PUU
Tahun 2026
144/PUU-XXIV/2026
Pengaduan Konstitusional (Constitutional Complaint)
Pemohon: Heru Isdaryadi (Pengadu I) dan Deni Syahputera (Pengadu II)
Tanggal Putusan: 2026-05-25T14:16:00+07:00
Amar Putusan: Menyatakan Mahkamah tidak berwenang mengadili permohonan para Pemohon.
Teks Putusan
KETETAPAN
NOMOR 144/PUU-XXIV/2026
DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA
MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA,
Yang mengadili permohonan yang diregistrasi dalam pengujian undang-
undang pada tingkat pertama dan terakhir, menjatuhkan ketetapan dalam
permohonan sebagai berikut.
Menimbang
:
a. bahwa
Mahkamah
Konstitusi
(selanjutnya
disebut
Mahkamah) telah menerima permohonan bertanggal 16
April 2026, yang diajukan oleh badan hukum perdata (privat)
PT. Anugrah Prabu Mandiri yang diwakili oleh Heru Isdaryadi
sebagai Direktur (sebagai Pengadu I/Pemohon I) dan PT.
Nusantara Mekanika Industri yang diwakili oleh Deni
Syahputra sebagai Direktur (sebagai Pengadu II/Pemohon
II), yang memberikan kuasa kepada Dr. Bahrul Ilmi Yakup,
S.H., M.H., dan Iwan Kurniawan, S.Sy. (selanjutnya disebut
para Pemohon). Permohonan a quo diterima Mahkamah
berdasarkan Akta Pengajuan Permohonan Pemohon Nomor
142/PUU/PAN.MK/AP3/04/2026, serta telah dicatat dalam
Buku Registrasi Perkara Konstitusi Elektronik (e-BRPK)
pada tanggal 17 April 2026 dengan Nomor 144/PUU-
XXIV/2026 perihal Permohonan Pengaduan Konstitusional
terhadap Pemerintah Kabupaten Penukal Abab Lematang
Ilir (PALI);
b. bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 28 ayat (4) dan Pasal
34 ayat (1) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang
Mahkamah Konstitusi sebagaimana telah diubah terakhir
dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2020 tentang
Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun
2003 tentang Mahkamah Konstitusi (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2020 Nomor 216, Tambahan
2
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6554,
selanjutnya disebut UU MK), terhadap Permohonan Nomor
144/PUU-XXIV/2026 tersebut Mahkamah telah menerbitkan:
1) Ketetapan
Ketua
Mahkamah
Konstitusi
Nomor 144.144/PUU/TAP.MK/Panel/04/2026 tentang
Pembentukan Panel Hakim Untuk Memeriksa Perkara
Nomor 144/PUU-XXIV/2026, bertanggal 17 April 2026;
2) Ketetapan Ketua Panel Hakim Mahkamah Konstitusi
Nomor
144.144/PUU/TAP.MK/HS/04/2026
tentang
Penetapan Hari Sidang Pertama untuk memeriksa
perkara Nomor 144/PUU-XXIV/2026, bertanggal 17 April
2026;
c. bahwa terhadap permohonan a quo, pada tanggal 30 April
2026, Mahkamah telah menyelenggarakan sidang panel
dengan
agenda
untuk
mendengar
pokok-pokok
permohonan, memeriksa kelengkapan, dan kejelasan materi
permohonan. Berkenaan dengan hal tersebut, para
Pemohon menyampaikan pada pokoknya “Pengaduan
Konstitusional terhadap Pemerintahan Kabupaten Penukal
Abab Lematang Ilir (PALI)”, yang tidak membayarkan
tagihan atas pekerjaan proyek yang telah dilakukan sesuai
dengan Surat Perjanjian Kerja (SPK) dengan Kepala Badan
Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Desa atas
perintah Bupati Kabupaten PALI untuk mengerjakan 11
(sebelas) proyek. Terkait pembayaran, para Pemohon telah
melakukan berbagai upaya hukum mulai mengajukan
gugatan perdata ke Pengadilan Negeri Muara Enim, banding
ke Pengadilan Tinggi Palembang, peninjauan kembali ke
Mahkamah Agung, serta melaporkan kepada Ombudsman
Republik Indonesia, namun hingga saat ini Pemerintah
Kabupaten PALI belum memenuhi kewajiban untuk
membayar. Dalam persidangan tersebut, Mahkamah telah
memberikan nasihat sesuai dengan ketentuan Pasal 39 UU
3
MK dan Pasal 36 ayat (3) Peraturan Mahkamah Konstitusi
Nomor 7 Tahun 2025 tentang Tata Beracara Dalam Perkara
Pengujian Undang-Undang (PMK 7/2025) serta memberikan
kesempatan kepada para Pemohon untuk memperbaiki
permohonannya;
d. bahwa pada tanggal 13 Mei 2026, Mahkamah telah
menyelenggarakan persidangan pemeriksaan pendahuluan
dengan agenda perbaikan permohonan serta pengesahan
alat bukti, yang pada pokoknya dalil-dalil permohonan a quo
masih tetap berkenaan dengan kasus konkret atau setidak-
tidaknya
berkaitan
dengan
permohonan
pengaduan
konstitusional terhadap Pemerintah Kabupaten PALI, yang
bukan berkaitan dengan pengujian konstitusionalitas norma
undang-undang.
e. bahwa terhadap permohonan a quo, oleh karena para
Pemohon memohon kepada Mahkamah untuk menerima
dan mengabulkan permohonan pengaduan konstitusional
terhadap Pemerintah Kabupaten PALI untuk melakukan
pembayaran kewajibannya, sementara dalam UUD NRI
Tahun 1945, in casu Pasal 24C ayat (1) dan Pasal 10 ayat
(1) huruf a UU MK, Mahkamah mempunyai kewenangan
menguji undang-undang terhadap UUD NRI Tahun 1945,
memutus
sengketa
kewenangan
negara
yang
kewenangannya diberikan oleh UUD NRI Tahun 1945,
memutus
pembubaran
partai
politik,
dan
memutus
perselisihan tentang hasil pemilihan umum. Dengan
demikian,
Mahkamah
tidak
berwenang
memeriksa
permohonan a quo;
f. bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 48A ayat (1) huruf a UU
MK menyatakan, “Mahkamah Konstitusi mengeluarkan
ketetapan dalam hal: a. Permohonan tidak merupakan
kewenangan Mahkamah Konstitusi untuk mengadili perkara
4
yang dimohonkan” dan Pasal 69 ayat (1) huruf a PMK 7/2025
menyatakan, “Mahkamah menerbitkan putusan berupa
Ketetapan dalam hal: a. Permohonan bukan merupakan
kewenangan Mahkamah”;
g. bahwa berdasarkan fakta hukum pada huruf c, huruf d, dan
ketentuan sebagaimana dimaksud pada huruf e serta huruf
f di atas, Rapat Permusyawaratan Hakim pada tanggal 18
Mei 2026 berkesimpulan bahwa permohonan para Pemohon
bukan merupakan objek permohonan yang berada dalam
kewenangan Mahkamah untuk mengadilinya. Dengan
demikian, Mahkamah harus menerbitkan Ketetapan a quo;
Mengingat
:
1. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945;
2. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah
Konstitusi sebagaimana telah diubah terakhir dengan
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2020 tentang Perubahan
Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang
Mahkamah
Konstitusi
(Lembaran
Negara
Republik
Indonesia Tahun 2020 Nomor 216, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 6554);
3. Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan
Kehakiman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2009 Nomor 157, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5076);
4. Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 7 Tahun 2025
tentang Tata Beracara Dalam Perkara Pengujian Undang-
Undang.
MENETAPKAN:
Menyatakan Mahkamah tidak berwenang mengadili permohonan para Pemohon.
5
Demikian diputus dalam Rapat Permusyawaratan Hakim oleh sembilan
Hakim Konstitusi yaitu Suhartoyo selaku Ketua merangkap Anggota, Saldi Isra,
Daniel Yusmic P. Foekh, M. Guntur Hamzah, Enny Nurbaningsih, Ridwan Mansyur,
Arsul Sani, Adies Kadir, dan Liliek Prisbawono Adi, masing-masing sebagai
Anggota, pada hari Senin, tanggal delapan belas, bulan Mei, tahun dua ribu dua
puluh enam, yang diucapkan dalam Sidang Pleno Mahkamah Konstitusi terbuka
untuk umum pada hari Senin, tanggal dua puluh lima, bulan Mei, tahun dua ribu
dua puluh enam selesai diucapkan pukul 14.16 WIB oleh sembilan Hakim
Konstitusi yaitu Suhartoyo selaku Ketua merangkap Anggota, Saldi Isra, Daniel
Yusmic P. Foekh, M. Guntur Hamzah, Enny Nurbaningsih, Ridwan Mansyur, Arsul
Sani, Adies Kadir, dan Liliek Prisbawono Adi, masing-masing sebagai Anggota,
dengan dibantu oleh Ida Ria Tambunan sebagai Panitera Pengganti, serta dihadiri
oleh para Pemohon dan/atau kuasanya, Dewan Perwakilan Rakyat atau yang
mewakili, dan Presiden atau yang mewakili.
KETUA,
ttd.
Suhartoyo
ANGGOTA-ANGGOTA,
ttd.
Saldi Isra
ttd.
Daniel Yusmic P.Foekh
ttd.
M. Guntur Hamzah
ttd.
Enny Nurbaningsih
ttd.
Ridwan Mansyur
ttd.
Arsul Sani
ttd.
Adies Kadir
ttd.
Liliek Prisbawono Adi
6
PANITERA PENGGANTI,
ttd.
Ida Ria Tambunan
Pertimbangan Hukum (Ringkasan)
Menimbang : a. bahwa Mahkamah Konstitusi (selanjutnya disebut Mahkamah) telah menerima permohonan bertanggal 16 April 2026, yang diajukan oleh badan hukum perdata (privat) PT. Anugrah Prabu Mandiri yang diwakili oleh Heru Isdaryadi sebagai Direktur (sebagai Pengadu I/Pemohon I) dan PT. Nusantara Mekanika Industri yang diwakili oleh Deni Syahputra sebagai Direktur (sebagai Pengadu II/Pemohon II), yang memberikan kuasa kepada Dr. Bahrul Ilmi Yakup, S.H., M.H., dan Iwan Kurniawan, S.Sy. (selanjutnya disebut para Pemohon). Permohonan a quo diterima Mahkamah berdasarkan Akta Pengajuan Permohonan Pemohon Nomor 142/PUU/PAN.MK/AP3/04/2026, serta telah dicatat dalam Buku Registrasi Perkara Konstitusi Elektronik (e-BRPK) pada tanggal 17 April 2026 dengan Nomor 144/PUU- XXIV/2026 perihal Permohonan Pengaduan Konstitusional terhadap Pemerintah Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI); b. bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 28 ayat (4) dan Pasal 34 ayat (1) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2020 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2020 Nomor 216, Tambahan 2 Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6554, selanjutnya disebut UU MK), terhadap Permohonan Nomor 144/PUU-XXIV/2026 tersebut Mahkamah telah menerbitkan: 1) Ketetapan Ketua Mahkamah Konstitusi Nomor 144.144/PUU/TAP.MK/Panel/04/2026 tentang Pembentukan Panel Hakim Untuk Memeriksa Perkara Nomor 144/PUU-XXIV/2026, bertanggal 17 April 2026; 2) Ketetapan Ketua Panel Hakim Mahkamah Konstitusi Nomor 144.144/PUU/TAP.MK/HS/04/2026 tentang Penetapan Hari Sidang Pertama untuk memeriksa perkara Nomor 144/PUU-XXIV/2026, bertanggal 17 April 2026; c. bahwa terhadap permohonan a quo, pada tanggal 30 April 2026, Mahkamah telah menyelenggarakan sidang panel dengan agenda untuk mendengar pokok-pokok permohonan, memeriksa kelengkapan, dan kejelasan materi permohonan. Berkenaan dengan hal tersebut, para Pemohon menyampaikan pada pokoknya “Pengaduan Konstitusional terhadap Pemerintahan Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI)”, yang tidak membayarkan tagihan atas pekerjaan proyek yang telah dilakukan sesuai dengan Surat Perjanjian Kerja (SPK) dengan Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Desa atas perintah Bupati Kabupaten PALI untuk mengerjakan 11 (sebelas) proyek. Terkait pembayaran, para Pemohon telah melakukan berbagai upaya hukum mulai mengajukan gugatan perdata ke Pengadilan Negeri Muara Enim, banding ke Pengadilan Tinggi Palembang, peninjauan kembali ke Mahkamah Agung, serta melaporkan kepada Ombudsman Republik Indonesia, namun hingga saat ini Pemerintah Kabupaten PALI belum memenuhi kewajiban untuk membayar. Dalam persidangan tersebut, Mahkamah telah memberikan nasihat sesuai dengan ketentuan Pasal 39 UU 3 MK dan Pasal 36 ayat (3) Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 7 Tahun 2025 tentang Tata Beracara Dalam Perkara Pengujian Undang-Undang (PMK 7/2025) serta memberikan kesempatan kepada para Pemohon untuk memperbaiki permohonannya; d. bahwa pada tanggal 13 Mei 2026, Mahkamah telah menyelenggarakan persidangan pemeriksaan pendahuluan dengan agenda perbaikan permohonan serta pengesahan alat bukti, yang pada pokoknya dalil-dalil permohonan a quo masih tetap berkenaan dengan kasus konkret atau setidak- tidaknya berkaitan dengan permohonan pengaduan konstitusional terhadap Pemerintah Kabupaten PALI, yang bukan berkaitan dengan pengujian konstitusionalitas norma undang-undang. e. bahwa terhadap permohonan a quo, oleh karena para Pemohon memohon kepada Mahkamah untuk menerima dan mengabulkan permohonan pengaduan konstitusional terhadap Pemerintah Kabupaten PALI untuk melakukan pembayaran kewajibannya, sementara dalam UUD NRI Tahun 1945, in casu Pasal 24C ayat (1) dan Pasal 10 ayat (1) huruf a UU MK, Mahkamah mempunyai kewenangan menguji undang-undang terhadap UUD NRI Tahun 1945, memutus sengketa kewenangan negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD NRI Tahun 1945, memutus pembubaran partai politik, dan memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum. Dengan demikian, Mahkamah tidak berwenang memeriksa permohonan a quo; f. bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 48A ayat (1) huruf a UU MK menyatakan, “Mahkamah Konstitusi mengeluarkan ketetapan dalam hal: a. Permohonan tidak merupakan kewenangan Mahkamah Konstitusi untuk mengadili perkara 4 yang dimohonkan” dan Pasal 69 ayat (1) huruf a PMK 7/2025 menyatakan, “Mahkamah menerbitkan putusan berupa Ketetapan dalam hal: a. Permohonan bukan merupakan kewenangan Mahkamah”; g. bahwa berdasarkan fakta hukum pada huruf c, huruf d, dan ketentuan sebagaimana dimaksud pada huruf e serta huruf f di atas, Rapat Permusyawaratan Hakim pada tanggal 18 Mei 2026 berkesimpulan bahwa permohonan para Pemohon bukan merupakan objek permohonan yang berada dalam kewenangan Mahkamah untuk mengadilinya. Dengan demikian, Mahkamah harus menerbitkan Ketetapan a quo; Mengingat : 1. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; 2. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2020 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2020 Nomor 216, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6554); 3. Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 157, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5076); 4. Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 7 Tahun 2025 tentang Tata Beracara Dalam Perkara Pengujian Undang- Undang. MENETAPKAN: Menyatakan Mahkamah tidak berwenang mengadili permohonan para Pemohon. 5 Demikian diputus dalam Rapat Permusyawaratan Hakim oleh sembilan Hakim Konstitusi yaitu Suhartoyo selaku Ketua merangkap Anggota, Saldi Isra, Daniel Yusmic P. Foekh, M. Guntur Hamzah, Enny Nurbaningsih, Ridwan Mansyur, Arsul Sani, Adies Kadir, dan Liliek Prisbawono Adi, masing-masing sebagai Anggota, pada hari Senin, tanggal delapan belas, bulan Mei, tahun dua ribu dua puluh enam, yang diucapkan dalam Sidang Pleno Mahkamah Konstitusi terbuka untuk umum pada hari Senin, tanggal dua puluh lima, bulan Mei, tahun dua ribu dua puluh enam selesai diucapkan pukul 14.16 WIB oleh sembilan Hakim Konstitusi yaitu Suhartoyo selaku Ketua merangkap Anggota, Saldi Isra, Daniel Yusmic P. Foekh, M. Guntur Hamzah, Enny Nurbaningsih, Ridwan Mansyur, Arsul Sani, Adies Kadir, dan Liliek Prisbawono Adi, masing-masing sebagai Anggota, dengan dibantu oleh Ida Ria Tambunan sebagai Panitera Pengganti, serta dihadiri oleh para Pemohon dan/atau kuasanya, Dewan Perwakilan Rakyat atau yang mewakili, dan Presiden atau yang mewakili. KETUA, ttd. Suhartoyo ANGGOTA-ANGGOTA, ttd. Saldi Isra ttd. Daniel Yusmic P.Foekh ttd. M. Guntur Hamzah ttd. Enny Nurbaningsih ttd. Ridwan Mansyur ttd. Arsul Sani ttd. Adies Kadir ttd. Liliek Prisbawono Adi 6 PANITERA PENGGANTI, ttd. Ida Ria Tambunan
