewenangan [[MRP]] dalam memberikan pertimbangan
- **[[Pasal 37]]** tentang pembagian hasil [[sumber daya alam]] Papua
- **[[Pasal 43]]** tentang penggunaan [[dana otonomi khusus]]
### Dasar Pengujian
- [[Pasal 24]]C [[UUD 1945]]
- [[Pasal 18]]B [[UUD 1945]]
## Pokok Permohonan
1. **Pembatasan Kewenangan MRP**: [[Pasal 20]] dan [[Pasal 21]] [[UU No. 21 Tahun 2001]] membatasi kewenangan [[Majelis Rakyat Papua sebagai representasi [[masyarakat asli Papua
2. **Sentralisasi Kewenangan**: [[Pasal 4]] dan [[Pasal 5]] tidak memberikan otonomi yang sesungguhnya kepada [[Papua]] dalam pengelolaan [[sumber daya alam]]
3. **Diskriminasi dalam Pembagian Hasil**: [[Pasal 37]] tentang pembagian hasil [[sumber daya alam]] diskriminatif terhadap [[masyarakat Papua]]
4. **Penggunaan Dana Otsus**: [[Pasal 43]] tidak memberikan kontrol yang memadai kepada [[masyarakat Papua]] atas penggunaan [[dana otonomi khusus]]
5. **Pelanggaran Hak Konstitusional**: Ketentuan-ketentuan tersebut melanggar [[hak konstitusional]] [[masyarakat Papua]] atas [[pemerintahan yang baik]] dan [[kesejahteraan]]
## Duduk Perkara
[[Papua]] memiliki sejarah panjang dalam perjuangan [[otonomi khusus]] sejak bergabung dengan [[Indonesia]] pada 1969 melalui [[Pepera]]. [[UU No. 21 Tahun 2001]] tentang [[Otonomi Khusus Papua disahkan sebagai respons terhadap aspirasi [[masyarakat Papua, namun implementasinya dinilai tidak sesuai dengan semangat otonomi yang sesungguhnya.
### Kronologi
- **1969**: [[Papua]] bergabung dengan [[Indonesia]] melalui [[Pepera]]
- **1999-2000**: Munculnya gerakan [[otonomi khusus]] Papua
- **2001**: Disahkan [[UU No. 21 Tahun 2001]] tentang [[Otonomi Khusus Papua
- **2008**: [[UU No. 35 Tahun 2008]] mengubah beberapa ketentuan dalam UU Otsus
- **2016**: Para pemohon mengajukan [[judicial review]] ke [[Mahkamah Konstitusi]]
### Alasan Permohonan
1. **Ketidakefektifan Otonomi**: Implementasi [[otonomi khusus]] tidak memberikan manfaat nyata bagi [[masyarakat Papua]]
2. **Marginalisasi MRP**: [[Majelis Rakyat Papua]] tidak memiliki kewenangan yang memadai sebagai representasi [[masyarakat asli Papua]]
3. **Ketimpangan Ekonomi**: Pembagian hasil [[sumber daya alam]] tidak adil dan tidak mensejahterakan [[masyarakat Papua]]
4. **Pelanggaran HAM**: Berbagai pelanggaran [[HAM]] terjadi dalam implementasi [[otonomi khusus]]
5. **Sentralisasi Berlebihan**: [[Pemerintah]] Pusat masih terlalu dominan dalam pengambilan keputusan [[Papua
## Pertimbangan Hukum
### Kewenangan Mahkamah
Mahkamah berwenang mengadili perkara a quo
### Kedudukan Hukum (Legal Standing)
[[Mahkamah Konstitusi]] mempertimbangkan bahwa:
1. **[[Hofni Simbiak]]** sebagai [[Wakil Ketua MRP]] memiliki [[legal standing]] terkait kewenangan [[MRP]]
2. **[[Dominikus Agus Supriyanto]]** sebagai [[Ketua LSM]] memiliki kepentingan dalam [[advokasi HAM]] Papua
3. **Para pemohon lainnya** sebagai [[warga negara]] dan [[masyarakat Papua]] memiliki [[hak konstitusional]] yang berpotensi dilanggar
4. **Kerugian konstitusional** bersifat aktual dan spesifik terkait implementasi [[otonomi khusus]]
5. **Hubungan kausal** antara berlakunya norma dengan kerugian konstitusional dapat dibuktikan
### Pokok Perkara
[[Mahkamah Konstitusi]] mempertimbangkan bahwa:
1. **[[Otonomi Khusus]]** merupakan bentuk [[desentralisasi]] yang diatur dalam [[Pasal 18B]] [[UUD 1945]]
2. **[[MRP]]** sebagai lembaga representasi [[masyarakat asli Papua]] memiliki legitimasi konstitusional
3. **Pembagian kewenangan** antara [[Pemerintah]] Pusat]] dan [[Pemerintah]] Daerah]] harus proporsional
4. **[[Sumber daya alam]]** dikuasai negara untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat sesuai [[Pasal 33]] [[UUD 1945]]
5. **Implementasi otonomi** harus memberikan manfaat nyata bagi [[masyarakat Papua]]
### Analisis Konstitusional
**Aspek Otonomi Daerah**:
- [[Pasal 18B]] [[UUD 1945]] mengakui [[satuan pemerintahan daerah]] yang bersifat khusus
- [[Otonomi khusus]] Papua merupakan implementasi dari pengakuan [[kekhususan]] daerah
- [[Desentralisasi]] harus memberikan ruang yang memadai bagi [[pemerintahan daerah]]
**Aspek Hak Asasi Manusia**:
- [[Pasal 28D]] [[UUD 1945]] menjamin [[hak atas perlakuan yang sama]] di hadapan hukum
- [[Masyarakat Papua]] memiliki [[hak konstitusional]] atas [[pemerintahan yang baik]]
- [[Otonomi khusus]] harus melindungi [[hak-hak]] [[masyarakat asli Papua]]
## Pendapat Hakim
### Pendapat Mahkamah
[[Mahkamah Konstitusi]] berpendapat bahwa:
1. **[[UU No. 21 Tahun 2001]]** tidak bertentangan dengan [[UUD 1945]] karena memberikan [[otonomi khusus]] kepada [[Papua]]
2. **[[MRP]]** memiliki kewenangan yang memadai sebagai lembaga representasi [[masyarakat asli Papua]]
3. **Pembagian hasil [[sumber daya alam]]** telah sesuai dengan prinsip [[keadilan]] dan [[kesejahteraan umum]]
4. **[[Pemerintah]] Pusat]]** tetap memiliki kewenangan dalam [[urusan pemerintahan]] tertentu sesuai [[sistem negara kesatuan]]
5. **Implementasi [[otonomi khusus]]** merupakan [[kebijakan politik]] yang menjadi domain [[legislatif]] dan [[eksekutif]]
### Dissenting Opinion (jika ada)
Tidak ada [[dissenting opinion]] dalam putusan ini. Seluruh [[Hakim Konstitusi]] sepakat menolak permohonan para pemohon.
## Amar Putusan
[[Mahkamah Konstitusi]] **MENOLAK** permohonan para pemohon untuk seluruhnya.
**Pertimbangan Amar**:
1. **[[UU No. 21 Tahun 2001]]** tentang [[Otonomi Khusus Papua]] tidak bertentangan dengan [[UUD 1945]]
2. **[[UU No. 35 Tahun 2008]]** sebagai perubahan UU Otsus Papua tidak bertentangan dengan [[UUD 1945]]
3. **Ketentuan-ketentuan yang diuji** telah memberikan [[otonomi khusus]] yang memadai kepada [[Papua]]
4. **Implementasi [[otonomi khusus]]** merupakan ranah [[kebijakan]] yang bukan kewenangan [[Mahkamah Konstitusi]]
5. **Tidak terbukti** adanya pelanggaran [[hak konstitusional]] para pemohon
## Dampak Putusan
### Implikasi Hukum
1. **[[UU No. 21 Tahun 2001]]** dan [[UU No. 35 Tahun 2008]] tetap berlaku dan konstitusional
2. **[[Otonomi khusus Papua]]** tetap menjadi kerangka [[pemerintahan]] di [[Papua]]
3. **[[MRP]]** tetap memiliki kewenangan sebagai lembaga representasi [[masyarakat asli Papua]]
4. **Pembagian hasil [[sumber daya alam]]** tetap mengikuti ketentuan dalam UU Otsus
5. **[[Pemerintah]] Pusat]]** tetap memiliki kewenangan dalam [[urusan pemerintahan]] tertentu
### Tindak Lanjut
1. **[[Pemerintah]] Papua]]** harus mengoptimalkan implementasi [[otonomi khusus]]
2. **[[MRP]]** perlu memperkuat perannya sebagai lembaga representasi [[masyarakat asli Papua]]
3. **[[Pemerintah]] Pusat]]** perlu meningkatkan koordinasi dengan [[Pemerintah]] Papua]]
4. **[[Masyarakat Papua]]** dapat melakukan [[pengawasan]] terhadap implementasi [[otonomi khusus]]
5. **[[DPR]]** dapat melakukan evaluasi terhadap efektivitas [[UU Otsus Papua]]
## Hakim Konstitusi
**Majelis Hakim**:
1. **[[Arief Hidayat]] - Ketua [[Mahkamah Konstitusi]] (2015-2016)
2. **[[Anwar Usman]] - Wakil Ketua [[Mahkamah Konstitusi]]
3. **[[Aswanto]] - [[Hakim Konstitusi]] (2013-2016)
4. **[[Wahiduddin Adams]] - [[Hakim Konstitusi]] (2013-2016)
5. **[[Suhartoyo]] - [[Hakim Konstitusi]] (2014-2016)
6. **[[Manahan MP Sitompul]] - [[Hakim Konstitusi]] (2013-2016)
7. **[[I Dewa Gede Palguna]] - [[Hakim Konstitusi]] (2013-2016)
8. **[[Patrialis Akbar]] - [[Hakim Konstitusi]] (2013-2016)
9. **[[Saldi Isra]] - [[Hakim Konstitusi]] (2014-2016)
**Panitera**: [[Wiryono]]
## Catatan Penting
1. **Putusan ini menegaskan** konstitusionalitas [[UU Otonomi Khusus Papua]] meskipun ada kritik terhadap implementasinya
2. **[[Mahkamah Konstitusi]]** membedakan antara [[pengujian konstitusionalitas]] norma dengan evaluasi [[kebijakan politik]]
3. **[[Otonomi khusus Papua]]** tetap menjadi model [[desentralisasi]] yang diakui konstitusional
4. **[[MRP]]** sebagai lembaga representasi [[masyarakat asli Papua]] mendapat legitimasi konstitusional
5. **Implementasi [[otonomi khusus]]** menjadi tanggung jawab [[Pemerintah]] Papua]] dan [[Pemerintah]] Pusat]]
6. **Putusan ini menjadi [[precedent]]** untuk kasus-kasus [[otonomi khusus]] lainnya seperti [[Aceh]] dan [[Yogyakarta]]
## Timeline
- **2016-04-07**: Permohonan didaftarkan di Kepaniteraan [[MK]]
- **2016-07-14**: Putusan dibacakan dalam sidang pleno terbuka untuk umum
## Related Cases
- **[[002/PUU-I/2003]] - Pengujian UU Otonomi Daerah
- **[[013/PUU-I/2003]] - Pengujian UU Pemerintahan Daerah
- **[[011/PUU-V/2007]] - Pengujian UU Otonomi Khusus Aceh
- **[[066/PUU-II/2004]] - Pengujian UU Desentralisasi
- **[[001/PUU-III/2005]] - Pengujian UU Otonomi Khusus Yogyakarta
## Kutipan Penting
Beberapa pertimbangan penting dari putusan:
1. > "tidak sesuai dengan semangat otonomi yang sesungguhnya."
## Legal Analysis
### Constitutional Issues
1. **[[Otonomi Khusus]]** sebagai bentuk [[desentralisasi]] asimetris dalam [[negara kesatuan]]
2. **[[MRP]]** sebagai lembaga representasi [[masyarakat asli Papua]] dalam sistem [[demokrasi]]
3. **Pembagian kewenangan** antara [[Pemerintah]] Pusat]] dan [[Pemerintah]] Daerah]] dalam [[otonomi khusus]]
4. **[[Sumber daya alam]]** dan [[kesejahteraan masyarakat]] dalam konteks [[otonomi khusus]]
### Court Reasoning
1. **[[UUD 1945]]** memberikan ruang bagi [[pemerintahan daerah]] yang bersifat khusus
2. **[[Otonomi khusus]]** merupakan implementasi dari [[Pasal 18B]] [[UUD 1945]]
3. **[[MRP]]** memiliki legitimasi konstitusional sebagai lembaga representasi
4. **Implementasi [[otonomi khusus]]** bukan ranah [[judicial review]] tetapi [[kebijakan politik]]
### Precedential Value
Putusan ini menjadi [[precedent]] penting dalam:
- Pengujian [[UU otonomi khusus]] daerah lain
- Interpretasi [[Pasal 18B]] [[UUD 1945]] tentang [[pemerintahan daerah]] khusus
- Pembedaan antara [[pengujian konstitusionalitas]] dan evaluasi [[kebijakan politik]]
- Legitimasi lembaga representasi [[masyarakat asli]] dalam [[otonomi khusus]]
## Constitutional Analysis
### Prinsip-Prinsip Konstitusional
Putusan ini mempertimbangkan prinsip-prinsip fundamental:
- **Negara Hukum**: Supremasi hukum dan konstitusi
- **Demokrasi**: Kedaulatan rakyat dan partisipasi publik
- **Hak Asasi Manusia**: Perlindungan hak-hak fundamental
- **Keadilan Sosial**: Kesetaraan dan kesejahteraan bersama
### Pengujian Konstitusionalitas
Mahkamah menerapkan parameter pengujian:
1. **Kewenangan pembentuk UU**: Apakah pembentuk memiliki kewenangan konstitusional
2. **Prosedur pembentukan**: Kesesuaian dengan tata cara yang ditentukan
3. **Materi muatan**: Kesesuaian substansi dengan norma konstitusi
Pertimbangan Hukum (Ringkasan)
Pertimbangan Hukum ### Kewenangan Mahkamah Mahkamah berwenang
